Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aro mengangkat jari untuk mendiamkan saudaranya, matanya terpaku pada wajah Alice.

Alice maju selangkah dan memperkenalkan orang-orang asing itu. “Ini Huilen dan keponakannya, Nahuel.”

Mendengar suaranya… seakan-akan Alice tak pernah pergi.

Mata Caius menegang begitu mendengar Alice menyebut hubungan antara para pendatang baru itu. Saksi-saksi Volturi mendesis di antara mereka sendiri. Dunia vampir sedang berubah, dan semua bisa merasakannya.

“Bicaralah, Huilen,” perintah Aro. “Beri kami kesaksian yang harus kausampaikan.”

Wanita mungil itu melirik Alice gugup. Alice mengangguk memberi semangat, dan Kachiri meletakkan tangannya yang panjang di bahu vampir kecil itu.

“Aku Huilen,” wanita itu menyatakan dengan suara jernih dan dalam bahasa Inggris beraksen aneh. Saat ia melanjutkan perkataannya, tampak jelas ia sudah mempersiapkan diri untuk menyampaikan cerita ini, bahwa ia sudah berlatih. Ceritanya mengalir seperti dongeng sebelum tidur yang sudah dihafal dengan baik, “Satu setengah abad yang lalu, aku tinggal bersama sukuku, suku Mapuche. Saudariku bernama Pire. Orangtua kami menamai dia seperti salju di pegunungan karena kulitnya yang terang. Dan dia sangat cantik—terlalu cantik. Suatu hari dia diam-diam mendatangiku dan menceritakan padaku tentang malaikat yang menemuinya di hutan, yang mendatanginya pada malam hari. Aku memperingatkan dia,” Huilen menggeleng sedih. “Seolah-olah memar-memar di kulitnya belum cukup menjadi peringatan. Aku tahu itu Libishomen seperti yang disebutkan dalam legenda kami, tapi dia tidak mau mendengar. Pire sudah tersihir.

“Dia bercerita dia yakin anak malaikat gelap itu sedang bertumbuh di dalam rahimnya. Aku tidak berusaha membuatnya melupakan rencananya untuk kabut dari rumah —aku tahu bahkan ayah dan ibu kami pasti setuju anak itu dimusnahkan, bersama Pire sekaligus. Aku pergi bersamanya ke pelosok hutan. Dia mencari malaikat hantunya tapi tidak menemukan apa-apa. Aku merawat dia, berburu untuknya ketika dia sudah tidak kuat lagi. Dia makan binatang mentah-mentah, minum darahnya. Aku tidak membutuhkan konfirmasi lagi tentang apa yang dikandung Pire dalam rahimnya. Aku berharap bisa menyelamatkan nyawanya sebelum membunuh monster itu.

“Tapi dia menyayangi anak dalam kandungannya. Dia menamainya Nahuel, seperti nama kucing hutan, waktu bayi itu menjadi kuat dan mematahkan tulang-tulangnya—tapi tetap menyayanginya.

“Aku tidak bisa menyelamatkan dia. Anak itu keluar dengan cara mengoyak perutnya, dan Pire meninggal dengan cepat, memohon-mohon agar aku mau merawat Nahuel. Itu keinginan terakhirnya—dan aku setuju.

“Nahuel menggigitku waktu aku berusaha mengangkatnya dari tubuh ibunya. Aku merangkak masuk ke hutan untuk matu Aku tak bisa pergi jauh-jauh—sakitnya terlalu luar biasa. Tapi dia menemukanku; bayi yang baru lahir itu susah payah menerobos semak untuk sampai ke sisiku dan menungguku. Setelah sakitku hilang, dia bergelung di sampingku, tidur.

“Aku merawatnya sampai dia bisa berburu sendiri. Kami berburu di desa-desa di sekitar hutan, selalu berdua. Kami tak pernah pergi jauh dari rumah, tapi Nahuel ingin melihat anak yang ada di sini.”

Huilen menundukkan kepala setelah selesai bercerita dan mundur sehingga ia separo terhalang Kachiri,

Aro mengerucutkan bibir. Ia memandangi pemuda berkulit gelap itu.

“Nahuel, jadi usiamu 150 tahun?” tanya Aro.

“Ditambah atau dikurangi satu dekade,” Nahuel menjawab dengan suara yang jernih dan enak didengar. Aksennya nyaris tidak kentara. “Kami tak pernah menghitung.”

“Dan kau mencapai kedewasaan pada usia berapa?”

“Kira-kira tujuh tahun setelah kelahiranku, aku sudah dewasa penuh.”

“Dan sejak itu kau tak pernah berubah?”

Nahuel mengangkat bahu. “Sepanjang pengamatanku, tidak.”

Aku merasakan getaran mengguncang tubuh Jacob. Aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Aku akan menunggu sampai bahaya ini lewat dan aku bisa berkonsentrasi.

“Dan makananmu?” desak Aro, sepertinya tertarik walau tidak ingin.

