Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menonton sambil berdiam diri sementara Edward menyiapkan kapal untuk berangkat, terkejut melihat betapa terlatih dan nyaman ia kelihatannya, karena selama ini ia tidak pernah bercerita bahwa ia tertarik dengan kapal, tapi ia memang piawai nyaris dalam segala hal.

Saat kami melaju ke arah timur menuju laut lepas, aku meninjau kembali pengetahuan dasar geografi yang tersimpan di kepalaku. Sepanjang pengetahuanku, tak ada apa-apa di sebalah timur Brazil… kecuali kau sampai di Afrika.

Tapi Edward terus memacu kapalnya sementara lampu-lampu kota Rio perlahanlahan mengecil dan akhirnya lenyap sama sekali di belakang kami. Di wajahnya tampak ekspresi penuh semangat yang familier itu, yang muncul setiap kali ia sedang melaju kencang. Kapal menerjang ombak, dan tubuhku basah terkena percikan air laut.

Akhirnya rasa ingin tahuku tak bisa dibendung lagi.

“Masih jauh, ya?” tanyaku.

Tidak biasanya ia lupa bahwa aku manusia, tapi aku penasaran jangan-jangan ia ingin agar kami tinggal di kapal kecil ini selama beberapa waktu.

“Kira-kira setengah jam lagi.” Matanya menatap kedua taanganku yang mencengkeram kursi, dan menyeringai.

Oh well, pikirku dalam hari. Bagaimanapun juga dia kan vampir. Mungkin kami akan pergi ke Atlantis.

Dua puluh menit kemudian ia berseru memanggil namaku, mengalahkan raungan suara mesin.

“Bella, lihat di sana.” Ia menuding lurus ke depan.

Awalnya aku hanya melihat kegelapan yang hitam pekat, dan cahaya bulan yang putih memanjang di permukaan air. Tapi aku berusaha mencari-cari tempat yang ditunjuk olehnya sampai menemukan sebentuk benda hitam rendah menghalangi jejak cahaya rembulan yang membentang di atas gelombang. Saat aku menyipitkan mata ke dalam kegelapan, siluet itu semakin jelas. Benda itu berubah bentuk menjadi scgitiga tak beraturan, satu sisinya membentang lebih panjang daripada sisi lainnya sebelum terbenam ombak. Kami semakin dekat, dan aku bisa melihat tepian benda itu bergerak-gerak pelan tertiup angin sepoi-sepoi.

Kemudian pandanganku kembali terfokus dan potongan-potongan itu membentuk gambaran yang utuh dalam benakku: sebuah pulau kecil menjulang dari dalam laut di depan kami, pohon-pohon kelapanya melambai-lambai, pantainya berkilau temaram di bawah cahaya bulan.

“Di mana kita?” bisikku takjub sementara Edward mengubah arah kapal, mengarah ke sisi utara pulau.

Ia mendengar, walaupun suara mesin sangat berisik, dan menyunggingkan senyum lebar yang berkilauan diterpa cahaya bulan.

“Ini namanya Pulau Esme,”

Kapal tiba-tiba melambar, memasuki dermaga pendek dari papan-papan kayu, putih bersinar tertimpa cahaya bulan. Mesin dimatikan, dan kesunyian yang mengikutinya begitu senyap. Tidak ada apa-apa kecuali ombak, berdebur pelan mengenai badan kapal, dan gemersik daun-daun kelapa tertiup angin. Udara hangat, lembap, dan harum—seperti uap yang tertinggal setelah mandi air panas.

“Pulau Esme?” Suaraku pelan, namun tetap terdengar terlalu keras saat perkataanku itu memecah keheningan malam.

“Hadiah dari Carlisle—Esme menawarkannya pada kita untuk dipinjam,”

Hadiah. Siapa yang memberikan pulau sebagai hadiah? Keningku berkerut. Aku baru sadar kemurahan hati Edward yang berlebihan itu ternyata dipelajarinya dari ayahnya.

Edward meletakkan koper-koper kami di dermaga kemudian berbalik ke arahku, menyunggingkan senyumnya yang sempurna sambil mengulurkan tangan. Bukannya meraih tanganku, ia malah langsung menarikku ke dalam dekapannya.

“Bukankah seharusnya kau menunggu hingga kita sampai di ambang pintu?” tanyaku dengan napas terengah, sementara Edward melompat turun dari kapal dengan langkah ringan,

“Edward nyengir, “Aku selalu cermat melakukan segala sesuatu.”

