Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menelan ludah. “Baiklah, Seth. Aku toh sudah tahu jawabannya sebelum bertanya tadi. Boleh saja kan, berharap.”

“Yeah. Perasaan kita semua sama kok.”

“Terima kasih telah sabar menghadapiku, Seth. Aku tahu yang lain pasti mengecam sikapmu.”

“Mereka memang bukan penggemar beratmu,” Seth membenarkan dengan nada riang. “Agak menyebalkan, menurutku. Jacob membuat keputusannya sendiri, kau membuat keputusanmu. Jake tidak menyukai sikap mereka mengenainya. Tentu saja, dia juga tidak senang kau selalu menanyakan kabarnya.”

Aku terkesiap. “Lho, kusangka dia tidak mau bicara dengan kalian?”

“Dia tidak bisa menyembunyikan semuanya dari kami, sekeras apa pun dia berusaha.”

Jadi Jacob tahu aku khawatir. Aku tak yakin bagaimana perasaanku mengetahui hal itu. Well, setidaknya ia tahu aku tidak kabur begitu saja menyongsong matahari terbenam dan melupakannya sepenuhnya. Ia mungkin sempat mengira aku tega berbuat begitu.

“Kalau begitu sampai ketemu di… pernikahanku” kataku, memaksa mengucapkan kata-kata itu,

“Yeah, aku dan ibuku pasti datang. Baik sekali kau mengundang kami.”

Aku tersenyum mendengar nada antusias dalam suaranya. Walaupun mengundang keluarga Clearwater sebenarnya ide Edward, aku gembira itu terpikirkan olehnya. Senang rasanya ada Seth di sana—ia merupakan penghubung, walaupun tipis, dengan best man-ku

yang lenyap entah ke mana. “Tidak menyenangkan kalau tidak ada kau.”

“Sampaikan salamku untuk Edward, oke?”

“Tentu.”

Aku menggeleng. Persahabatan yang terjalin antara Edward dan Seth masih saja membuatku terheran-heran. Namun itu bukti bahwa keadaan tidak harus menjadi seperti sekarang ini. Bahwa vampir dan werewolf bisa hidup berdampingan, terima kasih banyak, kalau mereka menghendakinya.

Tapi tidak semua orang menyukai ide ini.

“Ah,” ujar Seth, suaranya naik saru oktaf. “Eh, Leah pulang.”

“Oh! Sudah dulu, ya!”

Hubungan langsung terputus. Aku meletakkan ponselku di jok dan mempersiapkan mental untuk masuk ke rumah, tempat Charlie pasti sudah menunggu.

Ayahku yang malang saat ini sedang banyak pikiran. Kaburnya Jacob dari rumah hanya satu dari sekian banyak beban yang ditanggungnya. Ia juga sama khawatirnya memikirkan aku, putrinya yang belum sepenuhnya dewasa, yang beberapa liari lagi akan menikah.

Aku berjalan lambat-lambat menembus gerimis, mengingat malam waktu kami memberitahunya».

***

Begitu mendengar suara mobil polisi Charlie mendekat, cincin itu tiba-tiba terasa sangat berat di jari manisku. Ingin rasanya kusurukkan tangan kiriku ke saku, atau mungkin mendudukinya, tapi genggaman tangan Edward yang dingin dan erat membuatnya tetap di pangkuan.

“Berhenti bergerak-gerak, Bella. Ingatlah kau bukan hendak mengaku telah membunuh orang.”

“Mudah bagimu untuk bicara begitu.”

Aku mendengarkan suara mengerikan sepatu bot ayahku menapaki trotoar. Kuncikunci bergemerincing di pintu yang tidak dikunci. Suara itu mengingatkanku pada film horor saat si korban sadar ia lupa menyelot pintunya.

“Tenanglah, Bella,” bisik Edward, mendengarkan detak jantungku yang semakin cepat.

Pintu dibuka hingga membentur dinding, dan aku tersentak seperti ditampar.

“Hai, Charlie,” seru Edward, sikapnya benar-benar rileks. “Jangan!” protesku pelan. “Apa?” Edward balas berbisik. “Tunggu sampai dia menggantung pistolnya dulu!” Edward terkekeh dan menyusupkan tangannya yang bebas ke sela-sela rambut perunggunya.

Charlie muncul dari sudut ruangan, masih mengenakan seragam, masih bersenjata, dan berusaha tidak mengernyit waktu melihat kami duduk di sofa dua dudukan. Belakangan, ia berusaha keras untuk lebih menyukai Edward. Tentu saja,

apa yang akan kami sampaikan ini jelas akan langsung membuatnya berhenti mencoba. “Hei. Ada apa?”

