Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Quil sedang memegangi tungkai si batita yang tertawa terkikik-kikik itu waktu aku sampai di tempat mereka. Bocah itu memegang ember dengan satu tangan, dan jinsnya basah kuyup. Bagian depan kaus Quil juga basah.

“Taruhan lima dolar untuk kemenangan si gadis kecil,” katanya.

“Hai, Jake.”

Claire menjerit dan melempar embernya ke lutut) . “Turun, turun!”

Quil menurunkannya dengan hati-hati dan bocah itu berlari menghampiriku. Ia memeluk kakiku erat-erat. “Unca Jay!”

“Apa kabar, Claire?”

Bocah itu terkikik. “Quil sekarang basaaaaaah!’ “Kelihatan kok. Mana mamamu?”

“Pergi, pergi, pergi,” dendang Claire. “CIaire main sama Quil seeeeeharian. Claire nggak pernah pulang.” Ia melepaskan aku dan menghambur ke Quil. Quil meraup dan mendudukkan bocah itu di bahunya.

“Kedengarannya sudah terrible two nih.”

“Sebenarnya tiga,” Quil mengoreksi. “Kau tidak melihat pestanya sih. Temanya Princess. Dia menyuruhku memakai mahkota, kemudian Emily mengusulkan agar mereka mencoba peralatan makeup mainan mereka yang baru padaku.”

“Wow, aku benar-benar menyesal tidak melihatnya.”

“Jangan khawatir, Emily punya foto-fotonya kok. Pokoknya aku kelihatan oke banget.”

“Dasar banci.”

Quil mengangkat bahu. “Claire senang. Itu yang penting.”

Aku memutar bola mata. Sulit memang bergaul dengan orang-orang yang sudah ter-imprint. Tak peduli mereka ada di tahap mana—yang hampir menikah seperti Sam atau pengasuh yang diperlakukan secara semena-mena seperti Quil—kedamaian dan keyakinan yang selalu mereka pancarkan benar-benar memuakkan.

Claire menjerit di pundak Quil dan menunjuk ke tanah “Batu cantik, Quil! Untukku, untukku!”

“Mau yang mana, kiddo? Yang merah?”

“Nggak mau merah!”

Quil berlutut—Claire menjerit dan menarik-narik rambutnya seperti menarik kekang kuda. “Yang biru?”

“Tidak, tidak, tidak…” gadis kecil itu berdendang, girang dengan permainan barunya.

Dan anehnya, Quil juga sama gembiranya dengan Claire. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bosan seperti yang ditunjukkan para ayah dan ibu yang sedang berpiknik di sini—wajah yang berharap waktu tidur siang cepat cepat datang. Tidak pernah ada orangtua yang begitu bersemangat memainkan entah permainan konyol anakanak apa yang terpikirkan oleh berandal kecil mereka. Aku pernah melihat Quil main ciluk ba selama satu jam penuh tanpa merasa bosan.

Dan aku bahkan tidak bisa mengolok-oloknya dalam hal itu—aku justru iri berat padanya.

Walaupun sebenarnya menurutku sungguh menyebalkan ia harus bertingkah seperti badut selama empat belas tahun sampai Claire menginjak usia yang sama dengannya sekarang— bagi Quil, paling tidak, untunglah werewolf tidak menjadi lebih tua. Tapi bahkan waktu selama itu sepertinya tidak terlalu membuatnya terusik.

“Quil, pernahkah terpikir olehmu untuk berkencan?” tanyaku.

“Hah?”

“Nggak, nggak mau kuning!” rengek Claire.

‘Kau tahu. Cewek sungguhan. Maksudku, untuk sekarang (m .saja, ngerti kan? Kalau kau sedang tidak menjaga bayi.”

Quil memandangiku, mulutnya ternganga.

“Batu cantik! Batu cantik!” jerit Claire waktu Quil tidak menawarinya pilihan lain. Dipukulnya kepala Quil dengan imjunya yang mungil.

“Maaf, Claire-bear. Bagaimana kalau yang ungu ini?”

“Nggak,” kikiknya. “Nggak mau ungu.”

“Kasih petunjuk dong. Kumohon, kid”

Claire berpikir sebentar. “Hijau,” akhirnya ia berkata.

Quil memandangi batu-batu, mengamatinya. Ia memungut empat butir dalam nuansa hijau yang berbeda-beda, lalu meng-nlurkannya pada Claire.

“Ada yang kau suka?”

“Yay!”

“Yang mana?”

“Seeeemua!”

