Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Akhirnya, kejengkelanku memuncak. Aku berlutut di samping Edward—aku mendapati diriku bergerak lebih hati-hati, seribu kali lebih menyadari setiap gerakan—dan menepuknepuk semua kantongnya sampai menemukan ponsel. Aku separo berharap ia akan mencair dan menjawabnya sendiri, tapi Edward diam tak bergerak.

Aku mengenali nomornya, dan bisa dengan mudah menebak mengapa ia menelepon.

“Hai, Alice,” sapaku. Suaraku tidak lebih baik daripada sebelumnya. Aku berdeham-deham.

“Bella? Bella, kau baik-baik saja?”

“Yeah, Eh. Ada Carlisle tidak?”

“Ada. Memangnya ada apa?”

“Aku belum… seratus persen… yakin…”

“Apakah Edward baik-baik saja?” tanya Alice waswas. Ia menjauhkan corong telepon, berseru memanggil Carlisle, kemudian menuntutpenjelasan,”Mengapa dia tidak mau mengangkat telepon?” sebelum aku bisa menjawab pertanyaan pertamanya.

“Entahlah.”

“Bella, apa yang terjadi? Barusan aku melihat…”

“Apa yang kaulihat?”

Alice tidak menjawab. “Ini Carlisle,” akhirnya ia berkata.

Rasanya seolah-olah ada air dingin disuntikkan ke pembuluh darahku. Kalau dalam visinya Alice melihatku bersama anak bermata hijau dan berwajah malaikat dalam pelukanku, ia pasti akan menjawab pertanyaanku tadi, bukan?

Sementara menunggu sepersekian detik sebelum Carlisle berbicara, visi yang dalam bayanganku dilihat Alice menari-nari di pelupuk mataku. Seorang bayi mungil rupawan, bahkan lebih rupawan daripada bocah dalam mimpiku—Edward kecil dalam pelukanku. Perasaan hangat menjalari segenap nadiku, mengusir perasaan dingin tadi.

“Bella, ini Carlisle. Ada apa?”

“Aku…” aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Apakah Carlisle akan menertawakan kesimpulanku, mengataiku sinting. Atau apakah aku sedang bermimpi? “Aku agak khawatir memikirkan Edward… Bisakah vampir mengalami shock?”

“Apakah dia mengalami cedera?” Suara Carlisle tiba-tiba lirih.

” Tidak, tidak,” aku meyakinkan dia. “Hanya… terkejut.” Aku tidak mengerti. Bella.”

“Kupikir… well, kupikir.., mungkin… bisa jadi aku..” Aku menarik napas dalamdalam. “Hamil.”

Seakan hendak mendukung kebenaran kata-kataku, terasa sundulan kecil di perutku. Tanganku langsung melayang ke perut.

Setelah terdiam cukup lama, ilmu kedokteran Carlisle langsing beraksi.

“Kapan hari pertama menstruasi terakhirmu?”

“Enam belas hari sebelum menikah.” Aku sudah menghitung dalam hati dengan cukup saksama sehingga bisa memberi jawaban pasti.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Aneh,” kataku dan suaraku pecah. Air mata kembali mengalir menuruni pipiku. “Kedengarannya memang sinting—dengar, aku tahu ini masih terlalu dini. Mungkin aku memang sinting. Tapi aku mengalami mimpi aneh, makan terus, menangis, dan muntah, dan.. dan… aku berani bersumpah ada sesuatu bergerak di dalam perutku barusan.”

Kepala Edward tersentak.

Aku mengembuskan napas lega.

Edward mengulurkan tangan, meminta telepon, wajahnya putih dan keras.

“Eh, sepertinya Edward ingin bicara denganmu.”

“Baiklah,” kata Carlisle, suaranya tegang.

Tidak sepenuhnya yakin apakah Edward bisa bicara, aku meletakkan ponsel ke tangannya yang terulur.

Edward menempelkan ponsel ke telinganya. “Apakah itu mungkin?” bisiknya.

Ia mendengarkan lama sekali, matanya menerawang.

“Dan Bella?” tanya Edward. Lengannya memelukku sementara ia berbicara, mendekapku erat-erat.

Ia mendengarkan lama sekali, kemudian berkata, “Ya. Ya, akan kulakukan.”

Ia menurunkan ponsel dari telinganya dan menekan tombol “End”. Setelah itu ia langsung menghubungi nomor lain.

“Apa kata Carlisle?” tanyaku tidak sabar,

Edward menjawab dengan nada datar. “Menurut dia, kau hamil.”

Kata-kata itu membuat sekujur tubuhku hangat. Si penyundul kecil bergetar di perutku.

