Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Sam—serigala yang lebih besar, yang berwarna hitam—bergabung dengan Seth. Ia meletakkan kepalanya yang besar ke dada Jacob dan mendorong.

Mereka bertiga—Seth yang menyeret, Jake yang gemetaran, dan Sam yang mendorong—menghilang cepat ditelan kegelapan.

Serigala yang satunya memandangi mereka. Aku tidak tahu persis, dalam penerangan yang lemah, warna bulunya—cokelat, mungkin? Apakah itu Quil, kalau begitu?

“Maafkan aku,” bisikku pada serigala itu.

“Semua beres sekarang, Bella,” bisik Edward.

Serigala itu menatap Edward. Tatapannya tidak bersahabat. Edward mengangguk padanya dengan sikap dingin. Serigala itu mendengus kemudian berbalik untuk mengikuti yang lain-lain, menghilang seperti mereka,

“Baiklah,” kata Edward pada diri sendiri, lalu menatapku, “Ayo kita kembali.”

“Tapi Jake…”

“Dia sudah berada dalam pengawasan Sam. Dia sudah pergi,”

“Edward, aku benar-benar minta maaf. Sungguh tolol aku…”

“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun…”

“Aku memang bermulut besar! Mengapa aku harus… seharusnya aku tidak membiarkan emosiku terpancing seperti itu. Apa yang kupikirkan?”

“Jangan khawatir.” Edward menyentuh wajahku. “Kita harus kembali ke resepsi sebelum ada yang menyadari kita tidak ada.”

Aku menggeleng, berusaha mengembalikan orientasiku. Sebelum ada yang sadar? Benarkah para tamu tidak melihat kejadian tadi?

Kemudian, waktu aku memikirkannya, sadadah aku bahwa konfrontasi yang bagiku terasa begitu katastropik, nyatanya berlangsung dengan sangat tenang dan singkat di bawah ke-remangan bayang-bayang.

“Beri aku waktu dua detik,” aku memohon.

Isi hatiku berantakan oleh kepanikan dan kesedihan, tapi itu bukan masalah— bagian luarlah yang penting sekarang. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa adalah sesuatu yang kutahu harus bisa kukuasai.

“Gaunku?”

“Kau terlihat baik-baik saja. Tidak sehelai rambut pun keluar dari tatanannya.”

Aku menarik napas dalam-dalam dua kali. “Oke- Ayo kita pergi”

Edward merangkul pinggangku dan membimbingku kembali ke tengah cahaya.

Aku melirik sekelilingku, memandangi para tamu, tapi sepertinya tidak ada yang shock atau ketakutan. Hanya wajah-wajah yang paling pucat yang menunjukkan tandatanda stres, tapi mereka menyembunyikannya dengan baik, Jasper dan Emmett berdiri di tepi lantai dansa, berdekatan, dan dugaanku, mereka tadi berada di dekat kami saat terjadi

konfrontasi,

“Apa kau…”

“Aku baik-baik saja,” aku meyakinkan dia. “Aku tidak percaya aku berbuat begitu tadi. Apa yang salah denganku?”

“Tidak ada yang salah dengan dirimu!’

Padahal tadi aku senang sekali Jacob datang ke sini. Aku tahu pengorbanan yang dia lakukan. Tapi lalu aku merusaknya, mengubah hadiahnya menjadi bencana. Seharusnya aku dikarantina saja.

Tapi ketololanku tidak akan merusak suasana lagi malam ini. Aku akan mengenyahkannya, menyurukkannya ke dalam Jaci dan menguncinya, untuk kubereskan belakangan. Akan ada banyak waktu ketika aku bisa menghukum diriku sendiri karena persoalan ini, tapi untuk saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.

“Masalahnya sudah selesai,” tukasku. “Kita tidak usah memikirkannya lagi malam ini.”

Aku mengira Edward akan langsung menyetujuinya, tapi ia hanya terdiam.

“Edward?”

Edward memejamkan mata dan menempelkan dahinya ke dahiku. “Jacob benar,” bisiknya. “Apa yang kupikirkan?”

“Dia tidak benar.” Aku berusaha menunjukkan ekspresi seolah tidak ada apa-apa, karena saat itu banyak teman kami yang memerharikan. “Jacob terlalu berprasangka untuk bisa memandang semuanya dengan jernih.”

Edward menggumamkan sesuatu dengan suara pelan yang kedengarannya hampir seperti “seharusnya kubiarkan dia membunuhku karena berani mempertimbangkan hal itu…”

“Hentikan,” sergahku galak. Kurengkuh wajah Edward dengan kedua tangan dan kutunggu sampai ia membuka mata, “Kau dan aku. Hanya itu yang penting. Satu-satunya hal yang boleh kaupikirkan sekarang. Kaudengar aku?”

