Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tidak. Bukan itu. Tapi bodyguord Bella membuat situasi semakin rumit.”

Oh. Cerita Edward sebelumnya tidak terlalu masuk akal, (api sekarang semua jelas. Jadi karena itu ada si Pirang di sana. Apa kira-kira yang ia inginkan? Apakah si ratu kecantikan begitu menginginkan Bella mati?

“Mungkin,” jawab Edward. “Rosalie tidak melihatnya seperti itu.”

“Kalau begitu, lumpuhkan saja dulu si Pirang. Jenis kalian bisa disatukan kembali, bukan? Buat saja dia jadi puzzle, setelah itu baru urus Bella.”

“Emmett dan Esme mendukungnya. Emmett takkan pernah mengizinkan kami… dan Carlisle tidak mau membantuku kalau Esme menentangnya…” Suara Edward menghilang.

“Seharusnya kautinggalkan saja Bella denganku.”

“Ya.”

Tapi sekarang sudah agak terlambat. Mungkin seharusnya hal ini sudah dipikirkan Edward sebelum ia menyebabkan Bella mengandung monster pengisap kehidupan ini.

Edward menatapku dari dalam neraka pribadinya, dan bisa kulihat ia sependapat denganku.

“Kami tidak tahu,” kata Edward, kara-karanya sepelan embusan napasnya. “Itu tidak pernah terbayangkan olehku. Belum pernah ada pasangan seperti aku dan Bella sebelumnya. Bagaimana kami tahu seorang manusia bisa dibuahi dan mengandung dengan jenis kami…”

“Karena dalam prosesnya manusia pasti sudah mati ter-rabik-cabik lebih dulu?”

“Benar,” Edward membenarkan dengan bisikan regang. “Yang seperti itu memang ada, vampir-vampir sadis, incubus, succubus. Mereka memang ada. Tapi rayuan hanyalah pendahuluan sebelum manusianya menjadi mangsa. Tak seorang pun selamat” Ia menggeleng-geleng seolah-olah gagasan itu menjijikkan baginya. Seolah-olah ia berbeda saja.

“Aku baru tahu mereka memiliki nama tersendiri untuk jenis seperti kau” semburku.

Edward menatapku dengan wajah yang terlihat amat letih.

“Bahkan kau pun, Jacob Black, tidak bisa membenciku sebesar aku membenci diriku sendiri.”

Salah, pikirku, saking marahnya hingga tak sanggup bicara.

“Membunuhku sekarang takkan bisa menyelamatkan Bella,” kata Edward pelan.

“Jadi apa yang bisa menyelamatkannya?”

“Jacob, kau harus melakukan sesuatu untukku.”

“Jangan harap aku mau, parasit.'”

Edward terus memandangiku dengan mata yang setengah letih setengah sinting. “Demi Bella?”

Kukertakkan gigiku kuat-kuat. “Aku sudah melakukan apa saja yang kubisa untuk menjauhkan dia darimu. Apa saja. Sekarang sudah terlambat.”

“Kau mengenal dia, Jacob. Kau bisa berhubungan dengan nya dalam taraf yang aku sendiri bahkan tidak mengerti. Kau bagian darinya, dan dia bagian darimu. Dia tidak mau men dengarkan aku, karena dia mengira aku meremehkan kemani puannya. Bella mengira dia cukup kuat untuk ini…” Edward tercekik, kemudian menelan ludah. “Mungkin dia mau men dengar nasihatmu.”

“Mengapa dia mau mendengar nasihatku?”

Tiba-tiba Edward bangkit berdiri, matanya lebih berapi-api daripada sebelumnya, lebih liar. Dalam hati aku penasaran jangan-jangan ia sudah berubah sinting. Bisakah vampir jadi

“Mungkin,” Edward menjawab pikiranku. “Aku tidak tahu. Kasanya seperti itu.” Ia menggeleng. “Aku harus mencoba menyembunyikan ini di depan Bella, karena stres membuat kondisinya semakin parah. Sekarang saja dia sudah tidak bisa makan. Aku harus tetap tenang; aku tidak bisa membuat keadaan semakin sulit. Tapi itu bukan masalah sekarang. Dia harus mendengarkan nasihatmu!”

“Tidak ada lagi nasihat yang bisa kukatakan padanya yang belum kaukatakan sendiri. Kau ingin aku melakukan apa? Mengatakan padanya bahwa dia tolol? Bella mungkin sudah tahu itu. Mengatakan padanya bahwa dia akan meninggal? Aku berani bertaruh dia pasti juga sudah tahu itu,”

“Kau bisa menawarkan apa yang dia inginkan.”

