Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kusentuh pipinya. “Terima kasih, Jacob.”

Jacob berdiri, menggeliat, dan mengecup puncak kepala Nessie, lalu puncak kepalaku. Akhirnya, ia meninju bahu Edward. “Sampai ketemu lagi besok. Kurasa keadaan sekarang pasti bakal sedikit membosankan, ya?”

“Aku benar-benar berharap begitu,” jawab Edward.

Kami berdiri setelah ia pergi; aku bangkit dengan hati-hati supaya Nessie tidak terguncang. Aku sangat bersyukur melihatnya tidur nyenyak. Begitu berat beban yang disandangkan ke pundak mungilnya selama ini. Sekarang saatnya ia menjadi anak-anak lagi—terlindungi dan aman. Beberapa tahun lagi menikmati masa kanak-kanak.

Pikiran tentang kedamaian dan perasaan aman itu mengingatkanku pada seseorang yang tidak merasakan hal itu,

“Oh, Jasper?” tanyaku waktu kami beranjak ke pintu.

Jasper duduk diapit Alice dan Esme, tidak seperti biasanya seolah menjadi titik sentral di tengah keluarga, “Ya, Bella?”

“Hanya penasaran—mengapa hanya mendengar namamu saja sudah membuat J. Jenks ketakutan setengah mati?”

Jasper terkekeh. “Pengalaman mengajariku bahwa ada sebagian hubungan kerja yang bisa berjalan baik bila tetmotivasi perasaan takut, bukan keuntungan keuangan semata.”

Aku mengernyitkan kening dan berjanji dalam hati bahwa mulai sekarang aku akan mengambil alih hubungan kerja itu dan menyelamatkan J dari kemungkinan terkena serangan jantung yang pasti bakal terjadi.

Setelah acara peluk cium, kami berpamitan pada keluarga kami. Satu-satunya yang mengganjal adalah Nahuel lagi, yang memandangi kami dengan tatapan tajam, seolah berharap bisa mengikuti kami.

Begitu berada di seberang sungai, kami berjalan dengan kecepatan yang tak melebihi kecepatan manusia, tak terburu-buru, sambil bergandengan tangan. Aku sudah capek selalu diburu-buru waktu, dan sekarang aku hanya ingin bersantai. Edward pasti juga merasakan hal yang sama.

“Harus kuakui, aku sangar terkesan pada Jacob sekarang,” kata Edward,

“Serigala-serigala itu benar-benar memberi dampak, kan?”

“Bukan itu maksudku. Hari ini tadi, tak sekali pun dia menularkan fakta bahwa, berdasarkan kesaksian Nahuel, Nessie akan menjadi dewasa penuh hanya dalam enam setengah tahun.”

Aku memikirkan perkataannya itu sebentar. “Jacob tidak melihat Nessie seperti itu. Dia tidak ingin buru-buru melihat Nessie besar. Dia hanya ingin Nessie bahagia,”

“Aku tahu. Seperti kataku tadi, mengesankan. Berlawanan dengan watakku untuk mengatakan ini, tapi Nessie bisa saja mendapatkan pasangan yang lebih buruk.”

Aku mengernyit. “Aku tidak mau memikirkan hal itu selama kira-kira enam setengah tahun lagi.”

Edward tertawa dan mendesah. “Tentu saja, kelihatannya Jacob bakal punya saingan yang petlu dikhawatirkan kalau saatnya tiba nanti.”

Kerutan di keningku semakin dalam. “Aku juga melihatnya. Aku bersyukur Nahuel datang hari ini, tapi caranya menatap Nessie sedikit aneh. Tak peduli jika Nessie satusatunya makhluk setengah vampir yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.”

“Oh, dia bukan menatap Nessie—dia menatapmu.” Rasanya memang seperti itu… tapi rasanya itu tak masuk akal. “Mengapa bisa begitu?”

“Karena kau hidup,” jawab Edward pelan.

“Aku tidak mengerti.”

“Seumur hidupnya,” Edward menjelaskan, “—dan Nahuel lima puluh tahun lebih tua dariku—”

“Tua bangka,” selaku.

Edward tak menggubris kata-kataku. “Dia selalu menganggap dirinya sebagai keturunan iblis, pembunuh berdarah dingin. Saudari-saudarinya semua juga membunuh ibu masing-masing, tapi itu tidak membebani pikiran mereka, Joham membesarkan mereka dengan pemikiran bahwa manusia sama saja dengan hewan, sementara mereka dewa. Tapi Nahuel dibesarkan oleh Huilen, dan Huilen menyayangi saudarinya lebih dari siapa pun.

Itulah yang membentuk perspektif dalam dirinya. Dan, dalam beberapa hal, Nahuel benar

benar membenci dirinya sendiri.”

“Menyedihkan sekali,” bisikku.

