Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Anak ini, anak Edward, sangat berbeda.

Aku menginginkannya seperti aku menginginkan udara untuk bernapas. Bukan pilihan—melainkan kebutuhan.

Mungkin sebenarnya imajinasiku memang sangat buruk. Mungkin itulah sebabnya aku tak mampu membayangkan-Bahwa aku suka menikah sampai aku sudah menikah— tidak membayangkan bahwa aku menginginkan seorang bayi, impai bayi itu hadir… aku meletakkan tangan di perutku, menunggu sundulan berikut, air mata kembali membasahi pipiku.

“Bella?”

Aku menoleh, cemas mendengar nada suara Edward. Terlilit dingin, terlalu hatihati. Wajahnya petsis sama dengan «luianya, kosong dan kaku.

Kemudian dilihatnya aku menangis,

“Bella!” Secepat kilat ia melintasi ruangan dan merengkuh wajahku dengan tangannya. “Kau kesakitan?”

” Tidak, tidak…”

Ia mendekapku ke dadanya. “Jangan takut. Enam belas jam lagi kita sampai di rumah. Kau akan baik-baik saja. Carlisle sudah siap begitu kita sampai di sana. Kita akan membereskannya, dan kau akan baik-baik saja, kau akan baik-baik saja.

“Membereskannya? Apa maksudmu?”

Edward menjauhkan tubuhnya dan menatap mataku lekat-lekat. “Kira akan mengeluarkan makhluk itu sebelum dia melukai organ tubuhmu. Jangan takut. Aku tidak akan membiarkannya menyakitimu.”

“Makhluk itu?” aku terkesiap.

Edward berpaling dengan tatapan tajam, berjalan menuju pintu depan. “Brengsek! Aku lupa Gustavo dijadwalkan datang hari ini. Akan kusuruh dia pergi, sebentar lagi aku kembali.” Ia melesat ke luar ruangan.

Tanganku mencengkeram konter, menyangga tubuh! Lututku lemas.

Edward tadi menyebut penyundul kecilku sebagai makhluk Ia mengatakan Carlisle akan mengeluarkannya.

“Tidak,” bisikku.

Ternyata dugaanku keliru. Edward sama sekali tidak peduli pada bayi ini. Ia ingin menyakitinya.. Bayangan indah dalam benakku tiba-tiba berubah, berubah jadi sesuatu yang gelap. Bayiku yang rupawan menangis, lenganku yang lemah tak cukup kuat untuk melindunginya…

Apa yang bisa kulakukan? Bisakah aku meminta pengertian mereka? Bagaimana kalau tidak bisa? Apakah ini menjelaskan sikap aneh Alice yang diam saja waktu kutanya di telepon tadi? Itukah yang dia lihat? Edward dan Carlisle membunuh bocah pucat sempurna ini sebelum ia bisa hidup?

“Tidak,” bisikku lagi, suaraku lebih kuat. Itu tidak boleh terjadi. Aku takkan mengizinkannya.

Aku mendengar Edward berbicara lagi dalam bahasa Portugis. Berdebat lagi. Suaranya semakin dekat, dan kudengar ia menggeram putus asa. Kemudian aku mendengar suara lain, rendah dan malu-malu. Suara wanita.

Edward memasuki dapur, mendahului wanita itu, dan langsung mendatangiku. Ia menyeka air mata dari pipiku dan berbisik di telingaku dengan bibir terkatup rapat dan membentuk garis tipis yang keras.

“Dia bersikeras ingin meninggalkan makanan yang dibawanya—dia memasakkan makan malam untuk kita.” Seandainya ia tidak setegang dan sekalut itu, aku tahu Edward pasti akan memutar bola matanya. “Itu hanya alasan—dia ingin memastikan aku belum membunuhmu.” Suaranya berubah sedingin es di bagian akhir.

Kaure beringsut-ingsut gugup di pojok dapur, tangannya memegang wadah bertutup. Seandainya saja aku bisa berbicara Portugis, atau kemampuan bahasa Spanyol-ku tidak terlalu minim, aku bisa mencoba mengucapkan terima kasih kepada wanita ini, yang berani membuat marah vampir hanya demi mengecek keberadaanku.

Mata Kaure berkelebat, menatap kami bergantian. Kulihat ia mengamati warna wajahku, dan mataku yang basah. Mengumumkan sesuatu yang tidak kumengerti, ia meletakkan wadah itu di konter.

