Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kami tak punya doa apa pun-Walaupun kami berhasil me-netralisir serangan keluarga Volturi, entah bagaimana caranya, saksi-saksi itu masih bisa mengubur kami. Walaupun seandainya kami bisa membunuh Demetri, Jacob pasti takkan mampu lari dari kejaran mereka.

Aku bisa merasakannya saat pemahaman yang sama meresap dalam pikiran semua vampir di sekelilingku. Perasaan putus asa menggayut di udara, mendorongku ke bawah dengan tekanan yang lebih besar daripada sebelumnya.

Satu vampir di pasukan lawan sepertinya tidak tergabung dalam pasukan mana pun; aku mengenali Irina ketika ia berdiri ragu di antara kedua pasukan, ekspresinya unik. Sorot ngerinya tettuju pada posisi Tanya di barisan depan. Edward menggeram, suaranya sangat pelan tapi garang.

‘Alistair benar,” bisik Edward pada Carlisle.

Kulihat Carlisle melirik Edward dengan sikap bertanya.

“Alistair benar?” bisik Tanya.

“Mereka—Caius dan Aro—datang untuk menghancurkan dan menguasai,” Edward mengembuskan napas hampir tanpa suara; hanya bagian kami yang bisa mendengar. “Mereka sudah menyiapkan banyak sekali strategi. Bila tuduhan Irina ternyata tidak benar, mereka sudah bertekad mencari alasan lain untuk menyerang. Tapi mereka bisa melihat Renesmee sekarang, jadi mereka sangat optimis tentang tujuan mereka. Kita masih bisa berusaha membela diri dari tuduhan-tuduhan lain yang sudah mereka rencanakan, tapi pertama-tama mereka harus berhenti dulu, mendengarkan yang sebenarnya tentang Renesmee.” Kemudian, suaranya semakin pelan. “Mereka sebenarnya tidak berniat melakukan itu.”

Jacob mengeluarkan dengusan kecil yang aneh.

Kemudian, tanpa diduga-duga, dua detik kemudian, prosesi itu benar-benar berhenti. Alunan pelan musik yang mengiringi gerakan yang tertata tapi itu mendadak berhenti. Barisan sangat disiplin itu tetap tak terpatahkan; keluarga Volturi membeku dalam keheningan sebagai satu kesatuan. Mereka berdiri kira-kira sembilan puluh meter dari kami.

Di belakangku, di semua sisi, aku mendengar degup jantung, lebih dekat daripada sebelumnya. Aku mencuri pandang ke kiri dan ke kanan, melirik dari sudut mataku untuk melihat apa yang membuat keluarga Volturi berhenti bergerak.

Serigala-serigala itu datang bergabung.

Di kedua sisi barisan kami yang tidak beraturan, serigala-serigala itu terbagi dua, membentuk lengan yang panjang dan memagari. Sekilas aku sempat memerhatikan jumlahnya lebih dari sepuluh, mengenali beberapa yang kukenal dan beberapa yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seluruhnya ada enam belas serigala, berdiri dalam jarak yang sama mengitari kami—totalnya tujuh belas, termasuk Jacob. Kentara sekali dari tinggi badan dan ukuran telapak kaki mereka yang sangat besar bahwa para pendatang baru itu masih amat sangat muda. Kurasa seharusnya aku sudah bisa menduga hal ini. Dengan begitu banyaknya vampir berkemah di sekitar kawasan ini, ledakan populasi werewolf tentu tak dapat dihindari.

Lebih banyak anak yang mati. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa Sam mengizinkan ini terjadi, kemudian sadarlah aku bahwa ia tidak punya pilihan lain. Bila satu saja serigala membela kami, keluarga Volturi pasti akan mencari sisanya. Mereka mempertaruhkan seluruh spesies mereka dalam pertarungan ini.

Padahal kami akan kalah.

Tiba-tiba aku marah sekali. Lebih dari marah, aku murka.

Perasaan putus asa dan tak berdaya yang kurasakan lenyap seluruhnya. Kilau kemerahan samar terpancar dari sosok-sosok gelap di depanku, dan yang kuinginkan saat itu hanya kesempatan untuk membenamkan gigi-gigiku ke sosok-sosok itu, mengoyak tangan dan kaki mereka, lalu menumpuknya unruk dibakar. Begitu marahnya aku hingga sanggup rasanya aku menari-nari mengitari api unggun sementara mereka terpanggang hidup-hidup; aku akan tertawa sementara abu mereka membara. Bibirku tertarik ke belakang, dan geraman rendah yang buas terlontar dari kerongkonganku, keluar jauh dari dasar perut. Sadarlah aku sudut-sudut mulutku terangkat, membentuk senyuman.

