Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tapi aku tidak akan menggunakan kata cantik,”’ sambung Edward. “Tidak kalau kau berdiri di sini sebagai pembandingnya.”

Aku separo tersenyum, kemudian mengangkat tanganku yang bebas—tanganku tidak gemetar sekarang—dan meletakkannya di dada Edward. Putih di atas putih; sekali ini kami serasi. Edward bergidik kecil karena sentuhanku yang hangat. Napasnya semakin memburu.

“Aku sudah berjanji kita akan mencoba? bisik Edward, mendadak tegang. “Kalau… kalau aku melakukan kekeliruan, kalau aku menyakitimu, kau harus langsung memberitahuku.”

Aku mengangguk tenang, mataku tetap tertuju padanya. Aku maju selangkah dan meletakkan kepalaku di dadanya,

“Jangan takut,” bisikku. “Kita ditakdirkan untuk bersama.”

Mendadak hatiku diliputi kebahagiaan oleh kebenaran kata-kataku. Momen ini teramat sempurna, begitu tepat, tak mungkin meragukannya.

Kedua lengan Edward melingkariku, memelukku rapat ke dadanya, musim panas dan musim dingin. Rasanya seolah-olah setiap ujung saraf di tubuhku merupakan kabel listrik.

“Selamanya,” Edward setuju, kemudian perlahan-lahan menarik tubuh kami ke air yang lebih dalam.

Matahari, terasa panas di kulit punggungku yang terbuka, membangunkanku di pagi hari. Mungkin sudah menjelang siang, atau telah lewat tengah hari, aku tidak tahu. Tapi aku bisa mengetahui dengan jelas hal lain selain waktu; aku tahu persis di mana aku berada—kamar terang benderang dengan tempat tidur putih besar, sinar matahari menyorot lewat pintu-pintu yang terbuka. Lipatan-lipatan kelambu melembutkan sinarnya.

Aku tidak membuka mata. Aku terlalu bahagia untuk mengubah apa pun, tak peduli betapa pun kecilnya. Satu-satunya suara hanyalah debur ombak di luar sana, embusan napas kmu, detak jantungku…

Aku merasa nyaman, walaupun matahari bersinar terik, kulit Edward yang dingin merupakan penangkal yang sempurna bagi panasnya udara. Berbaring di dadanya yang sedingin is, kedua lengannya memelukku, terasa sangat mudah dan natural. Malas-malasan aku mengenang betapa paniknya aku semalam. Semua ketakutanku terasa konyol sekarang.

Jari-jari Edward dengan lembut menyusuri tulang belakangku, dan aku tahu bahwa ia tahu aku sudah bangun. Mataku inap terpejam dan aku malah mempererat kedua lenganku yang melingkari lehernya, semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya.

Edward diam saja; jari-jarinya terus membelai punggungku, nyaris tidak menyentuhnya saat ia menyusurinya dengan ujung jari, membentuk berbagai pola di kulitku.

Aku sudah cukup bahagia berbaring saja di sini selamanya, tak pernah mengusik momen ini, tapi tubuhku ternyata berpendapat lain. Aku menertawakan perutku yang tidak saluran. Sepertinya agak membosankan bila aku kelaparan setelah semua yang terjadi semalam. Seperti dibawa kembali ke bumi setelah sebelumnya berada di ketinggian.

“Apanya yang lucu?” gumam Edward, masih terus membelai-belai punggungku. Suaranya, yang serius dan parau, menyeret kembali kenangan semalam, membuat wajah dan leherku memerah.

Menjawab pertanyaannya, perutku berbunyi. Aku tertawa lagi. “Kau tidak bisa terlalu lama melepaskan diri dari ke-manusiawianmu.”

Aku menunggu, tapi Edward ridak ikut tertawa bersamaku, hambat laun, menembus banyak lapisan kebahagiaan yang memenuhi kepalaku, muncul kesadaran adanya atmosfer berbeda di luar kebahagiaan yang melingkupiku.

Aku membuka mata; hal pertama yang kulihat adalah kulit leher Edward yang pucat dan nyaris keperakan, lekuk dagunya di atas wajahku. Dagunya keras. Kutopang tubuhku dengan siku agar bisa melihat wajahnya.

Ia sedang memandangi kanopi putih di atas kami, dan ia tidak menatapku waktu aku mengamati garis-garis wajahnya yang muram. Ekspresinya membuatku terguncang— membuat sekujur tubuhku tersentak.

“Edward,” kataku, suaraku sedikit tercekat. “Ada apa? Ada masalah apa?”

“Masa kau harus bertanya lagi?” Suaranya kaku, sinis.

