Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Morte” desahnya pelan. Kemudian ia berbalik, bahunya terkulai seolah-olah pembicaraan tadi membuatnya letih, lalu meninggalkan ruangan.

Aku tahu arti kata itu dalam bahasa Spanyol.

Edward kembali membeku, memandangi kepergian wanita itu dengan ekspresi tersiksa di wajahnya. Beberapa saat kemudian, aku mendengar mesin kapal meraung hidup, lalu menhilang di kejauhan.

Edward tidak bergerak sampai aku beranjak ke kamar mandi. Kemudian tangannya memegangi bahuku.

“Kau mau ke mana?” Suara Edward berupa bisikan sedih.

“Mau menggosok gigi lagi.”

“Jangan khawatirkan kata-katanya tadi. Itu. semua hanya legenda, dusta lama yang dimaksudkan untuk menghibur.”

“Aku tidak mengerti apa-apa,” sergahku, walaupun tidak sepenuhnya benar. Seolah-olah aku bisa menepiskan sesuatu hanya karena itu legenda saja. Hidupku dikelilingi legenda. Dan semuanya nyata.

“Aku sudah memasukkan sikat gigimu ke tas. Aku akan mengambilkannya untukmu.”

Ia berjalan mendahuluiku ke kamar.

“Kita akan pulang sebentar lagi?” aku berseru padanya.

“Segera setelah kau selesai.”

Ia menunggu untuk menyimpan kembali sikat gigiku, berjalan mondar-mandir tanpa suara di dalam kamar. Kuserahkan sikat gigi itu padanya setelah selesai.

“Akan kumasukkan tas-tas ke dalam kapal.”

“Edward…”

Ia berbalik. “Ya?”

Aku sangsi, berusaha mencari cara untuk bisa sendirian beberapa saat. “Bisakah kau… mengemas sedikit makanan? Kau tahu, untuk jaga-jaga, siapa tahu aku lapar lagi.”

“Tentu saja,” jawab Edward, matanya tiba-tiba melembut. “Jangan khawatirkan apa pun. Beberapa jam lagi kita akan bertemu Carlisle. Sebentar lagi semua akan berakhir.”

Aku mengangguk, tak mampu bicara.

Ia berbalik dan meninggalkan ruangan, masing-masing tangannya menjinjing satu koper besar.

Secepat kilat aku berbalik dan menyambar ponsel yang ia tinggalkan di konter. Tidak biasanya ia pelupa begini—lupa Gustavo akan datang, lupa meninggalkan ponselnya tergeletak di sini. Edward begitu tertekan sampai nyaris bukan dirinya sendiri.

Aku membuka ponsel dan mencari di antara nomor-nomor ying sudah diprogramkan di dalamnya, takut Edward memergokiku. Sudahkah ia berada di kapal sekarang? Atau sudah kembali? Apakah ia bisa mendengarku dari dapur kalau aku berbisik?

Aku menemukan nomor yang kuinginkan, nomor yang tidak pernah kuhubungi sebelumnya seumur hidupku. Kutekan tombol “Send” dan menyilangkan jari-jariku.

“Halo?” suara yang berdenting bagaikan lonceng angin itu menjawab.

“Rosalie?” bisikku. “Ini Bella. Please. Kau harus menolongku.”

 

BUKU DUA

JACOB

Namun, sejujurnya, akal sehat dan cinta nyaris tak berjalan seiring sekarang ini. William Shakespeare A Midsummer Night’s Dream Act III, Scene I

PENDAHULUAN

Hidup menyebalkan, lalu kau mati. Yeah, seandainya aku seberuntung itu.

8. MENUNGGU PERTENGKARAN SIALAN ITU DIMULAI

ASTAGA, Paul, memangnya kau tidak punya rumah sendiri, ya?”

Paul yang duduk santai menempati seluruh sofaku, menonton pertandingan bisbol di TV tuaku, nyengir padaku, kemudian—dengan gerakan sangat pelan—mengangkat sekeping keripik Doritos dari bungkusan di pangkuannya dan nienjejalkannya ke mulut.

“Mudah-mudahan itu keripik yang kaubawa sendiri dari rumah.”

Kriuuk. “Nggak” jawabnya sambil mengunyah. “Kakakmu bilang silakan, aku boleh ambil apa saja yang kuinginkan.”

Aku berusaha membuat suaraku terdengar seolah-olah aku tidak ingin meninjunya. “Jadi Rachel ada di sini sekarang?”

Tidak berhasil. Ia mengendus maksudku dan menyurukkan bungkusan itu ke balik punggung. Bungkusan itu berderak waktu ia menghantamkannya ke bantal sofa. Keripiknya remuk. Kedua tangan Paul terangkat membentuk tinju, dekat ke wajahnya seperti petinju.

