Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku tersenyum muram padanya. “Aku melakukan semuanya”

Edward tiba-tiba menjauh dariku, tangannya terulur pada Carlisle. Pada saat bersamaan aku merasakan tusukan yang jauh lebih tajam menghunjam tempat perisaiku membungkus cahaya Carlisle, Tidak menyakitkan, tapi juga tidak menyenangkan.

“Carlisle? Kau baik-baik saja?” Edward tersentak panik.

“Ya. Mengapa?”

“Jane,” Edward menjawab.

Begitu Edward menyebut namanya, selusin serangan datang bertubi-tubi, menghunjam ke seluruh permukaan perisai yang elastis, diarahkan ke dua belas titik terang berbeda. Aku meregangkan perisaiku, memastikan tak ada yang rusak. Kelihatannya Jane tidak berhasil menusuknya. Aku cepat-cepat memandang berkeliling; semua baik-baik saja. “Luar biasa,” puji Edward.

“Mengapa mereka tidak menunggu sampai ada keputusan?” desis Tanya.

“Prosedur normal,” jawab Edward kasar. “Mereka biasanya melumpuhkan dulu pihak-pihak yang sedang disidang agar tidak bisa melarikan diri.”

Aku menatap Jane di seberang lapangan, yang memandang kelompok kami dengan tatapan marah bercampur tidak percaya. Aku yakin sekali bahwa, selain aku, ia tak pernah melihat ada orang yang tetap berdiri setelah diserang olehnya.

Mungkin ini bukan sikap yang matang. Tapi kurasa Aro membutuhkan waktu kirakira setengah detik untuk menebak—kalau itu belum ia lakukan—bahwa perisaiku jauh lebih kuat daripada yang selama ini diketahui Edward; aku toh sudah dijadikan sasaran, jadi tak ada gunanya lagi merahasiakan apa yang bisa kulakukan. Maka aku pun menyunggingkan senyum lebar penuh kemenangan pada Jane.

Mata Jane menyipit, dan aku merasakan hunjaman tekanan lagi, kali ini diarahkan padaku.

Aku menyeringai lebih lebar, memamerkan gigiku.

Jane mengeluarkan jeritan menggeram yang melengking tinggi. Semua terlonjak, bahkan para pengawal yang disiplin sekalipun. Semua kecuali para tetua, yang terus sibuk berdiskusi. Kembaran Jane menyambar lengannya sementara ia membungkuk memasang

kuda-kuda, siap menerjang.

Kelompok Rumania mulai terkekeh, berharap akan melihat pertempuran.

“Sudah kubilang kan, inilah saatnya,” kata Vladimir pada Stefan.

“Lihat saja wajah tukang sihir itu,” kekeh Stefan.

Alec menepuk-nepuk bahu saudarinya dengan sikap menenangkan, lalu merangkul Jane. Ia memalingkan wajah kepada kami, wajahnya mulus sempurna, benar-benar seperti malaikat.

Aku menunggu munculnya tekanan, tanda-tanda bakal terjadi serangan, tapi tidak merasakan apa-apa. Ia terus memandang ke arah kami, wajah rupawannya tenang. Apakah ia menyerang? Apakah ia bisa menembus perisaiku? Apakah aku satu-satunya yang masih bisa melihatnya? Kucengkeram tangan Edward.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku tercekar.

“Ya,” bisik Edward.

“Apakah Alec mencoba?”

Edward mengangguk, “Bakatnya lebih lambat daripada Jane. Merayap. Akan mencapai kita beberapa detik lagi.”

Saat itulah aku melihatnya, setelah tahu apa yang harus kucari.

Kabut bening aneh merambat di permukaan salju, nyaris tak terlihat di atas bidang berwarna putih. Mengingatkanku pada fatamorgana—pandangan terlihat sedikit meliukliuk, seberkas cahaya berpendar-pendar. Kudorong perisaiku menjauhi Carlisle dan yang lain-lain di baris depan, takut kabut itu terlalu dekat dengan mereka saat menghantam nanti, Bagaimana kalau kabut itu menerobos perlindunganku yang tak kasatmata? Apakah sebaiknya kami lari?

Geraman pelan berdesir di tanah di bawah kaki kami, dan embusan angin menerbangkan salju menjadi kabut es yang tiba-tiba mengadang di antara kami dan keluarga Voltuti, Benjamin juga melihat ancaman yang merayap itu, dan sekarang ia berusaha meniup kabut itu menjauhi kami. Dengan adanya salju mudah saja melihat ke mana ia melemparkan angin, tapi kabut itu sama sekali tak bereaksi. Rasanya seperti udara bertiup melalui bayang-bayang; bayang-bayangnya kebal.

