Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Suaranya tidak seperti yang kuharapkan. Aku mencoba mengingat kembali suara para vampir muda yang berduel dengan kami musim semi lalu, tapi seingatku suara mereka hanya berupa geraman. Mungkin suara vampir baru itu juga tidak tajam dan melengking seperti vampir-vampir lain yang lebih tua. Mungkin semua vampir baru suaranya parau.

“Silakan masuk, Jacob,” kaok Bella dengan suara lebih nyaring.

Mata Carlisle menegang.

Dalam hati aku penasaran apakah Bella haus. Mataku juga menyipit.

“Permisi,” kataku pada si dokter saat berjalan mengitarinya.

Sangat sulit—aku melawan segenap naluriku untuk berbali dan lari menjauhi mereka. Tapi bukan berarti mustahil. Kalau ada istilah vampir aman, pemimpin mereka yang lembut inilah orangnya.

Aku akan menjauh dari Carlisle begitu perkelahian dimulai nanti. Jumlah mereka sudah cukup banyak untuk dibunuh tanpa aku harus memburuh dia.

Aku melewati Carlisle dan masuk ke rumah,. menjag.1 punggungku tetap menghadap dinding. Mataku menyapu seisi ruangan—suasananya sangat berbeda. Terakhir kali aku kti sini ruangan ini dihias indah untuk keperluan pesta. Sekarang semua benderang dan pucat. Termasuk enam vampir yang berdiri berkelompok di dekat sofa putih.

Mereka semua ada di sini, seluruhnya, tapi bukan itu yang membuatku terpaku di tempatku berdiri dan mulutku ternganga lebar.

Tapi Edward. Ekspresinya.

Aku pernah melihatnya marah, dan aku pernah melihatnya bersikap arogan, dan aku juga pernah melihatnya kesakitan. Tapi ini—ini lebih dari menderita. Matanya separo sinting. Ia tidak mendongak untuk memelototiku. Ia menunduk memandangi sofa di sampingnya dengan ekspresi seolah-olah ada orang yang membakarnya. Kedua tangannya seperti cakar kaku di kedua sisi tubuhnya.

Aku bahkan tidak bisa menikmati penderitaan Edward. Dalam benakku, hanya satu hal yang bisa membuatnya terlihat seperti itu, dan mataku mengikuti arah pandangnya.

Tepat ketika aku mencium aroma tubuh Bella, aku melihatnya.

Bau manusia yang hangat dan bersih.

Bella agak tersembunyi di balik lengan sofa, meringkuk sepcrti janin dalam kandungan, kedua lengan melingkari lutut. Sesaat aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali bahwa ia masih Bella yang kucintai, kulitnya masih berwarna peach pucat yang lembut, matanya juga masih cokelat seperti dulu. Jantungku berdebar tidak keruan, dalam hati aku bertanya-tanya apakah bu hanya mimpi dan sebentar lagi aku akan terbangun.

Lalu barulah aku benar-benar melihat Bella.

Tampak lingkaran hitam di bawah matanya yang terlihat sangat mencolok karena wajahnya begitu kuyu, Benarkah ia bertambah kurus? Kulitnya tampak tegang—seolaholah tulang pipinya akan merobek menembusnya. Rambutnya ditarik ke belakang dan diikat berantakan, tapi beberapa helai menempel di kening dan lehernya yang basah, sekujur tubuhnya mengilat karena keringat. Ada sesuatu di jari-jari dan per-gelangan tangannya yang tampak begitu rapuh hingga terkesan menakutkan.

Bella memang sakit. Sakit parah.

Itu bukan dusta. Cerita yang dikisahkan Charlie kepada Billy ternyata bukan karangan. Sewaktu aku memandanginya dengan mata terbelalak, kulit Bella berubah warna jadi hijau muda.

Si pengisap darah berambut pirang—yang cantik jelita itu, Rosalie—membungkuk di atas tubuh Bella, menghalangi pandanganku, dengan sikap protektif yang janggal.

Sungguh aneh. Aku mengetahui perasaan Bella mengenai nyaris apa saja—jalan pikirannya sangat jelas; terkadang seperti sudah terpatri dengan jelas di keningnya. Jadi ia tidak perlu menceritakan setiap situasi hingga sedetail-detailnya untuk membuatku mengerti. Aku tahu Bella tidak menyukai Rosalie. Kentara dari bibirnya yang mengatup rapat bila ia membicarakan wanita itu. Bukan hanya tidak menyukai Rosalie. Bella juga takut pada Rosalie. Atau tadinya begitu.

