Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Sambil bicara aku melayangkan pandangan sekilas ke sekujur tubuhku, berusaha agar tidak kentara. Sepertinya aku baik-baik saja. Memar-memar di kedua lenganku yang sudah berumur satu minggu masih menguning. Aku mencoba menggeliat. Aku juga merasa baik-baik saja. Well, lebih dari baik-baik saja, sebenarnya.

“Sudah selesai menginventarisir?”

Aku mengangguk malu-malu. “Semua bantal sepertinya selamat.”

“Sayangnya, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk, eh, gaun malammu.” Edward menganggukkan kepala ke ranjang, tempat cabikan-cabikan kain hitam berenda bertebaran di seprai sutra.

“Sayang sekali,” kataku. “Padahal aku suka yang itu.”

“Aku juga.”

Apakah ada korban-korban lain?” tanyaku malu-malu. Aku harus membelikan ranjang baru untuk Esme,” Edward mengakui, menoleh ke balik bahunya. Aku mengikuti arah pandangnya dan kaget bukan kepalang melihat potongan-potongan besar kayu seperti dicongkel dari bagian kepala ranjang sebelah kiri.

“Hmm.” Keningku berkerut. “Kau pasti mengira aku bisa mendengarnya.”

“Kelihatannya kau bisa benar-benar tak menyadari apa pun kalau perhatianmu sedang terfokus ke hal lain.”

“Perhatianku memang sedang agak terfokus ke hal lain,” aku mengakui, pipiku merah padam.

Edward menyentuh pipiku yang membara dan mendesah. “Aku akan sangat merindukan itu.”

Kupandangi wajahnya, mencari tanda-tanda kemarahan atau kesedihan yang kutakutkan. Ia balas menatapku, ekspresinya tenang tapi tak terbaca.

“Bagaimana perasaanmu?”

Edward tertawa.

“Apa?” tuntutku.

“Kau terlihat sangat bersalah—seolah-olah kau habis melakukan kejahatan.”

“Aku memang merasa bersalah,” gerutuku.

“Kau merayu suamimu yang langsung menurut begitu saja Itu kejahatan besar.”

Sepertinya ia menggoda.

Pipiku semakin panas. “Istilah merayu mengesankan seolah-olah tindakan itu direncanakan lebih dulu.”

“Mungkin istilahnya tidak tepat,” Edward mengalah. “Kau tidak marah?”

Edward tersenyum masam. “Aku tidak marah,”

“Mengapa tidak?”

“Well,” Ia terdiam sejenak. “Pertama, karena aku tidak melukaimu. Kali ini lebih mudah bagiku mengendalikan diri, menyalurkan gairahku yang berlebihan.” Lagi-lagi matanya melirik tempat tidur yang hancur berantakan. “Mungkin karena sekarang aku sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.”

Senyum penuh harap mengembang di wajahku. “Sudah kubilang, ini hanya masalah latihan.” Edward memutar bola matanya.

Perutku berbunyi, dan Edward tertawa. “Saatnya sarapan untuk manusia?” tanyanya.

“Please” sahutku, melompat dari tempat tidur, tapi gerakanku terlalu cepat, akibatnya aku terhuyung-huyung untuk mendapatkan kembali keseimbanganku. Ia menangkapku sebelum aku telanjur menabrak meja rias.

“Kau tidak apa-apa?”

“Kalau keseimbanganku ternyata tidak lebih baik di kehidupan baruku nanti, aku akan protes.”

Aku memasak pagi ini, menggoreng telur—kelewat lapar untuk membuat hidangan yang lebih rumit. Tidak sabaran, sebentar saja aku sudah menyendok telur itu dari penggorengan ke piring.

“Sejak kapan kau makan telur ceplok?” tanya Edward. “Sejak sekarang”

“Tahukah kau berapa banyak telur yang kauhabiskan selama minggu lalu?” Ia menarik kantong sampah dari bawah bak cuci piring—kantong itu dipenuhi karton-karton biru kosong.

“Aneh” komentarku setelah menelan sepotong telur yang masih panas. “Tempat ini mengacaukan selera makanku” Juga mimpiku dan keseimbanganku yang memang sudah meragukan. “Aku senang di sini. Tapi mungkin kita harus meninggalku! tempat ini sebentar lagi, bukan, agar bisa sampai di Dartmouth tepat waktu? Wow, kurasa kita juga perlu mencari tempat tinggal dan hal-hal lain juga.”

Edward duduk di sebelahku. “Kau bisa berhenti berpura-pura tentang masalah kuliah sekarang—kau sudah mendapatkann apa yang kauinginkan. Dan kita tidak membuat kesepakatan apa-apa, jadi tidak ada kewajiban yang mengikat.”