Di sebelahku, Zafrina dan Senna menggemakan geraman pelanku. Edward meremas tangan yang masih digenggamnya, mengingatkanku.

Wajah-wajah berbayang keluarga Volturi sebagian besar masih tanpa ekspresi. Hanya dua pasang mata yang menunjukkan emosi. Di bagian tengah, Aro dan Caius berhenti unruk mengevaluasi, dan seluruh pengawal ikut berhenti bersama mereka, menunggu perintah untuk membunuh. Mereka tidak saling melirik, namun jelas keduanya saling berkomunikasi. Marcus, meski menyentuh tangan Aro yang lain, sepertinya tidak terlibat dalam perbincangan itu. Ekspresinya tidak segarang para pengawal, tapi nyaris sama kosongnya. Seperti ketika aku bertemu dengannya waktu itu, ia terlihat sangat bosan.

Sosok para saksi keluarga Volturi condong ke arah kami, mata mereka tertuju garang pada Renesmee dan aku, tapi mereka bertahan di tepi hutan, memberi jarak yang cukup lebar antara mereka dan para pengawal Volturi. Hanya Irina yang berada dekat di belakang keluarga Volturi, hanya beberapa langkah dari para wanita kuno—keduanya berambut pirang dengan kulit transparan dan mata berkabut—serta dua pengawalnya yang berbadan besar.

Ada seorang wanita di belakang Aro yang mengenakan jubah abu-abu gelap. Meski tak bisa memastikan, tapi kelihatannya ia menyentuh bahu Aro. Inikah Renata, si perisai lain itu? Aku penasaran, seperti halnya Eleazar, apakah ia bisa menolak aku.

Tapi aku takkan menyia-nyiakan hidup dengan berusaha menyerang Caius dan Aro. Aku punya target-target vital lain.

Aku mencari-cari di antara barisan itu dan tidak kesulitan menemukan dua sosok mungil berjubah abu-abu gelap yang berdiri agak ke tengah. Alec dan Jane, anggota pengawal terkecil, berdiri tepat di samping Marcus, dan diapit Demetri di sisi lain. Wajah mereka yang cantik tak menunjukkan eksptesi apa pun; mereka mengenakan jubah tergelap setelah jubah hitam pekat yang dikenakan para tetua. Si penyihir kembar, begitu Vladimir menyebut mereka. Kekuatan mereka merupakan senjata pamungkas keluarga Volturi. Permata dalam koleksi Aro.

Otot-ototku menegang, dan racun terkumpul dalam mulutku.

Mata Aro dan Caius yang merah dan berkabut berkelebat menyapu barisan kami. Aku membaca kekecewaan di wajah Aro saat tatapannya menyapu wajah kami berulang kali, mencari vampir yang hilang. Kekecewaan membuat bibirnya menegang.

Saat itulah, aku merasa sangat bersyukur Alice telah kabur. Saat suasana sunyi terus berlanjut, kudengar desah napas Edward memburu.

“Edward?” tanya Carlisle, pelan dan cemas.

“Mereka tidak tahu bagaimana memulainya. Mereka sedang menimbang-nimbang berbagai opsi, memilih target-target kunci—aku, tentu saja, kau, Eleazar, Tanya. Marcus membaca kekuatan hubungan kita satu sama lain, mencari titik-titik lemah. Kehadiran kalompok Rumania membuat mereka kesal. Mereka juga khawatir melihat wajah-wajah yang tidak mereka kenal—Zafrina dan Senna terutama—serta para serigala, sudah pasti. Sebelumnya mereka tak pernah kalah jumlah.”

“Kalah jumlah?” bisik Tanya dengan sikap tak percaya.

“Mereka tidak menghitung saksi-saksi mereka,” desah Edward. “Mereka bukan siapa-siapa, tidak berarti apa-apa bagi para pengawal, Aro hanya senang kalau ada yang menonton.”

“Apakah sebaiknya aku berbicara?” tanya Carlisle,

Edward ragu-ragu, kemudian mengangguk. “Ini saru-sarunya kesempatan yang akan kauperoieh,”

Carlisle menegakkan bahu dan maju beberapa langkah ke depan garis pertahanan kami. Aku tidak suka melihatnya sendirian, tak terlindung.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.