Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Terima kasih, Alice, Ini pernikahan terindah yang pernah ada,” kataku sungguhsungguh. “Semuanya sempurna. Kau adik terbaik, terpintar, dan paling berbakat di seluruh dunia.”

Kata-kataku meluluhkan hatinya; Alice tersenyum lebar. “Aku senang kau menyukainya,”

Renée dan Esme sudah menunggu di lantai atas. Mereka dengan cepat membantuku menanggalkan gaun pengantin dan mengenakan gaun bulan madu berwarna biru tua pilihan Alice. Aku bersyukur seseorang mencopoti jepit dari rambutku dan membiarkannya tergerai lepas ke punggung, ikal sehabis dikepang, menyelamatkanku dari kemungkinan sakit kepala. Air mata ibuku tak henti-hentinya mengalir.

“Aku akan langsung menelepon Mom begitu tahu aku akan pergi ke mana,” janjiku pada Renée waktu aku memeluknya untuk berpamitan. Aku tahu bulan madu rahasia ini mungkin membuatnya sinting; ibuku paling benci rahasia-rahasiaan, kecuali bila ia diikutsertakan di dalamnya,

“Aku akan memberitahumu kalau dia sudah pergi nanti,” Alice mendahuluiku, tersenyum mengejek melihat ekspresiku yang terluka. Sungguh tidak adil, selalu saja aku yang terakhir tahu,

“Kau harus mengunjungi aku dan Phil dalam waktu dekat. Sekarang giliranmu petgi ke selatan—sekali-sekali melihat matahari kan tidak ada salahnya,” kata Renée.

“Hari ini tadi kan tidak hujan,” aku mengingatkan Renée, mengelak mengiyakan permintaannya,

“Itu mukjizat.”

“Semuanya sudah siap,” seru Alice, “Koper-kopermu sudah di mobil—Jasper sudah membawa mobilnya ke depan rumah,” la menarikku menuruni tangga diikuti Renée, yang masih separo memelukku.

“Aku sayang padamu; Mom,” bisikku saat kami menuruni tangga, “Aku sangat senang Mom memiliki Phil, Tetaplah saling menyayangi,”

“Aku juga sayang padamu, Bella, Sayang,”

“Selamat tinggal, Mom. Aku sayang padamu,” kataku lagi, leherku tercekat.

Edward menungguku di kaki tangga. Aku menerima uluran tangannya tapi mencondongkan tubuh menjauh, menyapukan pandanganku ke segelintir orang yang menunggu untuk melepas kepergian kami.

“Dad!” tanyaku, mataku mencari-cari.

“Di sebelah sini,” gumam Edward, Ia menarikku menerobos kerumunan tamu,mereka menyingkir membukakan jalan untuk kami. Kami mendapati Charlie bersandar canggung ke dinding, di belakang semua orang lain, terlihat agak bersembunyi. Lingkaran merah yang mengitari matanya menjelaskan alasannya. “Oh, Dad!”

Kupeluk pinggangnya rapat-rapat, air mataku kembali membanjir—betapa seringnya aku menangis malam ini. Chariie menepuk-nepuk punggungku.

“Sudah, sudah. Jangan sampai kau ketinggalan pesawat.”

Sulit memang berbicara tentang kasih sayang dengan Chariie—kami sangat mirip, selalu mengalihkan pembicaraan ke hal remeh untuk menghindar dari keharusan menunjukkan perasaan yang hanya akan membuat kami malu. Tapi sekarang bukan

saatnya untuk merasa malu.

“Aku sayang padamu selamanya, Dad,” kataku padanya. “Jangan lupa itu ”

“Aku juga, Bells. Dulu dan sekarang, dan akan selalu.”

Aku mencium pipinya, dan pada saat bersamaan ia juga mencium pipiku.

“Telepon aku,” pesannya.

“Segera,” aku berjanji, tahu hanya itu yang bisa kujanjikan. Hanya menelepon. Ibu dan ayahku takkan boleh bertemu lagi denganku; aku akan jadi sangat berbeda, dan jauh, jauh lebih berbahaya,

“Pergilah, kalau begitu,” kata Chariie parau, “Jangan sampai terlambat”

Para tamu kembali menyingkir, membentuk lorong untuk kami. Edward merapatkan tubuhku ke tubuhnya sementara kami menghambur ke luar.

“Kau siap?” tanyanya,

“Siap,” jawabku, dan aku tahu itu benar.

