Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Pikiran mereka pasti saling terhubung, lebih daripada yang kubayangkan selama ini. Kalau sang Alfa berada di dalam naungan perisaiku, maka pikiran para anggota yang lain juga terlindungi.

“Ah, brother..” Aro menanggapi pernyataan Caius dengan ekspresi pedih.

“Apakah kau juga akan membela persekutuan itu, Aro?” tuntut Caius. “Anak-anak Bulan sudah sejak permulaan zaman menjadi musuh bebuyutan kita. Kita sudah memburu mereka hingga mereka nyaris punah di Eropa dan Asia. Tapi Carlisle malah menjalin hubungan akrab dengan hama besar ini—tak diragukan lagi sebagai upaya menggulingkan kita. Supaya makin bisa melindungi gaya hidupnya yang tidak lazim.”

Edward berdeham-deham keras sekali dan Caius memandang garang pada Edward. Aro menempelkan tangan yang kurus dan rapuh ke wajahnya sendiri, seperti malu atas sikap saudaranya.

“Caius, sekarang ini tengah hari,” Edward menunjukkan. Ia melambaikan tangan ke arah Jacob. “Mereka bukan Anak-Anak Bulan, itu jelas. Mereka tidak memiliki hubungan sama sekali dengan musuh-musuhmu di bagian dunia lain.”

“Telah terjadi mutasi genetis di sini,” sembur Caius.

Rahang Edward membuka dan mengatup, lalu ia menjawab dengan nada datar, “Meteka bahkan bukan werewolf Aro bisa menjelaskannya padamu kalau kau tak percaya”

Bukan werewolf Kulayangkan pandangan bingung pada Jacob. Ia mengangkat bahunya yang besar kemudian menjatuhkannya lagi. Ia juga tidak mengerti maksud Edward.

“Dear Caius, aku akan memperingatkanmu untuk tidak mengungkit masalah ini seandainya kau mau memberitahuku pikiran-pikiranmu,” gumam Aro. “Walaupun makhluk-makhluk itu menganggap diri mereka werewolf, sebenarnya mereka bukan werewolf. Nama yang lebih tepat untuk mereka adalah shape-shifter. Pilihan wujud serigala adalah murni kebetulan. Bisa saja mereka mengambil wujud beruang, atau elang, atau macan tutul ketika pilihan pertama dibuat. Makhluk-makhluk ini benar-benar tak ada hubungannya dengan Anak-Anak Bulan. Mereka hanya sekadar mewarisi bakat ini dari ayah mereka. Ini masalah genetis—mereka tidak meneruskan spesies mereka dengan menulari orang lain seperti yang dilakukan werewolf sejati,”

Caius memandang Aro garang dengan sikap jengkel dan sesuatu yang lain- tuduhan berkhianat, mungkin.

“Tapi mereka tahu rahasia kita,” sergah Caius datar.

Edward terlihat seperti hendak menjawab tuduhan itu, tapi Aro berbicara lebih cepat. “Mereka makhluk-makhluk dari dunia supranatural kita, brother. Mungkin mereka bahkan lebih berkepentingan merahasiakan keberadaan mereka daripada kita; jadi mereka tak mungkin membocorkan rahasia kita. Berhati-hatilah, Caius. Tak ada gunanya menuduh yang bukan-bukan,”

Caius menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. Mereka saling melirik lama sekali, pandangan mereka penuh arti.

Kurasa aku memahami instruksi di balik perkataan Aro yang hati-hati. Tuduhan palsu takkan membantu meyakinkan para saksi kedua pihak; Aro mewanti-wanti Caius agar beralih ke strategi berikut. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah alasan di balik ketegangan yang jelas terlihat antara dua tetua itu—keengganan Caius membagi pikirannya dengan sentuhan—adalah karena Caius tidak peduli pada pertunjukan ini sebagaimana halnya Aro. Bahwa pembantaian yang bakal terjadi jauh lebih esensial bagi Caius daripada reputasi tak bercela.

“Aku ingin bicara dengan si informan” Caius tiba-tiba berseru, dan mengarahkan tatapan garangnya pada Irina.

Irina tidak menyimak pembicaraan Caius dan Aro; wajahnya berkerut-kerur merana, matanya terpaku pada saudari-saudarinya yang berbaris untuk mati. Kentara sekali di wajahnya bahwa ia sekarang menyadari tuduhannya ternyata salah besar.

“Irina” bentak Caius, tidak senang karena harus memanggilnya.

Irina mendongak, terkejut dan nyalinya langsung ciut. Caius menjentikkan jarijarinya.