“Kebanyakan darah, tapi sebagian makanan manusia juga. Aku bisa bertahan dengan dua-duanya.”

“Dan kau bisa menciptakan makhluk abadi?” Ketika Aro melambaikan tangan ke arah Huilen, suaranya tiba-tiba menegang. Aku kembali fokus pada perisaiku; mungkin ia mencari-cari alasan baru.

“Bisa, tapi yang lain-lain tidak bisa.”

Gumaman shock pecah dari ketiga kelompok.

Alis Aro terangkat. “Yang lain-lain?”

“Saudari-saudariku.” Lagi-lagi Nahuel mengangkat bahu.

Aro memandang liar sesaat sebelum kembali menenangkan wajahnya.

“Mungkin kau mau menyampaikan pada kami seluruh ceritamu, karena sepertinya masih ada lagi.” Nahuel mengerutkan kening.

“Ayahku datang mencariku beberapa tahun setelah kematian ibuku.” Wajahnya sedikit terpilin. “Dia senang bisa menemukanku.” Dari nadanya kentara sekali Nahuel tidak merasakan hal yang sama. “Dia punya dua anak perempuan, tapi tidak punya anak lakilaki. Dia mengharapkan aku bergabung dengannya, seperti saudari-saudariku.

“Dia terkejut aku tidak sendirian. Saudari-saudariku tidak beracun, tapi apakah itu berkaitan dengan gender atau karena sebab lain… siapa yang tahu? Aku sudah punya keluarga sendiri bersama Huilen, dan aku tidak tertarik”—ia memilin kata itu—”untuk berubah. Sesekali aku masih sering bertemu dengannya. Aku punya adik perempuan baru; dia mencapai kedewasaan kira-kira sepuluh tahun lalu.”

“Nama ayahmu?” tanya Caius dengan gigi-gigi dikertakkan.

“Joham” jawab Nahuel. “Dia menganggap dirinya ilmuwan. Dia merasa menciptakan ras super yang baru.” Nahuel tak berusaha menyembunyikan nada muak dalam suaranya.

Caius memandangiku. “Putrimu, apakah dia beracun?” runtutnya kasar.

“Tidak ” jawabku. Kepala Nahuel tersentak mendengar pertanyaan Aro, dan matanya yang bagaikan kayu jati menatap wajahku tajam,

Caius memandang Aro untuk meminta konfirmasi, tapi Aro tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia mengerucutkan bibir dan memandangi Carlisle, kemudian Edward, dan akhirnya matanya tertuju padaku.

Caius menggeram, “Kita bereskan penyimpangan di sini, kemudian mengurus ke selatan,” desaknya pada Aro.

Aro menatap mataku untuk waktu yang lama dan tegang. Aku tak tahu apa yang ia cari, atau apa yang ia dapatkan, tapi setelah menilaiku beberapa saat, sesuatu di wajahnya

berubah, dan dari perubahan kecil pada mulut dan matanya, aku tahu Aro sudah

mengambil keputusan.

“Brother,” ucapnya lirih pada Caius. “Kelihatannya tak ada bahaya di sini. Ini perkembangan yang tidak biasa, tapi aku tidak melihat adanya ancaman. Anak-anak separo vampir ini mirip kita sepertinya.”

“Jadi, itu keputusanmu?” tuntut Caius.

“Benar.”

Caius merengut. “Dan si Joham ini? Si imortal yang sangat senang bereksperimen?”

“Mungkin sebaiknya kita bicara dengannya,” Aro sependapat.

“Silakan saja kalau kalian ingin menghentikan Joham,” sergah Nahuel datar. “Tapi jangan ganggu saudari-saudariku. Mereka tidak bersalah.”

Aro mengangguk, ekspresinya tepekur. Kemudian ia berpaling lagi pada para pengawalnya dengan senyum hangat.

“Anak-anakku sayang,” serunya. “Kita tidak bertempur hari ini.”

Para pengawal itu mengangguk berbarengan dan menegakkan tubuh mereka yang tadi membungkuk memasang kuda-kuda. Kabut lenyap dengan cepat, tapi aku tetap mempertahankan perisaiku. Jangan-jangan ini tipuan lain.

Aku menganalisis ekspresi mereka sementara Aro berbalik menghadapi kami. Wajahnya tetap seramah biasa, tapi tidak seperti sebelumnya, aku merasakan kehampaan yang aneh di balik topengnya. Seolah-olah tipu dayanya telah berakhir. Caius jelas-jelas marah, tapi amarahnya sekarang tertuju ke dalam dirinya; ia menyerah. Marcus tampak… bosan; benar-benar tak ada kata lain untuk menggambarkannya. Para pengawal kembali terlihat tanpa ekspresi dan disiplin; tak ada individu-individu di sana, mereka satu kesatuan. Mereka satu formasi, siap-siap berangkat. Para saksi Volturi masih waswas; satu demi satu mereka berangkat, berpencar di dalam hutan. Setelah jumlah mereka banyak berkurang, yang tersisa pun kabur. Tak lama kemudian mereka sudah lenyap.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.