Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku ingin tahu,” kata Aro dengan sikap merenung seolah tidak menyadari reaksi yang timbul dari kata-katanya barusan. Tanpa terduga matanya beralih kepada Jacob, dan bukannya memandang Jacob dengan sorot jijik seperti anggota keluarga Volturi lain memandang serigala raksasa itu, mata Aro justru dipenuhi semacam kerinduan yang tidak kumengerti.

“Tidak bisa seperti itu,” tukas Edward, nadanya yang selama ini selalu netral mendadak berubah kasar.

“Hanya pikiran selintas,” kata Aro, terang-terangan menilai Jacob, kemudian matanya bergerak lambat ke dua baris werewolf di belakang kami. Apa pun yang ditunjukkan Renesmee padanya membuat Aro tiba-tiba tertarik pada para serigala.

“Mereka bukan milik kami, Aro. Mereka tidak mengikuti perintah kami seperti itu. Mereka ada di sini karena mereka mau.”

Jacob menggeram galak.

“Tapi sepertinya mereka sangat dekat denganmu” kata Aro. “Dan pada pasanganmu

yang muda serta pada… keluargamu. Setia” Suaranya membelai kata itu lembut.

“Mereka berkomitmen melindungi nyawa manusia, Aro. Itulah yang membuat mereka bisa hidup berdampingan dengan kami, tapi tidak dengan kalian. Kecuali kalian mau berpikir ulang tentang gaya hidup kalian.”

Aro tertawa riang. “Hanya pikiran selintas,” ulangnya. “Kau tahu benar bagaimana itu. Tak seorang pun di antara kami bisa mengendalikan keinginan bawah sadar kami.”

Edward meringis. “Aku tahu benar bagaimana itu. Dan aku juga tahu perbedaan antara pikiran semacam itu dengan pikiran yang memiliki tujuan di baliknya. Itu takkan pernah berhasil, Aro.”

Kepala Jacob yang besar berpaling ke arah Edward, dan dengkingan pelan terlontar dari sela-sela giginya.

“Dia tertarik pada ide tentang… anjing-anjing penjaga,” Edward balas berbisik.

Selama satu derik suasana sunyi senyap, tapi sejurus kemudian terdengar geraman marah dari moncong seluruh kawanan, memenuhi lapangan besar itu.

Terdengar gonggongan tajam bernada memerintah—dari Sam, dugaanku, walaupun aku tidak berpaling untuk melihat—dan protes-protes itu terdiam menjadi kesunyian yang menakutkan.

“Kurasa itu sudah menjawab pertanyaanku” kata Aro, tertawa lagi. “Kawanan ini sudah memilih kepada siapa mereka mau berpihak.”

Edward mendesis dan mencondongkan tubuh ke depan. Aku mencengkeram lengannya, bertanya-tanya apa gerangan yang ada dalam pikiran Aro yang membuat Edward bereaksi begitu garang, sementara Felix dan Demetri serentak memasang kudakuda. Aro melambaikan tangan lagi kepada mereka. Mereka kembali ke postur awal, termasuk Edward.

“Begitu banyak yang harus didiskusikan,” ujar Aro, mendadak nadanya berubah seperti pengusaha yang kewalahan memikirkan terlalu banyak hal. “Begitu banyak yang harus diputuskan. Kalau kalian dan para pelindung kalian yang berbulu itu mengizinkan, sobat-sobatku keluarga Cullen, aku akan berbicara dulu dengan saudara-saudaraku.”

37. PENEMUAN

ARO tidak bergabung dengan para pengawalnya yang menunggu gelisah di sisi utara lapangan; malah, ia melambai menyuruh mereka maju.

Edward langsung mundur, menarik lenganku dan Emmett. Kami bergegas mundur, mata kami tetap tertuju pada ancaman yang bergerak maju. Jacob mundur paling akhir, bulu bahunya meremang sementara ia menyeringai memamerkan taringnya pada Aro. Renesmee menyambar ujung ekornya sementara kami bergerak mundur; ia memegangnya seolah-olah itu tali kekang, memaksa Jacob tetap bersama kami. Kami sampai ke tengah keluarga tepat ketika jubah-jubah hitam itu mengelilingi Aro lagi.

Kini hanya terbentang jarak 45 meter antara mereka dan kami—siapa “pun dari kami bisa menerjang melewati jarak tersebut hanya dalam sepersekian detik.

Caius langsung berdebat dengan Aro.