Ragu-ragu, Irina bergerak dari formasi pinggir Volturi untuk berdiri di depan Caius lagi.

“Jadi kelihatannya kau keliru besar dalam tuduhanmu,” Caius memulai.

Tanya dan Kate mencondongkan tubuh dengan sikap waswas.

“Maafkan aku,” bisik Irina. “Seharusnya aku memastikan dulu apa yang kulihat. Tapi aku sama sekali tidak tahu…” Ia melambaikan tangan dengan sikap tak berdaya ke arah kami.

“Dear Caius, masa kau mengharapkan dia bisa menebak seketika itu juga sesuatu yang begitu aneh dan mustahili1” tanya Aro. “Siapa pun dari kita pasti akan berasumsi sama.”

Caius menjentikkan jari-jarinya pada Aro untuk menyuruhnya diam.

“Kita semua tahu kau melakukan kesalahan,” ujar Caius kasar. “Aku ingin tahu apa motivasimu.”

Dengan cemas Irina menunggu Caius melanjutkan kata-katanya, kemudian mengulangi,” Motivasiku?”

“Ya, datang dan memata-matai mereka pada awalnya”

Irina tersentak mendengar kata memata-matai

“Kau tidak menyukai keluarga Cullen, benar begitu?”

Irina mengarahkan matanya yang merana ke wajah Carlisle, “Ya, benar” ia mengakui.

“Karena…?” desak Caius.

“Karena para werewolf itu membunuh temanku,” bisiknya. “Dan keluarga Cullen tidak mau menyingkir untuk memberiku kesempatan membalas dendam atas kematiannya.”

“Para shape-shifter” Aro mengoreksi pelan.

“Jadi keluarga Cullen berpihak pada para shape-shifter untuk melawan jenis kita sendiri—melawan teman dari seorang teman, bahkan,” Caius menyimpulkan.

Aku mendengar Edward mengeluarkan suara bernada jijik. Caius mulai mencoret satu demi satu “pelanggaran” dalam catatannya, mencari tuduhan yang bisa dijadikan alasan.

Bahu Irina mengejang. “Aku melihatnya seperti itu.”

Caius menunggu lagi, kemudian mendorong, “Kalau kau mau mengajukan keluhan secara resmi terhadap para shape-shifter itu—dan terhadap keluarga Cullen karena mendukung aksi mereka—sekaranglah saat yang tepat” Ia menyunggingkan senyum kecil yang kejam, menunggu Irina memberinya alasan berikutnya.

Mungkin Caius tidak mengerti seperti apa keluarga yang sesungguhnya—hubungan yang didasarkan pada cinta, bukan hanya keinginan untuk berkuasa. Mungkin ia kelewat menilai tinggi potensi untuk membalas dendam.

Dagu Irina terangkat, bahunya ditegakkan.

“Tidak, aku takkan mengajukan keluhan terhadap para serigala, maupun keluarga Cullen. Kedatangan kalian ke sini hari ini adalah untuk menghancurkan anak imortal, Ternyata anak imortal itu tidak ada. Itu salahku, dan aku bertanggung jawab penuh atasnya. Tapi keluarga Cullen tidak bersalah, dan kalian tak punya alasan untuk tetap berada di sini. Aku benar-benar menyesal,” kata Irina, kemudian memalingkan wajah ke para saksi keluarga Volturi. “Tidak ada kejahatan. Jadi tak ada alasan kuat bagi kalian untuk tetap berada di sini.”

Caius mengangkat tangann selagi Irina bicara, dan di tangannya terdapat benda aneh dari logam, dipahat dan penuh ukiran.

Itu isyarat. Responsnya begitu cepat hingga kami memandang dengan sikap terperangah tak percaya sementara itu terjadi. Sebelum kami sempat bereaksi, semuanya sudah berakhir.

Tiga prajurit Volturi melompat maju, dan Irina tertutup sepenuhnya oleh jubah abuabu mereka. Pada detik yang sama suara logam terkoyak yang mengerikan merobek keheningan di lapangan. Caius menyelinap ke pusat pergulatan abu-abu itu, dan suara memekik shock meledak menjadi hujan bunga dan lidah api yang melesat ke atas. Para prajurit melompat mundur, menghindari api yang tiba-tiba berkobar, langsung menempati kembali posisi masing-masing dalam barisan para pengawal yang lurus sempurna.

Caius berdiri sendirian di samping kobaran api yang melahap sisa-sisa tubuh Irina, benda logam di tangannya masih menyembutkan lidah api tebal ke api unggun itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.