Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kecuali bahwa memang benar demikian adanya.

Aku tidak ingin melihatnya, tidak mau memikirkannya Aku tidak ingin membayangkan lelaki itu bercinta dengannya. Aku tidak ingin mengetahui bahwa sesuatu yang sangat ku-benci telah berakar dalam tubuh yang kucintai. Perutku memberontak, dan aku terpaksa menelan kembali isi perutku.

Tapi ini lebih buruk daripada itu, jauh lebih buruk. Tubuh Bella tidak berbentuk, tulang-tulang bertonjolan di kulit wa jalinya. Aku hanya bisa menduga bahwa ia terlihat seperti ini—hamil besar tapi sangat kepayahan—adalah karena apa pun yang ada dalam perutnya merampas hidup Bella untuk menyokong hidupnya sendiri…

Karena makhluk itu monster. Sama seperti ayahnya.

Aku sudah mengira Edward pasti akan membunuh Bella.

Kepala Edward tersentak saat mendengar kata-kata dalam pikiranku. Baru sedetik yang lalu kami sama-sama berlutut, dan sekarang ia sudah berdiri, menjulang tinggi di atasku Matanya hitam datar, lingkaran di bawahnya berwarna ungu tua.

“Di luar, Jacob,” geramnya.

Aku ikut berdiri. Menunduk menatap Edward sekarang. Memang itulah tujuanku datang ke sini. “Ayo kita tuntaskan,” aku setuju.

Si vampir bertubuh besar, Emmett, merangsek maju ke sisi Hdward. Vampir yang kelihatannya lapar, Jasper, tepat di belakangnya. Aku benar-benar tidak peduli. Mungkin kawananku akan membersihkan sisa-sisa tubuhku setelah mereka selesai mengeroyokku. Mungkin juga tidak. Itu tidak penting.

Selama sepersekian detik, mataku berkelebat ke dua sosok yang berdiri di belakang. Esme. Alice. Tubuh mereka yang mungil dan kefemininan mereka mengusik perhatianku. Well, aku yakin yang lain-lain akan membunuhku sebelum aku sempat melakukan apa pun terhadap mereka. Aku tidak mau membunuh wanita… bahkan vampir wanita.

Walaupun aku mau saja membuat pengecualian untuk si pirang itu.

“Tidak” sergah Bella terengah, tersaruk-saruk maju, tubuhnya limbung, hendak mencengkeram lengan Edward. Rosalie bergerak bersamanya, seolah-olah ada rantai yang mengikat mereka satu sama lain.

‘Aku hanya perlu bicara dengannya, Bella,” kata Edward pelan, berbicara hanya pada istrinya. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Bella, membelainya. Ini membuat ruangan berubah warna menjadi merah, membuat pandanganku gelap—bahwa, setelah apa yang Edward lakukan padanya, ia masih diperbolehkan menyentuh Bella seperti itu. “Jangan paksa dirimu,” sambung Edward, memohon. “Kumohon, istirahatlah. Kami akan kembali beberapa menit lagi.”

Bella menatap wajah Edward, membacanya dengan saksama. Kemudian ia mengangguk dan terkulai ke sofa. Rosalie membantu mendudukkan Bella di atas bantalbantal. Belfl memandangiku, berusaha menatap mataku.

“Jaga sikapmu” desak Bella. “Kemudian kembalilah.”

Aku tidak menanggapi. Aku tidak mau berjanji apa-apJ hari ini. Aku memalingkan wajah, lalu mengikuti Edward keluar ke pintu depan.

Sebuah suara sumbang di kepalaku mengatakan bahwa meM misahkan Edward dari kelompoknya ternyata tidak terlaM sulit, bukan?

Edward terus berjalan, tak pernah menoleh untuk melihaJ apakah aku hendak menerkam punggungnya yang tidak terlindung. Kurasa ia tidak perlu mengecek. Ia pasti tahu kapan aku memutuskan menyerang. Itu berarti aku harus mengambB keputusan dengan sangat cepat.

“Aku belum siap dibunuh olehmu, Jacob Black,” bisik Edward sambil berjalan cepat-cepat menjauhi rumah. “Ka^ harus sedikit lebih bersabar.”

Seolah-olah aku peduli. Aku menggeram pelan. “Kesabarail bukan spesialisasiku.”

Ia berjalan terus, mungkin beberapa ratus meter menyusuri jalan masuk, menjauh dari rumah, bersamaku yang membuntut tepat di belakangnya. Sekujur tubuhku panas, jarijarii ku gemetar. Gelisah, siap dan menunggu

Edward berhenti tanpa aba-aba dan berbalik menghadapikul Ekspresinya lagi-lagi membuatku terpaku.

