Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kelelahan tidak menolong usahaku untuk membujuknya. Tapi aku tidak menyerah. Aku mengajaknya bicara baik-baik, memohon, bersungut-sungut, tapi semua sia-sia. Biasanya aku sudah tertidur sebelum benar-benar bisa menekankan maksudku. Kemudian mimpi-mimpiku terasa begitu nyata—sebagian besar mimpi buruk, yang menjadi lebih hidup, dugaanku, karena warna-warna yang terlalu terang di pulau ini— sehingga aku terbangun dengan perasaan letih, tak peduli selama apa pun tidurku.

Kira-kira seminggu setelah kami sampai di pulau ini, aku memutuskan untuk mencoba berkompromi. Dulu toh kami bisa melakukannya.

Sekarang aku tidur di kamar biru. Petugas kebersihan baru akan datang besok, jadi kamar putih masih diselimuti bulu-bulu putih. Kamar biru lebih kecil, tempat tidurnya lebih proporsional. Dinding-dindingnya berwarna gelap, berlapis panel kayu jati, dan perabotnya berlapis sutra biru mewah.

Aku sudah terbiasa mengenakan sebagian koleksi lingerie pilihan Alice untuk tidur malam—itu tidak seterbuka celana bikini minim yang ia kemaskan untukku. Aku jadi penasaran apakah ia mendapat penglihatan mengapa aku akan menginginkan benda-benda ini, kemudian bergidik, malu karena pikiran itu.

Mula-mula aku mengenakan pakaian satin putih gading yang sopan, khawatir kalau aku mengenakan pakaian dalam yang lebih terbuka, itu justru tidak akan membantu, tapi siap mencoba apa saja. Edward seolah tidak memerhatikan, seakan-akan aku memakai kaus usang seperti yang biasa kupakai di rumah.

Memar-memarku sekarang sudah jauh lebih baik—menguning di beberapa tempat, dan beberapa lagi bahkan sudah hilang—jadi malam ini aku mengeluarkan salah satu pakaian dalam yang potongannya lebih menantang, yang sudah kusiapkan di kamar mandi berpanel. Pakaian dalam itu berwarna hitam, berenda, dan membuatku malu saat melihatnya, luhkan sebelum dipakai. Aku berhati-hati agar tidak memandang bayanganku sendiri di cermin sebelum masuk kembali lu-kamar. Aku tidak ingin kehilangan keberanian.

Puas rasanya melihat mata Edward membelalak sedetik sebelum akhirnya ia bisa mengendalikan ekspresinya.

“Menurutmu bagaimana?” tanyaku, berputar-putar genit agar ia bisa melihat dari setiap sudut.

Edward berdeham-deham. “Kau cantik. Kau memang selalu terlihat cantik.”

“Trims” sahutku, agak masam.

Aku terlalu letih untuk tidak cepat-cepat naik ke tempat ndur yang empuk. Edward memeluk dan menarikku ke dadanya, tapi ini sudah biasa—terlalu gerah untuk tidur tanpa tubuhnya yang dingin mendekapku.

“Aku akan membuat kesepakatan denganmu.” kataku dengan suara mengantuk.

“Aku tidak mau membuat kesepakatan apa-apa denganmu,” jawab Edward.

“Kau bahkan belum mendengar tawaranku.”

“Tidak perlu.”

Aku mendesah. “Sial. Padahal aku benar-benar ingin… Oh sudahlah.”

Edward memutar bola matanya.

Aku memejamkan mata dan membiarkan umpan itu menggantung-gantung di depan matanya. Aku menguap.

Hanya butuh satu menit—tidak cukup lama bagiku untuk tertidur.

“Baiklah. Apa yang kauinginkan?”

Aku mengertakkan gigi sebentar, sekuat tenaga menahan senyum. Satu hal yang tidak bisa ditolaknya adalah kesempatan memberiku sesuatu.

“Well, setelah kupikir-pikir… aku tahu masalah Dartmouth itu seharusnya hanya jadi alasan untuk menutupi hal sebenarnya, tapi jujur saja, kuliah selama satu semester mungkin tak ada ruginya,” kataku, meniru kata-kata yang pernah ia ucapkan sekian waktu lalu, ketika ia berusaha membujukku menunda keinginanku untuk menjadi vampir. “Berani taruhan, Charlie pasti senang sekali kalau kuceritakan tentang pengalaman-pengalamanku kuliah di Darrmouth. Memang sih, bakal memalukan kalau aku tak bisa mengimbangi mahasiswa-mahasiswa genius di sana. Tapi tetap saja… delapan belas, sembilan belas. Tidak terlalu banyak bedanya. Bukan berarti sudut-sudut mataku bakal keriput kan, tahun depan,”

Edward terdiam lama sekali. Kemudian, dengan suara pelan ia berkata, “Kau mau menunggu. Kau mau tetap menjadi manusia.”

