Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Tanganku menggapai-gapai di seprai yang panas dan mendapati tempat tidur kosong.

“Edward?”

Jari-jariku menemukan sesuatu yang halus, datar, dan kaku. Selembar kertas, dilipat. Aku mengambilnya dan berjalan sambil meraba-raba mencari saklar lampu.

Di bagian luar kertas tertulis “Mrs. Cullen”.

Aku berharap kau tidak terbangun dan menyadari aku tidak ada, tapi kalaupun kau terbangun, aku akan segera kembali. Aku hanya pergi sebentar ke daratan untuk berburu. Tidurlah lagi dan aku pasti sudah kembali saat kau bamgun lagi nanti, Aku mencintaimu.

Aku mendesah. Kami sudah dua minggu di sini, jadi seharusnya aku sudah menduga bahwa suatu saat Edward akan pergi. Tapi masalahnya, aku memang sedang tidak memikirkan waktu. Kami seperti berada di luar jangkauan waktu di sini, menjalani hidup yang sempurna.

Aku menyeka keringat dari dahiku. Aku tidak lagi mengantuk, padahal jam di atas rak baru menunjukkan lewat pukul satu. Aku tahu aku takkan pernah bisa tidur dalam keadaan segerah dan selengket yang kurasakan sekarang. Belum lagi fakta kalau aku mematikan lampu dan memejamkan mata, aku yakin bakal melihat sosok-sosok hitam itu berkeliaran lagi dalam benakku.

Aku berdiri dan dengan malas-malasan menjelajahi seluruh penjuru rumah yang gelap, menyalakan lampu-lampu. Rumah terasa begitu besar dan kosong tanpa Edward di sana. Berbeda.

Aku sampai di dapur dan memutuskan mungkin aku membutuhkan makanan pelipur lara.

Aku mengaduk-aduk isi kulkas sampai menemukan semua bahan untuk membuat ayam goreng. Bunyi letusan dan desisan ayam goreng di penggorengan terdengar menyenangkan dan akrab; aku merasa tidak begitu gugup lagi setelah suara itu mengisi kesunyian.

Bau ayam goreng begitu lezat sampai-sampai aku sudah tak sabar lagi dan memakannya langsung dari penggorengan. Akibatnya, lidahku terbakar. Namun pada gigitan kelima atau keenam, ayam gorengnya sudah mulai dingin sehingga aku mulai bisa merasakannya. Kunyahanku melambat. Apakah ada yang aneh dengan rasanya? Kuperiksa, dan kulihat dagingnya sudah berwarna putih seluruhnya, tapi aku bertanya-tanya apakah ayam ini benar-benar sudah matang. Kucoba makan gigit lagi; aku mengunyah dua kali. Ugh—benar-benar tidak enak. Aku melompat dan memuntahkannya ke bak cuci piring. Tiba-tiba bau ayam bercampur minyak membuatku mual. Kuambil piring dan kubuang isinya ke tong sampah, Lalu kubuka jendela-jendela untuk menyingkirkan baunya. Angin sejuk berembus di luar. Terasa nyaman membelai kulitku.

Aku merasa sangat lelah, tapi tidak ingin kembali ke kamar yang gerah. Maka aku membuka lebih banyak lagi jendela di ruang TV dan berbaring di sofa persis di bawahnya. Aku menyalakan film sama yang kami tonton kemarin dan langsung tertidur begitu lagu pembukaannya yang ceria terdengar.

Waktu aku membuka mata lagi, matahari sudah separo beranjak ke langit, tapi bukan cahaya yang membangunkanku. Lengan dingin merangkulku, mendekapku ke dadanya. Pada saat bersamaan, rasa sakit tiba-tiba memilin perutku, nyaris seolah-olah perutku habis ditinju.

“Maaf,” bisik Edward sambil mengusapkan tangannya yang sedingin es ke keningku yang lembap, “Aku tidak berpikir panjang. Tidak terpikir sama sekaji olehku bahwa kau bakal kegerahan kalau aku tidak ada. Aku akan memasang AC sebelum aku pergi lagi.”

Aku tidak bisa berkonsentrasi pada kata-katanya, “Permisi!” sergahku, memberontak dari pelukannya.

Edward melepaskan pelukannya. “Bella?”

Aku menghambur ke kamar mandi dengan tangan membekap mulut. Tubuhku benar-benar kacau rasanya sehingga awalnya aku bahkan tidak peduli bahwa Edward berada di sampingku waktu aku membungkuk di atas kloset dan muntah-muntah.

