Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Maukah kau memperkenalkanku pada putrimu?” tanya Aro lagi kepada Edward.

Caius bukan satu-satunya yang mendesis mendengar istilah baru itu.

Edward mengangguk enggan. Namun Renesmee sudah berhasil merebut hati banyak orang. Aro sepertinya selalu menjadi pemimpin dari para tetua. Bila ia berpihak pada kami, bisakah yang lain-lain melawan kami?

Aro masih mencengkeram tangan Edward, dan sekarang ia menjawab pertanyaan yang tak bisa didengar kami semua,

“Kurasa kompromi pada titik ini jelas bisa diterima, mengingat situasinya. Kita akan bertemu di tengah-tengah.”

Aro melepas tangan Edward. Edward berbalik ke arah kami, dan Aro bergabung dengannya, melingkarkan sebelah tangan dengan santai ke bahu Edward, seolah-olah mereka bersahabat karib—selama itu tetap bersentuhan dengan kulit Edward. Mereka mulai berjalan melintasi lapangan menuju sisi kami.

Seluruh pengawal ikut bergerak di belakangnya. Aro mengangkat tangan dengan sikap sembrono tanpa memandang mereka.

“Tahan, teman-teman kesayanganku. Sungguh, mereka tidak akan mencederai kita bila kita bermaksud baik pada mereka,”

Pengawal merespons perintah itu secara lebih terbuka daripada sebelumnya, dengan geraman dan desisan protes, tapi tetap bertahan pada posisi masing-masing. Renata, yang semakin merapat pada Aro daripada yang sudah-sudah, merintih-rintih cemas.

“Tuan,” bisiknya.

“Jangan cemas, sayangku,” sahut Aro. “Semua beres”

“Mungkin sebaiknya kaubawa saja beberapa pengawalmu bersama kita,” Edward menyarankan. “Itu akan membuat mereka merasa lebih nyaman.”

Aro mengangguk, seolah-olah ini pandangan bijak yang seharusnya terpikirkan sendiri olehnya. Ia menjentikkan jarinya dua kali. “Felix, Demetri.”

Kedua vampir itu langsung berada di sampingnya, terlihat sama persis seperti waktu aku terakhir kali bertemu mereka. Keduanya bertubuh tinggi dan berambut gelap, Demetri keras dan langsing seperti pedang, Felix gempal dan menyeramkan seperti gada berpaku besi.

Mereka berlima berhenti tepat di tengah-tengah lapangan bersalju.

“Bella,” seru Edward. “Bawa Renesmee… dan beberapa teman.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Tubuhku mengejang akibat sikap melawan. Bayangan membawa Renesmee ke tengah medan konflik… Tapi aku percaya pada Edward. Ia pasti tahu bila Aro merencanakan pengkhianatan pada tahap ini.

Aro memiliki tiga pelindung di sisinya untuk pertemuan puncak ini, jadi aku akan

membawa dua pelindung. Hanya butuh waktu satu detik bagiku untuk memutuskan.

“Jacob? Emmett?” pintaku pelan. Emmett, karena ia gatal ingin ikut. Jacob, karena ia takkan tahan ditinggal.

Keduanya mengangguk. Emmett menyeringai.

Aku berjalan melintasi lapangan dengan mereka mengapitku. Aku mendengar geraman para pengawal begitu mereka melihat pilihanku—jelas, mereka tidak percaya pada werewolf. Aro mengangkat tangan, mengabaikan protes mereka lagi.

“Menarik juga teman-temanmu,” gumam Demetri pada Edward.

Edward tidak menyahut, tapi geraman pelan terlontar dari sela-sela gigi Jacob.

Kami berhenti beberapa meter dari Aro. Edward merunduk di bawah lengan Aro dan dengan cepat bergabung dengan kami, meraih tanganku.

Sesaat kami berhadapan sambil berdiam diti. Kemudian Felix menyapaku dengan suara pelan.

“Halo lagi, Bella.” Ia menyeringai angkuh sambil terus menilai gerak-gerik Jacob dari sudut matanya.

Aku tersenyum kecut pada vampir raksasa itu. “Hei, Felix.”

Felix terkekeh. “Kau kelihatan cantik. Ternyata kau pantas jadi imortal.”

“Terima kasih banyak.”

“Terima kasih kembali. Sayang…”

Felix tidak menyelesaikan komentarnya, tapi aku tidak butuh kemampuan seperti Edward untuk bisa membayangkan akhirnya. Sayang sebentar lagi kami harus membunuhmu.

“Ya, sayang sekali, bukan?”

Felix mengedipkan mata.

