Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku tahu ia bernafsu ingin memiliki Edward dan aku, memenjarakan kami seperti ia berharap bisa memperbudak Alice. Tapi pertempuran ini terlalu besar. Ia takkan menang kalau aku hidup. Aku senang sekali menjadi begitu kuat hingga tidak memberinya pilihan untuk tidak membunuhku.

“Mari kita ambil suara, kalau begitu,” kata Aro dengan keengganan yang terlihat jelas.

Caius berbicara dengan semangat terburu-buru. “Bagaimana anak ini, tidak diketahui secara pasti. Tak ada alasan membiarkan risiko sebesar itu tetap ada. Dia harus dimusnahkan, bersama semua yang melindunginya.” Ia tersenyum penuh harap.

Sekuat tenaga kutelan kembali jeritan marah untuk menjawab senyum puasnya yang keji.

Marcus mengangkat matanya yang menyorotkan ketidakpedulian, sepertinya tidak melihat kami sementara ia menyampaikan keputusannya.

“Aku tidak melihat adanya bahaya. Anak ini untuk sementara cukup aman. Kita akan selalu bisa mengevaluasinya nanti. Sekarang kita bisa pergi dalam damai.” Suara Marcus bahkan lebih lirih daripada desahan setipis bulu saudara-saudaranya.

Tak ada pengawal yang posturnya berubah rileks mendengar keputusan Marcus yang tidak setuju. Seringaian puas Caius juga tak goyah sedikit pun. Seakan-akan Marcus tidak berbicara sama sekali.

“Kalau begitu, akulah yang harus mengambil keputusan menentukan,” renung Aro.

Tiba-tiba Edward menegang di sampingku. “Yes!” desisnya.

Aku mengambil risiko meliriknya. Wajah Edward berbinar-binar oleh ekspresi kemenangan yang tidak kumengerti— ekspresi yang akan terpampang di wajah malaikat maut saat melihat dunia terbakar. Rupawan dan mengerikan.

Terdengar reaksi pelan para pengawal, gumaman gelisah.

‘Aro?” seru Edward, nyaris berteriak, kemenangan yang tak bisa disembunyikan terdengar dalam suaranya.

Aro sejenak ragu, menilai suasana hati yang batu itu dengan waswas sebelum menjawab. “Ya, Edward? Ada yang ingin kausampaikan…?”

“Mungkin,” jawab Edward dengan nada riang, mengendalikan kegembiraannya yang tak bisa dijelaskan. “Pertama, kalau boleh aku menegaskan satu hal?”

“Tentu saja,” jawab Aro, mengangkat alis, nadanya tertarik dan sopan. Aku mengertakkan gigi; Aro justru sangat berbahaya bila ia sangat murah hati.

“Bahaya yang kauperkirakan akan terjadi karena putriku— itu sepenuhnya bermula dari ketidakmampuan kita menduga bagaimana dia akan berkembang nanti? Inikah inti permasalahannya?”

“Benar, temanku Edward,” Aro membenarkan. “Bila kita bisa merasa positif… bisa metnastikan bahwa, saat dia tumbuh nanti, dia bisa tetap tersembunyi dari dunia manusia— tidak membuat keberadaan kita ketahuan…” suaranya menghilang, bahunya terangkat.

“Jadi kalau kita bisa memastikan dia akan jadi seperti apa persisnya nanti… maka tidak perlu ada keputusan dewan sama sekali?”

“Kalau ada cara untuk benar-benar merasa yakin,” Aro setuju, suaranya yang tipis sedikit melengking. Ia tidak bisa melihat arah pembicaraan Edward. Aku juga tidak, “Kalau begitu, ya, tidak ada pertanyaan lagi yang perlu diperdebatkan.”

“Dan kita akan berpisah dalam damai, kembali berteman baik?” tanya Edward dengan secercah nada ironis.

Suara Aro semakin melengking. “Tentu saja, teman mudaku. Tidak ada yang lebih membuatku senang.”

Edward terkekeh senang. “Kalau begitu ada hal lain yang ingin kutawarkan.”

Mata Aro menyipit. “Dia sangat unik. Masa depannya hanya bisa ditebak.”

“Tidak terlalu unik,” Edward tidak sependapat. “Jarang, tentu saja, tapi bukan satusatunya.”

Kulawan perasaan shock dan harapan yang tiba-tiba muncul, karena hal itu bisa mengusik perhatianku. Kabut yang tampak menakutkan itu masih berpusar-pusar di sekitar pinggiran perisaiku. Dan sementara aku susah payah berusaha fokus, aku merasakan lagi tekanan yang tajam menusuk tameng perlindunganku.