Claire menekukkan telapak tangannya dan Quil menuangkan batu-batu kecil itu ke sana. Claire tertawa dan langsung melempari kepala Quil dengan batu. Quil pura-pura meringis kemudian berdiri dan mulai berjalan kembali ke lapangan parkir. Mungkin takut Claire kena pilek gara-gara bajunya basah. Ia lebih parah daripada ibu mana pun yang paranoid dan terlalu protektif terhadap anaknya.

“Maaf kalau aku lancang, mati, soal cewek itu tadi,” kataku.

“Ah, tidak apa-apa,” sahut Quil. “Aku hanya kaget. Itu tak pernah terpikir olehku.”

“Taruhan, Claire pasti mengerti Ngerti kan, kalau dia dewasa nanti. Dia tidak akan marah kalau kau menikmati hidup saat dia masih pakai popok,”

“Tidak, aku tahu itu. Aku yakin dia pasti bisa mengerti,”

Quil tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Tapi kau tidak mau melakukannya, kan?” tebakku.

“Aku tidak bisa melihatnya,” kata Quil pelan, “Aku tidak bisa membayangkannya. Aku benar-benar tidak bisa… melihat siapa pun dalam hal itu. Aku tidak memerhatikan cewek lain lagi, kau tahu. Aku tidak bisa melihat wajah mereka.”

“Itu, ditambah tiara dan tnakeup, maka mungkin Clairc bisa punya saingan yang perlu dikhawatirkan.”

Quil tertawa dan membuat suara-suara seperti orang berciuman padaku. “Kau tidak ada acara apa-apa Jumat ini, Jacob?”

“Enak saja,” tukasku, lalu mengernyitkan wajah. “Yeah, kurasa aku memang tidak punya acara apa-apa.”

Quil ragu-ragu sejenak kemudian bertanya, “Pernahkah terpikir olehmu untuk berkencan?”

Aku mendesah. Salahku sendiri, melontarkan pertanyaan itu tadi.

“Kau tahu, Jake, mungkin ada baiknya bila kau mulai berpikir untuk meneruskan hidup.”

Ia tidak mengucapkannya dengan nada bercanda. Suaranya terdengar bersimpati. Itu malah lebih parah.

“Aku juga tidak melihat mereka, Quil. Aku tidak bisa melihat wajah mereka.”

Quil ikut-ikutan mendesah.

Jauh di sana, terlalu pelan untuk didengar orang lain kecuali kami berdua di selasela deburan ombak, terdengar lolongan melengking dari arah hutan.

“Brengsek, itu Sam,” kata Quil Kedua tangannya terangkat untuk menyentuh Claire, memastikan bocah itu masih di sana. “Aku tidak tahu di mana ibunya berada!”

“Biar aku saja yang pergi untuk melihat ada apa. Kalau Lmii membutuhkanmu, akan kuberitahu nanti.” Aku berbicara dengan cepat. Kata-kataku tidak terdengar jelas. “Hei, bagaimana kalau kaubawa saja dia ke rumah keluarga Clearwater? ke dan Billy bisa menjaganya kalau perlu. Mereka mungkin i.tliu apa yang terjadi.”

“Oke—cepatlah pergi, Jake!”

Aku langsung berlari, tidak ada jalan serapak menerobos ilalang, tapi mengambil jalan tersingkat menuju hutan. Aku melompati barisan pertama pohon driftwood kemudian menerobos semak-semak briar, terus berlari. Aku merasakan air mataku menitik ketika duri-durinya mengoyak kulitku, rapi aku mengabaikannya. Tusukan duri-duri itu pasti sudah sembuh sebelum aku mencapai hutan.

Aku memotong di belakang toko suvenir dan melesat menyeberang jalan. Seseorang mengklaksonku. Setelah aman berada di dalam hutan, aku berlari lebih cepat, langkah-langkahku lebih lebar. Aku bakal jadi tontonan kalau orang melihatku berlari seperti ini di tempat terbuka. Manusia normal tidak bisa berlari secepat ini. Kadang-kadang aku berpikir asyik juga kalau ikut lomba—kau tahu kan, men coba Olimpiade atau sebangsanya. Pasti asyik melihat ekspresi di wajah-wajah para bintang atletik itu waktu aku mengalahkan mereka. Hanya saja, aku yakin tes yang mereka lakukan untuk memastikan kau tidak menggunakan steroid mungkin bakal menunjukkan sesuatu yang sangat aneh dalam darahku.

Begitu aku sudah benar-benar berada di dalam hutan, tidak terlihat dari jalan ataupun rumah, aku berhenti dan melucuti celana pendekku. Dengan gerakan cepat dan terlatih aku menggulung dan mengikatkannya ke tungkai dengan tali kulit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.