Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Edward menyentuh kerutan di antara alisku. “Aku membuatmu tidak bahagia sekarang. Aku tidak ingin seperti itu.”

“Jadi jangan merasa tidak bahagia. Hanya itu satu-satunya masalah sekarang.”

Mata Edward menegang, lalu ia menghela napas dalam-dalam dan mengangguk. “Kau benar. Yang sudah berlalu sudah berlalu dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Tidak masuk akal kalau aku membiarkan suasana hatiku membuatmu merasa tidak bahagia. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu merasa bahagia sekarang.”

“Apa saja yang membuatku bahagia?”

Perutku berbunyi saat aku melontarkan pertanyaanku.

“Kau lapar,” Edward buru-buru menyergah. Dengan cepat ia melompat turun dari tempat tidur sehingga bulu-bulu beterbangan. Dan itu mengingatkan aku.

“Jadi, kapan persisnya kau memutuskan menghancurkan bantal-bantal Esme?” tanyaku, terduduk dan menggoyangkan kepala untuk menyingkirkan bulu-bulu dari kepalaku.

“Mungkin tidak tepat bila dikatakan aku memutuskan melakukan hal apa pun semalam,” gerutu Edward. “Kita beruntung yang kugigit adalah bantal, bukan kau.” Ia menghela napas dalam-dalam dan menggeleng, seperti hendak mengenyahkan pikiran buruk dari benaknya. Senyum yang sangat nientik terkuak di wajahnya, tapi kurasa ia harus berusaha cukup keras untuk bisa melakukannya*

Aku meluncur turun dengan hati-hati dari tempat tidur yang tinggi dan menggeliat lagi, kali ini semakin menyadari bagian mana saja yang sakit dan nyeri di tubuhku. Kudengar Edward terkesiap. Ia membuang muka, kedua tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih.

“Memangnya penampilanku mengerikan, ya?” tanyaku, berusaha agar nadaku terdengar ringan. Edward tersentak, tapi u tidak berbalik, mungkin menyembunyikan ekspresinya dari-ku. Aku berjalan ke kamar mandi untuk melihat sendiri.

Jelas aku pernah mengalami yang lebih parah daripada ini. Tampak bayangan samar di salah satu tulang pipiku, dan bibirku sedikit bengkak, tapi selain itu, wajahku baik-baik saja. Sekujur tubuhku penuh bercak-bercak biru dan ungu. Aku berkonsentrasi pada memar-memar yang paling sulit disembunyikan—di kedua lengan dan bahu. Tidak

parah-parah amar. Kulitku memang gampang memar. Ketika memarnya muncul, biasanya

aku sudah lupa bagaimana aku mendapatkannya. Tentu saja ini semua baru mulai terbentuk. Aku akan terlihat lebih parah besok. Itu tidak akan membuat keadaan lebih mudah.

Lalu mataku tertumbuk ke rambutku, dan aku mengerang. “Bella?” Edward sudah langsung berada di dekatku begitu aku bersuara.

“Aku takkan bisa mengenyahkannya dari rambutku!” Aku menunjuk kepalaku, yang terlihat seperti sarang ayam. Aku mulai mencabuti bulu-bulu dari kepalaku.

“Kalau rambut saja mengkhawatirkan,” gumam Edward, tapi ia berdiri di belakangku, mencabuti bulu-bulu itu dengan gerakan lebih cepat.

“Bagaimana kau bisa tidak tertawa melihatku? Aku terlihat konyol sekali.”

Edward tidak menjawab; ia terus saja mencabuti. Dan aku tahu jawabannya—tidak ada yang lucu baginya dalam suasana hati seperti ini.

“Percuma saja,” keluhku sejurus kemudian. “Sudah telanjur menempel. Aku harus keramas untuk membersihkan semuanya” Aku berbalik, memeluk pinggang Edward yang dingin. “Maukah kau membantuku?”

“Sebaiknya aku mencarikan makanan untukmu,” kata Edward pelan, dengan lembut membuka pelukanku. Aku mendesah waktu ia menghilang, bergerak terlalu cepat.

Kelihatannya bulan maduku sudah berakhir. Pikiran itu membuat tenggorokanku tercekat.

Setelah rambutku bersih dari bulu dan aku mengenakan gaun katun putih asing yang menutupi bercak-bercak ungu yang paling mengerikan, aku berjalan dengan kaki telanjang ke darat mengikuti semerbak bau telur, bacon, dan keju yang merangsang selera.

