Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku melihat Jane tersenyum saat Edward berjalan melintasi batas tengah di antara kami. Kini ia lebih dekat kepada mereka dibandingkan kepada kami.

Senyum kecil penuh kemenangan itulah pemicunya. Amarahku memuncak, bahkan lebih besar daripada kemurkaan yang kurasakan saat para serigala berkomitmen membela kami dalam pertempuran celaka ini. Aku bisa merasakan amarah itu di lidahku—aku merasakannya mengalir ke sekujur tubuhku bagaikan gelombang pasang kekuatan murni. Otot-ototku mengejang, dan aku langsung bertindak. Dengan segenap kekuatan pikiran, kulemparkan perisaiku, kulontarkan ke tengah padang luas—sepuluh kali jarak terjauhku —bagaikan lembing. Napasku menghambur keluar dengan suara mendesis saking kuatnya lontaran yang kulakukan.

Perisai itu melejit dariku dalam naungan energi yang sangat kuat, baja cair yang bentuknya menyerupai awan jamur. Kekuatan itu berdenyut-denyut seperti makhluk hidup —-aku bisa merasakannya, dari puncak hingga ke pinggir.

Bahan elastis itu kini tidak tettarik kembali; dalam serbuan kekuatan instan tadi, kulihat bahwa tarikan kembali yang kurasakan sebelumnya adalah hasil perbuatanku sendiri—ternyata selama ini aku berpegang erat pada bagian diriku yang tidak terlihat itu sebagai bentuk pertahanan diri, secara tak sadar tidak rela melepaskannya. Sekarang aku membebaskannya, dan perisaiku meledak dengan mudahnya sejauh 45 meter dariku, dengan hanya menyita sedikit konsentrasiku. Aku bisa merasakannya meregang seperti orot, patuh pada kemauanku. Aku mendorongnya, membentuknya menjadi panjang dan oval yang lancip. Segala sesuatu di bawah perisai elastis itu tiba-tiba menjadi bagian diriku —aku bisa merasakan kekuatan hidup segala sesuatu yang dilingkupinya bagaikan titiktitik panas cemerlang, percikan bunga api terang benderang yang mengelilingiku. Kudorong perisai itu lebih maju lagi di sepanjang lapangan, dan mengembuskan napas lega waktu merasakan cahaya terang Edward dalam perlindunganku. Aku menahannya di sana, meregangkan otot baru ini sehingga ia melingkupi Edward, lapisan tipis tapi tak bisa ditembus yang membatasi tubuhnya dengan musuh-musuh kami.

Satu detik belum lagi berlalu. Edward masih berjalan menghampiri Aro. Segalanya telah berubah, tapi tak ada yang menyadari ledakan itu kecuali aku. Tawa terkejut berkumandang dari bibirku. Aku merasa yang lain melirikku dan melihat mata hitam Jacob yang besar bergulir memandangiku seolah-olah aku sudah sinting,

Edward berhenti beberapa langkah dari Aro, dan dengan kecewa aku sadar bahwa walaupun bisa, aku seharusnya tidak menghalangi ini terjadi. Inilah inti semua persiapan kami: membuat Aro mau mendengar cerita dari sisi kami. Nyaris menyakitkan rasanya melakukan hal itu, tapi dengan enggan kutarik kembali perisaiku dan kubiarkan Edward terekspos lagi. Keinginan untuk tertawa itu lenyap. Aku fokus sepenuhnya pada Edward, siap menamenginya begitu terjadi sesuatu.

Dagu Edward terangkat dengan sikap arogan, dan ia mengulurkan tangan pada Aro seolah-olah itu kehotmatan besar. Aro tampak sangat senang melihat sikapnya, tapi tidak semuanya ikut merasa senang. Renata bergerak-gerak gugup dalam bayang-bayang Aro, Caius begitu cemberut hingga kulitnya yang setipis kertas dan transparan terlihat seperti berkerut permanen. Si kecil Jane memamerkan giginya, dan di sampingnya mata Alec menyipit penuh konsentrasi. Kurasa ia sudah siap, seperti aku, untuk bertindak dalam tempo sedetik.

Aro langsung mendatangi Edward tanpa berpikir dua kali—dan memang, apa yang perlu ia takutkan? Bayang-bayang besar sosok berselubung jubah abu-abu-—para petarung berperawakan tegap seperti Felix—berdiri hanya beberapa meter darinya, Jane dan kemampuannya yang bisa membakar sanggup melempar Edward ke tanah, menggeliatgeliat kesakitan. Alec mampu membutakan dan menulikan Edward sebelum ia sempat maju satu langkah saja menghampiri Aro. Tak ada yang tahu aku memiliki kemampuan menghentikan mereka, bahkan Edward sendiri pun tidak.

