Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Para saksi membalas tatapan Aro dengan sikap hati-hati. Satu, seorang wanita mungil berambut hitam, memandang sekilas pasangannya yang berambut pirang gelap,

“Apakah ‘hanya itu pilihan kami?” tanyanya tiba-tiba, tatapannya berkelebat kembali pada Aro. “Setuju denganmu, arau bertempur melawanmu?”

“Tentu saja tidak, Makenna yang paling memesona,” jawab Aro, terlihat ngeri karena ada yang menyimpulkan seperti itu. “Kau boleh pergi dalam damai, tentu saja, seperti Amun tadi, walaupun kau tidak sependapat dengan keputusan dewan.”

Lagi-lagi Makenna menatap wajah pasangannya, dan pasangannya mengangguk pelan.

“Kami tidak datang ke sini untuk bertempur.” Makenna terdiam sejenak, mengembuskan napas, kemudian berkata, “Kami datang ke sini untuk menyaksikan. Dan kesaksian kami adalah bahwa keluarga ini tidak bersalah. Semua yang dikatakan Garrett tadi benar.”

“Ah,” ucap Aro sedih. “Aku sedih kalian memandang kami seperti itu. Tapi memang begitulah tugas kami.”

“Bukan apa yang kulihat, tapi apa yang kurasakan,” pasangan Makenna yang berambut pirang gelap berbicara dengan nada tinggi dan gugup. Ia melirik Garrett, “Kata Garrett, mereka tahu kalau ada yang berbohong. Aku juga tahu kapan aku mendengar hal sebenarnya, dan kapan tidak.” Dengan sorot takut ia beringsut lebih dekat pada pasangannya, menunggu reaksi Aro.

“Jangan takut pada kami, sobatku Charles. Tak diragukan lagi si patriot benar-benar

meyakini ucapannya.” Aro terkekeh renyah, dan mata Charles menyipit.

“Inilah kesaksian kami,” kata Makenna. “Kami akan pergi sekarang.”

Ia dan Charles perlahan-lahan mundur menjauh, tidak ber-balik sebelum lenyap dari pandangan di balik pohon-pohon. Satu vampir asing lain mulai mundur dengan cara sama, di-susul tiga lagi melesat menyusul mereka.

Kuhitung ada 37 vampir yang tetap di tempat. Beberapa di antara mereka terlihat terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Tapi sebagian besar tampaknya sangat menyadari ke mana arah konfrontasi ini. Kurasa mereka pergi lebih dulu karena tahu siapa yang akan mengejar mereka nanti.

Aku yakin Aro juga melihat hal yang sama denganku. Ia berbalik, berjalan kembali menghampiri pata pengawalnya dengan langkah terukur. Ia berhenti di depan mereka dan berbicara pada mereka dengan suara jernih.

“Kita kalah jumlah, anak-anak buahku tersayang,” ujarnya. “Kita tidak bisa mengharapkan bantuan dari luar. Haruskah kita meninggalkan pertanyaan ini tidak terjawab untuk menyelamatkan diri kita sendiri?”

“Tidak, Tuan,” mereka berbisik serempak.

“Apakah melindungi dunia kita setara harganya, mungkin, dengan kehilangan sebagian di antara kita?”

“Ya,” desah mereka. “Kami tidak takut.”

Aro tersenyum dan berbalik menghadap teman-temannya yang berjubah hitam.

“Brothers” ucap Aro muram, “banyak sekali yang harus kita pertimbangkan di sini.”

“Mari kita berunding,” ajak Caius penuh semangat.

“Mari kita berunding,” ulang Marcus dengan nada tidak tertarik.

Aro memunggungi kami lagi, menghadap ke para tetua yang lain. Mereka bergandeng tangan membentuk segitiga berselubungkan jubah hitam.

Begitu perhatian Aro beralih pada perundingan yang berlangsung tanpa suara, dua saksi lain diam-diam menghilang, masuk ke dalam hutan. Aku berharap, demi keselamatan mereka, mereka bisa lari dengan cepat.

Sekaranglah saatnya. Hati-hati, kulepaskan rangkulan tangan Renesmee dari leherku.

“Kau ingat apa yang kukatakan?”

Air mata menggenangi matanya, tapi Renesmee mengangguk. “Aku sayang padamu,” bisiknya.

Edward menatap kami sekarang, mata topaznya membelalak. Jacob memandang kami dari sudut mata hitamnya.

“Aku juga sayang padamu,” kataku, kemudian aku menyentuh loketnya. “Lebih dari hidupku sendiri.” Kukecup kening Renesmee.

Jacob mendengking gelisah.

