Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku langsung menghentikan pikiran itu, menolak menyimpulkannya. Aku mencoba menyimak suara kedua lelaki di luar, yang teredam badan mobil.

“…menerjang penyemprot api di video online. Catnya bahkan tidak terkelupas.”

“Jelas tidak. Dilindas tank saja tidak mempan kok. Tidak banyak pasar untuk mobil semacam ini di sini. Mobil ini dirancang untuk para diplomat Timur Tengah, pedagang senjata, dan gembong narkoba.”

“Menurutmu cewek ini orang penting?” si pendek bertanya, suaranya pelan. Aku merunduk, pipiku merah padam.

“Hah,” sahut si jangkung. “Mungkin. Entah apa yang mungkin muncul di sekitar sini sampai-sampai kau membutuhkan kaca tahan-misil dan bodi baja yang sanggup menanggung beban hingga dua ribu kilogram. Pasti dia sedang menuju tempat lain yang lebih berbahaya.”

Bodi baja. Bodi baja yang mampu menahan beban hingga dua ribu kilogram. Dan kaca tahan-misil? Keren. Apa yang terjadi dengan kaca antipeluru biasa?

Well, setidaknya ini masuk akal—kalau selera humormu aneh.

Aku bukannya tidak mengira Edward akan memanfaatkan kesepakatan kami, sengaja membuatnya berat sebelah agar ia bisa memberi jauh lebih banyak daripada yang ia terima. Aku setuju ia boleh mengganti trukku kalau memang perlu diganti, meskipun tidak menyangka momen itu akan datang begitu cepat, tentu saja. Ketika aku terpaksa mengakui trukku sudah berubah jadi tugu peringatan bagi Chevy klasik di pinggir jalan depan rumahku, aku tahu mobil pengganti pilihan Edward kemungkinan besar akan membuatku malu. Menjadi-kanku fokus perhatian dan bisik-bisik. Untuk urusan itu ternyata aku benar. Tapi bahkan dalam imajinasi terliarku sekalipun, aku sama sekali tidak mengira ia akan memberiku dua mobil.

Mobil “sesudah” dan “sebelum”, begitu alasan Edward waktu aku mengamuk.

Yang ini baru mobil “sebelum”. Kata Edward, ini hanya mobil pinjaman dan berjanji akan mengembalikannya setelah pernikahan nanti. Semua itu tidak masuk akal bagiku. Sampai sekarang.

Ha ha. Karena aku manusia yang sangat rapuh, mudah celaka, sering menjadi korban kesialanku sendiri, rupanya aku membutuhkan mobil yang tak mempan dilindas tank agar tetap aman. Menggelikan. Aku yakin Edward dan saudara-saudara lelakinya kenyang menertawakanku di belakang punggungku.

Atau mungkin, mungkin saja, suara kecil berbisik dalam benakku, itu bukan lelucon, tolok Mungkin Edward memang benar-benar mengkhawatirkanmu. Ini bukan pertama kalinya ia agak berlebihan dalam usahanya melindungimu.

Aku mendesah.

Aku belum melihat mobil “setelah”. Mobil itu tersembunyi di balik selubung dan diparkir di bagian paling ujung garasi keluarga Cullen. Aku tahu kebanyakan orang pasti sudah mengintip sekarang, tapi aku benar-benar tidak ingin tahu.

Mungkin mobil itu tidak dilengkapi bodi baja—karena aku tidak akan membutuhkannya setelah bulan madu nanti. Tidak bisa mati hanyalah satu dari sekian banyak kelebihan yang kunanti-nantikan. Hal terbaik menjadi anggota keluarga Cullen bukanlah memiliki mobil mahal dan kartu kredit mengesankan,

“Hei,” seru si jangkung, menaungi matanya dengan tangan di kaca mobil dan berusaha mengintip ke dalam. “Kami sudah selesai. Terima kasih banyak!”

“Sama-sama,” sahutku, kemudian tegang saat menyalakan mesin dan menginjak pedal—dengan sangat pelan…

Tak peduli berapa kali aku bermobil pulang menyusuri jalan yang familier ini, aku masih saja belum sanggup mengabaikan selebaran-selebaran yang kusam oleh hujan itu. Setiap selebaran, dipancangkan ke tiang-tiang telepon dan ditempelkan di papan-papan penunjuk jalan, bagaikan tamparan keras di wajah. Ingatanku tersedot kembali ke pikiran yang tadi ku-interupsi. Aku tak bisa menghindarinya di jalan ini. Tidak dengan foto-foto mekanik favoritku berkelebat lewat dalam interval tertentu.

