Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Dengan suara berdenting kecil, api yang melesat dari tangan Caius lenyap. Suara terkesiap terdengar dari kerumunan saksi di belakang pasukan Volturi.

Kami terlalu terpana untuk mengeluarkan suara apa pun. Bukan hal aneh mengetahui kematian datang begitu cepat dan tak terhentikan; tapi melihat itu terjadi dengan mata kepala sendiri adalah soal lain,

Caius tersenyum dingin. “Sekarang dia sudah bertanggung jawab penuh atas perbuatannya.”

Matanya berkelebat ke barisan depan kami, memandang sekilas sosok Tanya dan Kate yang membeku kaku.

Detik itu juga aku mengerti Caius tak pernah salah mengartikan kuatnya ikatan keluarga yang sesungguhnya. Ini memang disengaja. Ia tidak menginginkan keluhan Irina; ia justru ingin Irina menentangnya. Alasannya menghancurkan Irina adalah untuk memicu kekerasan yang kini memenuhi udara bagai kabut tebal yang padat. Ia telah melempar api.

Kedamaian yang dipaksakan dalam pertemuan ini kini semakin terancam, seperti gajah yang berdiri goyah di atas tali yang membentang tegang. Begitu pertempuran terjadi, tak ada yang bisa menghentikannya. Pertempuran hanya akan semakin menjadi-jadi sampai satu pihak musnah. Pihak kami. Caius tahu itu.

Begitu juga Edward,

“Hentikan mereka!” pekik Edward, melompat untuk menyambar lengan Tanya ketika ia maju ke arah Caius yang tersenyum dengan jeritan buas penuh amarah. Tanya tak sanggup menepis cengkeraman Edward sebelum Carlisle memeluk pinggangnya dan menguncinya.

“Sudah terlambat untuk membantu Irina,” Carlisle buru-buru membujuknya sementara Tanya meronta-ronta. “Jangan beri apa yang Caius inginkan!”

Kate lebih sulit ditahan. Berteriak-teriak dengan kata-kata yang tidak jelas seperti Tanya, ia menghambur untuk menyerang—tindakan yang pasti akan berakhir dengan kematian semua orang. Rosalie berada paling dekat dengannya, tapi sebelum Rose sempat memitingnya, Kate menyetrumnya begitu kuat hingga Rose langsung terkulai ke tanah, Emmett menyambar lengan Kate dan menjatuhkannya, lalu terhuyung-huyung mundur, lututnya goyah. Kate berguling berdiri, kelihatannya tak seorang pun bisa menghentikannya.

Garrett melompat dan menabraknya, menjatuhkannya ke tanah lagi. Ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Kate, mengunci tangannya sendiri. Kulihat tubuh Garrert kejang-kejang ketika Kate menyetrumnya. Bola matanya berputar, tapi ia tidak mengendurkan pitingan,

“Zafrina,” teriak Edward.

Mata Kate berubah kosong dan jeritannya berubah jadi erangan. Tanya berhenti meronta-ronta.

“Kembalikan penglihatanku,” desis Tanya.

Susah payah, tapi dengan segenap kemampuan yang aku bisa, aku mengulur perisaiku semakin kuat menutupi percikan bunga api teman-temanku, menariknya dengan hati-hati dari Kate sambil berusaha menjaganya tetap melingkupi Garrett, menjadikannya semacam lapisan tipis di antara mereka.

Kemudian Garrett bisa menguasai diri lagi, masih memegangi Kate di salju.

“Kalau aku melepaskanmu, apakah kau akan melumpuhkanku lagi, Katie?” bisiknya.

Kate menggeram sebagai respons, masih meronta-ronta tanpa bisa melihat.

“Dengarkan aku, Tanya, Kate,” kata Carlisle dengan suara berbisik pelan namun tegas. “Tak ada gunanya membalas dendam. Irina tak ingin kalian menyia-nyiakan hidup kalian seperti ini. Pikirkan baik-baik apa yang kalian lakukan. Kalau kalian menyerang mereka, kita semua mati.”

Bahu Tanya membungkuk berduka, dan ia menyandarkan tubuhnya pada Carlisle, meminta dukungan. Kate akhirnya terdiam. Carlisle dan Garrett terus menghibur dua bersaudara itu dengan kata-kata yang terlalu mendesak untuk bisa menghibur.

Perhatianku kembali ke tatapan puluhan pasang mata yang memandangi kekacauan yang sempat terjadi dalam kelompok kami. Dari sudut mata bisa kulihat Edward dan yang lain, selain Carlisle dan Garrett, kembali bersiaga penuh.