Aku sengaja diam, membiarkan ia mencerna baik-baik tawaran itu.

“Mengapa kau melakukan ini padaku?” sergah Edward dari sela-sela gigi yang terkatup rapat, nadanya tiba-tiba marah. “Apa semua ini belum cukup menyulitkan?” Dengan kasar ia menyambar renda yang menghiasi pahaku. Sesaat aku sempat mengira ia bakal mengoyakkannya. Kemudian tangannya melemas. “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tidak mau membuat kesepakatan apa-apa denganmu.”

“Aku ingin kuliah.”

“Tidak, kau tidak ingin kuliah. Itu tidak sepadan dengan mempertaruhkan nyawamu lagi. Tidak sepadan dengan menyakitimu.”

“Padahal aku benar-benar ingin kuliah. Well, sebenarnya bukan kuliah yang benarbenar kuinginkan—aku hanya ingin menjadi manusia sedikit lebih lama lagi.”

Edward memejamkan mata dan mengembuskan napas lewat hidungnya. “Kau membuatku gila, Bella. Bukankah kita sudah jutaan kali memperdebatkan hal ini, kau selalu memohon-mohon untuk secepatnya menjadi vampir?”

“Memang, tapi… well, aku punya alasan mengapa aku ingin menjadi manusia, alasan yang tidak kumiliki sebelumnya.”

“Alasan apa itu?”

“Tebak saja,” ucapku, lalu menyeret tubuhku dari tumpukan bantal untuk menciumnya.

Ia membalas ciumanku, walaupun sikapnya belum menunjukkan bahwa aku menang. Lebih tepatnya, ia seperti berhati-hati untuk tidak menyakiti perasaanku; menjengkelkan, ia begitu pandai mengendalikan diri. Dengan lembut ia menjauhkan tubuhku beberapa saat kemudian, dan mendekapku di dadanya.

“Kau sangat manusia, Bella. Dikuasai hormonmu.” Edward terkekeh.

“Justru itu intinya, Edward. Aku menyukai bagian kemanusiaanku yang ini. Aku belum mau meninggalkannya. Aku tidak mau menunggu hingga bertahun-tahun lagi, setelah melewati tahap keranjingan darah sebagai vampir baru, baru bisa merasakannya lagi.”

Aku menguap, dan Edward tersenyum.

“Kau lelah. Tidurlah, Sayang.” Ia mulai mendendangkan lagu ninabobo yang ia ciptakan untukku waktu kami pertama kali bertemu.

“Heran, mengapa aku capek sekali, ya,” sindirku pedas. “Tidak mungkin itu bagian rencanamu atau semacamnya, kan?”

Edward hanya terkekeh sebentar, kemudian kembali bersenandung.

“Karena aku lelah sekali, kau pasti mengira tidurku bakal lebih nyenyak.”

Lagu itu mendadak berhenti. “Selama ini kau tidur nyenyak sekali seperti orang mati, Bella. Kau tidak pernah mengigau sejak hari pertama kita di sini. Kalau saja kau tidak mendengkur, aku pasti khawatir kalau-kalau kau koma.”

Aku tak menggubris ejekannya tentang masalah dengkuran itu; aku tidak pernah mendengkur kok. “Memangnya aku tidak berguling-guling dalam tidurku? Aneh. Padahal biasanya aku berguling-guling ke sana kemari kalau sedang bermimpi buruk. Dan berteriak-teriak.”

“Memangnya kau sering bermimpi buruk?”

“Mimpi-mimpiku sangat jelas. Aku jadi capek sekali.” Aku menguap. “Aku tidak percaya aku tidak mengigau sepanjang malam.”

“Kau bermimpi tentang apa?”

“Macam-macam—tapi sama, kau tahu, karena warna-warna…”

“Warna-warna?”

“Warna-warnanya begitu cemerlang dan nyata. Biasanya, kalau sedang bermimpi aku menyadarinya. Kali ini, aku tidak sadar bahwa aku sedang tidur* Itulah yang membuat mimpi-mimpiku jadi semakin menakutkan.”

Suara Edward terdengar cemas waktu ia bicara lagi. “Apa yang membuatmu ketakutan?”

Aku bergidik pelan. “Kebanyakan…” Aku ragu-ragu.

“Kebanyakan apa?” desaknya.

Entah mengapa, aku tidak ingin bercerita kepada Edward tentang bocah dalam mimpi burukku yang selalu berulang; ini sesuatu yang pribadi tentang kengerian yang satu itu. Jadi, bukannya memberi gambaran lengkap padanya, aku hanya menceritakan satu elemen saja. Itu jelas cukup membuatku atau siapa pun, takut. “Keluarga Volturi” bisikku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.