Sahabatku. Jacob-ku.

Poster-poster bertuliskan APAKAH ANDA MELIHAT PEMUDA INI? bukanlah ide ayah Jacob. Tapi ide ayahfcw, Charlie, yang mencetak selebaran-selebaran itu dan menyebarkannya ke seluruh penjuru kota. Dan bukan hanya di Forks, melainkan juga Port Angeles, Secjuim, Hoquiam, Aberdeen, dan kota-kota lain di sepanjang Semenanjung Olympic, Ia memastikan semua kantor polisi di negara bagian Washington dindingnya juga dipasangi poster yang sama. Di kantornya sendiri ada papan yang khusus diperuntukkan untuk menemukan a o apa yang nyaris kosong, membuatnya kecewa dan frustrasi.

Kekecewaan ayahku bukan hanya karena tidak adanya respons. Ia paling kecewa pada Billy, ayah Jacob—teman terdekat Charlie.

Ia kecewa karena Billy enggan terlibat dalam pencarian anaknya yang berusia enam belas tahun yang “kabur dari rumah”. Kecewa karena Billy menolak memasang poster-poster di La Push, reservasi yang terletak di tepi pantai, tempat kediaman Jacob. Karena Billy sepertinya pasrah atas lenyapnya Jacob, seakan-akan tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Karena ia berkata, “Jacob sekarang sudah dewasa. Dia akan pulang kalau memang sudah ingin pulang.”

Dan ia frustrasi padaku, karena aku memihak Billy. Aku juga tidak mau memasang poster-poster itu. Karena baik Billy maupun aku tahu di mana Jacob berada, bisa dibilang begitu, dan karena kami tahu takkan ada orang yang melihat pemuda ini.

Selebaran itu seperti biasa membuat kerongkonganku tercekat dan mataku memanas, dan aku senang Edward pergi berburu Sabtu ini. Kalau ia melihat reaksiku, itu hanya akan membuatnya merasa bersalah.

Tentu saja, ada ruginya juga ini hari Sabtu. Saat aku membelokkan mobil pelanpelan dan hati-hati memasuki jalan masuk rumahku, aku bisa melihat mobil polisi ayahku bertengger di halaman. Ia absen mancing lagi hari ini. Masih merajuk soal pernikahan rupanya.

Itu artinya aku tidak bisa memakai telepon di dalam. Padahal aku harus menelepon…

Kuparkir mobilku di belakang “monumen” Chevy itu dan mengeluarkan ponsel yang diberikan Edward untuk keadaan darurat dari laci mobil. Aku menghubungi sebuah nomor, ibu jariku siap di atas tombol “end” saat nada tunggu berbunyi. Untuk jaga-jaga saja.

“Halo?” Seth Clearwater menjawab, dan aku mengembuskan napas lega. Aku terlalu pengecut untuk bicara dengan kakaknya, Leah. Kalimat “kubikin mampus kau” bukan sekadar omong kosong kalau diucapkan oleh Leah.

“Hai, Seth, ini Bella.”

“Oh, halo, Bella! Apa kabar?”

Tercekat. Begitu ingin mendapat kepastian. “Baik.”

“Ingin tahu kabar terbaru?”

“Ternyata kau paranormal.”

“Sama sekali tidak. Aku bukan AHce—hanya saja kau gampang ditebak,” canda Seth. Di antara anggota kawanan Quileute di La Push sana, hanya Seth yang berani menyebut anggota keluarga Cullen dengan nama mereka, bahkan membuat lelucon tentang calon adik iparku yang nyaris mahatahu itu.

“Memang.” Aku ragu sejenak. “Bagaimana keadaannya?”

Seth mendesah. “Seperti biasa. Dia tidak mau bicara, walaupun kami tahu dia bisa mendengar kami. Dia berusaha untuk tidak berpikir secara manusia, kau tahu. Hanya mengikuti instingnya.”

“Kau tahu di mana dia sekarang?”

“Di sekitar Kanada utara. Di provinsi mana persisnya, aku tidak tahu. Dia tidak terlalu memerhatikan garis batas antar-negara bagian.”

“Ada tanda-tanda dia bakal…”

“Dia tidak mau pulang, Bella. Maaf”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.