Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku tidak memikirkan apa-apa kecuali bagaimana menyelamatkan Bella sejak aku menyadari apa yang ingin dia lakukan. Bahwa dia rela mati untuk melakukannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungimu-Aku tahu kau tidak akan mau menerima teleponku. Seandainya kau tidak datang hari ini, aku pasti sudah pergi mencarimu dalam waktu dekat. Tapi rasanya sulit meninggalkan Bella, bahk-m hanya untuk beberapa menit. Kondisinya», berubah-ubah begitu cepat. Makhluk itu… terus bertumbuh. Dengan cepat. Aku tidak bisa jauh-jauh darinya sekarang.”

“Makhluk apa sebenarnya itu?”

“Tak seorang pun dari kami tahu. Tapi makhluk ini lebih kuat daripada Bella» Sudah lebih kuat sekarang.”

Tiba-tiba aku bisa melihatnya sekarang—melihat makhluk yang membengkak itu dalam benakku, merobek perut Bclki dari dalam.

“Bantu aku menghentikan makhluk itu,” bisik Edwanl. “Bantu aku menghentikan semua ini agar tidak terjadi.”

“Bagaimana? Dengan cara menawari Bella layanan temp.il tidur?” Edward bahkan tidak tersentak mendengarku berkala begitu, meski aku sendiri tersentak. “Kau benar-benar sinting, Bella tidak akan pernah mau mendengar.”

“Cobalah. Tak ada ruginya sekarang. Tidak akan menyakiu siapa-siapa, kan?”

Itu akan menyakitiku. Apakah penolakan Bella selama ini belum cukup?

“Sedikit sakit demi menyelamatkan dia? Apakah itu harga yang terlalu tinggi?”

“Tapi itu tidak akan berhasil.”

“Mungkin tidak. Tapi mungkin itu akan membuat Bella bimbang. Mungkin tekadnya akan goyah. Sedikit keraguan, itu saja yang kuperlukan.”

“Kemudian kau akan membatalkan tawaranmu? ‘Hanya bercanda, Bellah begitu?”

“Kalau Bella ingin punya anak, dia akan mendapatkan ank. Aku tidak akan mangkir.”

Aku tidak percaya aku bahkan mempertimbangkan usulan mi. Bella akan menonjokku—walaupun aku tidak peduli, tapi aku mungkin akan membuat tangannya patah lagi. Seharusnya tidak membiarkan Edward bicara padaku, mengacaukan pikiranku. Seharusnya kubunuh saja dia sekarang.

“Jangan sekarang,” bisik Edward. “Belum. Benar atau salah, itu akan menghancurkan Bella, kau tahu itu. Tidak perlu tergesa-gesa. Kalau dia tidak mau mendengar saranmu, kau akan mendapatkan kesempatan itu. Begitu jantung Bella berhenti berdetak, aku pasti akan memohon-mohon agar kau mem-Imnuhku.”

“Kau tidak perlu memohon terlalu lama.” Secercah senyum letih menarik sudutsudut bibir Edward. “Aku sangat mengharapkan itu,”

“Kalau begitu kita sepakat.”

Edward mengangguk dan mengulurkan tangan dinginnya y.mg sekeras batu.

Menelan perasaan jijikku, aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. Jarijariku menggenggam tangan yang sekeras batu, dan mengguncangnya satu kali.

“Kita sepakat,” ia menyetujui.

10. MENGAPA AKU TIDAK LANGSUNG HENGKANG SAJA? OH YA. BENAR, KARENA AKU IDIOT

AKU merasa—aku tidak tahu harus merasa bagaimana. Seakan-akan ini tidak nyata. Seolah-olah aku sedang bermain dalam sitkom versi Goth yang jelek. Bukannya jadi cowok culun yang akan mengajak ketua pemandu sorak pergi bareny, ke prom, aku malah menjadi werewolf-kelas-dua. yang akan meminta istri vampir bercinta dan menghasilkan anak. Bagus sekali.

Tidak, aku tidak mau melakukannya. Itu sinting dan salah Aku akan melupakan semua yang dikatakan Edward.

Tapi aku akan bicara dengan Bella. Aku akan membuatnya mendengarkan katakataku.

Dan Bella tidak akan mau menurutiku. Seperti biasa.

Edward tidak menjawab ataupun mengomentari pikiran pikiranku saat ia berjalan mendahului kembali ke rumah. Aku bertanya-tanya dalam hati, tentang tempat yang dipilihnya tadi. Apakah cukup jauh dari rumah supaya yang lain-lain ti -dak bisa mendengar bisikannya? Itukah tujuannya?

