Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Cantik” bisik Renesmee. Lalu ia melingkarkan lengannya seperti ular di leherku. Kudekap ia erat-erat di dada. Dalam posisi berpelukan seperti ini, aku membawanya keluar dari tenda dan memasuki lapangan.

Edward mengangkat sebelah alis -waktu aku mendekat, tapi tidak berkomentar sama sekali saat melihat Renesmee ataupun aksesori yang kupakai. Ia hanya memeluk kami lama sekali kemudian, sambil mengembuskan napas dalam-dalam, melepaskan kami. Aku tidak bisa melihat sorot perpisahan di matanya. Mungkin ia punya harapan lebih besar akan adanya kehidupan lain setelah kehidupan ini daripada yang selama ini ia akui.

Kami mengambil tempat masing-masing, Renesmee memanjat punggungku dengan lincah agar tanganku bebas bergerak. Aku berdiri beberapa meter di belakang garis depan yang terdiri atas Carlisle, Edward, Emmetc, Rosalie, Tanya, Kate, dan Eleazar, Dekat di sampingku adalah Benjamin dan Zafrina; tugasku melindungi mereka selama mungkin. Mereka senjata penyerang terbaik kami. Bila keluarga Volturi tidak bisa melihat, bahkan selama beberapa saat, itu akan mengubah segalanya.

Zafrina kaku dan garang, begitu juga Senna yang berdiri di sampingnya. Benjamin duduk di tanah, telapak tangannya menempel di tanah, dan menggerutu pelan tentang garis pembatas. Semalam ia menebar batu-batu kecil dalam gundukan yang terlihat alami tapi yang sekarang tertutup salju di sepanjang padang rumput, Tidak cukup besar untuk melukai vampir, tapi mudah-mudahan cukup untuk mengalihkan perhatian.

Para saksi bergerombol di samping kiri dan kanan kami, beberapa berdiri lebih dekat—mereka yang telah mendeklarasikan diri kepada kami adalah yang berdiri paling dekat. Kulihat Siobhan mengurut pelipisnya, matanya terpejam penuh konsentrasi; apakah ia berusaha menyenangkan hati Carlislei. Berusaha memvisualisasikan resolusi diplomatik?

Di hutan di belakang kami, serigala-serigala yang tidak kelihatan berdiri diam dan siap; kami hanya bisa mendengar napas mereka yang berat, serta jantung mereka yang berdetak.

Awan bergulung-gulung, menyebarkan cahaya hingga tak jelas apakah sekarang pagi atau sore. Mata Edward mengeras saat mengamati pemandangan itu, dan aku yakin ia juga melihat pemandangan yang sama persis detik ini juga—pertama kalinya adalah dalam penglihatan Alice, Pemandangannya akan sama ketika keluarga Volturi tiba. Berarti waktunya hanya tinggal beberapa menit atau detik sekarang.

Seluruh anggota keluarga dan sekutu kami mengejang, bersiap-siap.

Dari dalam hutan, serigala besar berbulu cokelat kemerahan maju dan berdiri di

sampingku; pasti sulit sekali baginya berjauhan dengan Renesmee ketika Renesmee sedang dalam bahaya besar.

Renesmee mengulurkan tangan untuk menyusupkan jari-jarinya ke pundak si serigala besar, dan tubuhnya sedikit merileks. Ia lebih tenang kalau ada Jacob di dekatnya. Aku juga ikut merasa sedikit lebih tenang. Selama ada Jacob bersamanya, Renesmee akan baik-baik saja.

Tanpa mengambil risiko melirik ke belakang, Edward mengulurkan tangannya ke belakang, kepadaku. Aku mengulurkan tangan ke depan sehingga bisa menggenggam tangannya. Edward meremas jari-jariku.

Satu menit lagi berlalu, dan aku mendapati diriku membuka telinga lebar-lebar, berusaha keras mendengar suara orang datang.

Kemudian Edward menegang dan mendesis pelan dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Matanya menatap tajam ke hutan di sebelah utata tempat kami berdiri.

Kami memandang ke arah yang dilihatnya, dan menunggu sementara detik demi detik berlalu.

36. HAUS DARAH

Mereka datang berarak-arak, begitu anggun.

Formasi mereka kaku dan formal. Mereka bergerak bersama-sama, tapi tidak seperti sedang berbaris; melainkan mengambang dalam gerakan sinkron dan sempurna dari balik pepohonan—kesatuan sosok gelap yang tiada putus, seolah mengambang beberapa sentimeter di atas salju putih, gerakan mereka sangat halus.

