Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Rachel tahu semuanya. Dan suatu hari nanti, Paul akan menjadi kakak iparku. Aku tahu Billy juga tidak terlalu senang mengenainya. Tapi ia lebih bisa menerimanya daripada aku. Jelas, belakangan ini kan ia lebih sering kabur ke rumah keluarga Clearwater. Padahal itu kan tidak lebih baik. Tidak ada Paul, tapi ada Leah.

Aku jadi penasaran—apakah kalau pelipisku ditembus peluru, aku bisa benar-benar mati atau itu hanya akan meninggalkan sesuatu yang harus kubereskan?

Aku melempar tubuhku ke tempat tidur. Aku lelah—belum tidur sama sekali sejak patroli terakhirku—tapi aku tahu aku tidak bakal bisa tidur. Isi kepalaku terlalu ruwet. Berbagai pikiran berkecamuk di benakku, seperti segerombolan lebah. Berisik, Sesekali mereka menyengat. Pasti hornet, bukan lebah. Lebah kan mati sehabis menyengat. Padahal pikiran yang sama menyengatku berulang kali.

Penantian ini membuatku sinting. Sudah hampir empat minggu berlalu. Aku memperkirakan, di satu sisi kabar itu seharusnya sudah datang sekarang. Bermalam-malam aku tidak tidur, membayangkan bagaimana bentuk kabar itu. Charlie menangis tersedusedu di telepon—Bella dan suaminya hilang dalam kecelakaan. Pesawat jatuh? Sulit untuk berpura-pura hilang dalam kecelakaan pesawat. Kecuali lintah-lintah itu tidak keberatan membunuh segerombolan orang untuk memberi kesan autentik, dan mengapa pula mereka mesti keberatan? Mungkin mereka akan mengorbankan sebuah pesawat kecil saja. Mungkin mereka punya pesawat sendiri dan bisa mengorbankan salah satu untuk keperluannya.

Atau mungkin si pembunuh akan pulang sendiri, gagal kujadikan Bella salah satu dari mereka? Atau malah mungkin belum sempat sampai ke sana. Mungkin Edward meremukkan Bella seperti ia meremukkan keripik kentang tadi? karena nyawa Bella tak lebih penting bagi Edward ketimbang kenikmatannya sendiri…

Ceritanya akan sangat tragis—Bella hilang dalam kecelakaan mengerikan. Korban penculikan yang salah sasaran, tersedak makanan dan meninggal. Kecelakaan mobil, seperti ibuku. Begitu jamak. Terjadi setiap saat.

Apakah Edward akan membawa jenazah Bella pulang? Menguburnya di sini demi Charlie? Peti matinya tertutup rapat, tentu saja. Peti mati ibuku bahkan dipaku rapat,.-

Aku hanya bisa berharap Edward akan membawa Bella kembali ke sini, dalam jangkauanku.

Mungkin tidak akan ada cerita apa-apa. Mungkin Charlie akan menelepon ayahku kalau ia sudah mendapat kabar apa saja dari Dr. Cullen, yang tahu-tahu saja tidak muncul di tempat kerjanya suatu hari nanti. Rumahnya ditinggal begitu saja. Tak satu pun keluarga Cullen bisa dihubungi. Misteri itu tercium oleh salah satu tayangan berita kelas dua, yang menayangkannya dengan kecurigaan adanya permainan kotor,..

Mungkin rumah putih besar itu akan terbakar habis, seluruh anggota keluarga terjebak di dalamnya. Tentu saja, mereki memerlukan beberapa mayat kalau ceritanya seperti itu. Delapan manusia yang ukuran badannya kira-kira sama. Gosong hingga tidak bisa dikenali lagi—bahkan sudah tidak bisa di identifikasi lagi melalui rekam gigi.

Yang mana pun itu, semuanya bakal sulit—bagiku, maksudnya. Sulit mencari mereka kalau mereka tidak ingin ditemukan. Tentu saja, aku punya waktu selamanya untuk mencari. Kalau kau memiliki waktu tidak terbatas, kau bisa memeriksa setiap lembar jerami dalam tumpukan, satu demi satu, untuk mencari jarumnya.

Sekarang ini, aku tidak keberatan menyisir setumpuk jerami satu demi satu. Setidaknya dengan begitu ada sesuatu yang bisa dilakukan. Aku tidak senang mengakui aku bisa kehilangan kesempatan. Memberi para pengisap darah itu waktu untuk meloloskan diri, kalau memang itu rencana mereka.