“Sikat saja, Nak. Aku tidak butuh Rachel untuk melindungiku.”

Aku mendengus. “Ya, yang benar saja. Kayak kau tidak bakal mengadu padanya saja di kesempatan pertama.”

Paul tertawa dan duduk rileks, menurunkan kedua tangan nya. “Aku tidak akan mengadu pada cewek. Kalau kau bei untung bisa memukulku, itu antara kita saja. Begitu juga sebaliknya, benar?”

Baik juga dia memberiku “undangan”. Kuenyakkan tubuhku di sofa seolah-olah sudah menyerah. “Baiklah.”

Mata Paul melirik TV.

Aku menerjang.

Hidungnya remuk dengan suara berderak yang sangat mc muaskan waktu tinjuku menghantamnya. Ia berusaha menyam bar tubuhku, tapi dengan sigap aku berkelit sebelum ia bisa meraihnya, memegang bungkusan keripik Doritos yang sudah hancur dengan tangan kiriku.

“Kau mematahkan hidungku, tolol.”

“Antara kita saja, benar kan, Paui?”

Aku pergi untuk menyimpan keripikku. Waktu aku kembali, Paul sudah membetulkan bentuk hidungnya sebelum tulangnya sempat pulih dalam keadaan bengkok.

Darah sudah berhenti mengalir; hanya menetes di bibir dan dagu. Paul memaki, meringis waktu menarik tulang rawannya.

“Kau ini benar-benar menyebalkan, Jacob. Sumpali, aku Iebih suka nongkrong dengan Leah.”

“Aduh. Wow, berani taruhan, Leah pasti senang sekali mendengar kau suka menghabiskan waktu bersamanya. Itu akan menghangatkan hatinya.”

“Lupakan saja aku pernah bilang begitu.”

“Tentu saja. Aku yakin aku tidak bakal keceplosan.”

“Ugh” gerutu Paul, kemudian kembali bersandar di sofa, menyeka sisa darah dengan kerah T-shirt-nya. “Cepat juga kau, Nak. Itu harus kuakui.” Ia mengalihkan perhatian kembali ke pertandingan.

Aku berdiri selama satu detik, lalu menghambur ke kamar, mengomel panjangpendek tentang penculikan orang oleh makhluk angkasa luar.

Dulu Paul siap berkelahi kapan saja. Tidak perlu harus memukulnya dulu—diejek saja ia pasti sudah mengamuk, gampang saja memicu amarahnya. Sekarang, tentu saja, di saat aku benar-benar ingin mencari gara-gara dan bergulat lubis-habisan, ia malah bersikap lunak.

Apakah belum cukup menyebalkan, lagi-lagi ada anggota kawanan yang terkena imprint—karena, yang benar saja, itu berarti sekarang semuanya berjumlah empat dari sepuluh orang! Kapan ini bakal berhenti? Mitos tolol kan seharusnya jarang terjadi, demi Tuhan! Masalah cinta pada pandangan pertama wajib ini benar-benar memuakkan!

Apakah harus dengan kakakku? Apakah harus dengan Paul?

Ketika Rachel pulang dari Washington State pada akhir semester musim panas— lulus lebih cepat, dasar kutu buku— kekhawatiran terbesarku adalah bahwa akan sulit menyimpan rahasia dengan adanya dia di rumah. Aku tidak suka harus merahasiakan sesuatu di rumahku sendiri. Itu membuatku kasihan pada anak-anak seperti Embry dan Collin, yang orang-luanya tidak tahu mereka werewolf Ibu Embry mengira ia sedang dalam rahap usia di mana ia suka memberontak. Akibatnya Embry selalu dihukum karena bolak-balik menyelinap ke luar, tapi, tentu saja, tak banyak yang bisa dilakukan Embry mengenainya. Ibunya memeriksa kamarnya setiap malam, dan setiap malam pula kamarnya kosong. Lantas ibunya memarahinya dan Embry diam saja dimarahi, tapi kemudian melakukan hal yang sama lagi keesokan harinya. Kami sud.ili berusaha meminta Sam untuk memberi kelonggaran pad.i Embry dan membiarkan ibunya mengetahui rahasia ini, tapi menurut Embry itu sama sekali bukan masalah. Rahasia ini terlalu penting.

Maka aku pun siap menjaga rahasia itu. Tapi kemudian dua hari setelah Rachel sampai di rumah, Paul bertemu dengannya di pantai. Dan simsalabim—cinta sejati! Tak perlu ada rahasia bila kau menemukan belahan jiwamu, dan segala omong kosong tentang imprinting werewolf konyol itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.