Mungkin. Waktu kami memasuki pintu, mata anggota keluarga Cullen yang lain tampak curiga dan bingung. Tidak ada yang terlihat jijik atau marah. Jadi mereka pasti tidak mendengar apa yang diminta Edward padaku.

Aku ragu-ragu di ambang pintu yang terbuka, tak yakin harus melakukan apa sekarang. Lebih baik di sini, ada sedikit udara yang bisa dihirup dari luar.

Edward berjalan ke tengah kerumunan, bahunya tegang. Bella menatap Edward cemas, sesaat kemudian matanya berkelebat ke arahku. Lalu mata itu kembali menatap Edward.

Wajah Bella berubah jadi pucat keabu-abuan, dan aku mengerti maksud Edward tadi waktu mengatakan stres membuat kondisi Bella semakin buruk.

“Kita akan memberi Jacob dan Bella kesempatan untuk berbicara berdua” kata Edward. Suaranya sama sekali tanpa emosi. Seperti robot.

“Langkahi dulu mayatku” desis Rosalie. Ia masih berdiri di samping kepala Bella, sebelah tangannya yang dingin memegang pipi Bella yang cekung dengan sikap posesif.

Edward tak menghiraukan Rosalie. “Bella,” katanya dengan nada datar yang sama. “Jacob ingin bicara denganmu. Takutkah kau ditinggal berdua saja dengannya?”

Bella menatapku, bingung. Kemudian ia menatap Rosalie.

“Rose, tidak apa-apa. Jacob tidak akan menyakiti kami. Kau pergi saja dengan Edward.”

“Bisa jadi ini hanya tipuan,” si Pirang mengingatkan.

“Tidak mungkin” bantah Bella.

“Kau akan selalu bisa melihat Carlisle dan aku, Rosalie,” kata Edward. Suaranya yang tanpa emosi pecah, menunjukkan kemarahan di baliknya. “Kamilah yang Bella takuti.”

“Tidak,” bisik Bella. Matanya berkaca-kaca, bulu matanya basah. “Tidak, Edward. Aku tidak…”

Edward menggeleng, tersenyum kecil. Sungguh menyakitkan melihat senyum itu. “Bukan begitu maksudku, Bella. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.”

Memuakkan. Edward benar—Bella menyalahkan dirinya sendiri karena telah melukai perasaan Edward. Benar-benar cewek tipe martir klasik. Sungguh, Bella dilahirkan di abad yang salah. Seharusnya ia hidup dulu, pada zaman ia bisa diumpankan ke singa-singa kelaparan demi alasan mulia*

“Semuanya,” seru Edward, tangannya melambai kaku ke pintu. “Please.”

Pertahanan diri yang coba Edward kendalikan demi Bella terancam runtuh. Bisa kulihat betapa ia sudah nyaris seperti orang yang dibakar hidup-hidup, seperti waktu di luar tadi. Yang lain juga melihatnya. Tanpa bersuara mereka berjalan keluar lewat pintu sementara aku menyingkir memberi jalan. Mereka bergerak cepat; jantungku baru berdebar dua kali, dan semua sudah meninggalkan ruangan kecuali Rosalie, yang berdiri ragu di tengah ruangan, dan Edward, yang masih menunggu di dekat pintu.

“Rose,” ujar Bella pelan. “Aku ingin kau pergi.”

Si Pirang memandang Edward garang dan memberinya isyarat untuk pergi lebih dulu. Edward menghilang keluar pintu. Rosalie menatapku garang kuna sekali, lalu pergi.

Setelah hanya tinggal kami berdua, aku melintasi ruangan dan duduk di lantai di sebelah Bella. Kuraih kedua tangannya yang dingin dengan kedua tanganku, mengusapnya hati-hati.

“Trims, Jake. Rasanya enak.”

“Aku tidak mau berbohong, Bells. Kau jelek sekali.”

“Aku tahu,” desah Bella. “Aku terlihat mengerikan.”

“Mengerikan seperti makhluk rawa,” aku mengoreksi. Bella tertawa. “Senang sekali kau datang ke sini. Enak rasanya bisa tersenyum. Aku tidak tahu berapa banyak drama lagi yang bisa kutahan.”

Aku memutar bola mataku.

“Oke, oke,” Bella sependapat. “Ini gara-gara ulahku sendiri.”

“Yeah, memang. Apa sih yang kaupikirkan, Bells? Serius nih!”

“Dia menyuruhmu memarahiku, ya?”

“Begitulah. Walaupun aku tak habis pikir mengapa dia mengira kau mau mendengarkan kata-kataku. Sebelumnya kau toh tidak pernah mau.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.