Sambil tersenyum tenang, Aro meraih tangan Edwatd.

Matanya langsung terpejam, kemudian bahunya tertekuk ke depan, menahan gempuran informasi.

Setiap pikiran rahasia, setiap strategi, setiap pandangan—segala sesuatu yang didengar Edward dalam pikiran-pikiran di sekelilingnya selama satu bulan terakhir— sekarang jadi milik Aro. Dan jauh lebih ke belakang lagi—setiap visi Alice, setiap momen tenang bersama keluarga kami, setiap gambar dalam pikiran Renesmee, setiap ciuman, setiap sentuhan antara Edward dan aku… semua itu juga menjadi milik Aro.

Aku mendesis frustrasi, dan perisai itu bergolak karena ke-jengkelanku, berubah bentuk dan berkontraksi di sekeliling kami.

“Tenang, Bella,” bisik Zafrina. Aku mengatupkan gigi rapat-rapat.

Aro terus berkonsentrasi pada pikiran-pikiran Edward. Kepala Edward tertunduk, otot-otot lehernya mengunci rapat sementara ia membaca kembali semua yang diambil Aro darinya, dan respons Aro terhadap semua itu.

Pembicaraan dua atah tapi tak seimbang ini berlangsung cukup lama hingga para pengawal mulai gelisah. Gumaman rendah menjalar sepanjang barisan sampai Caius menyerukan perintah tajam untuk diam. Jane beringsut maju sepetti tak sanggup menahan diri, dan wajah Renata kaku oleh perasaan tegang. Sesaat aku mengamati perisai kuat yang sepertinya nyaris panik dan lemah itu; walaupun ia berguna bagi Aro, kentara sekali ia bukan prajurit. Tugasnya bukan bertempur, tapi melindungi. Tak ada nafsu haus darah dalam dirinya. Meski masih hijau, aku tahu bila berhadapan dengannya, aku pasti sanggup mengenyahkannya.

Aku kembali fokus ketika Aro menegakkan badan, matanya terbuka, sorot matanya takjub bercampur kecut. Ia tidak melepaskan tangan Edward.

Otot-otot Edward sedikit mengendur.

“Kaulihat sendiri, kan?” tanya Edward, suara beledunya kalem.

“Ya, aku melihatnya, benar,” Aro sependapat, dan yang menakjubkan, ia nyaris terdengar geli. “Aku ragu apakah ada di antara dewa ataupun kaum fana pernah melihat dengan begitu jelasnya.”

Wajah-wajah disiplin para pengawal menunjukkan sikap tak percaya yang -sama seperti yang kurasakan.

“Kau memberiku banyak hal untuk dipikirkan, Sobat Muda,” sambung Aro. “Jauh lebih banyak dari yang kuduga.” Meski begitu ia tidak melepaskan tangan Edward, dan sikap Edward yang tegang menunjukkan ia mendengarkan.

Edward tidak menjawab.

“Bolehkah aku bertemu dengannya?” tanya Aro—hampir memohon—dengan semangat ketertarikan yang tiba-tiba muncul. “Tak pernah terbayangkan olehku keberadaan makhluk semacam itu selama sekian abad hidupku. Sungguh merupakan tambahan yang hebat bagi sejarah kita!”

“Apa-apaan ini, Aro?” bentak Caius sebelum Edward bisa menjawab. Pertanyaan itu saja sudah membuatku menarik Renesmee ke dalam dekapanku, menggendongnya dengan sikap protektif di dadaku.

“Sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehmu, sobatku yang praktis. Ambil waktu sebentar untuk mempertimbangkan, karena keadilan yang tadinya ingin kita tegakkan ternyata tak berlaku lagi.”

Caius mendesis kaget mendengar kata-kata Aro.

“Damai, brother” Aro mewanti-wanti dengan nada menenangkan.

Seharusnya ini kabar baik—kata-kata yang selama ini kami harapkan, penangguhan hukuman yang tidak pernah benar-benar kami duga mungkin terjadi. Aro mendengarkan kebenaran. Aro mengakui tidak terjadi pelanggaran hukum.

Tapi mataku terpaku pada Edward, dan kulihat otot-otot punggungnya menegang. Aku memutar kembali dalam ingatanku instruksi Aro kepada Caius untuk mempertimbangkan, dan mendengar makna ganda di dalamnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.