Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Ah, AMUN, tetangga selatanku!” sapa Aro hangat “Sudah lama sekali kau tak pernah lagi mengunjungiku”

Amun berdiri diam penuh kecemasan, Kebi mematung di sampingnya. “Waktu tak berarti banyak; aku tak pernah menyadari waktu berlalu/’ tukas Amun dari sela-sela bibir yang tidak bergerak,

“Benar sekali,” Aro sependapat. “Tapi mungkin kau punya alasan lain untuk menjauh?”

Amun diam saja.

“Dibutuhkan waktu sangat banyak untuk mengorganisir vampir-vampir baru hingga bisa menjadi sebuah kelompok, Aku tahu betul itu! Aku bersyukur memiliki pihak-pihak lain yang bisa mengurus hal itu. Aku senang tambahan-tambahan baru dalam kelompok kalian bisa beradaptasi dengan sangat baik. Aku akan senang sekali kalau diperkenalkan. Aku yakin kau sebenarnya bermaksud menemuiku sebentar lagi.”

“Tentu saja,” jawab Amun. nadanya datar tanpa emosi hingga sulit memastikan apakah ada secercah ketakutan ataupun sarkasme dalam perkataannya barusan.

“Oh well, kita semua berkumpul sekarang! Menyenangkan, bukan?”

Amun mengangguk, wajahnya kosong.

“Tapi alasan kehadiranmu di sini sebenarnya tidak menyenangkan, sayangnya. Carlisle memanggilmu ke sini untuk memberi kesaksian?”

“Benar.”

“Dan apa kesaksianmu untuknya?”

Amun berbicara dengan suara tanpa emosi. “Aku sudah mengamati anak yang dipertanyakan. Terbukti hampir seketika itu juga bahwa dia bukan anak imortak.”

“Mungkin sebaiknya kita mendefinisi ulang istilah itu,” sela Aro, “karena sekarang sepertinya ada klasifikasi baru. Yang dimaksud dengan anak imortal adalah tentu saja anak manusia yang digigit kemudian berubah menjadi vampir.”

“Ya, itulah yang kumaksud.”

“Apa lagi yang kaupethatikan tentang anak itu?”

“Hal-hal yang sama seperti yang tentu sudah kaulihat dalam pikiran Edward. Bahwa itu anak biologisnya. Bahwa anak itu bertumbuh. Bahwa anak itu belajar.”

“Ya, ya,” sahut Ato, ada secetcah nada tak sabar dalam suaranya yang seharusnya terdengar ramah, ‘”lapi secara spesifik, selama beberapa minggu keberadaanmu di sini, apa yang kaulihat?”

Amun mengerutkan kening. “Bahwa dia bertumbuh… cepat.”

Aro tersenyum. “Dan apakah kau yakin dia seharusnya dibiarkan hidup?”

Desisan terlontar dari bibirku, dan bukan hanya aku sendiri. Separo vampir di barisanku menggemakan protes yang sama. Suaranya terdengar seperti desisan marah yang menggantung di udara. Di seberang padang, beberapa saksi Volturi juga mengeluarkan suara yang sama. Edward mundur dan memegang pergelangan tanganku dengan sikap menahan.

Aro tidak menanggapi suara-suara itu, tapi Amun memandang berkeliling dengan sikap resah.

“Kedatanganku ke sini bukan untuk membuat penilaian,” ia berdalih.

Aro tertawa renyah. “Hanya pendapatmu.”

Dagu Amun terangkat. “Aku tidak melihat bahaya dalam diri anak ini. Dia belajar lebih cepat daripada dia tumbuh.”

Aro mengangguk, menimbang-nimbang. Sejurus kemudian, ia berbalik.

“Aro?” seru Amun.

Aro berputar cepat. “Ya, Teman?”

“Aku sudah memberikan kesaksianku. Aku tak punya urusan lagi di sini. Pasanganku dan aku ingin pergi sekarang.”

Aro tersenyum hangat, “Tentu saja. Aku sangat senang kita bisa mengobrol sedikit. Dan aku yakin kita akan bertemu lagi nanti.”

Bibir Amun merapat membentuk garis lurus saat ia menelengkan kepala, menyadari ancaman dalam perkataan itu. Ia menyentuh lengan Kebi, kemudian mereka berlari sangat cepat ke ujung selatan padang rumput dan menghilang ke balik pepohonan. Aku tahu mereka takkan berhenti berlari untuk waktu sangat lama.

Aro kembali menyusuri barisan kami ke arah timur, para pengawalnya mengikuti dengan siaga. Ia berhenti di depan sosok Siobhan yang besar.