Tatapan paling tajam berasal dari Caius, memandang dengan sikap marah bercampur tak percaya pada Kate dan Garrett yang terduduk di salju. Aro juga menatap mereka berdua, tidak percaya adalah emosi paling kuat yang terpancar dari wajahnya. Ia tahu apa yang bisa dilakukan Kate. Ia telah merasakan kemampuannya melalui ingatan Edward.

Apakah ia mengerti apa yang sedang terjadi sekarang—apakah ia melihat perisaiku telah bertumbuh semakin kuat dan semakin halus, lebih daripada yang Edward ketahui? Atau apakah ia mengira Garrett memiliki kemampuan imunitasnya sendiri?

Para pengawal Volturi tak lagi berdiri dengan sikap penuh disiplin—mereka kini membungkuk ke depan, siap menerjang

Di belakang mereka, 43 saksi menonton dengan ekspresi yang sangat berbeda daripada yang mereka perlihatkan tadi saat memasuki lapangan. Kebingungan berubah menjadi kecurigaan. Penghancuran Irina yang secepat kilat tadi mengguncangkan mereka semua. Apa sebenarnya kesalahan Irina?

Tanpa serangan langsung yang diandalkan Caius untuk mengalihkan perhatian para saksi dari tindakannya yang sewenang-wenang, para saksi Volturi mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi di sini, Aro menoleh sekilas ke belakang sementara aku memerhatikan bahwa kejengkelan sempat menyaput wajahnya sekilas. Keinginannya untuk ditonton kini justru berbalik jadi-tidak menguntungkan.

Aku mendengar Stefan dan Vladimir berbisik-bisik, senang melihat kegelisahan Aro.

Aro jelas ingin tetap mempertahankan posisinya sebagai pembawa keadilan, seperti istilah vampir-vampir Rumania itu. Tapi aku tak yakin keluarga Volturi akan meninggalkan kami dalam damai hanya demi menyelamatkan reputasi mereka. Setelah selesai berurusan dengan kami, pasti mereka akan membantai para saksi mereka demi tujuan itu. Tiba-tiba aku merasa kasihan pada massa asing yang dibawa keluarga Volturi untuk menonton kami mati. Demetri akan memburu mereka sampai mereka musnah juga.

Demi Jacob dan Renesmee, demi Alice dan Jasper, demi Alistair, dan demi vampirvampir asing yang tak tahu apa yang menanti mereka setelah kejadian ini, Demetri harus mati.

Aro menyentuh sekilas bahu Caius. “Irina sudah dihukum karena memberi kesaksian palsu terhadap anak ini,” Jadi itulah alasan mereka. Ia melanjutkan, “Mungkin sebaiknya kita kembali ke masalah awal?”

Caius menegakkan badan, dan ekspresinya mengeras, jadi tak bisa dibaca. Ia memandang lurus ke depan, tatapannya hampa. Anehnya wajah Caius mengingatkanku pada wajah seseorang yang baru menyadari bahwa ia diturunkan pangkatnya.

Aro melayang maju. Renata, Felix, dan Demetri ikut maju bersamanya.

“Demi kecermatan,” ujar Aro, “aku ingin bicara dengan beberapa saksimu. Prosedur, kau pasti tahu.” Ia melambaikan tangan dengan sikap tak acuh.

Dua hal terjadi pada saat bersamaan. Mata Caius terfokus pada Aro, dan senyum kecil keji itu muncul lagi. Dan Edward mendesis, kedua tangannya mengepal membentuk tinju yang sangat kuat hingga terlihat seolah tulang-tulang di buku jarinya akan mengoyak kulitnya yang sekeras berlian.

Ingin benar aku bertanya apa yang terjadi, tapi Aro berada cukup dekat hingga bisa mendengar bahkan tarikan napas paling pelan sekalipun. Kulihat Carlisle melirik waswas wajah Edward, kemudian wajahnya sendiri mengeras.

Sementara Caius melancarkan serangkaian tuduhan tak berguna dan upaya-upaya licik untuk memicu pertarungan, Aro pasti menemukan strategi lain yang lebih efektif.

Aro melayang melintasi salju menuju ujung barat barisan kami, berhenti kira-kira sembilan meter dari Araun dan Kebi. Serigala-serigala di dekat situ mengejang marah, tapi tetap dalam posisi masing-masing.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.