Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Seharusnya kaulihat bagaimana mereka melihat kita tadi! Biasanya, Alec mematikan semua pancaindra dan perasaan korban-korban sementara mereka berpura-pura berunding. Dengan cara itu tak ada yang bisa melarikan diri saat vonis dijatuhkan. Tapi tadi kita berdiri, siap, menunggu, jumlah kita lebih banyak daripada mereka, dengan bakat kita masing-masing sementara bakat mereka dibuat tak berguna oleh Bella, Aro tahu dengan Zafrina di pihak kita, merekalah yang bakal buta begitu pertempuran dimulai. Aku yakin jumlah kita akan sangat jauh berkurang, tapi mereka yakin jumlah mereka juga akan berkurang* Bahkan ada kemungkinan mereka bakal kalah. Mereka tak pernah menghadapi kemungkinan itu sebelumnya. Mereka tidak menghadapinya dengan baik hari ini,”

“Sulit untuk merasa percaya diri jika kau dikelilingi serigala-serigala yang ukurannya sebesar kuda,” Emmett tertawa, meninju lengan Jacob.

Jacob menyeringai padanya.

“Serigala-serigalalah yang menghentikan mereka pada awalnya,” kataku.

“Benar sekali,” Jacob sependapat.

“Jelas” Edward membenarkan. “Itu pemandangan lain yang rak pernah mereka lihat. Anak-Anak Bulan yang sesungguhnya jarang pergi berombongan, dan mereka tidak pernah terlalu bisa mengendalikan diri. Enam belas serigala besar sekaligus menjadi kejutan yang tidak siap mereka hadapi. Caius sebenarnya sangat takut pada serigala. Dia pernah nyaris kalah melawan serigala beberapa ribu tahun lalu dan tidak pernah melupakan ketakutannya itu.”

“Jadi werewolf sungguhan itu benar-benar ada?” tanyaku, “Dengan bulan purnama, peluru perak, dan segala macam?”

Jacob mendengus. “Sungguhan. Kalau begiru aku ini khayalan?”

“Kau mengerti maksudku.”

“Bulan purnama, ya,” jawab Edward. “Peluru perak, tidak— itu hanya satu dari sekian banyak mitos untuk membuat manusia merasa mereka masih punya peluang. Tapi tak banyak yang masih tersisa. Caius sudah memburu mereka sampai hampir punah,”

“Tapi kau tak pernah menyebut hal ini karena,,,?”

“Itu tidak pernah diungkit.”

Aku memutar bola mata, dan Alice tertawa, mencondongkan tubuh ke depan—ia juga dirangkul Edward di lengan yang lain—dan mengedipkan mata padaku.

Kupelototi dia.

Aku sangat sayang pada Alice, tentu saja. Tapi sekarang setelah punya kesempatan menyadari dirinya benar-benar sudah pulang, bahwa kepergiannya hanya akal-akalan karena Edward harus percaya bahwa ia benar-benar meninggalkan kami, aku mulai merasa sangat kesal padanya. Ia harus memberi penjelasan.

Alice mendesah, “Keluarkan saja semua unek-unekmu, Bella,”

“Tega-teganya kau berbuat begitu padaku, Alice?”

“Itu memang perlu.”

“Perlu?” aku meledak. “Kau membuat kami benar-benar yakin kami semua bakal mati! Aku merana selama berminggu-minggu,”

“Bisa saja berakhir begitu” ujar Alice tenang. “Dalam hal itu, kau harus siap menyelamatkan Nessie.”

Secara instingtif aku memeluk Nessie—yang sekarang tertidur di pangkuanku— lebih erat lagi.

“Tapi kau juga tahu bahwa ada jalan lain” tudingku. “Kau tahu bahwa ada harapan. Apakah tak pernah terpikir olehmu bahwa seharusnya kau bisa menceritakan semua padaku? Aku tahu Edward harus mengira tak ada jalan lagi supaya Aro jug.i mengira begitu, tapi sebenarnya kau kan bisa memberi-tahu aku”

Beberapa saat Alice memandangiku dengan sikap berspekulasi. “Kurasa tidak,” tukasnya. “Kau kan bukan aktris yang baik.”

“Jadi masalahnya adalah karena kemampuan aktingku?”