Edward mengatakan sesuatu padanya dengan nada membentak; belum pernah aku mendengarnya bersikap sangat tidak sopan. Wanita itu berbalik untuk pergi, dan gerakan berputar cepat dari roknya yang panjang menghamburkan aroma makanan ke wajahku. Baunya kuat—bawang dan ikan. Aku tersedak dan secepat kilat menghambur ke bak cuci piring, Aku merasakan tangan Edward memegangi keningku dan mendengarnya menenangkanku dengan suara lembut di sela-sela suara gemuruh di dalam telingaku. Tangannya menghilang sejenak, dan aku mendengar suara pintu kulkas dibanting.

Syukurlah, bau itu lenyap bersama suara itu dan tangan Edward kembali menyejukkan wajahku yang berkeringat. Semua berakhir dengan cepat.

Aku berkumur membersihkan mulutku dengan air keran sementara Edward membelai-belai bagian samping wajahku.

Terasa sundulan kecil di rahimku.

Semua beres. Kita baik-baik saja, batinku pada tonjolan di perutku.

Edward membalikkanku, menarikku ke dalam pelukannya. Aku meletakkan kepalaku di dadanya. Kedua tanganku, secara naluriah, terlipat di atas perut.

Aku mendengar suara terkesiap kecil dan mendongak.

Wanita itu masih di sana, ragu-ragu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan separo terulur, seolah-olah menawarkan diri untuk membantu. Matanya terpaku ke tanganku membelalak shock. Mulutnya menganga.

Kemudian Edward ikut terkesiap. Ia tiba-tiba berpaling menghadapi wanita itu, mendorongku sedikit ke balik tubuhnya. Lengannya melingkari tubuhku, seperti menahanku belakang.

Tiba-tiba Kaure meneriaki Edward—suaranya keras dan bernada marah, katakatanya yang tak bisa kumengerti berhamburan ke seluruh ruangan bagaikan pisau. Ia mengangkat tinjunya yang kecil tinggi-tinggi di udara dan maju dua langkah, mengacungacungkannya pada Edward. Meski garang kentara sekali matanya memancarkan kengerian.

Edward maju menghampirinya, dan aku mencengken lengannya, takut ia akan menyakiti wanita itu. Tapi waktu ia menyela amukan wanita itu, suaranya membuatku terkeju apalagi mengingat betapa tajam nada Edward tadi saat Kau tidak berteriak-teriak memarahinya. Suaranya sekarang pela nadanya memohon. Bukan hanya itu, tapi suaranya berbeda lebih rendah, tanpa irama. Sepertinya ia tidak lagi berbicara dalam bahasa Portugis.

Sesaat wanita itu memandanginya keheranan, kemudian matanya menyipit saat ia memberondong Edward dengan sederet pertanyaan panjang dalam bahasa asing yang sama.

Kulihat wajah Edward berubah sedih dan serius, dan ia mengangguk satu kali. Wanita itu mundur selangkah dengan cepat dan membuat tanda salib.

Edward mengulurkan tangan pada wanita itu, melambai ke arahku, kemudian meletakkan tangannya di pipiku. Wanita ITU menyahut lagi dengan nada marah, menggerak-gerakkan memperingati dengan sikap menuduh pada Edward, lalu mengibaskan tangan ke arahnya. Setelah ia selesai, Edward kembali memohon dengan suara rendah bernada mendesak yang sama.

Ekspresi wanita itu berubah—ia menatap Edward dengan akspresi yang jelas-jelas ragu, matanya berulang kali melirik wajahku yang bingung. Edward berhenti berbicara, dan wanita itu sepertinya mempertimbangkan sesuatu. Ia menatap kami bergantian, kemudian, seolah tanpa sadar, ia melangkah maju.

Ia membuat gerakan dengan kedua tangannya, membuat bentuk seperti balon membuncit di perutnya. Aku kaget—apakah legenda-legendanya tentang makhluk peminum darah juga termasuk hal ini? Mungkinkah ia tahu apa yang tumbuh dalam perutku?

Wanita itu maju beberapa langkah, kali ini mantap, dan mengajukan beberapa pertanyaan singkat, yang dijawab Edward dengan tegang. Kemudian giliran Edward yang bertanya—satu pertanyaan singkat. Wanita itu ragu-ragu, kemudian perlahan-lahan menggeleng. Waktu Edward bicara lagi, suaranya begitu tersiksa sampai-sampai aku mendongak dan menatapnya dengan shock. Wajahnya tampak sangat sedih.

Sebagai jawaban, wanita itu maju pelan-pelan sampai ia berada cukup dekat untuk meletakkan tangannya yang kecil di atasku, di atas perutku. Ia mengucapkan satu kata dalam bahasa Portugis.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.