Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku tahu.”

Rebecca bahkan tidak pernah pulang sejak menikah, walaupun alasannya kuat. Tiket pesawat dari Hawaii sangat mahal Washington State cukup dekat sehingga Rachel tidak bisa mengajukan alasan yang sama. Tapi dia mengambil beberapa mata kuliah selama semester musim panas, dan bekerja dua \lrift sekaligus selama masa liburan Natal di kafe kampus. Ka-l.iu bukan karena Paul, dia mungkin sudah cepat-cepat petgi l.igi. Mungkin itulah sebabnya Billy tidak mengusir Paul dari i ui nah.

“Well, ada beberapa hal yang harus kukerjakan…” Aku mulai beranjak ke pintu belakang.

“Tunggu dulu, Jake. Apa kau tidak akan menceritakan padaku apa yang terjadi? Apakah aku harus menelepon Sam untuk meminta penjelasan?”

Aku berdiri memunggungi ayahku, menyembunyikan wajah.

“Tidak terjadi apa-apa. Sam tidak mau menghukum mereka. Berarti sekarang kita ini sekelompok pencinta lintah.”

“Jake…”

“Aku tidak mau membicarakannya.”

“Kau mau pergi, Nak?”

Sejenak ruangan sunyi senyap sementara aku menimbang-nimbang bagaimana mengatakannya.

“Rachel bisa menempati kamarnya lagi. Aku tahu dia tidak suka tidur di kasur tiup.”

“Dia lebih suka tidur di lantai daripada kehilangan kau. Begitu juga aku.”

Aku mendengus.

“Jacob, please. Kalau kau butuh… waktu. Well, kau boleh mengambilnya. Tapi jangan terlalu lama. Kembalilah.”

“Mungkin. Mungkin nanti aku kembali kalau ada yang menikah lagi. Menjadi camto di pernikahan Sam, lalu Rachel. Tapi mungkin Jared dan Kim yang akan menikah lebih dulu. Mungkin aku harus punya jas atau sebangsanya.”

“Jake, lihat aku.”

Aku memutar tubuhku lambat-lambat. “Apa?” Billy menatap mataku lama sekali. “Kau mau ke mana?”

“Tidak ada tujuan khusus.”

Billy menelengkan kepala ke satu sisi, matanya menyipit, “Benarkah begitu?”

Kami berpandangan. Detik-detik berlalu.

“Jacob,” kata ayahku. Suaranya tegang. “Jacob, jangan. Tidak ada gunanya.”

“Aku tidak mengerti maksud Dad.”

“Jangan ganggu Bella dan keluarga Cullen. Sam benar.”

Aku menatap ayahku sedetik, kemudian berjalan melintasi ruangan hanya dalam dua langkah panjang. Kusambar telepon dan kutarik kabel dari colokan dan soketnya. Kugumpalkan kabel abu-abunya di telapak tanganku.

“Bye. Dad.”

“Jake, tunggu…” ayahku berseru memanggilku, tapi aku su dah keluar dari pintu, berlari.

Naik sepeda motor memang tidak secepat berlari, tapi de ngan begini aku bisa menyembunyikan pikiranku. Dalam hati aku bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan Billy untuk menjalankan kursi rodanya ke toko, lalu minta bantuan seseorang untuk menelepon dan menyampaikan pesan pacLi Sam. Aku berani bertaruh Sam pasti masih berwujud serigala. Masalahnya hanya kalau Paul kembali ke rumah katni dalam waktu dekat. Ia bisa langsung berubah wujud dan memberi tahu Sam apa yang kulakukan ini…

Aku tidak mau mengkhawatirkannya. Aku akan memacu sepeda motorku secepat mungkin, dan kalau mereka menangkapku, baru kupikirkan apa yang akan kulakukan.

Dengan kasar kunyalakan mesin motor dan memacunya. Aku tidak menoleh ke belakang waktu melewati rumah.

Jalan raya dipadati mobil turis; aku meliuk-liuk di antara mobil-mobil, mendapat hadiah klaksonan dan makian. Aku berbelok memasuki jalan 101 dengan kecepatan 112 kilometer per jam tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Aku terpaksa ikut .mtre sebentar agar tidak terlindas sebuah minivan. Bukan karena itu bisa membunuhku, tapi itu hanya akan membuatku terlambat sampai ke sana. Patah tulang—tulang besar, paling tidak— membutuhkan waktu berhari-hari untuk pulih sepenuhnya, seperti pernah kualami sendiri.

