Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Carlisle membentangkan kedua lengannya, telapak tangan mengarah ke atas seperti menyapa. “Aro, teman lamaku. Sudah berabad-abad kita tidak bertemu.”

Lapangan putih itu sunyi senyap beberapa saat. Aku bisa merasakan ketegangan bergulung-gulung keluar dari tubuh Edward sementara ia mendengarkan penilaian Aro terhadap kata-kata Carlisle, Ketegangan semakin memuncak sementara detik demi detik terus berjalan.

Kemudian Aro melangkah maju dari tengah-tengah formasi keluarga Volturi. Perisainya, Renata, ikut bergerak bersamanya, seakan-akan ujung-ujung jari Renata terjahit ke jubah Aro.

Untuk pertama kali barisan Volturi bereaksi. Geraman pelan bergaung di Seantero barisan, alis-alis bertaut membentuk seringaian, bibir tertarik ke belakang, memunculkan sederet gigi. Beberapa pengawal membungkuk, siap menerjang.

Aro mengangkat satu tangan ke arah mereka. “Damai.”

Ia berjalan beberapa langkah lagi, kemudian menelengkan kepala. Matanya yang berkabut berkilau penuh rasa ingin tahu,

“Kata-kata yang manis, Carlisle,” desahnya, suaranya tipis dan lemah. “Walaupun tidak pada tempatnya, mengingat pasukan yang kauhimpun untuk membunuhku, dan membunuh orang-orang kesayanganku.”

Carlisle menggeleng dan mengulurkan tangan kanannya, seolah-olah mereka tak terpisahkan oleh jarak yang kira-kira masih sembilan puluh meter lagi. “Kau tinggal menyentuh tanganku untuk tahu bahwa aku tak pernah bermaksud seperti itu,”

Mata licik Aro menyipit. “Tapi apa gunanya niatmu itu, dear Carlisle, mengingat apa yang telah kaulakukan?” Ia mengerutkan kening, dan bayang kesedihan melintas di wajahnya—entah itu tulus atau tidak, aku tak tahu.

“Aku tidak melakukan kejahatan apa-apa yang bisa menyebabkan kau datang menghukumku.”

“Kalau begitu menyingkirlah dan biarkan kami menghukum mereka yang bertanggung jawab. Sungguh, Carlisle, tak ada yang lebih menyenangkanku selain menyelamatkan hidupmu hari ini,”

“Tak ada yang melanggar hukum, Aro. Izinkan aku menjelaskan.” Lagi-lagi, Carlisle mengulurkan tangan.

Belum lagi Aro bisa menjawab, Caius maju dengan cepat ke sisi Aro.

“Begitu banyak aturan tak berguna, begitu banyak bukum tidak perlu yang kauciptakan untuk dirimu sendiri, Carlisle,” desis vampir kuno berambut putih itu. “Bagaimana mungkin kau membela pelanggaran SATU hukum yang benar-benar penting?”

“Tidak ada hukum yang dilanggar. Kalau kalian mau mendengarkan…”

“Kami melihat anak itu, Carlisle,” geram Caius. “Jangan perlakukan kami seperti orang-orang tolol.”

“Dia bukan anak imortal. Dia bukan vampir. Aku bisa dengan mudah membuktikan hal ini dalam beberapa saat…”

Caius langsung memotongnya. “Kalau benar dia bukan bocah terlarang, lantas mengapa kau menghimpun satu batalion untuk melindunginya?”

“Saksi-saksi, Caius, seperti yang kalian bawa,” Carlisle melambaikan tangan ke gerombolan beringas di pinggir hutan; sebagian di antata mereka merespons dengan menggeram. “Siapa pun di antara teman-teman ini bisa menjelaskan hal sebenarnya tentang anak ini. Atau lihat saja anak itu, Caius. Lihat semburat merah darah di pipinya”

“Tipuan!” bentak Caius. “Mana informannya? Suruh dia maju!” Ia menjulurkan leher panjang-panjang sampai melihat Irina berdiri di belakang para istri. “Kau! Kemari!”

Irina memandangi Caius dengan sikap tak mengerti, wajahnya seperti orang yang belum sepenuhnya terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan. Tidak sabar, Caius menjentikkan jari-jarinya. Salah seorang pengawal para istri yang bertubuh besar mendekati Irina dan menyenggol punggungnya dengan kasar. Irina mengerjapkan mata dua kali, kemudian berjalan lambat-lambat menghampiri Caius dengan sikap linglung. Ia berhenti beberapa meter jauhnya, matanya masih tertuju pada saudari-saudarinya.

Caius mendekati Irina dan menampar wajahnya.

