Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku bisa mendengar suara Edward yang pelan dan selembut beledu saat ia kembali menuju lorong, berbicara dengan fasih dalam bahasa yang asumsiku adalah bahasa Portugis. Suara manusia lain yang lebih kasar menjawab dalam bahasa yang sama.

Edward berjalan mendahului mereka memasuki ruangan, menuding ke arah dapur sambil berjalan. Kedua orang Brasil yang menyertainya tampak sangat pendek dan gelap saat ber dampingan dengannya. Satu pria bertubuh gempal, dan satunya lagi wanita bertubuh ramping, wajah keduanya berkeriput Edward melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum bangga, dan aku mendengar namaku disebut-sebut, bercampur dengan kata-kata asing yang diucapkan dalam kecepatan tinggi. Wajahku sedikit memerah saat pikiranku melayang ke bulu-bulu yang mengotori seantero kamar putih, yang sebentar lagi akan mereka Lihat. Si pria pendek tersenyum sopan padaku.

Tapi wanita kecil yang kulitnya secokelat kopi sama sekali tidak tersenyum. Ia

menatapku dengan ekspresi shock bercampur khawatir, dan terutama, matanya membelalak lebar ketakutan. Sebelum aku sempat bereaksi, Edward memberi isyarat pada mereka untuk mengikutinya ke “kandang ayam” dan mereka pun lenyap.

Waktu muncul lagi, Edward sendirian. Dengan cepat ia berjalan menghampiriku dan merangkul pundakku.

“Wanita itu kenapa?” aku langsung berbisik, teringat ekspresi paniknya tadi.

Edward mengangkat bahu, tidak merasa terusik. “Kaure berdarah campuran Indian Ticuna. Dia dibesarkan untuk percaya takhayul—atau bisa dibilang lebih peka—daripada mereka yang hidup di dunia modern. Dia curiga padaku, atau kecurigaannya nyaris mendekati kebenaran.” la masih tidak khawatir,”Mereka punya legenda di sini. Namanya Libisbomen—setan peminum darah yang khusus memangsa wanita-wanita cantik.” Ia melirikku dengan pandangan meggoda.

Hanya wanita cantik? Well, cukup membuat hati tersanjung.

“Kelihatannya dia ketakutan,” kataku.

“Memang—tapi sebenarnya dia mengkhawatirkanmu,”

‘Aku?”

“Ia takut mengapa aku membawamu ke sini, sendirian.” Ia terkekeh masam dan memandangi dinding yang dipenuhi film. “Oh well, mengapa kau tidak memilih sesuatu untuk kita tonton? Itu kegiatan yang sangat manusiawi untuk dilakukan.”

“Ya, aku yakin menonton film akan bisa meyakinkan Kaure bahwa kau manusia.” Aku tertawa dan memeluk lehernya erat-erat, berdiri sambil berjinjit. Ia membungkuk agar aku bisa menciumnya, kemudian kedua lengannya merangkulku lebih erat, mengangkatku dari lantai agar ia tidak perlu membungkuk,

“Movie, schmovie,” gumamku sementara bibir Edward menjelajahi leberku, jarijariku meremas rambutnya yang berwarna perunggu.

Kemudian aku mendengar suara terkesiap, dan Edward langsung menurunkanku. Kaure berdiri terpaku di luar koridor, rambut hitamnya dipenuhi bulu-bulu, menenteng kantong penuh berisi bulu, ekspresi horor menghantui wajahnya. Ia menatapku, kedua matanya melotot, sementara wajahku memerah dan aku menunduk. Sejurus kemudian ia tersadar dan menggumamkan sesuatu yang, bahkan walaupun diucapkan dalam bahasa asing, jelas merupakan permintaan maaf, Edward tersenyum dan menjawab dengan nada ramah. Kaure memalingkan wajah dan terus menyusuri lorong,

“Dia pasti mengira seperti yang menurutku dia kira, kan?” gerutuku.

Edward tertawa mendengar kalimatku yang berbelit itu. “Ya.”

“Ini,” kataku, mengulurkan tangan sembarangan dan menyambar film seadanya di tanganku. “Nyalakan dan kita bisa pura-pura menonton.”

Itu film musikal kuno dengan wajah-wajah penuh senyum dan gaun-gaun lebar di sampulnya.

“Sangat cocok untuk berbulan madu,” Edward setuju.

Sementara para aktor berdansa diiringi lagu pembukaan yang lincah, aku bersantai di sofa, bersandar dalam pelukan Edward.

“Jadi sekarang kita pindah lagi ke kamar putih?” tanyaku dengan sikap malasmalasan.