Edward berdiri di depan kompor stainless steel, meluncurkan sepotong omelet ke piring biru muda di atas konter. Aroma lezat makanan membuatku kelabakan. Rasanya aku sanggup memakan habis piring dan wajannya sekalian saking laparnya; perutku keroncongan.

“Ini,” kata Edward. Ia berbalik dengan senyum tersungging di wajah dan meletakkan piring di meja kecil beralas keramik.

Aku duduk di salah satu kursi logam dan mulai menganyang telur yang masih panas itu. Panasnya membakar tenggorokanku, tapi aku tak peduli.

Edward duduk di seberangku. “Aku kurang sering memberimu makan”

Aku menelan kemudian mengingatkannya, “Aku kan tidur, omong-omong, ini enak sekali. Mengesankan untuk ukuran orang yang tidak pernah makan.”

“Food Network,” jawab Edward, memamerkan senyum miring favoritku.

Aku bahagia melihatnya, bahagia karena Edward sudah bersikap normal lagi.

“Dari mana kau mendapatkan telur-telur ini?”

“Aku memang meminta para petugas kebersihan menyediakan bahan makanan. Itu pertama kalinya, untuk tempat ini. Aku harus meminta bantuan mereka untuk membersihkan bulu-bulu itu…” Suaranya menghilang, tatapannya sedikit di atas kepalaku. Aku tidak menyahut, berusaha tidak mengatakan apa-apa yang hanya akan membuatnya kalut lagi.

Aku memakan habis semuanya, walaupun Edward memasakkan makanan dalam jumlah yang cukup untuk dua orang.

“Terima kasih” kataku. Aku mencondongkan tubuh ke seberang meja untuk menciumnya. Ia balas menciumku, kemudian tiba-tiba mengejang dan menarik tubuhnya.

Aku mengertakkan gigi, dan pertanyaan yang ingin kutanyakan terlontar seperti tuduhan. “Kau tidak akan menyentuhku lagi selama kita di sini, kan-?”

Edward ragu-ragu, lalu menyunggingkan senyum separo dan membelai pipiku. Jari-jarinya bertengger lembut di kulitku, dan aku tak tahan untuk tidak menyandarkan wajahku ke telapak tangannya.

“Kau tahu bukan itu maksudku.”

Ia mendesah dan menjatuhkan tangannya. “Aku tahu. Dan kau benar.” Ia terdiam sejenak, mengangkat dagunya sedikit. Kemudian berbicara lagi dengan penuh keyakinan. “Aku tidak akan bercinta lagi denganmu sampai kau berubah. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi.”

6. MENGALIHKAN PERHATIAN

Hiburanku menjadi prioritas utama di Pulau Esme. Kami pergi snorkelling (well, aku yang snorkelling sementara Edward memamerkan kemampuannya menyelam tanpa oksigen untuk jangka waktu tak terbatas). Kami menjelajahi hutan kecil yang mengelilingi puncak kecil berbatu. Kami melihat-lihat burung beo yang menghuni kerindangan pohon di selatan pulau, k.imi menyaksikan matahari terbenam dari teluk sebelah baui yang berbatu. Kami berenang bersama penyu-penyu yang hcrmain di perairan dangkal yang hangat di sana. Atau setidaknya, aku yang bermain; karena begitu Edward masuk ke air, penyupenyu itu langsung menghilang seolah-olah ada hiu mendekat.

Aku tahu apa yang terjadi. Ia berusaha menyibukkanku, mengalihkan perhatianku, supaya aku tidak merongrongnya terus mengenai masalah bercinta. Setiap kali aku berusaha membujuknya untuk santai dan nonton salah satu dari sejuta film DVD yang tersimpan di bawah TV plasma berlayar besar, ia akan merayuku keluar rumah dengan kata-kata manis seperti terumbu karang, gua bawah air, dan penyu. Kami pergi, pergi, pergi terus seharian, supaya akhirnya aku lapar dan kelelahan saat matahari tenggelam.

Aku terkantuk-kantuk di atas piringku setelah makan malam setiap malam; sekali aku bahkan benar-benar ketiduran di meja dan ia terpaksa membopongku ke tempat tidur. Sebagian alasannya karena Edward selalu memasakkan makanan terlalu banyak untuk dihabiskan satu orang, tapi aku begitu lapar sehabis berenang dan mendaki seharian sehingga kusikat saja sebagian besar makanan yang terhidang. Lalu, kekenyangan dan kelelahan, aku nyaris tak sanggup membuka mataku lagi. Semua bagian dari rencananya, tak diragukan lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.