“Aro, bisa tolong minta Jane berhenti menyerang istriku?” pinta Edward sopan. “Kita masih mendiskusikan bukti”

Aro mengangkat sebelah tangan. “Damai, anak-anak kesayanganku. Kita dengarkan dulu dia.”

Tekanan itu lenyap. Jane menyeringai memamerkan giginya; aku tak tahan untuk tidak balas menyeringai.

“Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami, Alice?” Edward berseru nyaring.

“Alice,” bisik Esme shock.

Alice!

Alice, Alice, Alicel

“Alice “Alice!” suara-suara lain bergumam di sekelilingku. “Alice,” Aro mendesah.

Kelegaan dan kegembiraan yang meluap-luap menyerbu sekujur tubuhku. Aku harus mengerahkan segenap daya upaya untuk mempertahankan perisaiku tetap utuh. Kabut Alec masih mencoba-coba, mencari celah—Jane akan tahu kalau aku meninggalkan lubang.

Kemudian aku mendengar mereka berlari menembus hutan, terbang, memperpendek jarak secepat mereka bisa tanpa berusaha memperlambat lari mereka agar tidak terdengar.

Kedua pihak diam tak bergerak, menunggu. Saksi-saksi keluarga Volturi mengerutkan kening bingung.

Kemudian Alice menari-nari memasuki lapangan dari arah barat daya, dan aku merasa kebahagiaan melihat wajahnya lagi bisa membuatku jatuh tersungkur. Jasper hanya beberapa sentimeter di belakang Alice, matanya yang tajam berapi-api. Menyusul di belakang mereka tiga sosok asing; yang pertama wanita bertubuh jangkung dan berotot dengan tambut liar berwarna gelap—jelas itu Kachiri. Ia juga memiliki lengan dan kaki panjang-panjang seperti vampir Amazon lain, bahkan lebih mencolok.

Berikutnya vampir wanita mungil berkulit sewarna buah zaitun dengan rambut hitam panjang dikepang yang terangguk-angguk di punggungnya. Mata merah anggurnya berkelebat gugup melihat konfrontasi di depannya.

Dan terakhir seorang pria muda… larinya tidak secepat dan seanggun vampirvampir lain. Kulitnya cokelat tua menawan. Matanya yang waswas berkelebat memandangi kumpulan itu, bola matanya sewarna kayu jati hangat. Rambutnya hitam dan dikepang, seperti vampir wanita, walaupun tidak sepanjang itu. Ia sangat rupawan.

Ketika ia mendekati kami, sebuah suara baru menghantam semua yang menonton —suara detak jantung lain, kencang karena habis berlari.

Alice dengan lincah melompati pinggiran kabut yang mulai menghilang yang menjilati perisaiku dan langsung berhenti di samping Edward. Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh lengannya, begitu juga Edward, Esme, Carlisle, Tak ada waktu untuk ucapan selamat datang yang lebih dari itu. Jasper dan yang lain mengikutinya memasuki perisai.

Semua pengawal melihat, spekulasi bermain di mata mereka, sementara para pihak yang baru datang menyeberangi perbatasan tanpa kesulitan. Para pengawal yang bertubuh besar, Felix dan yang lain-lain seperti dia, mengarahkan mata mereka yang mendadak penuh harap kepadaku. Mereka tak yakin apa yang bisa menembus perisaiku, tapi sekarang jelas perisaiku tak bisa menghentikan serangan fisik. Begitu Aro memberi perintah, akan langsung terjadi serangan, dan akulah satu-satunya sasaran. Aku bertanya-tanya dalam hati berapa banyak yang bisa dibutakan Zafrina, dan berapa banyak itu akan memperlambat gerak mereka. Cukup lama untuk membuat Kate dan Vladimir menghabisi Jane dan Alec.” Aku hanya bisa berharap begitu.

Edward, meski fokus pada perkembangan yang ia arahkan, menegang marah merespons pikiran-pikiran mereka. Ia mengendalikan diri dan berbicara lagi kepada Aro.

“Alice mencari saksi-saksinya sendiri beberapa minggu terakhir ini” kata Edward pada para terua. “Dan dia tidak kembali dengan tangan hampa. Alice, bagaimana kalau kauperkenalkan saksi-saksi yang kaubawa?”

Caius menggeram. “Waktu untuk saksi-saksi sudah habis! Berikan suaramu, Aro!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.