Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Edward memelukku lebih erat lagi. “Mereka tidak akan mengganggu kita lagi. Sebentar lagi kau akan menjadi makhluk imortal, jadi mereka tidak punya alasan untuk menyerang kita.”

Kubiarkan Edward menenangkan hariku, merasa sedikit bersalah karena ia salah menangkap maksudku. Bukan seperti itu tepatnya mimpi burukku. Aku bukannya takut memikirkan diriku sendiri—aku takut karena memikirkan nasib bocah lelaki itu.

Ia bukan bocah yang sama seperti dalam mimpiku yang pertama—bocah vampir bermata merah yang duduk di atas onggokan mayat orang-orang yang kusayangi. Bocah yang ku impikan sebanyak empat kali minggu lalu jelas-jelas manusia; pipinya merah dan matanya yang lebar berwarna hijau lembut. Tapi persis seperti si bocah vampir, anak ini gemetar ketakutan dan putus asa ketika keluarga Volturi mengepung kami.

Dalam mimpiku, baik yang dulu maupun sekarang, aku merasa harus melindungi bocah tak dikenal itu. Tak ada pilihan lain. Namun di saat yang sama, aku tahu aku bakal gagal.

Edward melihat kesedihan di wajahku. “Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?”

Aku menepisnya, “Itu kan hanya mimpi, Edward.”

“Kau mau aku menyanyi untukmu? Aku mau kok bernyanyi semalaman kalau dengan begitu kau tidak bermimpi buruk lagi.”

“Tidak semua mimpiku buruk. Beberapa ada yang menyenangkan. Begitu… berwarna. Di dalam air, dengan ikan-ikan dan terumbu karang. Semuanya seperti benarbenar terjadi—aku tidak tahu bahwa aku hanya bermimpi. Mungkin pulau inilah

masalahnya. Semua terang benderang di sini.”

“Kau mau pulang saja?”

“Tidak. Tidak, belum. Tidak bisakah kita tinggal lebih lama di sini?”

“Kita bisa tinggal selama yang kauinginkan, Bella,” Edward berjanji padaku.

“Kapan kuliah dimulai? Aku tidak memerhatikannya sebelum ini.”

Edward mendesah. Mungkin ia sudah mulai berdendang lagi, tapi aku keburu terlelap sebelum bisa memastikan.

***

Tak lama kemudian aku terbangun dalam keadaan shock. Mimpiku begitu nyata… begitu hidup, begitu menggugah panca indra… aku terkesiap dengan suara keras, kebingungan berada di kamar yang gelap. Baru sedetik yang lalu rasanya, aku berada dalam cahaya matahari yang terang benderang.

“Bella?” Edward berbisik, kedua lengannya memelukku erat-erat, mengguncangku lembut. “Kau tidak apa-apa, Sayang?”

“Oh,” aku terkesiap. Ternyata hanya mimpi. Tidak nyata. Yang sangat mengherankan, air mata meleleh begitu saja dari mataku, mengalir deras di wajahku.

“Bella!” seru Edward—suaranya sekatang lebih keras, nadanya cemas. “Ada apa?” Ia menyeka air mata dari pipiku yang halus dengan jari-jarinya yang dingin dan panik, tapi air maraki i terus saja mengalir.

“Itu hanya mimpi.” Aku tak mampu meredam sedu sedan yung memecah suaraku. Air mata yang tak kunjung berhenti terasa mengganggu, tapi aku tak kuasa mengendalikan perasaan sedih yang mencengkeramku. Aku begitu ingin mimpi itu menjadi kenyataan.

“Tidak apa-apa, Sayang, kau baik-baik saja. Aku di sini.” Edward menggerakkan tubuhku maju-mundur, agak terlalu upat untuk bisa menenangkan. “Kau mimpi buruk lagi, ya? ini tidak nyata, itu tidak nyata.”

“Bukan mimpi buruk.” Aku menggeleng-geleng, menggosokkan punggung tanganku ke mata. “Tapi mimpi yang bagus .sekali.” Lagi-lagi suaraku pecah.

“Kalau begitu, mengapa kau menangis?” tanya Edward, terheran-heran.

“Karena aku terbangun” rengekku, memeluk leher Edward erat sekali dan tersedu di sana.

Edward tertawa mendengar jalan pikiranku, tapi suaranya tegang karena prihatin.

“Semua beres, Bella. Tarik napas dalam-dalam.”

“Mimpi tadi sangat nyata,” tangisku. “Aku ingin mimpi in menjadi kenyataan.”

“Ceritakan,” bujuk Edward. “Mungkin itu bisa “membantu.”