Tapi tidak ada sorot ketakutan di mata Bella saat ia me nengadah dan menatap Rosalie sekarang. Ekspresinya seperti meminta maaf atau apa. Lalu Rosalie menyambar wadah dari lantai dan memeganginya di bawah dagu Bella, dan tepat saat itu ia muntah ke wadah dengan suara berisik.

Edward jatuh berlutut di sisi Bella—sorot matanya tampak tersiksa—dan Rosalie mengulurkan tangan, memperingatkannya untuk tidak mendekat.

Tak ada yang masuk akal.

Setelah bisa mengangkat kepala, Bella tersenyum lemah padaku, sepertinya malu. “Maaf soal tadi,” bisiknya.

Edward mengerang sangat pelan. Kepalanya terkulai ke lutut Bella. Bella meletakkan sebelah tangannya di pipi Edward. Seolah-olah menghibur dia.

Aku tidak menyadari kedua kakiku bergerak maju sampai Rosalie mendesis kepadaku, tiba-tiba berdiri di antaraku dan sofa. Ia seperti orang di layar televisi. Aku tak peduli ia ada di sana. Ia seperti tidak nyata.

“Rose, jangan,” bisik Bella. “Tidak apa-apa.”

Si pirang menyingkir dari jalanku, walaupun kentara sekali dari sikapnya bahwa ia tidak senang melakukannya. Sambil mencemberutiku, ia meringkuk dekat kepala Bella, siap menerkam. Mudah sekali untuk tidak menggubrisnya.

“Bella, ada apa?” bisikku. Tanpa berpikir, tahu-tahu aku juga sudah berlutut, mencondongkan tubuh dari balik punggung sofa, berseberangan dengan.» suaminya. Edward seolah tidak memerhatikanku, dan aku nyaris tidak meliriknya. Aku mengulurkan tangan untuk meraih tangan Bella yang bebas, merengkuhnya dengan tanganku. Kulitnya

sedingin es. “Kau luik-baik saja?”

Pertanyaan tolol. Bella tidak menjawab.

Walaupun aku tahu Edward tidak bisa mendengar pikiran Bella, tapi ia sepertinya mendengar suatu makna yang tidak kumengerti. Lagi-lagi ia mengerang, ke dalam selimut yang menyelubungi tubuh Bella, dan Bella membelai-belai pipinya.

“Ada apa, Bella?” desakku, mengenggam erat jari-jarinya y.mg dingin dan rapuh dengan kedua tanganku.

Bukannya menjawab, Bella malah memandang sekeliling ruangan seperti mencari sesuatu, sorot matanya terlihat memohon sekaligus mengingatkan. Enam pasang mata berwarna kuning menyorot waswas, balas memandangnya. Akhirnya, ia berpaling kepada Rosalie.

“Bantu aku, Rose?” pintanya.

Sudut-sudut bibir Rosalie tertarik, memperlihatkan giginya, la memandangku garang seolah-olah ingin merobek leherku. Aku yakin memang itulah yang ia inginkan.

“Please, Rose.”

Si pirang mengernyit, tapi kembali membungkuk di atas Bella, di sebelah Edward, yang tidak bergeser sesenti pun. Ia merangkul pundak Bella dengan hati-hati.

“Tidak,” bisikku. “Jangan berdiri…” Bella terlihat begitu lemah.

“Aku menjawab pertanyaanmu,” bentak Bella, terdengar sedikit mirip gaya bicaranya yang biasa.

Rosalie membantu Bella bangkit dari sofa. Edward tetap di tempat, terkulai ke depan sampai wajahnya terbenam di bantalan kursi. Selimut jatuh ke lantai di kaki Bella.

Tubuh Bella membengkak, menggelembung aneh dan tidak wajar. Tubuhnya mendesak kaus abu-abu pudarnya yang kebesaran untuk bahu dan lengannya. Anggota tubuhnya yang lain sepertinya lebih kurus, seolah-olah gundukan besar itu bertumbuh dari apa yang diisapnya dari Bella. Butuh sedetik bagiku untuk menyadari apa bagian yang membuncit itu—aku tidak mengerti sampai Bella melipat kedua tangannya dengan lembut di perutnya yang membuncit, satu di atas dan satu di bawah. Seolah-olah menggendongnya.

Aku melihatnya waktu itu, tapi aku masih belum memer cayainya. Baru sebulan yang lalu aku bertemu Bella. Tidak mungkin ia hamil. Tidak sebesar itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.