Perimeter terluar berwarna abu-abu; semakin ke dalam barisannya semakin gelap, sampai akhirnya ke jantung formasi yang berwarna paling kelam. Setiap wajah terlihat tirus, tersaput bayang-bayang. Gesekan pelan kaki mereka begitu teratur bagaikan musik, ketukan rumit yang tak pernah goyah sedikit pun.

Lewat isyarat yang tak bisa kulihat—atau mungkin memang tak ada isyarat, hanya hasil latihan berabad-abad—konfigurasi itu melipat ke arah luar. Gerakannya masih terlalu kaku, kelewat persegi untuk menjadi seperti bunga merekah, walaupun warnanya memperlihatkan hal ituj seperti kipas terbuka, anggun namun bersegi tajam. Sosok-sosok berjubah abu-abu menyebar ke sisi kiri dan kanan, sementara sosok-sosok berjubah lebih gelap maju persis di tengah, setiap gerakannya terkendali sangat rapi.

Gerakan mereka lamban tapi pasti, tidak tergesa-gesa, tidak ada ketegangan, tidak ada kecemasan. Derap langkah pasukan yang tak terkalahkan.

Ini hampir menyerupai mimpi burukku dulu. Satu-satunya yang kurang hanya ekspresi mengejek penuh kemenangan yang kulihat di wajah-wajah dalam mimpiku— senyum senang penuh nafsu membalas dendam. Sejauh ini, keluarga Volturi terlalu disiplin untuk menunjukkan emosi apa pun. Mereka juga tidak menunjukkan ekspresi kaget ataupun kecewa melihat kumpulan vampir yang menunggu mereka di sini— kumpulan yang tiba-tiba saja terlihat berantakan dan tidak siap bila dibandingkan rombongan mereka. Mereka juga tidak menunjukkan tanda-tanda kaget melihat serigala raksasa berdiri di tengah-tengah kami.

Aku tak tahan untuk tidak menghitung. Mereka berjumlah 32. Meski tidak menghitung dua sosok berjubah hitam yang berdiri agak jauh dan menyendiri di barisan paling belakang, yang dugaanku adalah para istri—posisi mereka yang terlindungi mengisyaratkan mereka takkan terlibat dalam penyerangan—jumlah kami tetap kalah banyak. Hanya bersembilan belas dari kami yang akan bertempur, dan tujuh yang akan menonton saat kami dihancurkan. Bahkan dengan tambahan sepuluh serigala, kami tetap kalah.

“Pasukan berjubah merah datang, pasukan berjubah merah datang,” gumam Garrett misterius pada dirinya sendiri, kemudian terkekeh. Ia bergeser selangkah lebih dekat pada Kate.

“Mereka benar-benar datang,” bisik Vladimir pada Stefan.

“Istri-istri juga,” Stefan balas mendesis. “Seluruh pengawal. Mereka semua bersama-sama. Bagus juga kita tidak mencoba menyerang ke Vofeerra.”

Kemudian, seakan-akan jumlah mereka belum cukup, sementara keluarga Volturi perlahan-lahan maju dengan anggun, lebih banyak lagi vampir memasuki lapangan di belakang mereka.

Wajah-wajah dalam barisan panjang vampir yang terus berdatangan dan seolah tak putus-putus itu merupakan antitesis kedisiplinan keluarga Volturi yang tanpa ekspresi’— wajah mereka merupakan kaleidoskop emosi yang bermacam-macam. Awalnya mereka terlihat shock dan beberapa bahkan cemas begitu melihat kekuatan tak terduga yang menunggu. Tapi kecemasan itu dengan cepat langsung lenyap; mereka merasa aman karena jumlah mereka yang sangat besar, aman dalam posisi mereka di belakang pasukan Volturi yang tak terhentikan. Air muka mereka kembali ke ekspresi yang mereka tunjukkan ketika kami membuat mereka terkejut tadi.

Cukup mudah memahami jalan pikiran mereka—wajah-wajah itu cukup eksplisit. Ini rombongan yang marah, dilecut nafsu untuk menuntut keadilan. Aku tak sepenuhnya menyadari perasaan dunia vampir terhadap anak-anak imortal sebelum aku membaca wajah mereka.

Jelas sekali rombongan yang tak beraturan ini—jumlahnya lebih dari empat puluh vampir—adalah para saksi dari pihak keluarga Volturi. Kalau kami sudah mati nanti, mereka akan menyebarkan berita bahwa para kriminal telah dilenyapkan, bahwa keluarga Volturi telah bertindak tegas, tanpa memihak sama sekali. Sebagian besar terlihat seperti mengharapkan lebih dari sekadar kesempatan menyaksikan—mereka ingin membantu mencabik-cabik dan membakar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.