Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Sambil masih terus memandangi saksi-saksinya, ia berbicara lagi. “Hanya yang sudah diketahui yang aman. Hanya yang sudah diketahui yang bisa ditolerir. Yang belum diketahui… masih perlu dipertanyakan.”

Senyum Caius melebar keji.

“Kau terlalu berlebihan, Aro,” sergah Carlisle dengan nada muram.

“Damai, Teman.” Aro tersenyum, wajahnya tetap sebaik dan suaranya tetap selembut biasa. “Kita tak perlu tergesa-gesa. Mari kita lihat dari segala sisi.”

“Bolehkah aku mengungkapkan pendapatku sebagai bahan pertimbangan?” Garrett meminta dengan nada datar, maju selangkah.

“Nomaden,” seru Aro, mengangguk memberi izin.

Dagu Garrett terangkat. Matanya terfokus pada massa yang berkelompok di ujung padang rumput, dan ia berbicara langsung kepada para saksi Volturi.

“Aku datang ke sini atas permintaan Carlisle, seperti yang lain-lain, untuk bersaksi,” ujar Garrett. “Itu jelas tidak diperlukan lagi, berkaitan dengan masalah anak itu. Kita semua sudah melihat bagaimana dia*

“Aku tetap tinggal untuk memberi kesaksian tentang hal lain. Kalian.” Ia menudingkan jarinya ke para vampir yang waswas itu. “Dua di antara kalian aku kenal— Makenna, Charles—dan bisa kulihat banyak di antara kalian juga pengelana seperti aku. Kita tidak tunduk pada siapa pun. Pikirkan baik-baik apa yang akan kukatakan pada kalian sekarang.

“Para tetua ini tidak datang untuk menegakkan keadilan seperti yang meteka katakan pada kalian. Kami sudah curiga sejak awal, dan sekarang kecurigaan kami terbukti. Mereka datang, atas informasi palsu, tapi dengan alasan valid untuk tindakan mereka. Lihat bagaimana mereka mencari-cari alasan rak masuk akal untuk melanjutkan misi mereka yang sesungguhnya. Lihat bagaimana mereka berusaha keras membenarkan tindakan yang akan mendukung tujuan utama mereka—yaitu menghancurkan keluarga ini.” Ia melambaikan tangan pada Carlisle dan Tanya.

“Volturi datang untuk memusnahkan apa yang mereka anggap sebagai saingan. Mungkin, seperti aku, kalian menatap mata keemasan klan ini dan kagum pada mereka. Mereka sulit dimengerti, itu benar. Tapi para tetua melihat dan menyadari sesuatu selain pilihan aneh mereka. Mereka melihat ke-kuasaan.

“Aku menyaksikan ikatan yang terjalin dalam keluarga ini—aku menyebutnya keluarga, bukan kelompok. Makhluk-makhluk aneh bermata emas ini menyangkal sifat alami mereka. Tapi sebagai balasan, apakah mereka mendapatkan sesuatu yang bahkan lebih berharga, mungkin, daripada sekadar pemuas gairah? Aku sempat melakukan penelitian sedikit tentang mereka selama berada di sini, dan sepertinya menurutku hal intrinsik yang bisa menyatukan keluarga ini dengan begitu kuatnya—yang membuat mereka sanggup bertahan—adalah karakter damai yang merupakan prasyarat dalam kehidupan yang penuh pengorbanan ini. Tak ada sifat agresif di sini, seperti yang kita lihat dalam klan-klan besar di selatan yang bertumbuh dan kemudian lenyap dengan cepat dalam perselisihan hebat mereka. Di sini tak ada pikiran untuk mendominasi. Dan Aro tahu itu lebih baik daripada aku.”

Kupandangi wajah Aro saat kata-kata Garrett menelanjangi maksudnya, menunggu responsnya dengan tegang. Tapi wajah Aro tetap terlihat sopan bercampur geli, seperti menunggu anak kecil yang mengamuk menjadi sadar bahwa tak ada orang yang menggubris amukannya.

“Carlisle meyakinkan kami, waktu dia menyampaikan kepada kami apa yang bakal terjadi, bahwa dia tidak memanggil kami ke sini untuk bertempur. Saksi-saksi ini”— Garrett menuding Siobhan dan Liam—”setuju memberi kesaksian, untuk menunda sejenak serangan keluarga Voltuti, supaya Catlisle bisa mendapat kesempatan untuk menjelaskan.