Aku berjinjit dan berbisik di telinganya, “Tunggu sampai perhatian mereka teralihkan sepenuhnya, lalu larilah bersama Renesmee. Larilah sejauh kau bisa. Dan setelah itu Renesmee memiliki apa yang kalian butuhkan untuk naik pesawat terbang.”

Wajah Jacob dan Edward sama-sama menunjukkan mimik ngeri, walaupun salah satu dari mereka berwujud binatang.

Renesmee menggapai Edward, dan Edward meraihnya ke dalam pelukan. Mereka berpelukan erat sekali.

“Jadi ini yang kausembunyikan dariku?” bisik Edward di telingaku.

“Dari Aro,” desahku.

“Alice?”

Aku mengangguk.

Wajah Edward terpilin, mengerti bercampur sedih. Begitu jugakah ekspresi wajahku waktu aku akhirnya menyatukan petunjuk-petunjuk Alice?

Jacob menggeram pelan, geraman rendah yang datar dan tak terputus seperti dengkuran. Bulu-bulunya kaku dan giginya terpampang.

Edward mengecup kening Renesmee dan kedua pipinya, kemudian ia menaruhnya di pundak Jacob. Renesmee naik dengan lincah ke punggung Jacob, mencengkeram bulunya, dan duduk nyaman di antara tulang bahunya yang besar.

Jacob berpaling padaku, ekspresinya sarat kepedihan, geraman menggetarkan itu masih terdengar dari dalam dadanya.

“Kau satu-satunya yang bisa kami percaya untuk menjaganya.” bisikku pada Jacob. “Kalau kau tidak menyayanginya sebesar itu, aku takkan sanggup. Aku tahu kau bisa melindunginya, Jacob.”

Jacob mendengking lagi, lalu menundukkan kepala untuk menyenggol bahuku.

“Aku tahu,” bisikku.

“Aku juga sayang padamu, Jake, Kau akan selalu menjadi best man-ku.”

Air mata sebesar bola bisbol mengalir ke dalam bulu cokelat kemerahan di bawah matanya.

Edward menempelkan kepalanya ke pundak tempat ia mendudukkan Renesmee tadi. “Selamat tinggal, Jacob, saudaraku… anakku.”

Yang lain-lain bukan tidak menyadari adegan perpisahan yang terjadi. Mata mereka terpaku pada segitiga hitam tak bersuara itu, tapi aku tahu mereka mendengarkan.

“Jadi tak ada harapan lagi kalau begitu?” bisik Carlisle. Tak ada nada takut dalam suaranya. Hanya tekad dan kepasrahan»

“Jelas masih ada harapan,” aku balas berbisik. Itu bisa jadi benar, kataku pada diri sendiri. “Aku hanya tahu takdirku.”

Edward meraih tanganku. Ia tahu ia termasuk di dalamnya. Waktu aku mengatakan takdirku, tak diragukan lagi bahwa yang kumaksud adalah kami berdua. Kami setengah yang menjadi satu.

Napas Esme memburu di belakangku. Ia berjalan melewati kami, menyentuh wajah kami waktu ia lewat, dan berdiri di sebelah Carlisle, menggenggam tangannya.

Tiba-tiba di sekeliling kami terdengar gumaman selamat berpisah dan pernyataan cinta.

“Kalau kita selamat melewati ini” Garrett berbisik pada Kate, “aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi”

“Kenapa baru sekarang kau bicara begiru?” gerutu Kate.

Rosalie dan Emmett berciuman cepat tapi penuh gairah.

Tia membelai-belai wajah Benjamin. Benjamin membalas senyumnya dengan riang, memegang tangan Tia dan menempelkannya di pipi.

Aku tidak melihat semua ekspresi cinta dan kesedihan itu. Mendadak perhatianku tersedot oleh tekanan menggeletar yang tiba-tiba muncul dari luar perisaiku. Aku tak tahu dari mana asalnya, tapi rasanya seperti diarahkan ke bagian pinggir kelompok kami, Siobhan dan Liam terutama. Tekanan itu tidak mengakibatkan kerusakan apa-apa, dan sejurus kemudian hilang.

Tak ada perubahan dalam sosok para tetua yang diam tak bergerak, masih terus berunding. Tapi mungkin ada semacam isyarat yang tidak kulihat.

“Bersiap-siaplah,” bisikku pada yang lain-lain. “Sudah dimulai” .

38. KUAT

“Chelsea berusaha menghancurkan ikatan kita,” bisik Edwarcl, “Tapi dia tidak bisa menemukannya. Dia tidak bisa merasakan kita di sini…” Matanya melirikku. “Kau yang melakukannya, ya?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.