Tamparan itu pasti tidak sakit, namun tindakan itu sangat merendahkan. Seperti melihat orang menendang anjing. Tanya dan Kate mendesis berbarengan.

Tubuh Irina mengejang kaku dan matanya akhirnya terfokus pada Caius. Ia menudingkan jarinya yang berkuku tajam pada Renesmee, yang bergayut di punggungku, jari-jarinya masih mencengkeram bulu Jacob, Caius berubah warna menjadi merah sepenuhnya dalam pandangan mataku yang penuh amarah. Geraman menyeruak dari dada Jacob.

“Inikah anak yang waktu itu kaulihat?” tuntut Caius, “Anak yang jelas-jelas lebih dari manusia?”

Irina menyipitkan mata pada kami, mengamati Renesmee untuk pertama kali sejak memasuki lapangan. Kepalanya ditelengkan ke satu sisi, ekspresi bingung menghias wajahnya.

“Well” geram Caius.

“Aku.., aku tidak yakin,” jawab Irina, nadanya terperangah. Tangan Caius bergerak-gerak seolah gatal ingin menampar Irina lagi, “Apa maksudmu?” tanyanya, suaranya berbisik dingin.

“Dia tidak sama, tapi kurasa dialah anak itu. Maksudku, dia sudah berubah. Anak ini lebih besar daripada yang waktu itu kulihat, tapi,..”

Sentakan marah Caius terlontar dari sela-sela giginya yang mendadak menyeringai, dan Irina langsung berhenti bicara tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aro buru-buru mendatangi Caius dan meletakkan tangan di pundaknya dengan sikap menahan.

“Tenanglah, brother, Kita punya waktu untuk membereskannya. Tak perlu buruburu.”

Dengan ekspresi masam, Caius memunggungi Irina.

“Sekarang, Manis” kata Aro dengan suara bergumam hangat dan semanis madu. “Tunjukkan padaku apa yang ingin kausampaikan.” Ia mengulurkan tangannya pada vampir yang kebingungan itu.

Ragu-ragu, Irina meraih tangan Aro. Aro memegangi tangannya selama lima detik.

“Kaulihat kan, Caius?” ujar Aro. “Sederhana saja mendapatkan apa yang kita butuhkan.”

Caius tidak menyahut. Dari sudut mata Aro melirik para penontonnya, gerombolannya, kemudian berbalik menghadapi Carlisle.

“Kalau begitu sepertinya kita menghadapi sedikit misteri. Kelihatannya anak itu sudah bertumbuh. Namun ingatan pertama Irina jelas tentang anak imortal. Membuat penasaran.”

“Itulah yang berusaha kujelaskan,” kata Carlisle, dan dari perubahan suaranya, aku bisa menebak kelegaannya. Inilah jeda yang menjadi tumpuan harapan kami semua.

Aku sama sekali tidak merasa lega. Aku menunggu, nyaris lumpuh oleh amarah, menunggu berbagai strategi yang dikatakan Edward tadi.

Lagi-lagi Carlisle mengulurkan tangan.

Aro ragu-ragu sesaat. “Aku lebih suka mendapat penjelasan dari seseorang yang memegang peranan lebih sentral dalam cerita ini, sobatku. Kelirukah aku berasumsi bahwa pelanggaran ini bukan hasil perbuatanmu?”

“Tidak ada pelanggaran apa-apa.”

“Terserah bagaimana kau menyebutnya, pokoknya aku akan mendapatkan setiap sisi kebenaran” Suara tipis Aro mengeras.

“Dan cara terbaik mendapatkannya adalah mendapat buktinya langsung dari putramu yang berbakat.” Ia menelengkan kepala ke arah Edward. “Dan karena anak itu bergayut di punggung pasangannya, aku berasumsi Edward terlibat dalam hal ini.”

Tentu saja ia menginginkan Edward. Begitu ia bisa melihat isi kepala Edward, ia akan mengetahui semua pikiran kami. Kecuali pikiranku.

Edward menoleh cepat untuk mencium keningku dan kening Renesmee, tanpa menatap mataku. Lalu ia berjalan melintasi lapangan bersalju, meremas bahu Carlisle waktu lewat. Aku mendengar rintihan pelan dari belakangku—ketakutan Esme tak tertahankan lagi.

Kabut merah yang kulihat di sekeliling pasukan Volturi berkobar lebih terang daripada sebelumnya. Aku tak sanggup menyaksikan Edward berjalan melintasi ruang putih kosong itu sendirian—tapi aku juga tak sanggup membawa Renesmee selangkah lebih dekat ke musuh-musuh kami. Kebutuhan yang saling bertentangan itu seakan membelah hatiku; aku membeku begitu kaku hingga rasanya tulang-tulangku bakal remuk saking kuatnya tekanan yang kurasakan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.