Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku… sangat menyesal, Bella,” bisik Edward saat aku memandangi memar-memar itu. “Seharusnya aku tahu akan begini jadinya. Seharusnya aku tidak—” Ia mengeluarkan suara seperti jijik. “Aku sangat menyesal, lebih daripada yang bisa kuungkapkan.”

la melontarkan lengannya menutupi wajah dan tubuhnya diam tak bergerak.

Lama sekali aku hanya terduduk diam dan terpaku, berusaha menerima—sekarang setelah aku mengerti—perasaan merana yang ia rasakan. Itu sangat berlawanan dengan apa yang kurasakan hingga sulit untuk dicerna.

Perasaan terguncang itu perlahan-lahan memudar, tidak meninggalkan apa-apa. Yang ada hanya kekosongan. Pikiranku kosong. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Edward dengan cara yang benar? Bagaimana aku bisa membuatnya sebahagia yang kulasakan—atau yang tadi kurasakan, beberapa waktu lalu?

Kusentuh lengannya tapi ia diam saja. Kugenggam per-gclangan tangannya dan mencoba menarik lengannya yang menutupi wajah, tapi ia bergeming, rasanya seperti mencoba menyentakkan patung yang diam tak bergerak.

“Edward.”

Ia diam saja.

“Edward?”

Tidak ada sahutan. Jadi, ini akan menjadi monolog, kalau begitu.

“Aku tidak menyesal, Edward. Aku… aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya. Aku sangat bahagia. Itu tidak cukup untuk mengungkapkan kebahagiaanku yang sebenarnya. Jangan marah. Jangan. Sungguh, aku ba…”

“Jangan bilang kau baik-baik saja.” Suara Edward sedingin es. “Kalau kau menghargai kewarasanku, jangan katakan bahwa kau baik-baik saja.”

“Tapi memang itulah yang kurasakan,” bisikku.

“Bella” ia nyaris mengerang. “Jangan.” Tidak. “Kau yang jangan, Edward.”

Edward menyingkirkan lengannya; matanya yang keemasan menatapku kecut.

“Jangan merusak suasana,” kataku. “Aku. Sangat. Bahagia.”

“Aku sudah telanjur merusak suasana,” bisiknya.

“Maka hentikan,” bentakku. Kudengar ia mengenakkan gigi.

“Ugh!” erangku. “Mengapa kau belum juga bisa membaca pikiranku? Betapa enaknya kalau kau bisa membaca pikiranku!”

Mata Edward membelalak sedikit, perhatiannya sejenak teralihkan.

“Tumben. Biasanya kau justru senang aku tidak bisa membaca pikiranmu,”

“Hari ini tidak.” Ia menatapku.

“Mengapa?”

Aku melontarkan kedua tanganku saking frustrasinya, merasakan nyeri di pundakku yang sebelumnya kuabaikan. Telapak tanganku membentur dada Edward dengan suara keras. “Karena semua perasaan bersalah ini tidak perlu terjadi kalau saja kau bisa mengetahui apa yang kurasakan saat ini! Atau lima menit yang lalu, setidaknya. Aku tadi merasa sangat bahagia. Benar-benar merasa tenang dan damai. Sekarang—well, bisa dibilang sekarang aku agak marah.”

” Memang seharusnya kau marah padaku.”

“Well, aku memang marah. Apakah itu membuat perasaanmu lebih enak?”

Edward mendesah. “Tidak. Kurasa tidak ada yang bisa membuat perasaanku lebih enak sekarang.”

“Itu” bentakku. “Justru itulah sebabnya aku marah. Kau merusak kebahagiaanku, Edward.”

Edward memutar bola matanya dan menggeleng.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku merasakan nyeri-nyeri di sekujur tubuhku, tapi itu bukan sesuatu yang buruk. Nyaris seperti yang kaurasakan setelah seharian berolahraga mengangkat beban. Aku pernah melakukannya bersama Renée waktu ia sedang keranjingan fitness. Enam puluh lima kali angkatan, masing-masing seberat lima kilogram. Besoknya aku tidak bisa berjalan. Sakit yang kurasakan sekarang ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan itu.

Kutelan kembali kejengkelanku dan berusaha memperdengarkan nada menenangkan. ‘Kita sudah tahu ini pasti sulu. Kusangka itu sudah bisa diperkirakan. Kemudian—well, Kenyataannya ternyata jauh lebih mudah daripada yang kita ilnga. Dan ini benar-benar bukan apa-apa.” Kusapukan jari-l.iriku di sepanjang lengan. “Menurutku, untuk pertama kali, mengingat kita tidak tahu apa yang diharapkan, kita justru liur biasa. Dengan sedikit berlatih…”

Ekspresi Edward mendadak berubah marah hingga aku langsung menghentikan kata-kataku.

“Diharapkan? Jadi kau mengharapkan hal ini, Bella? Jadi kau sudah mengantisipasi bahwa aku akan mencederaimu? Apa kaupikir itu akan lebih parah? Jadi kau menganggap eksperimen ini sukses karena kau selamat? Tidak ada tulangmu yang patah-—itu kauanggap sebagai kemenangan?”