“Kemudian dia melihat kita bertiga—dan untuk pertama kali menyadari bahwa hanya karena dia setengah imortal, bukan berarti dia makhluk biadab. Dia menatapku dan melihat… bagaimana ayahnya seharusnya bersikap.”

“Kau memang sangat ideal dalam segala hal,” aku sependapat.

Edward mendengus dan sikapnya kembali serius. “Dia menatapmu dan melihat kehidupan yang sharusnya dimiliki ibunya”

“Kasihan Nahuel,” gumamku, kemudian mendesah karena tahu aku takkan pernah berpikir buruk tentang dirinya setelah ini, meskipun dia membuatku risi dengan tatapannya.

“Jangan sedih memikirkan dia. Dia bahagia sekarang. Hari ini dia akhirnya mulai bisa memaafkan diri sendiri.”

Aku tersenyum memikirkan kebahagiaan Nahuel, dan kemudian berpikir ini memang hari yang penuh kebahagiaan. Walaupun pengorbanan Irina menjadi bayangan gelap yang menodai cahaya putih, menghalangi kesempurnaan momen ini, namun kegembiraan mustahil bisa disangkal. Hidup yang kuperjuangkan kini kembali aman. Keluargaku dipersatukan. Putriku memiliki masa depan yang indah dan membentang luas tanpa akhir di hadapannya. Besok aku akan menemui ayahku; ia akan melihat ketakutan di mataku telah berganti jadi kegembiraan, dan ia juga akan merasa bahagia. Tiba-iba, aku yakin ayahku tidak akan sendirian di sana. Selama beberapa minggu terakhir aku tidak begitu memerhatikan, tapi saat ini seolah-olah aku sudah tahu sejak dulu. Sue akan bersama-sama dengan Charlie—ibu para werewolf dengan ayah vampir—dan Charlie takkan sendirian lagi. Aku tersenyum lebar menyadari hal baru itu.

Namun hal yang paling signifikan dalam gelombang kebahagiaan ini adalah fakta yang paling pasti: aku bersama Edward. Selamanya.

Bukan berarti aku mau mengulangi beberapa minggu terakhir ini, tapi harus kuakui pengalaman ini membuatku lebih menghargai apa yang kumiliki, lebih dari segalanya.

Pondok bagaikan oase kedamaian di malam yang biru keperakan. Kami membawa Nessie ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Ia tersenyum dalam tidurnya.

Aku membuka kalung hadiah Aro dari leherku dan melemparkannya ke sudut kamar Nessie. Ia bisa bermain-main dengannya sesuka hati; ia suka benda-benda berkilau.

Edward dan aku berjalan lambat-lambat ke kamar kami, saling mengayun-ayunkan lengan.

“Malam untuk perayaan,” bisik Edward, ia meletakkan tangannya di bawah daguku dan membawa bibirku ke bibirnya.

“Tunggu,” aku ragu-ragu, menarik diri.

Edward menatapku bingung. Biasanya, aku tak pernah menarik diri. Oke, ini memang tidak biasa. Ini yang pertama kali.

“Aku ingin mencoba sesuatu,” kataku, tersenyum kecil melihat ekspresinya yang bingung.

Aku meletakkan kedua tanganku di kedua sisi wajahnya dan memejamkan mata, berkonsentrasi.

Aku tidak begitu lihai melakukannya waktu Zafrina mengajariku sebelumnya, tapi aku sudah lebih mengenal perisaiku sekarang. Aku memahami bagian yang berjuang melawan pemisahan dariku, insting otomatis untuk menyelamatkan diri di atas segalanya.

Tetap tidak semudah menamengi orang-orang sekaligus dengan diriku sendiri. Aku merasakan tarikan elastis itu melenting kembali sementara perisaiku berusaha melindungiku. Aku harus mendorongnya sejauh mungkin dariku; dibutuhkan konsentrasi sangat besar untuk melakukannya.

“Bella!” bisik Edward sbock.

Saat itulah aku tahu usahaku berhasil, maka aku pun semakin keras berkonsentrasi, memunculkan kembali kenangan-kenangan spesifik yang sengaja kusimpan khusus untuk momen ini, membiarkan semuanya membanjiri pikiranku, dan berharap mudah-mudahan itu semua juga membanjiri pikiran Edward.

Sebagian kenangan itu tidak jelas—kenangan-kenangan samar sebagai manusia, dilihat melalui mata yang lemah dan didengar oleh telinga yang lemah, saat pertama kali aku melihat wajah Edward… bagaimana rasanya ketika ia memelukku di padang rumput… suaranya dalam kegelapan menembus kesadaranku yang goyah ketika ia menyelamatkanku dari James… wajahnya saat ia menunggu di bawah kanopi bunga untuk menikahiku… setiap momen indah dari bulan madu kami di pulau… tangan dinginnya menyentuh bayi kami melalui kulitku…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.