“Kita sedang di tepi pantai…” Suaraku menghilang, aku mundur sedikit untuk menatap wajah malaikat Edward yang cemas dengan mataku yang berlinang air mata, tampak samai dalam gelap. Kupandangi dia lekat-lekat sementara kesedihan yang tidak masuk akal itu mulai mereda.

“Dan?” desak Edward akhirnya.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata unruk menyingkirkan air mata dari mataku, hatiku sedih sekali. “Oh, Edward…”

“Ceritakan padaku, Bella,” ia memohon, sorot matanya liar dipenuhi kekhawatiran mendengar nada sedih dalam suaraku.

Tapi aku tidak bisa. Aku malah melingkarkan kedua tanganku di lehernya lagi, dan mencium bibirnya. Itu sama sekali bukan ciuman bergairah—melainkan ungkapan kebutuhan akut hingga rasanya menyakitkan. Ia langsung merespons, tapi responsnya dengan cepat berubah menjadi penolakan.

Ia berusaha menolakku selembut mungkin, mencengkeram bahuku dan mendorong tubuhku menjauhinya.

“Tidak, Bella,” ia bersikeras, menatapku dengan pandangan seolah-olah ia khawatir aku sudah sinting.

Kedua lenganku terkulai, kalah, dan air mata yang aneh itu kembali mengalir, menuruni wajahku, dan aku kembali menangis, Edward benar—aku pasti sudah sinting.

Ia memandangiku dengan tatapan bingung sekaligus sedih.

Ma—ma—maafkan aku,” gumamku,

Tapi Edward menarikku lagi ke dalam pelukannya, menidekapku erar-erat di dadanya yang sekeras marmer.

“Aku tidak bisa, Bella, aku tidak bisa!” Erangannya begitu menderita.

“Kumohon,” pintaku, suaraku teredam kulitnya. “Kumohon, Edward?”

Entah apakah hatinya luluh karena tangis yang menggetar dari suaraku, atau apakah ia tidak siap menghadapi serangan yang begitu tiba-tiba, atau apakah kebutuhannya saat itu sama tak tertahankannya dengan yang kurasakan. Pokoknya apa pun alasannya, Edward menarik bibirku kembali ke bibirnya, menyerah sambil mengerang.

Dan kami pun melanjutkan mimpiku yang terputus tadi. Aku diam tak bergerak waktu terbangun pada pagi hari dan menjaga agar desah napasku tetap teratur. Aku tak berani membuka mata.

Aku berbaring di dada Edward, tapi ia diam tak bergerak dan lengannya tidak memelukku. Itu pertanda buruk. Aku tidak berani mengakui diriku sudah bangun dan menghadapi mataharinya—tak peduli kepada siapa amarah itu ditujukan hari ini.

Hati-hati, aku mengintip dari sela-sela bulu mataku. Edward menengadah ke langitlangit yang gelap, kedua lengannya ditumpukan di belakang kepala. Kutopang tubuhku dengan siku agar bisa melihat wajahnya lebih jelas lagi. Wajahnya datar tanpa ekspresi,

“Seberapa besar masalahku?” tanyaku dengan suara kecil.

“Banyak,” jawab Edward, tapi ia memalingkan wajah dan tersenyum jail padaku.

Aku mengembuskan napas lega “Aku benar-benar minta maaf” kataku. “Aku tidak bermaksud— Well, aku tidak tahu persis tadi malam itu apa.” Aku menggeleng untuk mengenyah kan bayangan air mataku yang tidak rasional dan kesedihan yang begitu mengimpit.

“Kau bahkan tidak pernah menceritakan mimpimu pada ku.”

“Kurasa memang tidak—tapi aku akan menunjukkan padamu isi mimpiku itu.”

“Oh,” ucap Edward. Matanya melebar, kemudian ia mengerjapkan mata. “Menarik.”

“Mimpi yang bagus sekali,” gumamku. Edward tidak berkomentar, jadi beberapa detik ketuaan aku bertanya, “Apakah aku dimaafkan?”

“Aku sedang memikirkannya,”

Aku terduduk tegak, berniat memeriksa keadaanku-tapi setidaknya kelihatannya tidak ada bulu-bulu. Tapi waktu aku bergerak, gelombang vertigo yang aneh menghantamku. Aku limbung dan terempas kembali ke bantal.

“Aku tiba-tiba pusing.”

Lengan Edward sudah merangkulku ketika itu. “Kau tidur lama sekali. Dua belas jam,”

“Dua belas?” Aneh sekali.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.