“Tapi sebagian dari kami bertanya-tanya”—matanya berkelebat memandang wajah Eleazar—”apakah setelah Carlisle menjelaskan hal sebenarnya, itu cukup untuk menghentikan tindakan yang disebut sebagai keadilan ini? Apakah keluarga Volturi datang untuk melindungi rahasia kita, atau melindungi kekuasaan mereka sendiri? Apakah mereka datang untuk menghancurkan ciptaan ilegal, atau menghancurkan gaya hidup? Bisakah mereka dipuaskan bila bahaya itu ternyata tak lebih dari kesalahpahaman belaka? Atau mereka akan tetap mempertahankan masalah ini tanpa alasan menegakkan keadilan?

“Kita semua tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Kita sudah mendengarnya dalam kata-kata bohong Aro—salah seorang dari kita punya bakat untuk mengetahui halhal semacam itu—dan kita melihatnya sekarang dalam senyum Caius yang penuh semangat. Pengawal mereka hanyalah senjata yang tidak memiliki kehendak bebas, alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tuannya yang ingin menguasai.

“Jadi sekarang timbul lagi pertanyaan baru, pertanyaan yang harus kalian jawab. Siapa yang memerintah kalian, kaum nomaden? Apakah kalian tunduk pada kehendak orang lain ataukah kehendak kalian sendiri? Apakah kalian bebas memilih jalan kalian, atau keluarga Volturi yang akan memutuskan bagaimana kalian harus hidup?

“Aku datang untuk memberi kesaksian. Aku tetap tinggal untuk bertempur. Keluarga Volturi tak peduli pada kematian seorang anak. Yang mereka cari adalah kematian dari kehendak bebas kita.”

Lalu Garrett berbalik, menghadap para tetua. “Maka ayolah, kataku Jangan ada lagi kebohongan-kebohongan untuk membenarkan tujuan kalian. Jujurlah mengungkapkan tujuan kalian, seperti kami juga jujur mengungkapkan tujuan kami. Kami akan membela kebebasan kami. Kalian akan atau tidak akan menyerang kehendak bebas kami. Pilih sekarang, dan biarkan para saksi ini melihat masalah yang sesungguhnya diperdebatkan di sini.”

Sekali lagi ia menatap para saksi Volturi, matanya memandang tajam setiap wajah. Kekuatan kata-katanya terlihat jelas dalam ekspresi mereka. “Kalian mungkin lebih baik berpikir untuk bergabung dengan kami. Kalau kalian merasa keluarga Volturi akan membiarkan kalian hidup untuk menyebarkan cerita ini, kalian salah besar. Kita semua mungkin akan dihancurkan”—Garrett mengangkat bahu—”tapi sekali lagi, mungkin juga tidak. Mungkin posisi kita lebih kuat daripada yang mereka ketahui. Mungkin keluarga Volturi akhirnya bertemu juga dengan lawan seimbang. Tapi aku bisa memastikan hal ini kepada kalian—kalau kami kalah, kalian juga bakal kalah,”

Garrett mengakhiri pidatonya yang berapi-api dengan mundur ke sisi Kate, kemudian bergeser maju dalam posisi separo membungkuk, siap menyerang.

Aro tersenyum. “Pidato yang sangat bagus, temanku yang revolusioner.”

Garrett tetap dalam posisi siap menyerang. “Revolusioner?” geramnya. “Memangnya aku memberontak melawan siapa, kalau boleh aku bertanya? Apakah kau rajaku? Kau ingin aku memanggilmu tuan juga, seperti pengawal psikopatmu itu?”

“Damai, Garrett,” kara Aro dengan sikap toleran. “Aku hanya merujuk pada zaman kelahiranmu. Tetap seorang patriot, ternyata.”

Garrett membalas tatapan Aro dengan pandangan- garang.

“Mari kita tanyakan pada saksi-saksi kita,” Aro mengusulkan. “Mari kita dengar pikiran mereka sebelum mengambil keputusan. Katakan pada kami, teman-teman”—dan ia dengan santai memunggungi kami, berjalan beberapa meter menghampiri para pengamat yang kini berdiri semakin dekat ke pinggir hutan—”bagaimana pendapat kalian dalam hal ini? Aku bisa memastikan bahwa bukan anak ini yang kira takuti. Apakah kita harus mengambil risiko dan membiarkan anak ini hidup? Apakah kita harus membahayakan dunia kita hanya agar keluarga mereka tetap utuh? Atau apakah Garrett yang tulus hati itu berhak melakukannya? Apakah kalian akan bergabung dengan mereka dalam pertempuran melawan niat spontan kami untuk mendominasi?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.