Aro tidak menggubris percakapan kami. Ia menelengkan kepala, rerpesona. “Aku mendengar jantungnya yang aneh,” gumamnya dengan suara yang nyaris seperti mengalun. “Aku mencium baunya yang aneh.” Lalu matanya yang berkabut beralih memandangiku. “Sejujurnya, Bella, kau benar-benar terlihat luar biasa menawan sebagai imortal,” ia memuji. “Seolah-olah kau memang dirancang untuk kehidupan ini.”

Aku mengangguk, menanggapi pujiannya.

“Kau suka hadiahku?” tanyanya, mengamati bandul yang kukenakan.

“Hadiah yang cantik, dan Anda sangat, sangat murah hati. Terima kasih. Mungkin seharusnya aku mengirim ucapan terima kasih.”

Aro tertawa senang. “Ah, itu hanya benda kecil yang selama ini tetgeletak begitu saja. Kupikir mungkin itu cocok dengan wajah barumu, dan ternyata benar.”

Aku mendengar desisan kecil dari tengah-tengah barisan Volturi. Aku melihat ke balik bahu Aro,

Hmmm. Sepertinya Jane tidak suka mendengar fakta bahwa Aro memberiku hadiah.

Aro berdeham-deham untuk menarik perhatianku lagi. “Bolehkah aku menyapa putrimu, Bella cantik?” tanyanya dengan nada manis.

Inilah yang kami harapkan, aku mengingatkan diriku sendiri. Sekuat tenaga melawan dorongan untuk merenggut Renesmee dan kabur dari sini, aku maju dua langkah. Perisaiku mengepak-ngepak seperti sayap di belakangku, melindungi seluruh anggota keluargaku sementara Renesmee tidak terlindungi. Rasanya keliru besar, mengerikan.

Aro menghampiri kami, wajahnya berseri-seri.

“Luar biasa cantiknya dia,” puji Aro. “Sangat mirip kau dan

Edward.” Kemudian dengan suara lebih keras, ia berseru, “Halo, Renesmee.”

Renesmee cepat-cepat berpaling padaku. Aku mengangguk.

“Halo, Aro,” sahutnya dengan sikap formal, suaranya melengking tinggi.

Sorot mata Aro tampak kaget.

“Apa itu?” desis Caius dari belakang. Sepertinya ia marah sekali karena harus bertanya.

“Setengah mortal, setengah imortal,” Aro memberitaku dia dan para pengawal lain tanpa mengalihkan pandangan takjubnya pada Renesmee. “Dibenihkan, dan dikandung oleh vampir baru ini ketika dia masih menjadi manusia.”

“Mustahil,” dengus Caius.

“Jadi menurutmu mereka membohongiku, begitu, brother?” Ekspresi Aro terlihat sangat geli, tapi Caius tersentak. “Apakah detak jantung yang kaudengar juga tipuan?”

Caius merengut, tampak kecewa, seolah-olah pertanyaan-pertanyaan lembut Aro tadi merupakan pukulan.

“Tenang dan berhati-hatilah, brother” Aro mengingatkan, tetap tersenyum kepada Renesmee. “Aku tahu benar betapa kau sangat mencintai keadilanmu, tapi tidak ada keadilan bila kita bertindak melawan makhluk kecil unik ini hanya karena proses kelahirannya. Dan begitu banyak yang bisa dipelajari, begitu banyak yang bisa dipelajari! Aku tahu kau tidak memiliki antusiasme sepertiku dalam mengoleksi sejarah, tapi bertoleranlah padaku, sementara aku menambahkan bab baru yang membuatku terperangah oleh kemungkinannya. Kita datang, mengira akan menegakkan keadilan dan sedih karena menyangka teman-teman ini palsu, tapi lihatlah apa yang kita dapatkan! Pengetahuan baru tentang diri kita, kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita lakukan.”

Aro mengulurkan tangan pada Renesmee dengan sikap mengundang. Tapi bukan itu yang Renesmee inginkan. Renesmee justru mencondongkan tubuh menjauhiku, menjulurkan tubuhnya untuk menempelkan ujung-ujung jarinya ke wajah Aro.

Aro tidak bereaksi shock seperti nyaris semua orang saat pertama kali melihat Renesmee beraksi; ia sudah terbiasa melihat aliran pikiran dan kenangan dari pikiran orang-orang lain, sama seperti Edward.

Senyumnya melebar, dan ia mendesah puas. “Brilian,” bisiknya.

Renesmee rileks kembali dalam pelukanku, wajah mungilnya terlihat sangat setius.

“Please?” pinta Renesmee pada Aro.

Senyum Aro berubah lembut. “Tentu saja aku tidak berniat mencelakakan orang-orang yang kaucintai, Renesmee sayang.”

Suara Aro begitu menenangkan dan penuh kasih sayang hingga membuatku yakin. Tapi kemudian aku mendengar Edward mengertakkan gigi dan, jauh di belakang kami, desisan marah Maggie mendengar kebohongannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.