Semua bertepuk tangan ketika Edward menciumku di ambang pintu. Kemudian ia menarikku ke mobil sementara itu tamu menghujani kami dengan beras. Sebagian besar tidak mengenalku, tapi seseorang, kemungkinan Emmett, melempar dengan sangat jitu, dan banyak sekali beras yang terpantul di punggung Edward mengenaiku.

Mobil itu dihiasi bunga-bunga yang menjulur di sepanjang bodinya, serta pita-pita panjang yang mengikat lusinan sepatu—sepatu bermerek yang kelihatannya masih baru— bergelantungan di bemper.

Edward melindungiku dari hujan beras waktu aku naik ke mobil, kemudian ia masuk dan kami langsung meluncur pergi sambil melambai-lambaikan tangan ke luar jendela dan menyerukan kata-kata “aku sayang kalian” ke teras, tempat para anggota keluarga membalas lambaian kami.

Sosok yang terakhir kulihat adalah orangtuaku. Kedua lengan Phil merangkul lembut tubuh Renée. Renée melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Phil, tapi sebelah tangannya yang lain terulur pada Charlie, Begitu banyak jenis cinta yang berbeda; harmonis pada momen ini. Pemandangan yang membuat hatiku begitu hangat.

Edward meremas tanganku.

“Aku cinta padamu,” katanya.

Aku menyandarkan kepalaku di lengannya. “Itulah sebabnya kita berada di sini,” aku mengutip kata-kata yang ia ucapkan tadi.

Edward mengecup rambutku.

Saat kami berbelok memasuki jalan tol yang gelap pekat dan Edward menginjak pedal gas dalam-dalam, aku mendengar suara lain meningkahi derum suara mobil, berasal dari hutan di belakang kami. Kalau aku saja bisa mendengarnya, Edward pasti juga bisa. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa sementara suara itu perlahan-lahan menghilang ditelan jarak yang semakin membentang. Aku juga tidak mengatakan apa-apa.

Lolongan melengking tinggi yang mengoyak hati itu semakin sayup dan akhirnya lenyap sama sekali.

5. PULAU ESME

“HOUSTON?” tanyaku, mengangkat alis begitu kami tiba di gerbang keberangkatan di Seattle,

“Hanya transit sebentar,” Edward meyakinkanku sambil nyengir.

Rasanya aku baru saja tertidur waktu ia membangunkanku. Aku masih sempoyongan karena mengantuk waktu Edward menyeretku melintasi beberapa terminal, susah payah berusaha mengingat untuk membuka mata setiap kali selesai mengerjap. Butuh beberapa menit baru aku bisa sepenuhnya tersadar ketika kami berhenti di depan konter penerbangan internasional, check in untuk penerbangan berikutnya.

“Rio de Janeiro?” tanyaku, sedikit waswas.

“Transit juga,” jawab Edward,

Penerbangan menuju Amerika Selatan panjang tapi nyaman, di tempat duduk kelas satu yang lebar, dalam dekapan Edward yang merangkulku. Aku tertidur pulas dan terbangun dalam kondisi bugar saat pesawat terbang mengitari bandara, cahaya matahari yang mulai terbenam menerobos miring memasuki jendela pesawat.

Kami tidak tinggal di bandara untuk menyambung naik pesawat lain seperti dugaanku semula. Kami malah naik taksi menembus jalan-jalan kota Rio yang gelap, hiruk-pikuk, dan ramai. Karena tak bisa memahami sepatah kata pun instruksi yang diucapkan Edward dalam bahasa Portugis kepada sopir taksi, aku hanya bisa menduga kami pergi untuk . mencari hotel dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Perutku mulas saat memikirkannya, perasaanku gugup seperti demam panggung. Taksi terus melaju menembus kerumunan orang hingga akhirnya kerumunan mulai menipis, dan sepertinya kami mendekati kawasan pinggiran kota di ujung barat, mengarah ke lautan.

Kami berhenti di dermaga.

Edward membimbingku menyusuri deretan panjang kapal pesiar berwarna putih yang ditambatkan di air yang hitam kelam di malam hari. Ia berhenti di samping kapal yang ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal-kapal lain, jelas dirancang untuk bisa melaju cepat dan bukan untuk memperoleh ruang yang lega. Meskipun kapal itu mewah dan lebih anggun daripada yang lain. Dengan enteng Edward melompat naik ke kapal itu, padahal tangannya menenteng koper-koper berat, la menjatuhkan semua bawaannya di atas dek, lalu berbalik untuk membantuku naik dengan hati-hati.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.