Kami bisa pergi malam ini. Kami bisa membunuh siapa saja yang bisa kami temukan.

Aku menyukai rencana itu karena aku cukup mengenal Edward untuk tahu bahwa, kalau aku membunuh salah satu anggota kelompoknya, aku akan mendapat kesempatan berhadapan dengannya. Ia pasti datang untuk membalas dendam. Dan aku akan meladeninya—takkan kubiarkan saudara saudaraku menghadapinya bersama-sama. Ini urusanku de ngannya. Yang lebih kuatlah yang akan menang.

Tapi Sam sama sekali tidak mau mendengarku. Kita tidak akan melanggar kesepakatan. Biar saja mereka yang melanggar lebih dulu. Hanya karena kami tidak punya bukti keluarga Cullen telah melakukan pelanggaran. Belum. Kau harus menambahkan kata belum, karena kami tahu itu tidak bisa dihindari. Bella akan kembali sebagai salah seorang dari mereka, atau tidak kembali sama sekali. Yang mana pun itu, hidup seorang manusia sudah hilang. Dan itu berarti pertandingan lusa segera dimulai.

Di ruangan sebelah Paul terkekeh seperti keledai. Mungkin ia sudah mengganti saluran ke acara komedi. Mungkin iklannya lucu. Masa bodoh. Suara tawa itu mengiris-iris sarafku.

Terpikir olehku untuk meremukkan hidungnya lagi. Tapi bukan Paul yang ingin kuhajar. Tidak terlalu.

Aku berusaha mendengarkan suara-suara lain, angin bertiup di pepohonan. Rasanya tidak sama, tidak dengan telinga manusia. Ada jutaan suara dalam angin yang tidak bisa kudengar dengan tubuh ini.

Tapi telinga-telinga ini cukup sensitif. Aku bisa mendengar jauh melewati pepohonan, ke jalan, suara-suara mobil berbelok di tikungan terakhir tempat kau akhirnya bisa melihat pantai—pemandangan indah pulau-pulau, karang-karang, serta samudera biru luas membentang hingga ke batas cakrawala. Polisi-polisi ka Push senang nongkrong di sana. Soalnya ruris-ruris tak pernah memerhatikan peringatan harus mengurangi kecepatan yang terpasang di pinggir jalan sana.

Aku bisa mendengar suara-suara di luar toko suvenir di tepi pantai. Aku bisa mendengar lonceng sapi berdentang setiap kali pintu dibuka dan ditutup. Aku bisa mendengar suara ibu Embry di depan mesin kasir, mencetak bon.

Aku bisa mendengar ombak berdebur memecah karang di tepi pantai. Aku bisa mendengar anak-anak menjerit saat air sedingin es mengejar mereka, terlalu cepat untuk bisa dihindari. Aku bisa mendengar para ibu mengeluh karena baju mereka basah. Dan aku bisa mendengar suara yang familier…

Aku mendengarkan dengan begitu saksama sehingga ledakan tawa Paul yang tibatiba membuatku separo terlontar dari tempat tidur.

“Pergi dari rumahku!” gerutuku. Tahu Paul tidak bakal perduli, aku mengikuti saranku sendiri. Kubuka jendelaku lebar-lebar dan memanjat keluar supaya tidak perlu bertemu Paul lagi. Godaan itu kelewat besar. Aku tahu aku akan meninjunya lagi, dan Rachel bakal mengamuk, la akan melihat darah di kemeja Paul dan langsung menyalahkanku tanpa menunggu bukti. Tentu saja ia benar, tapi kan tetap saja.

Aku berjalan ke pantai, kedua tangan kubenamkan ke saku. Tidak ada yang melirikku waktu aku berjalan melintasi lapangan tanah di First Beach. Itulah enaknya musim panas— tidak ada yang peduli meskipun kau hanya bercelana pendek.

Aku mengikuti suara akrab yang kudengar tadi dan dengan mudah menemukan Quil. Ia berada di sebelah selatan pantai yang berbentuk bulan sabit, menghindari bagian yang dipadati turis. Mulutnya tak henti-henti meneriakkan peringatan.

“Jangan masuk ke air, Claire, Ayolah. Tidak, jangan. Oh! Bagus. Nak. Serius nih, kau mau aku dimarahi Emily, ya? Aku tidak mau membawamu ke pantai lagi kalau kau tidak— Oh, yeah? Jangan—ugh. Kau kira itu lucu, ya? Hah! Siapa yang tertawa sekarang, hah?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.