“Entahlah… aku sudah menghancurkan kepala ranjang di kamar lain tanpa bisa diperbaiki lagi—mungkin kalau kita membatasi kerusakan hanya pada satu area di dalam rumah, Esme akan mengizinkan kita datang lagi ke sini suatu saat nanti.”

Aku tersenyum lebar. “Jadi, akan ada kerusakan lagi?”

Edward tertawa melihat ekspresiku. “Menurutku akan lebih aman kalau itu direncanakan lebih dulu, daripada aku menunggumu menyerangku lagi.”

“Itu hanya masalah waktu,” aku sependapat dengan sikap sambil lalu, tapi jantungku berpacu keras sekali.

“Ada yang tidak beres dengan jantungmu?”

“Tidak. Jantungku sekuat kuda” Aku terdiam sejenak. “Maukah kau menyurvei zona kehancuran sekarang?”

“Mungkin akan lebih sopan menunggu sampai hanya kita berdua di rumah. Kau mungkin tidak sadar bahwa aku menghancurkan perabotan, tapi mereka mungkin akan sangat ketakutan.”

Terus terang saja, aku bahkan sudah lupa ada orang di ruangan lain. “Benar. Sial,”

Gustavo dan Kaure bekerja tanpa suara di seluruh penjuru rumah sementara aku menunggu mereka selesai dengan sikap tidak sabar, dan berusaha memusatkan perhatian pada cerita yang berakhir dengan hidup bahagia selama-lamanya di layar kaca. Aku sudah mulai mengantuk—walaupun, seperti kata Edward tadi, aku tidur selama setengah hari— waktu suara yang kasar mengagetkanku. Edward terduduk tegak, sambil letap mendekapku di dadanya, dan menanggapi perkataan Gustavo dengan bahasa Portugis yang lancar, Gustavo mengangguk dan berjalan tanpa suara menuju pintu depan.

“Mereka sudah selesai,” Edward memberitahuku.

“Berarti kita sudah sendirian sekarang?”

“Bagaimana kalau makan siang dulu?” Edward menyarankan.

Aku menggigit bibir, perasaanku terbagi oleh dilema itu. Aku memang lapar sekali.

Sambil tersenyum Edward meraih tanganku dan menggandengku ke dapur. Ia sangat mengenali wajahku, jadi tidak masalah jika ia tidak bisa membaca pikiranku.

“Ini mulai berlebihan,” keluhku waktu akhirnya aku merasa kenyang.

“Kau mau berenang bersama lumba-lumba siang ini—untuk membakar kalori?” tanya Edward.

“Mungkin nanti. Aku punya ide lain untuk membakar kalori”

“Apa itu?”

“Well, masib banyak kepala ranjang yang tersisa…”

Tapi aku tidak menyelesaikan kata-kataku. Edward sudah meraupku ke dalam gendongannya, dan bibirnya membungkam bibirku sementara ia membopong dan membawaku lari dengan kecepatan tidak manusiawi menuju kamar biru.

7. TAK TERDUGA

BARISAN sosok hitam mendekatiku, menembus kabut yang menyelubungi bagai jubah. Aku bisa melibat mata mereka y.ing merah tua betkilat penuh gairah, penuh nafsu membunuh. Bibir mereka tertarik ke belakang, memamerkan gigi mereka yang tajam dan basah—sebagian menggeram, sebagian tersenyum.

Kudengar bocah di belakangku merintih, tapi aku tak bisa menoleh unruk menatapnya, Walaupun ingin sekali memastikan ia aman, aku tak boleh mengalihkan perhatianku sekarang.

Mereka melayang semakin dekat, jubah hitam mereka berkibar-kibar pelan. Kulihat tangan mereka melengkung membentuk cakar seputih tulang. Mereka beringsut memperlebar jarak, bersiap menyerbu kami dari segala sisi. Kami dikepung. Kami bakal mati.

Kemudian, bagai ledakan cahaya senter, seluruh latar itu berbeda. Meskipun begitu, tidak ada yang berubah—keluarga Volturi masih maju menghampiri kami, siap membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambar itu tampak olehku. Tibatiba aku benar-benar menginginkannya. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan berubah menjadi nafsu haus darah saat aku merunduk, senyuman tersungging di wajah, dan geraman terlontar dari sela-sela gigiku yang terpampang.

Aku terduduk, shock karena mimpiku.

Ruangan gelap gulita. Hawa juga sangat panas. Keringat terasa lengket di pelipisku dan mengalir menuruni leher.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.