“Bagaimana kau bisa tunduk pada kekejian ini? Mengapa kita berdiri tanpa daya begini padahal kejahatan besar di-

Lakukan di depan mata kepala kita, tertutup tipuan yang begini konyol?” Lengannya kaku di kedua sisi tubuhnya, tangannya melengkung membentuk cakar. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa ia tidak menyentuh Aro saja untuk mengungkapkan pendapatnya. Apakah kami menyaksikan perpecahan di antara mereka!? Mungkinkah kami seberuncung itu?

“Karena semua itu benar,” sahut Aro tenang. “Setiap katanya benar. Lihat betapa banyak saksi yang siap membuktikan bahwa mereka telah melihat anak ajaib ini tumbuh dan berkembang hanya dalam waktu singkat selama mereka mengenalnya. Bahwa mereka merasakan hangatnya darah yang berdenyut dalam pembuluh darah anak itu.” Aro melambaikan tangan ke Amun di satu sisi, sampai kepada Siobhan di sisi yang lain.

Caius bereaksi aneh terhadap kata-kata Aro yang menenangkan, sedikit tersentak mendengar kata saksi. Amarah lenyap dari wajahnya, digantikan ekspresi dingin penuh perhitungan. Diliriknya saksi-saksi Volturi dengan ekspresi yang samar-samar terlihat… gugup.

Aku melirik gerombolan yang marah itu dan seketika melihat bahwa deskripsi itu tak berlaku lagi. Nafsu bertempur telah berubah menjadi kebingungan. Bisik-bisik menjalar di Seantero kerumunan saat mereka berusaha memahami apa yang terjadi,

Caius mengerutkan kening, berpikir keras. Ekspresi spekulatifnya menyulut api amarahku yang masih membara meski pada saat bersamaan membuatku khawatir juga. Bagaimana kalau para pengawal kembali bertindak mengikuti isyarat yang tak kelihatan, seperti waktu berbaris tadi? Dengan cemas kuperiksa perisaiku; rasanya tetap tak bisa ditembus, sama seperti tadi. Aku mengulurkannya menjadi semacam kubah rendah dan lebar yang menaungi kelompok kami.

Aku bisa merasakan berkas-berkas tajam cahaya tempat keluarga dan temantemanku berdiri—masing-masing memiliki rasa individual yang kupikir pasti akan bisa kukenali bila aku rajin berlatih. Aku sudah bisa mengenali rasa Edward—cahayanya paling terang dibandingkan mereka semua. Ruang kosong ekstra di sekeliling titik-titik bercahaya itu mengusikku; tak ada penghalang fisik yang ditamengi, sehingga kalau salah seorang anggota keluarga Volturi yang berbakat masuk di bawahnya, perisai itu takkan melindungi siapa pun kecuali aku. Aku merasakan keningku berkerut saat menarik tameng elastis itu dengan sangat hati-hati, makin lama makin dekat. Carlisle berada paling jauh di depan; kuisap perisaiku kembali sedikit demi sedikit, berusaha melilitkannya ke tubuh Carlisle serapat yang kubisa.

Perisaiku sepertinya ingin bekerja sama. Tameng itu membungkus tubuh Carlisle; kalau ia bergeser agar berdiri lebih dekat pada Tanya, tameng elastis itu ikut meregang bersamanya, tettarik cahayanya.

Terpesona, aku menarik tameng itu lebih jauh lagi, membungkus setiap sosok berkilauan yang merupakan teman atau sekutuku. Perisai itu membungkus tubuh mereka dengan mudah, ikut bergerak bila mereka bergerak.

Baru satu detik berlalu; Caius masih menimbang-nimbang.

“Werewolf-wereivolf itu,” gumam Caius akhirnya.

Tiba-tiba panik, sadarlah aku sebagian besar werewolf tidak terlindungi. Aku baru mau mengulurkan perisaiku pada mereka waktu menyadari, anehnya, bahwa aku masih bisa merasakan bunga api mereka. Penasaran, kurapatkan kembali perisaiku, sampai Amun dan Kebi—yang berdiri paling jauh dari kelompok kami—berada di luar bersama para serigala. Begitu mereka berada di luar perisai, cahaya mereka lenyap. Mereka tak lagi berada dalam indra baruku. Tapi para serigala masih bercahaya cemerlang—atau lebih tepatnya, sebagian dari mereka masih. Hmm,. aku beringsut keluar lagi, dan begitu Sam berada di bawah naungan perisai, semua serigala kembali memunculkan bunga api cemerlang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.