Formasi segitiga para tetua akhirnya bubar ketika, diiringi suara mengerang yang dalam, muncul retakan zig-zag sempit dan panjang di tengah-tengah lapangan. Bumi berguncang di bawah kakiku. Salju berembus masuk ke lubang, tapi kabutnya lewat terus di atasnya, tidak tetpengaruh gravitasi seperti tadi juga tidak terpengaruh angin.

Aro dan Caius menatap tanah yang menganga dengan mata membelalak. Marcus menatap ke arah yang sama tanpa emosi.

Mereka tidak berbicara; mereka juga menunggu, sementara kabut menghampiri kami. Angin melengking semakin keras tapi tidak mengubah arah kabut. Jane sekarang tersenyum.

Kemudian kabut itu menghantam tembok.

Aku bisa merasakannya begitu kabut itu menyentuh perisaiku—rasanya pekat, manis, memualkan. Samar-samar membuatku teringat rasa kebas di lidah sehabis menenggak Novo-cain.

Kabut itu melengkung ke atas, mencari celah, mencari kelemahan. Tapi tidak menemukan apa-apa. Jari-jemari kabut yang terus mencari itu menjalar ke atas dan mengelilingi perisai, berusaha mencari jalan masuk, dan dalam prosesnya menunjukkan ukuran menakjubkan selubung perisaiku.

Terdengar suara terkesiap dari kedua sisi rekahan tanah yang dibuat Benjamin.

“Bagus sekali, Bella!” sorak Benjamin dengan suara pelan.

Senyumku kembali.

Aku bisa melihat mata Aro menyipit, untuk pertama kali keraguan membayang di wajahnya ketika kabut itu berpusar-pusar tanpa bisa mencelakakan siapa pun di sekitar perisaiku.

Kemudian tahulah aku bahwa aku bisa melakukannya. Jelas aku akan menjadi prioritas nomor satu, yang pertama harus mati, tapi selama aku bisa bertalian, kekuatan kami lebih dari sekadar berimbang dengan keluarga Volturi, Kami masih memiliki Benjamin dan Zarrina; mereka tidak mendapat bantuan supranatural sama sekali. Selama aku bisa bertahan,

“Aku harus berkonsentrasi,” bisikku pada Edward. “Kalau nanti terjadi pertempuran satu lawan satu, lebih sulit me-namengi orang yang tepat.”

“Akan kujauhkan mereka darimu.”

“Jangan. Kau harus melumpuhkan Demetri. Zafrina akan menjauhkan mereka dariku,”

Zarrina mengangguk khidmat. “Tak ada yang bakal menyentuh vampir muda ini,” ia berjanji kepada Edward.

“Sebenarnya aku bisa saja menghadapi Jane dan Alec seorang diri, tapi aku lebih berguna di sini.”

“Jane milikku,” desis Kate. “Dia harus merasakan akibat perbuatannya sendiri.”

“Dan Alec berutang banyak nyawa padaku, tapi aku sudah puas kalau dibayar dengan nyawanya saja,” geram Vladimir dari sisi lain. “Dia milikku.”

“Aku hanya menginginkan Caius,” sergah Tanya datar.

Yang lain mulai membagi-bagi lawan juga, tapi dengan cepat mereka diinterupsi.

Aro, memandang tenang kabut Alec yang tidak efektif, akhirnya berbicara.

“Sebelum kita melakukan pemungutan suara,” ia memulai.

Aku menggeleng marah. Aku sudah muak dengan sandiwara ini. Nafsu haus darah dalam diriku kembali terpicu, dan aku menyesal karena aku justru lebih berguna dengan berdiri diam. Padahal aku ingin bertempur.

“Izinkan aku mengingatkan kalian/’ lanjut Aro, “apa pun keputusan dewan nanti, tidak perlu ada kekerasan di sini.”

Edward menggeramkan tawa pahit.

Aro memandang Edward dengan sedih. “Sungguh merupakan kerugian besar bagi jenis kita bila kehilangan salah sat*I dari kalian. Terutama kau, Edward, dan pasangan vampir barumu. Keluarga Volturi dengan senang hati akan menerim% banyak di antara kalian ke dalam kelompok kami. Bella, Benjamin, Zafrina, Kate. Banyak sekali pilihan bagi kalian. Pertimbangkanlah.”

Upaya Chelsea menggoyahkan kami gagal total karena kekuatan perisaiku. Pandangan Aro menyapu mata kami yang keras, mencari tanda-tanda keraguan. Dari ekspresinya, ia tidak menemukan apa pun.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.