“Kau menelepon siapa sekarang?” tanyaku begitu melihat Edward menempelkan ponselnya lagi ke telinga.

“Bandara. Kita pulang.”

Edward menelepon selama lebih dari satu jam tanpa henti. Kupikir ia pasti berusaha mencari pesawat pulang untuk kami, tapi aku tidak yakin karena ia tidak berbicara dalam bahasa Inggris. Kedengarannya ia berdebat; sering kali ia berbicara sambil mengertakkan gigi.

Sambil terus berdebat ia mengemasi barang-barang. Secepat kilat ia mondar-mandir ke seluruh penjuru rumah seperti tornado mengamuk, hanya bedanya, ia justru membuat ruangan jadi bersih, bukan malah porak poranda. Ia melempar satu setel bajuku ke tempat tidur tanpa melihat lagi, jadi aku berasumsi sekarang waktunya aku berganti baju. Ia melanjutkan argumennya sementara aku berpakaian, menggerak-gerakkan tangan dengan gemas dan gelisah.

Ketika aku tak sanggup lagi menahankan energi kemarahan y.mg terpancar dari dalam dirinya, diam-diam aku meninggalkan kamar. Konsentrasi Edward yang berlebihan membuat perutku mual—tidak seperti mual di pagi hari, hanya merasa tidak nyaman. Aku akan menunggu saja di suatu tempat sampai suasana hatinya kembali tenang. Aku tidak bisa berbicara .lengan Edward yang dingin dan terfokus ini, yang sejujurnya membuatku sedikit takut.

Sekali lagi aku berakhir di dapur. Aku melihat sebungkus pretzd di lemari dapur. Aku mulai mengunyah-ngunyah pretzel itu tanpa berpikir, memandangi pasir, bebatuan, pepohonan, samudera di luar jendela, segala sesuatu tampak berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Seseorang menyundulku.

“Aku tahu,” ujarku. “Aku juga tak ingin pergi.”

Aku memandang ke luar jendela beberapa saat, tapi si penyundul tidak merespons.

“Aku tidak mengerti,” bisikku. “Apa yang salah di sini?”

Mengejutkan, jelas. Mencengangkan. Tapi apakah salah?

Tidak.

Lantas, mengapa Edward begitu marah? Padahal justru dia yang berharap kami menikah karena “kecelakaan*. Aku berusaha mencernanya.

Mungkin tidak terlalu membingungkan bila Edward menginginkan kami pulang secepatnya. Ia pasti ingin Carlisle memeriksaku, memastikan asumsiku benar—“walaupun jelas saat ini aku sama sekali tidak ragu. Mungkin mereka ingin mencari tahu mengapa aku sudah sangat hamil, dengan perut sedikit menonjol, sundulan, dan segala macam. Itu tidak normal.

Begitu itu terpikir olehku, aku yakin perkiraanku benar. Edward pasti sangat khawatir memikirkan bayi ini. Aku malah belum sempat merasa panik Otakku bekerja lebih lambat daripada otaknya—otakku masih terpaku pada gambaran sebelumnya: bocah kecil yang matanya mirip mata Edward— hijau, seperti matanya waktu ia masih menjadi manusia—putih dan rupawan, tergolek dalam pelukanku. Aku berharap wajahnya mirip Edward, sama sekali tanpa jejak diriku.

Lucu juga bagaimana visi ini mendadak jadi begitu penting. Dari sentuhan kecil pertama tadi, seluruh dunia berubah. Kalau dulu hanya ada satu hal yang membuatku tidak bisa hidup tanpanya, sekarang ada dua. Tidak ada pembagian—cintaku tidak terbagi di antara mereka sekarang; bukan seperti itu. Lebih tepat bila dikatakan hatiku bertumbuh, menggelembung jadi dua kali ukuran awalnya. Semua ruangan ekstra itu sudah terisi. Peningkatannya nyaris memusingkan.

Aku tak pernah benar-benar bisa memahami kesedihan dan kebencian Rosalie sebelumnya. Aku tidak pernah membayangkan diriku sebagai ibu, tidak pernah menginginkannya. Mudah saja bagiku berjanji kepada Edward bahwa aku tidak peduli mengorbankan kemampuan memiliki anak demi dia, karena aku memang benar-benar tak peduli. Anak-anak, dalam wujud abstrak, tak pernah menarik hatiku. Bagiku mereka hanya makhluk berisik, sering kali meneteskan semacam cairan menjijikkan. Aku tidak pernah menyukai mereka. Kalau aku membayangkan Renée memberiku saudara, aku selalu membayangkan seorang saudara yang lebih tua. Seseorang yang menjagaku, bukan sebaliknya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.