Mencengkeram pegangan dua koper besar sekaligus dengan satu tangan sambil merangkulku dengan tangan satunya, ia menggendongku ke dermaga, menapaki jalan setapak berpasir pucat yang membelah semak-semak gelap.

Beberapa saat keadaan gelap gulita di tengah semak yang sipcrti hutan belantara, tapi kemudian aku melihat cahaya hangat di depan sana. Begitu menyadari cahaya itu adalah sebuah rumah—dua benda berbentuk bujur sangkar sempurna dan cemerlang itu ternyata jendela besar yang mengapit pintu depan—demam panggungku menyerang lagi, lebih kuat daripada sebelumnya, lebih parah daripada waktu kusangka kami akan pergi mencari hotel.

Jantungku bertalu-talu memukul rusukku, dan napasku seolah tersangkut di tenggorokan. Aku merasakan mata Edward menatap wajahku, tapi menolak membalas tatapannya. Aku memandang lurus ke depan, tidak melihat apa-apa.

Edward tidak bertanya apa yang sedang kupikirkan, sesuatu yang tidak biasanya terjadi. Kurasa itu berarti ia juga tiba-tiba sama gugupnya denganku.

la meletakkan koper-koper di bagian dalam teras untuk membuka pintu—ternyata tidak terkunci,

Edward menunduk memandangiku, menunggu sampai aku membalas tatapannya sebelum melangkah melewati ambang pintu.

Ia membopongku masuk ke rumah, kami sama-sama terdiam, menyalakan lampulampu sembari berjalan. Kesan sekilasku tentang rumah itu adalah bahwa ukurannya sangat besar untuk pulau sekecil itu, dan yang aneh, rumah itu terasa familier. Aku sudah terbiasa dengan skema warna pucat di atas pucat yang disukai keluarga Cullen; rasanya seperti berada di rumah. Tapi aku tidak bisa fokus pada hal-hal spesifik. Denyut nadi di belakang telingaku membuat segalanya sedikit kabur.

Lalu Edward berhenti dan menyalakan lampu terakhir.

Ruangan itu besar dan putih, dan dinding rerujung hampir seluruhnya terbuat dari kaca—dekor standar untuk vampir-vampirku. Di luar, cahaya bulan cemerlang menerpa pasir yang putih dan, beberapa meter dari rumah, tampak ombak yang berkilauan. Tapi aku nyaris tidak memerhatikan bagian itu. Perhatianku lebih terfokus pada tempat tidur putih besar di tengah ruangan, dengan juntaian kelambu putih yang menggelembung.

Edward menurunkan aku dari gendongannya.

“Aku… akan mengambil koper-koper kita dulu.”

Ruangan itu terlalu hangat, lebih pengap daripada hawa tropis di luar. Titik-titik keringat bermunculan di pangkal leherku. Aku berjalan pelan-pelan sampai bisa mengulurkan tangan dan menyentuh kelambu putih lembut itu. Entah mengapa aku merasa perlu memastikan bahwa semuanya nyata.

Aku tidak mendengar Edward kembali. Tiba-tiba jarinya yang sedingin es membelai tengkukku, menghapus titik keringat.

“Agak panas di sini,” kata Edward dengan nada meminta maaf. “Kupikir itulah… yang terbaik.”

“Cermat,” gumamku pelan, dan Edward terkekeh. Nadanya gugup, sesuatu yang jarang terjadi padanya.

“Aku berusaha memikirkan segala sesuatu yang akan membuat ini… jadi lebih mudah,” ia mengakui.

Aku menelan ludah dengan suara keras, masih memunggunginya. Pernahkah ada bulan madu seperti ini sebelumnya?

Aku tahu jawabannya. Tidak. Tidak pernah ada.

“Aku ingin tahu,” kata Edward lambat-lambat, “apakah… perama-tama… mungkin kau mau berenang tengah malam bersamaku*” la menarik napas dalam-dalam, suaranya terdengar lebih santai waktu ia berbicara lagi. “Airnya pasti hangat sekali. Ini jenis pantai yang kausukai.”

“Kedengarannya menyenangkan.” Suaraku pecah.

“Aku yakin kau pasti membutuhkan ‘waktu manusia’ sebentar… Perjalanan tadi sangat jauh.”

Aku mengangguk kaku. Aku nyaris tidak merasa seperti manusia lagi; mungkin aku memang membutuhkan waktu sendirian sebentar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.