Naluri pertamaku, hasil dari perasaan minder yang kurasakan seumur hidup, adalah bertanya-tanya apakah aku telah melakukan kesalahan. Otakku berputar, memikirkan semua yang telah terjadi, tapi sama sekali tidak menemukan keganjilan. Ternyata semua lebih simpel daripada yang kukira; tubuh kami tepat bagi satu sama lain seperti kepingan puzzle yang sesuai, dibuat untuk menyatu. Ini memberiku kepuasan rahasia—secara fisik kami kompatibel, seperti juga dalam hal-hal lainnya. Api dan es, entah bagaimana bisa hidup berdampingan tanpa saling menghancurkan. Satu lagi bukti aku memang ditakdirkan untuk bersama dengannya.

Aku tidak bisa memikirkan satu pun yang bisa membuat Edward terlihat seperti ini —begitu kaku dan dingin. Apa yang terlewatkan olehku?

Jari Edward menghaluskan kerutan khawatir di keningku.

“Apa yang kaupikirkan?” bisiknya.

“Kau marah. Aku tidak mengerti. Apakah aku…?” Aku tak sanggup menyelesaikan kata-kataku.

Mara Edward menegang. “Separah apa cedera yang kau-alami, Bella? Sejujurnya— jangan coba-coba memperhalus.”

“Cedera?” ulangku; nadaku lebih tinggi daripada biasanya, karena kata itu membuatku terkejut.

Edward mengangkat sebelah alis, bibirnya terkatup kaku. Dengan cepat aku membuat penilaian, otomatis meregang-tubuh, mengejangkan dan mengendurkan ototototku. Tubuhku memang kaku, dan di beberapa tempat terasa nyeri, ini benar, tapi sebagian besar yang kurasakan hanya sensasi ganjil seakan-akan semua persendian tulangku lepas, dan aku «eparo berubah lembek seperti ubur-ubur. Tapi itu bukan perasaan yang tidak menyenangkan.

Kemudian aku merasa agak marah, karena Edward merusak pagi paling sempurna ini dengan asumsi-asumsinya yang pesimis.

“Mengapa kau harus langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Belum pernah aku merasa lebih baik daripada sekarang.”

Edward memejamkan mata. “Hentikan.”

“Hentikan apa?”

“Berhentilah bertingkah seolah-olah aku bukan monster karena sepakat melakukannya.”

“Edward!” bisikku, benar-benar marah sekarang. Ia menyeret kenanganku yang indah ke dalam kegelapan, menodainya. “Jangan pernah berkata begitu.”

Edward tidak membuka mata; seolah-olah ia tak ingin melihatku.

“Lihat saja dirimu, Bella. Jangan bilang aku bukan monster.”

Sakit hati dan shock, tanpa berpikir aku mengikuti instruksinya dan terkesiap.

Apa yang terjadi padaku? Aku bingung melihat salju putih lembut yang menempel di kulitku. Aku menggeleng, dan benda-benda putih berjatuhan dari rambutku.

Kupungut sepotong benda putih lembut itu dengan jari-jariku. Ternyata isi bantal.

“Mengapa tubuhku tertutup bulu-bulu?*’ tanyaku, kebingungan.

Edward mengembuskan napas tidak sabar. “Aku menggigit satu bantal. Atau dua. Tapi bukan itu yang kumaksud.”

“Kau… menggigit bantal? Mengapa?”

“Dengar, Bellar sergah Edward, nyaris menggeram. Ia meraih tanganku—dengan sangat hari-hati—dan meluruskannya. “Lihat itu”

Kali ini, aku melihat apa yang dimaksudkannya.

Di balik tebaran bulu aku melihat memar-memar besar keunguan mulai bermunculan di kulit lenganku yang pucat. Mataku mengikuti jejak memar itu hingga ke bahuku, kemudian turun ke arah tulang rusuk. Kutarik tanganku dan ku-tusukkan ke bagian yang mulai berubah warna di lengan atas sebelah kiri, melihat warnanya memudar waktu kusentuh tapi kemudian muncul kembali. Rasanya agak berdenyut-denyut.

Dengan sangat hati-hati hingga nyaris tidak menyentuhku, Edward meletakkan tangannya di atas memar-memar di lenganku, satu demi satu, memasangkan jari-jarinya yang panjang di atas pola-pola itu.

“Oh,” ucapku.

Aku berusaha memeras otak—berusaha mengingat-ingat apakah aku merasa sakit —tapi rasanya tidak. Aku tidak ingat apakah cengkeramannya terlalu kuat, apakah tangannya terlalu keras memegangku. Yang kuingat hanyalah bahwa aku ingin memelukku lebih erat lagi, dan merasa bahagia waktu ia melakukannya…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.