Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Bibir Edward menyapu leherku, tepat di bawah telinga. Ia tekekeh dan embusan napasnya yang dingin menggelitik Kulitku yang terlalu panas. “Jangan terlalu lama, Mrs. Cullen.”

Aku terlonjak sedikit mendengar nama baruku.

Bibir Edward menyusuri leherku hingga ke pangkal bahu. “Kutunggu kau di dalam air.”

Ia berjalan melewatiku menuju pintu kaca yang langsung membuka ke arah pantai yang berpasir. Sambil berjalan ia melepaskan kemejanya, menjatuhkannya ke lantai, lalu menyelinap melewati pintu memasuki malam yang diterangi cahaya bulan. Udara malam yang gerah dan asin berputar-putar memasuki kamar di belakangnya.

Apakah kulitku terbakar? Aku sampai harus menunduk untuk mengecek. Tidak, tidak ada yang terbakar. Setidaknya, lidak yang bisa dilihat mata.

Aku mengingatkan diriku untuk bernapas, kemudian ber-saruk-saruk menghampiri koper raksasa yang sudah dibuka Edward di atas rak putih pendek. Itu pasti koperku, karena tas kosmetikku berada di tumpukan paling atas, dan ada banyak warna pink di dalamnya, tapi aku tidak mengenali satu helai pakaian pun yang ada di dalamnya. Saat aku mengaduk’ aduk pakaian yang terlipat rapi—mencari sesuatu yang nyaman dan familier, celana pendek usang, mungkin—kulihat ada banyak sekali pakaian dalam satin berendarenda di dalamnya. Lingerie. Lingerie yang sangat seksi, dengan label berbahasa Prancis.

Aku tidak tahu bagaimana atau kapan, tapi suatu saat nanti, Alice harus membayar perbuatannya ini.

Menyerah, aku pergi ke kamar mandi dan mengintip melalui jendela-jendela panjang yang menghadap ke arah pantai yang sama dengan pintu-pintu kaca. Aku tidak bisa melihat Edward; kurasa ia berada di dalam air, tidak merasa perlu muncul ke permukaan untuk menghirup udara. Di langit di atasnya, bulan menggantung miring, nyaris purnama, dan pasir tampak putih cemetlang di bawah siraman cahayanya. Mataku menangkap gerakan kecil—disampirkan di sebatang pohon palem melengkung yang berjejer sepanjang pantai, pakaian Edward melambai-lambai tertiup angin.

Semburan panas kembali menyerang kulitku.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampiri cermin yang membentang di atas konter panjang. Wajahku persis orang yang tidur seharian di pesawat. Aku menemukan sikat rambut dan menyentakkannya dengan kasar ke rambut kusut di belakang tengkukku sampai rambutku kembali halus dan gigi sikat itu penuh rambut. Aku menyikat gigi dengan saksama, dua kali. Kemudian aku mencuci muka dan mencipratk.m air ke bagian belakang leherku yang terasa panas. Rasanya begitu menyegarkan hingga aku juga membasuh kedua tangan-ku, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah dan mandi saja sekalian. Aku tahu memang konyol mandi sebelum berenang, tapi aku perlu menenangkan diri, dan air panas benar-benar bisa diandalkan.

Dan mencukur bulu kaki lagi rasanya boleh juga.

Setelah selesai aku menyambar handuk putih besar dari konter dan melilitkannya di bawah ketiak.

Kemudian aku dihadapkan pada dilema yang belum pernah k upertimbangkan sebelumnya. Apa yang harus kukenakan? liukan baju renang, jelas. Tapi rasanya konyol mengenakan pakaianku lagi. Aku bahkan tidak ingin memikirkan apa yang dicemaskan Alice untukku.

Napasku mulai memburu lagi dan tanganku gemetar—hilang sudah efek menenangkan dari mandi tadi. Aku mulai merasa sedikit pening, rupanya aku mulai panik lagi. Aku duduk di lantai ubin yang dingin dalam balutan handuk besarku dan meletakkan kepala di antara lutut. Aku berdoa semoga Edward tidak memutuskan untuk datang mencariku sebelum aku menenangkan diri. Bisa kubayangkan apa yang akan dipikirkannya kalau melihatku gugup seperti ini. Tidak sulit baginya meyakinkan diri bahwa kami melakukan kesalahan.