“Halo, Siobhan sayang. Kau tetap secantik biasanya.”

Siobhan menelengkan kepala, menunggu.

“Dan kau?” tanya Aro. “Maukah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku seperti Amun tadi?”

“Aku mau,” jawab Siobhan. “Tapi aku mungkin ingin menambahkan sedikit, Renesmee mengerti batasan-batasannya. Dia tidak berbahaya bagi manusia—dia melebur lebih baik daripada kita. Dia bukan ancaman yang akan mengekspos keberadaan kira.”

“Tidak ada sama sekali menurutmu?” tanya Aro muram.

Edward menggeram, suara buas yang berasal dari dalam kerongkongannya.

Mata Caius yang berkabut berubah cerah.

Renata mengulurkan tangan dengan sikap protektif pada tuannya.

Dan Garrett melepaskan Kate untuk maju selangkah, mengabaikan tangan Kate yang kali ini berusaha menenangkannya.

Siobhan menjawab lambat-lambat, “Rasanya aku tidak mengerti maksudmu.”

Aro mundur, sikapnya biasa-biasa saja, tapi ia menuju para pengawalnya. Renata, Felix, dan Demetri berada lebih dekat dengannya daripada bayang-bayangnya sendiri.

“Tak ada hukum yang dilanggar,” kata Aro dengan nada menenangkan, tapi kami masing-masing bisa mendengar ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Sekuat tenaga aku melawan amarah yang berusaha mencakar keluar lewat tenggorokanku dan menggeramkan penolakanku. Kulemparkan amarahku dalam bentuk perisai, menebalkannya, memastikan setiap orang terlindungi.

“Tak ada hukum yang dilanggar,” ulang Aro. “Namun, apakah itu serta-merta memastikan tidak ada bahaya juga? Tidak.” Ia menggeleng pelan. “Itu soal lain.”

Satu-satunya respons adalah ketegangan yang semakin memuncak, dan Maggie, yang berdiri paling ujung dalam deretan para pejuang kami, menggeleng-gelengkan kepala pelan dengan sikap marah.

Aro mondar-mandir dengan sikap tepekur, terlihat seperti melayang dan kakinya tidak menyentuh tanah. Kulihat semakin lama ia semakin dekat ke arah perlindungan para pengawalnya.

“Dia unik… sangat, luar biasa unik. Sungguh sayang memang menghancurkan sesuatu yang begitu manis. Apalagi kita bisa belajar banyak»,” Aro mengembuskan napas, seolah-olah tak kuasa melanjutkan. “Tapi ada bahaya, bahaya yang tidak bisa diabaikan begitu saja.”

Tidak ada yang mengiyakan pernyataannya. Suasana sunyi senyap sementara ia melanjutkan monolog yang kedengarannya seolah-olah percakapannya pada diri sendiri.

“Sungguh ironis bahwa seiring dengan kemajuan manusia, sementara keyakinan mereka pada ilmu pengetahuan bertumbuh dan mengendalikan dunia mereka, semakin bebas kita dari kemungkinan ketahuan. Namun, dengan semakin leluasanya kita oleh karena ketidakpercayaan mereka pada hal-hal supranatural, mereka menjadi cukup kuat dalam teknologi sehingga, kalau mau, mereka bisa benar-benar menjadi ancaman bagi kita, bahkan menghancurkan sebagian dari kita.

“Selama ribuan tahun, kerahasiaan yang kita jaga lebih merupakan masalah kenyamanan, ketenangan, dan bukan benar-benar karena keselamatan. Satu abad terakhir yang keras dan penuh amarah ini telah melahirkan senjata-senjata yang sangat kuat sehingga membahayakan bahkan para imortal. Sekarang status kita sebagai sekadar mitos melindungi kita dari makhluk-makhluk lemah yang kita buru,

“Anak menakjubkan ini”—Aro menelungkupkan telapak tangannya, seolah menempelkannya di atas kepala Renesmee, walaupun ia berdiri 36 meter jauhnya dari Renesmee sekarang, posisinya hampir kembali berada dalam formasi Vokuri lagi—”kalau kita bisa mengetahui potensinya—tahu dengan keyakinan mutlak bahwa dia akan selalu bisa menjaga kerahasiaan kita. Tapi kita tidak tahu dia akan menjadi seperti apa nanti! Orangtuanya sendiri dihantui ketakutan akan masa depannya. Kita tidak bisa tahu akan bertumbuh menjadi apa dia nanti.” Aro terdiam, pertama-tama memandangi para saksi kami, kemudian, dengan penuh arti, pada para saksinya sendiri. Ia dengan sangat lihai memperdengarkan nada seolah-olah hatinya terbagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.