Aku mendengus. “Itu bukan pura-pura, Edward. Aku tidak menghabiskan waktu luangku merencanakan yang tidak-tidak seperti sebagian orang. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat Bella capek hari ini?” sergahku, mencoba menirukan cara Edward bicara tapi gagal total. Ia tertawa, sama sekali tidak merasa malu. “Aku memang ingin memiliki sedikit waktu lagi untuk menjadi manusia.” Aku mencondongkan tubuh dan menyapukan tanganku di dadanya yang telanjang. “Aku masih belum puas.”

Edward menatapku ragu-ragu. “Untuk ini?” tanyanya, menangkap tanganku saat bergerak turun ke perutnya. “Jadi bercintalah kuncinya selama ini?” Ia memutar bola matanya. “Mengapa itu tidak terpikirkan olehku?” gerutunya sarkastis. “Tahu begitu, aku tidak perlu capek-capek berargumen,”

Aku tertawa. “Yeah, mungkin.”

“Kau sangat manusia” tukasnya lagi. “Memang.”

Secercah senyum bermain di bibirnya. “Jadi kita akan Dartmouth? Sungguh?”

“Kemungkinan aku akan langsung gagal dalam satu semester,”

“Aku akan menjadi tutormu.” Sekarang senyumnya leba “Kau pasti suka kuliah.”

“Menurutmu apa kita masih bisa mendapatkan apartemen sekarang ini?”

Edward nyengir, terlihat bersalah. “Well, sebenarnya kita sudah punya rumah di sana. Kau tahu, untuk jaga-jaga,”

“Kau membeli rumah?”

“Investasi real estate kan bagus.”

Aku mengangkat sebelah alis dan tak mempermasalahkannya lebih jauh lagi. “Jadi kalau begitu kita sudah siap.”

“Aku harus melihat apakah kita masih boleh memakai mobil sebelum itu selama beberapa waktu lagi.-”

“Ya, jangan sampai aku tak terlindungi dari serbuan tank.”

Edward nyengir.

“Berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini?” tanyaku.

“Kita masih punya banyak waktu. Beberapa minggu lagi, kalau kau mau. Kemudian kita bisa mengunjungi Charlie sebelum berangkat ke New Hampshire. Kita juga bisa merayakan Natal bersama Renée…”

Kata-kata Edward melukiskan masa depan yang sangat membahagiakan, masa depan yang bebas dari kesedihan bagi semua orang yang terlibat. Laci Jacob, yang sudah terlupakan, berguncang, dan aku meralat pikiranku—hampir untuk semua orang.

Keadaan tidak akan semakin mudah. Sekarang setelah aku ini benar-benar mengetahui betapa enaknya menjadi manusia, sungguh menggoda untuk menunda dulu rencana-rencanaku. Delapan belas atau sembilan belas, sembilan belas atau dua puluh.

Apakah itu penting? Aku toh tidak akan berubah banyak dalam setahun. Dan menjadi manusia bersama Edward… Pilihannya semakin hari semakin sulit.

“Beberapa minggu,” aku setuju. Lalu, karena sepertinya aku selalu saja kekurangan waktu, aku menambahkan, “Jadi kalau kupikir-pikir—kau tahu yang kukatakan tentang latihan sebelum ini?”

Edward tertawa. “Bisa tolong tunda sejenak pikiranmu itu? Aku mendengar suara kapal. Petugas kebersihan pasti sudah datang,”

la ingin aku menunda pikuanku. Jadi, apakah itu berarti ia tidak keberatan bila harus berlatih lagi? Aku tersenyum.

“Aku mau menjelaskan dulu kekacauan di kamar putih pada Gustavo, lalu kita bisa pergi. Ada tempat di tengah hutan sebelah selatan…”

“Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau menjelajahi seantero pulau hari ini. Aku ingin tinggal di sini dan menonton film,”

Edward mengerucutkan bibir, berusaha untuk tidak tersenyum mendengar nadaku yang menggerutu, “Baiklah, terserah kau saja. Mengapa tidak kaupilih saja satu film sementara aku membukakan pintu?”

“Aku tidak mendengar suara pintu diketuk.”

Edward menelengkan kepala, mendengarkan. Setengah detik kemudian samarsamar terdengar suara pintu diketuk pelan. Ia nyengir dan berjalan menuju ruang depan.

Aku menghampiri rak di bawah televisi berukuran besar dan mulai mengamati judul-judul film yang ada. Sulit memutuskan akan mulai dari mana. Koleksi DVD mereka jauh lebih lengkap daripada tempat penyewaan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.