Kepadatan agak berkurang, dan kupacu motorku hingga kecepatan 120 kilometer lebih. Aku tidak mengerem hingga mendekati jalan masuk yang sempit; kupikir aku sudah aman di sana. Sam tidak akan pergi sejauh ini untuk menghentikan-ku. Sudah terlambat.

Barulah pada saat itu—waktu aku yakin berhasil—aku mulai memikirkan apa tepatnya yang akan kulakukan sekarang. Aku memperlambat laju motorku menjadi 48 kilometer per jam, meliuk-liuk di antara pepohonan dengan lebih hati-hati daripada yang perlu kulakukan.

Aku tahu mereka akan mendengar kedatanganku, naik motor atau tidak. Tidak mungkin menyembunyikan maksudku, lidward akan langsung mendengar rencanaku begitu aku cukup dekat. Mungkin ia malah sudah bisa mendengarnya. Tapi .iku tetap berpikir ini masih bisa berhasil, karena aku mengandalkan ego Edward. Ia pasti ingin melawanku sendirian.

Aku akan berjalan masuk, melihat sendiri bukti berharganya Sam, kemudian menantang Edward berduel.

Aku mendengus. Si parasit mungkin bakal menyukai situasi dramatis ini.

Kalau aku sudah selesai berurusan dengannya nanti, akan menghabisi sebanyak mungkin yang bisa kuhabisi belum mereka menghabisiku. Hah—aku jadi ingin tahu, apakah Sam akan menganggap kematianku sebagai provokiin. Mungkin ia bakal menganggap aku mendapatkan apa yang. pantas kudapatkan. Tidak mau menyinggung perasaan sohih sohib pengisap darahnya.

Jalan masuk membuka ke arah padang rumput, dan bau ini menghantam indra penciumanku seperti tomat busuk menam par wajah. Ugh. Dasar vampir-vampir berbau busuk. Perutku mulai berontak. Bau itu nyaris tak tertahankan bila keadaan nya seperti ini —tidak bercampur bau manusia yang bisa membuatnya sedikit tersamar, seperti waktu aku datang ke sini dulu—walaupun tidak separah menciumnya langsung dc ngan hidung serigalaku.

Entah apa yang kuharapkan bakal rerjadi, tapi tidak adi tanda-tanda kehidupan di sekitar rumah putih besar itu. Ten tu saja mereka tahu aku datang ke sini.

Aku mematikan mesin dan mendengarkan kesenyapan. Sc karang aku bisa mendengar gumaman tegang dan marah dan balik pintu ganda yang lebar. Ada orang di rumah. Aku mendengar namaku disebut dan tersenyum, senang membayangkan diriku membuat mereka sedikit tertekan.

Aku menghirup udara banyak-banyak—di dalam bauny.i pasti lebih parah—dan melompat menaiki tangga teras dalam satu langkah.

Pintu sudah terbuka sebelum tinjuku sempat menyentuh nya, dan sang dokter berdiri di ambang pintu, matanya muram.

“Halo, Jacob,” sapa sang dokter, lebih tenang daripada yang kuharapkan. “Apa kabar?”

Aku menghela napas dalam-dalam lewat mulut. Bau busuk yang menghambur ke luar pintu sangat memualkan.

Kecewa juga aku karena Cadisle-lah yang membukakan pintu. Aku lebih suka Edward yang muncul di depan pintu, dengan taring terpampang. Catiisle sangat… manusia atau apalah. Mungkin karena ia pernah datang ke rumahku dan mengobatiku musim semi yang lalu waktu aku babak belur. Tapi aku merasa tidak nyaman menatap wajahnya dan tahu bahwa aku berniat membunuhnya kalau bisa.

“Kudengar Bella pulang dalam keadaan hidup,” kataku.

“Eh, Jacob, sekarang benar-benar bukan waktu yang tepat.” Dokter itu tampak kikuk, tapi sikapnya tidak seperti yang kuharapkan. “Bagaimana kalau nanti saja?”

Kupandangi dia, terperangah. Apakah dia meminta menunda duel maut ke waktu yang lebih tepat?

Kemudian aku mendengar suara Bella, parau dan serak, dan serta-merta aku tidak bisa memikirkan hal lain.

“Mengapa tidak?” tanya Bella pada seseorang. “Apakah kita merahasiakannya dari Jacob juga? Apa gunanya?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.