Aku menunggu, membiarkan Edwarcl menumpahkan unek-uneknya. Lalu aku menunggu beberapa saat lagi sampai napasnya kembali normal. Lalu setelah matanya tenang, aku menjawab, berbicara lambat-lambat, menekankan setiap kata.

“Aku tidak tahu apa yang kuharapkan—tapi aku jelas tidak mengira betapa… betapa… indah dan sempurnanya itu.” Suaraku berubah menjadi bisikan, mataku beralih dari wajahnya ke tanganku. “Maksudku, aku tidak tahu bagaimana kau merasakannya, tapi bagiku, itulah yang kurasakan.”

Satu jari dingin mengangkat daguku.

“Jadi, itukah yang kaukhawatirkan?” tanya Edward dengan gigi terkatup rapat. “Bahwa aku tidak menikmatinya?”

Aku menunduk. “Aku tahu pasti berbeda. Kau bukan manusia. Aku hanya berusaha menjelaskan bahwa, bagi manusia, well, aku tak bisa membayangkan akan lebih baik daripada itu.”

Edward terdiam lama sekali sampai, akhirnya, aku terpaksa mengangkat wajah. Wajah Edward kini melembut, berpikir,

“Sepertinya aku harus meminta maaf lagi.” Kening Edward berkerut. “Aku sama sekali tidak mengira kau akan salah menafsirkan perasaanku, menganggap aku tidak merasa bahwa semalam adalah… well, malam terindah yang pernah kurasakan sepanjang eksistensiku. Tapi aku tidak ingin berpikir seperti itu, kalau kenyataannya kau…”

Sudut-sudut bibirku sedikit terangkat. “Sungguh? Yang terindah yang pernah kaurasakan?” tanyaku, suaraku mencicit.

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangan, masih waswas. “Aku sempat berbicara dengan Carlisle setelah kau dan aku membuat kesepakatan ini, berharap dia bisa membantuku. Tentu saja dia mengingatkanku bahwa ini akan sangat berbahaya bagimu.” Sejenak ekspresinya disaput mendung. “Tapi dia percaya padaku—keyakinan yang tidak pantas kudapatkan.”

Aku membuka mulut hendak memprotes, tapi Edward menaikkan dua jarinya di bibirku sebelum aku bisa berkomentar.

“Aku juga bertanya kepadanya apa yang seharusnya aku harapkan akan terjadi. Aku tidak tahu bagaimana jadinya nantinya bagiku… sebagai vampir.” Edward tersenyum setengah hati.

“Menurut Carlisle, itu sesuatu yang sangat kuat, tak ada yang sekuat itu. Katanya seharusnya aku tidak menganggap remeh hubungan fisik. Dengan temperamen kami yang jarang berubah, emosi yang sangat kuat dapat mengubah kami secara permanen. Tapi dia juga berkata aku tidak perlu khawatir tentang hal itu—kau sudah benar-benar mengubahku.” Kali ini senyumnya lebih tulus.

“Aku juga berbicara dengan saudara-saudaraku. Mereka mencitakan itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Hanya kalah dengan minum darah manusia.” Keningnya berkerut. “Tapi aku sudah pernah merasakan darahmu, dan tidak ada darah lain yang lebih kuat daripada itu… aku tidak menganggap mereka salah, sungguh. Hanya saja bagi kita berbeda. Ada sesuatu yang lebih.”

“Memang lebih. Itu segala-galanya.”

“Itu tidak mengubah fakta bahwa perbuatan itu keliru. Walaupun mungkin saja kau benar-benar merasa seperti yang kau bilang tadi.”

“Apa artinya itu? Jadi menurutmu aku mengarang-ngarang, begitu? Mengapa?”

“Untuk meringankan perasaan bersalahku. Aku tidak bisa mengabaikan bukti-bukti yang ada. Bella. Atau sejarahmu bahwa selama ini kau selalu melepaskan aku dari tanggung jawab kalau aku melakukan kesalahan.”

Aku merenggut dagu Hdward dan mencondongkan tubuh sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Dengar, Edward Cullen. Aku sama sekali tidak berpura-pura demi kau, oke? Aku bahkan tidak tahu ada alasan untuk membuatmu merasa lebih baik sampai kau menunjukkan sikap merana seperti ini. Belum pernah aku merasa sebahagia ini seumur hidupku—aku tidak merasa sebahagia ini waktu kau memutuskan bahwa cintamu padaku lebih besar daripada keinginanmu untuk membunuhku, atau pagi pertama waktu aku terbangun dan kau berada di sana menungguku… Juga tidak waktu aku mendengar suaramu di studio balet”— Edward berjengit mengingat bagaimana aku nyaris bertemu dengan vampir yang sedang berburu, tapi aku tidak menghentikan kata-kataku —”atau waktu kau mengucapkan ‘saya bersedia’ dan aku menyadari bahwa, entah bagaimana, aku bisa memilikimu selamanya. Itu kenangan-kenangan paling membahagiakan dalam hidupku, dan ini lebih baik daripada semua itu. Jadi terima sajalah.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.