Selama sedetik aku seperti kanak-kanak lagi—bocah yan^l seumur hidup tinggal di kota kecil yang sama. Hanya bocali ingusan. Karena aku tahu aku harus menjalani hidup lebih lama, menderita lebih banyak, untuk bisa memahami kel pedihan hebat yang membayang di mata Edward.

Ia mengangkat tangan seolah hendak menyeka keringat dariJ dahinya, tapi jarijarinya menggores wajahnya seolah hendak mengoyak kulit granitnya yang keras. Mata hitamnya membekas di dalam kelopaknya, nanar, atau melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Mulutnya terbuka seolah hendak menjerit, tapi tak ada suara yang keluar.

Beginilah wajah orang yang dibakar hidup-hidup.

Sesaat aku tak mampu bicara. Ini terlalu nyata, wajah Ini—aku pernah melihat bayangannya di rumah, melihatnya Ji mata Bella dan di mata Edward, tapi ini membuat segalanya menjadi final. Paku terakhir yang menutup peti mati Bella.

“Itu membunuhnya, kan? Dia sekarat.” Dan aku tahu saat mengucapkannya bahwa wajahku juga sama basahnya dengan wajah Edward. Lebih lemah, berbeda, karena aku masih shocfa Aku belum sepenuhnya mencerna apa yang sesungguhnya terjadi— kejadiannya begitu cepat. Sementara Edward tahu lebih dulu sehingga memiliki waktu untuk sampai pada titik ini. Dan berbeda, karena aku sudah begitu sering kehilangan Bella, dalam banyak hal, dalam benakku. Dan berbeda, karena Bella tak pernah benar-benar menjadi milikku sehingga aku bisa mengatakan aku kehilangan dia.

Dan berbeda, karena ini bukan salahku.

“Kesalahanku,” Edward berbisik, lututnya goyah. Ia terkulai di hadapanku, tak berdaya, sasaran yang sangat empuk untuk dihabisi.

Tapi aku merasa sedingin salju—tak ada lagi api di dalam diriku.

“Ya,” erang Edward sambil menunduk ke tanah, seperti sedang mengaku dosa kepada bumi. “Ya, itu membunuhnya.” Sikap Edward yang tidak berdaya membuatku kesal. Aku ingin bertarung, bukan mengeksekusi. Di mana sikap sok superiornya sekarang?

“Mengapa Carlisle tidak melakukan apa-apa?” geramku. “DIA dokter, kan? Keluarkan saja makhluk itu dari perut Bella.”

Edward mendongak dan menjawab pertanyaanku dengan nada letih. Seolah-olah ia sudah menjelaskan hal yang sama kepada seorang anak TK untuk kesepuluh kalinya. “Bella tidak mengizinkan kami.”

Butuh waktu semenit baru aku bisa memahami kata-kata nya. Astaga, sungguh khas Bella. Tentu saja, mati demi keturunan monster. Itu sangat Bella.

“Kau sangat mengenalnya,” bisik Edward. “Betapa cepatnya kau melihat… aku sama sekali tidak melihat itu. Tidak pada waktunya. Dia tidak mau bicara padaku dalam perjalanan pulang, tidak banyak yang dia katakan. Kusangka dia takut—itu wajar. Kusangka dia marah padaku karena membuatnya harus mengalami hal ini, karena membahayakan hidupnya. Lagi. Tak pernah terbayang olehku apa yang sebenarnya dia pikirkan, apa tekadnya. Tidak sampai keluargaku menjemput kami di bandara dan dia langsung menghambur ke dalam pelukan Rosalie. Rosalie! Kemudian aku mendengar pikiran Rosalie. Aku tidak mengerti sampai aku mendengar pikiran itu. Tapi dalam sedetik saja, kau langsung mengerti…” Edward setengah mendesah, setengah mengerang.

“Mundur dulu sebentar. Dia tidak mengizinkan kalian.” Ke sinisan terasa pahit di lidahku. “Tidakkah terpikir olehmu bahwa tenaganya tak lebih dari tenaga manusia perempuan normal? Dasar vampir-vampir tolol. Pegangi dia dan bius saja supaya teler.”

“Aku memang ingin berbuat begitu,” bisik Edward. “Carlislr sebenarnya mau. ”

Tapi apa, mereka kelewat mulia untuk melakukannya?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.