“Bella? Ada apa?”

Aku belum bisa menjawab. Edward memelukku cemas, menyibakkan rambut dari wajahku, menunggu sampai aku bisa bernapas lagi.

“Ayam basi sialan,” erangku.

“Kau tidak apa-apa?” Suara Edward tegang.

“Baik,” jawabku terengah-engah. “Hanya keracunan makanan. Kau tidak perlu melihat. Pergilah.”

“Jangan harap, Bella.”

“Pergilah,” erangku lagi, bangkit dengan susah payah agar aku bisa berkumur. Edward dengan lembut membantuku, tak menggubris meskipun aku berusaha mendorongnya dengan lemah.

Setelah mulutku bersih, ia membopongku ke tempat tidur mendudukkanku dengan hati-hati, menyanggaku dengan kedua lengannya.

“Keracunan makanan?”

“Yeah,” jawabku parau. “Aku membuat ayam goreng sendiri. Rasanya aneh, jadi kumuntahkan. Tapi aku sempat makan beberapa suap.”

Edward meraba keningku dengan tangannya yang dingin. Rasanya nyaman. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Aku memikirkannya sejenak. Mualku sudah hilang, sama mendadaknya dengan kedatangannya tadi, dan aku merasa sesehat biasanya. “Normal-normal saja. Sedikit lapar sebenarnya”

Edward menyuruhku menunggu satu jam, dan setelah aku berhasil minum segelas besar air tanpa memuntahkannya, hirulah ia menggorengkan beberapa butir telur untukku. Aku merasa normal-normal saja, hanya sedikit lelah karena terbangun tengah malam. Edward menyetel CNN—selama ini kami tidak mengetahui perkembangan dunia luar, jangan-jangan di luar sana telah pecah perang dunia ketiga tapi kami sama sekali tidak tahu —dan aku duduk terkantuk-kantuk di pangkuannya.

Aku bosan menonton berita dan berbalik untuk menciumnya. Sama seperti tadi pagi, rasa sakit yang tajam menusuk perutku waktu aku bergerak. Aku menghambur turun dari pangkuan Edward dengan tangan membekap mulut. Aku tahu kali ini aku takkan sampai di kamar mandi tepat pada waktunya, maka aku pun berlari ke bak cuci piring di dapur.

Lagi-lagi Edward memegangi rambutku.

“Mungkin sebaiknya kita kembali ke Rio, periksa ke dokter” Edward mengusulkan dengan nada cemas waktu aku berkumur sesudahnya.

Aku menggeleng dan beranjak menuju lorong. Dokter berarti suntik. “Aku akan baik-baik saja setelah menggosok gigi”

Setelah mulutku lebih enak, aku membongkar tas, mencari kotak P3K yang dikemas Alice untukku, penuh barang-barang kebutuhan manusia seperti plester, obat penghilang rasa sakit, dan—yang kucari sekarang—Pepto-Bismol. Mungkin aku bisa mengobati perutku dan menenangkan Edward.

Tapi sebelum menemukan Pepto, aku menemukan benda lain yang dikemas Alice untukku. Kuambil kotak biru kecil itu dan kupandangi lama sekali, melupakan yang lain.

Lalu aku mulai berhitung dalam hati. Satu kali- Dua kali. Lagi.

Ketukan di pintu mengagetkanku; kotak kecil ini terjatuh kembali ke dalam koper.

“Kau baik-baik saja?” tanya Edward dari balik pintu, “Kau muntah lagi, ya?”

“Ya dan tidak” jawabku, tapi suaraku terdengar tercekik.

“Bella? Boleh aku masuk sekarang?” Nadanya sekarang khawatir.

“O… ke?”

Edward masuk dan mengamati posisiku, duduk bersila di lantai dekat koper, dan ekspresiku, yang kosong dan menerawang. Ia duduk di sebelahku, tangannya meraba keningku sekali lagi.

“Ada apa?”

“Sudah berapa hari kita menikah?” bisikku.

“Tujuh belas” jawab Edward otomatis. “Bella, ada apa?”

Aku menghitung lagi dalam hati. Aku mengacungkan jari padanya, menyuruhnya menunggu, dan menghitung sendiri lanpa suara. Ternyata aku salah menghitung jumlah hari. Ternyata kami sudah lebih lama berada di sini. Aku mulai lagi.

“Bella!” bisik lidward kalut, “Aku sudah mulai gila,”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.