“Ya,” desah Edward.

“Lupakan bahwa Jacob pernah datang” Aku bisa melakukannya. Aku akan melakukannya. “Demi aku. Berjanjilah padaku kau akan melupakan masalah ini.”

Edward menatap mataku beberapa saat sebelum menjawab. “Aku berjanji.”

“Terima kasih, Edward, aku tidak takut.”

“Tapi aku takut,” bisiknya.

“Tidak perlu.” Aku menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. “Bagaimanapun, aku mencintaimu.”

Ia membalasnya dengan tersenyum kecil. “Itulah sebabnya kita berada di sini.”

“Kau memonopoli mempelai wanita” sergah Emmert, tahu-tahu muncul di balik pundak Edward. “Izinkan aku berdansa dengan kakak perempatanku. Bisa jadi ini kesempatan terakhirku untuk membuat wajahnya memerah.” Emmett tertawa nyaring, seperti biasa tidak terpengaruh atmosfer yang serius.

Ternyata banyak juga yang belum berdansa denganku, jadi itu memberiku kesempatan untuk benar-benar menenangkan diri dan memantapkan hati. Setelah Edward meraihku lagi, aku mendapati “laci Jacob”-ku telah tertutup rapat dan erat. Saat Edward melingkarkan kedua lengannya ke tubuhku, aku mampu mengeluarkan perasaan bahagiaku seperti yang tadi kurasakan, keyakinanku bahwa segala sesuatu dalam hidupku berada di tempatnya yang semestinya malam ini. Aku tersenyum dan meletakkan kepalaku di dadanya. Ia mempererat pelukannya.

“Aku bisa terbiasa dengan ini,” kataku.

“Jadi sekarang kau sudah tidak keberatan lagi berdansa?”

“Berdansa ternyata lumayan juga—bersamamu. Tapi maksudku sebenarnya adalah ini”—dan aku menempelkan nibuhku lebih rapat lagi ke tubuhnya—”yaitu tidak pernah harus melepaskanmu”

“Tidak akan pernah” janji Edward, dan ia membungkuk untuk menciumku.

Ciuman yang sangat mesra—intens, lambat, tapi makin Lima makin panas…

Aku sampai lupa di mana aku berada saat itu sampai mendengar Alice berseru, “Bella! Sudah waktunya!”

Aku merasakan secercah perasaan jengkel terhadap ipar baruku yang seenaknya saja menginterupsi ciuman kami.

Edward tak memedulikan Alice; bibirnya melumat bibirku, lebih bergairah daripada sebelumnya. Jantungku berpacu kencang dan telapak tanganku terasa licin di lehernya yang sekeras marmer.

“Kalian mau ketinggalan pesawat, ya?” rongrong Alice, berdiri tepat d) sampingku sekarang. “Aku yakin kalian pasti senang, berbulan madu di-bandara karena ketinggalan pesawat dan harus menunggu pesawat lain.”

Edward memalingkan wajahnya sedikir dan bergumam, “Pergi, Alice,” kemudian

menciumku lagi.

“Bella, jadi kau mau memakai gaun itu di pesawat?” tuntutnya.

Aku tidak terlalu memerhatikan kata-kata Alice. Aku benar-benar sedang tidak peduli.

Alice menggeram pelan. “Aku akan membocorkan kepadanya ke mana kau akan membawanya, Edward. Jadi tolonglah aku, kalau tidak aku benar-benar akan mengatakannya.”

Edward membeku. Lalu ia mengangkat wajahnya dan memelototi adik kesayangannya. “Tubuhmu memang kecil, tapi kau luar biasa menjengkelkan.”

“Setelah capek-capek memilih gaun untuk pergi berbulan madu, aku kan tidak mau baju itu jadi mubazir karena tidak terpakai,” Alice balas membentak sambil meraih tanganku, “Ikut aku, Bella.”

Aku balas menarik tanganku yang ditarik olehnya, berjinjit tinggi-tinggi untuk mencium Edward sekali lagi. Alice menyentakkan tanganku dengan sikap tidak sabar, menyeretku menjauh dari Edward. Beberapa tamu terkekeh melihar ringkah kami. Lalu aku menyerah dan membiarkannya menyeretku masuk ke rumah yang kosong,

Alice tampak kesal.

“Maaf, Alice,” aku meminta maaf.

“Aku tidak menyalahkanmu, Bella.” Ia menghela napas. “Kau sepertinya tak bisa menguasai diri.”

Aku terkikik melihat ekspresinya yang pasrah, dan ia langsung merengut,

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.