“Oh, turunkan sedikit suaramu, Bella. Apakah kau tak tahu betapa rumitnya mengatur hal ini? Aku bahkan ridak tahu orang seperti Nahuel itu ada—yang kutahu hanyalah bahwa aku harus mencari sesuatu yang tak bisa kulihat! Coba bayangkan saja mencari blind spot—bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Belum lagi kami harus mengirim pulang saksi-saksi kunci, seolah kami tidak sedang terburu-buru saja. Dan masih ditambah lagi dengan keharusan membuka mata lebar-lebar, siapa tahu kau memutuskan untuk memberiku instruksi-instruksi tambahan. Di suatu titik kau harus menjelaskan kepadaku apa sesungguhnya yang ada di Rio. Selain semua itu, aku juga harus melihat setiap tipuan yang mungkin akan digunakan keluarga Volturi dan memberimu sedikit petunjuk sebisaku, supaya kau siap menghadapi siasat mereka, padahal aku hanya punya waktu beberapa jam untuk melacak semua kemungkinan. Yang terutama, aku harus meyakinkan kalian semua bahwa aku meninggalkan kalian, karena Aro harus merasa yakin dulu bahwa kalian tidak menyembunyikan apa-apa atau dia takkan mengambil jalan keluar seperti yang dilakukannya tadi Dan kalau kaukira aku tidak merasa seperti orang brengsek..”

“Oke, oke!” selaku. “Maaf! Aku tahu situasinya pasti juga berat bagimu. Hanya saja… wetl, aku sangat merindukanmu, Alice. Jangan lakukan itu lagi padaku.”

Tawa berdenting Alice membahana di seantero ruangan, dan kami tersenyum karena bisa mendengar musik itu lagi. “Aku juga merindukanmu, Bella. Jadi maafkan aku, dan cobalah merasa puas bisa menjadi superhero hari ini.”

Yang lain tertawa sekarang dan aku membenamkan wajahku ke rambut Nessie, merasa malu.

Edward kembali menganalisis setiap perubahan niat dan kendali yang terjadi di padang rumput hari ini, menyatakan bahwa perisaikulah yang membuat keluarga Volturi lari pontang-panting dengan ekor terselip di antara kaki belakang. Cara semua orang memandangku membuatku risi. Bahkan Edward juga. Aku merasa tubuhku seolah-olah bertambah tinggi hanya dalam sekejap. Aku berusaha mengabaikan tatapan kagum mereka dengan lebih banyak memandangi wajah Nessie yang tertidur pulas serta ekspresi Jacob yang tak berubah. Aku terap Bella bagi Jacob, dan itu sangat melegakan.

Tatapan yang paling sulit diabaikan- adalah juga yang paling membuatku bingung.

Bukan berarti Nahuel, makhluk setengah manusia dan setengah vampir itu pernah memiliki pikiran tertentu tentang aku. Bisa jadi ia mengira aku sudah biasa menepis serangan para vampir yang datang menyerangku seriap hari dan pemandangan di padang rumput tadi sama sekali bukan hal yang tidak biasa. Tapi pemuda itu tak pernah mengalihkan tatapannya dariku. Atau mungkin juga ia memandangi Nessie. Itu juga membuatku risi.

Ia pasti menyadari fakta bahwa Nessie adalah satu-satunya perempuan dari jenisnya yang bukan saudari seayahnya.

Kurasa hal itu belum terpikirkan oleh Jacob, Aku berharap itu takkan terjadi dalam waktu dekat. Sudah cukup rasanya aku mengalami perselisihan.

Akhirnya, yang lain-lain kehabisan pertanyaan untuk diajukan kepada Edward, dan diskusi beralih ke hal-hal sepele.

Anehnya, aku merasa lelah. Tidak mengantuk, tentu saja, tapi rasanya seolah-olah hari ini sangat panjang. Aku menginginkan kedamaian, situasi yang normal. Aku ingin Nessie tidur di ranjangnya sendiri; aku ingin dikelilingi cunding rumahku sendiri.

Kutatap Edward dan sesaat rasanya seolah-olah aku bisa membaca pikirannya. Bisa kulihat ia juga merasakan hal yang persis sama. Siap mendapatkan sedikit kedamaian.

“Apakah sebaiknya kita bawa Nessie…”

“Mungkin itu ide bagus,” Edward langsung setuju. “Aku yakin dia pasti tidak tidur nyenyak semalam, terganggu suara dengkuran.”

Edward nyengir pada Jacob.

Jacob memutar bola matanya dan menguap. “Sudah lama sekali aku tak pernah lagi tidur di tempat tidur. Taruhan, pasti ayahku jantungan melihatku pulang ke rumah.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.