Dan aku bukannya takut karena menurutku kami melakukan kesalahan. Sama sekali tidak. Aku panik karena tidak rahu bagaimana melakukan hal ini, dan aku takut melangkah keluar dari ruangan ini dan menghadapi sesuatu yang tidak kuketahui. Apalagi dalam balutan lingerie Prancis. Aku tahu aku belum siap untuk itu.

Rasanya persis seperti berjalan memasuki panggung teater yang disesaki ribuan penonton tapi lupa dialog-dialognya.

Bagaimana orang-orang melakukannya—menelan semua ketakutan mereka dan memercayai seseorang lain begitu implisit dengan setiap ketidaksempurnaan dan ketakutan yang mereka miliki—dengan komitmen absolut yang kurang daripada yang diberikan Edward kepadaku? Seandainya bukan Edward yang berada di luar sana, seandainya aku tak tahu dengan setiap sel dalam tubuhku bahwa ia mencintaiku sebesar aku mencintainya —tanpa syarat dan mutlak dan, jujur saja, tidak rasional—aku takkan pernah bisa bangkit dari lantai ini.

Tapi Edward-lah yang berada di luar sana, maka aku pun membisikkan kata-kata “Jangan jadi pengecut” pada diriku sendiri lalu buru-buru berdiri, Kulilitkan handuk semakin rapat lalu berjalan dengan langkah penuh tekad keluar dari kamar mandi. Melewati koper yang penuh berisi renda dan tempat tidur besar tanpa sedikit pun melirik ke sana. Keluar dari pintu kaca dan menjejakkan kaki di pasir yang sehalus bedak.

Segalanya hitam dan putih, disepuh jadi tidak berwarna oleh bulan. Aku berjalan lambat-lambat menyeberangi pasir hangat, berhenti sebentar di sebelah pohon melengkung tempat Edward meninggalkan pakaiannya. Aku meletakkan tanganku di batang pohon yang kasar dan memastikan napasku teratur. Atau cukup teratur.

Aku memandang kc laut yang beriak pelan, hitam dalam kegelapan, mencari Edward.

Tidak sulit menemukannya. Ia berdiri, memunggungiku, terbenam hingga sebatas pinggang di air tengah malam, menengadah ke bulan bulat telur. Cahaya bulan yang pucat menjadikan kulitnya putih sempurna, seperti pasir, seperti bulan itu sendiri, dan membuat rambutnya yang basah sehitam lautan. Ia diam tak bergerak, kedua tangannya diletakkan di permukaan air; ombak kecil berdebur di sekeliling tubuhnya seolah-olah ia batu. Kupandangi garis-garis mulus punggung, pundak, lengan, leher, dan bentuk tubuhnya yang sempurna…

Api di dalam tubuhku bukan lagi hanya menyambar sekilas, tapi sekarang berkobar lambat dan dalam; membakar semua kecanggunganku, perasaan maluku. Aku melepas handukku tanpa ragu, meninggalkannya di pohon bersama pakaian Edward, lalu berjalan memasuki cahaya putih; itu membuat kulitku sepucat pasir.

Aku tidak bisa mendengar suara langkah-langkah kakiku saat berjalan ke tepi air, tapi kurasa Edward bisa. Ia tidak menoleh. Aku membiarkan ombak pecah di jemari kakiku, dan mendapari perkiraan Edward tentang air itu ternyata benar—airnya sangat hangat, seperti air mandi. Aku melangkah masuk, hati-hati melintasi dasar laut yang tak terlihat, tapi kehati-hatianku ternyata tidak perlu; permukaan pasir tetap mulus, melandai ke arah Edward. Aku mengarungi arus hingga sampai di sampingnya, kemudian meletakkan tanganku di atas tangan dinginnya yang berada di atas air.

“Cantik,” kataku, menengadah ke bulan juga.

“Lumayan,” sahut Edward, tidak terkesan. Perlahan-lahan ia memalingkan tubuhnya menghadapku; riak-riak kecil bergulir menjauh akibat gerakannya dan mengempas ke kulitku. Mata Edward tampak perak di wajahnya yang sewarna es. Ia memilin tangannya sehingga bisa mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku di bawah permukaan air. Air cukup hangat sehingga kulit Edward yang dingin tidak membuatku merinding.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.