Kata-kata Edward tidak masuk akal. Apakah itu bagian dari kesintingannya?

“Aku tidak peduli pada hal lain selain agar Bella tetap hidup,” sergah Edward, tibatiba fokus sekarang. “Kalau memang dia ingin punya anak, dia bisa punya anak. Setengah lusin pun bisa. Apa pun yang dia inginkan.” Sedetik Edward terdiam. “Bella bisa punya anak-anak anjing, kalau memang itu bisa menyelamatkannya.”

Sesaat Edward membalas tatapanku dan wajahnya mengharu biru di balik selubung penguasaan diri yang tipis. Seringaian cemberutku lenyap saat aku memproses katakatanya, dan aku merasakan mulutku ternganga lebar saking shock nya.

“Tapi tidak dengan cara seperti ini!” desis Edward sebelum aku sempat pulih dari kekagetanku. “Jangan makhluk yang membunuhnya pelan-pelan sementara aku hanya bisa berdiri tak berdaya! Melihat Bella sakit dan kondisinya semakin parah. Melihat makhluk itu menyakitinya.” Edward menarik napas cepat seolah-olah ada yang meninju perutnya. “Kau harus membuatnya mengerti, Jacob. Dia tidak mau mendengar kan kata-kataku lagi. Rosalie selalu mendampinginya, me nyokong kegilaannya, menyemangatinya. Melindunginya. Tidak, melindungi makhluk itu. Hidup Bella tidak berarti apa-apa bagi Rosalie.”

Suara yang keluar dari tenggorokanku kedengaran seolah-olah aku tercekik.

Apa maksud Edward? Bahwa Bella harus… apa? Memiliki bayi? Dengan few? Apa? Bagaimana? Apakah ia rela melepaskan Bella? Atau Edward mengira Bella tidak akan keberatan diri nya dibagi-bagi?

“Yang mana saja. Apa saja asal dia bisa bertahan hidup.”

“Itu hal paling sinting yang pernah kaukatakan,” gumamku.

“Dia mencintaimu.”

“Tidak sebesar itu.”

“Dia siap mati untuk bisa punya anak. Mungkin Bella ni.m menerima sesuatu yang tidak terlalu ekstrem.”

“Kau sama sekali tidak mengenal dia, ya?”

“Aku tahu, aku tahu. Pasti sulit sekali meyakinkan Bella. Itulah sebabnya aku membutuhkanmu. Kau tahu bagaimmana pikirannya. Buatlah dia mau diajak berpikir logis.”

Aku tidak bisa memikirkan usul Edward itu. Sungguh ke terlaluan. Mustahil Salah. Gila. Meminjam Bella selama akhir pekan kemudian mengembalikannya pada hari Senin pagi seperti film pinjaman? Sungguh gila.

Sungguh menggoda.

Aku tidak ingin mempertimbangkan, tidak ingin membayangkan, tapi bayanganbayangan itu tetap datang. Aku sudah terlalu sering berfantasi tenrang Bella dengan cara seperti mi, dulu ketika masih ada kemungkinan bagi kami, kemudian lama sesudah keadaan menjadi jelas bahwa semua fantasi itu hanya akan meninggalkan luka bernanah karena sudah tidak ada kemungkinan lagi, tidak ada fantasi sama sekati. Aku lidak bisa menghentikan diriku sendiri ketika itu. Aku juga tidak bisa menghentikan diriku sendiri sekarang. Bella dalam pelukanku, Bella mendesah mengucapkan namaku…

Yang lebih parah lagi, bayangan baru ini tidak pernah mun-i ul dalam benakku sebelumnya, tak pernah berhak untuk kubayangkan. Belum. Bayangan yang aku tahu tidak akan menyiksaku selama bertahun-tolmn ke depan seandainya Edward lidak menjejalkannya ke kepalaku sekarang. Tapi bayangan itu menetap di sana, menyusup ke otakku seperti semak belukar—beracun dan tidak bisa dibunuh. Bella, sehat dan berseriseri: tubuhnya, tidak tak berbentuk, berubah secara lebih alami. Bulat karena mengandung anakfew.

Aku berusaha melepaskan diri dari belitan semak beracun dalam pikiranku itu, “Membuat Bella bisa berpikir logis? Memangnya kau hidup di alam mana?”

“Setidaknya cobalah.”

Aku menggeleng kuat-kuat. Edward menunggu, tak menggubris jawaban negatif itu karena ia bisa mendengar konflik dalam pikiranku.

“Dari mana omong kosong sinting ini berasal? Usul itu muncul begitu saja dalam benakmu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.