“Ada yang ingin kami bicarakan,” kata Edward, sangat tenang. “Ada kabar baik”

Dalam sedetik ekspresi Charlie berubah dari keramahan yang dipaksakan menjadi kecurigaan.

“Kabar baik?” geram Charlie, memandangku lurus-lurus,

“Duduklah, Dad.”

Alis Charlie terangkat sebelah, memandangiku selama lima detik, berjalan sambil mengentakkan kaki ke kursi malas, lalu duduk di ujungnya dengan punggung tegak.

“Jangan tegang begitu, Dad,” kataku setelah hening yang menjengahkan. “Semuanya beres.”

Edward nyengir, dan aku tahu ia tidak menyukai istilah beres yang kugunakan, la sendiri mungkin akan menggunakan istilah baik-baik saja atau sempurna atau menyenangkan.

“Tentu, Bella, tentu. Kalau benar semuanya beres, lantas mengapa keringatmu besar-besar sebiji jagung begitu?”

“Aku tidak berkeringat,” dustaku.

Aku mengkeret dipandangi begitu galak oleh ayahku, merapat pada Edward, dan tanpa sadar mengusapkan punggung tangan kananku ke dahi untuk menghilangkan barang bukti.

“Kau hamil!” Charlie meledak. “Kau hamil, kan?”

Walaupun pertanyaan itu jelas-jelas ditujukan padaku, rapi tatapan garangnya sekarang tertuju kepada Edward, dan berani sumpah aku sempat melihat tangannya bergerak hendak meraih pistol.

“Tidak! Tentu saja aku tidak hamil!” Ingin rasanya aku menyikut rusuk Edward, tapi tahu gerakan itu hanya akan membuat sikuku memar. Sudah kubilang kepada Edward, orang-orang pasti bakal langsung menyimpulkan begitu! Apa lagi alasan orang waras menikah di usia delapan belas tahun? (Jawaban Edward waktu itu membuatku memutar bola mata. Cinta. Yang benar saja.)

Kemarahan Charlie sedikit mereda. Biasanya memang sangat jelas tergambar di wajahku apakah aku berkata jujur, dan ia sekarang percaya padaku. “Oh. Maaf”

“Permintaan maaf diterima.”

Lama tidak terdengar apa-apa. Sejurus kemudian baru aku sadar semua orang menungguku mengatakan sesuatu. Aku mendongak memandang Edward, dicekam kepanikan. Tidak mungkin aku mampu bicara.

Edward tersenyum padaku, menegakkan bahu, dan berpaling pada ayahku.

“Charlie, aku sadar telah melakukannya dengan cara tidak lazim. Secara tradisional, seharusnya aku meminta izin dulu darimu. Aku tidak bermaksud kurang ajar, tapi karena Bella sudah mengiyakan dan aku menghargai keputusannya, jadi alih-alih meminta izin padamu untuk melamarnya, aku memintamu merestui kami. Kami akan menikah, Charlie. Aku mencintai Bella lebih daripada apa pun di dunia ini, lebih daripada hidupku sendiri, dan—ajaibnya—dia juga mencintaiku. Maukah kau merestui kami?”

Edward terdengar sangat yakin, sangat tenang, Dalam sekejap, mendengarkan keyakinan luar biasa dalam suaranya, aku seperti mengalami momen pencerahan yang sangat jarang terjadi. Aku bisa melihat, sekilas, bagaimana dunia terlihat di mata Edward. Selama satu detak jantung, kabar ini terasa sangat masuk akal.

Kemudian mataku menangkap ekspresi Charlie, matanya kini tertuju ke cincinku.

Aku menahan napas sementara wajah Charlie berubah warna—putih ke merah, merah ke ungu, ungu ke biru. Aku beranjak bangkit—tak yakin apa sebenarnya yang akan kulakukan; mungkin melakukan manuver Heimlich untuk memastikan ia tidak tercekik— tapi Edward meremas tanganku dan bergumam, “Beri dia waktu sebentar” begitu pelan hingga hanya aku yang bisa mendengar.

Kali ini keheningan yang terjadi jauh lebih panjang. Kemudian, berangsur-angsur, rona wajah Charlie kembali normal. Bibirnya mengerucut, alisnya berkerut; aku mengenali ekspresi “berpikir keras”-nya. Ia mengamati kami lama sekali, dan aku merasakan Edward merileks di sisiku.

“Kurasa aku tidak terlalu terkejut,” gerutu Charlie. “Aku sudah tahu tak lama lagi aku bakal harus menghadapi hal semacam ini.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.