Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menimbang-nimbang sejenak, kemudian meninggalkan kamar, menyeberangi lorong menuju kamar suite Carlisle dan Esme. Seperti biasa, meja Esme dipenuhi tumpukan kertas dan cetak biru, semuanya tersusun rapi dalam tumpukan tinggi. Meja itu memiliki kotak-kotak kecil di permukaannya; salah satunya kotak berisi kertas surat. Aku mengambil selembar kertas dan bolpoin.

Kemudian aku memandangi kertas kosong berwarna putih gading itu selama satu menit penuh, berkonsentrasi pada keputusanku. Alice mungkin tak bisa melihat Jacob atau Renesmee, tapi ia bisa melihatku. Aku membayangkan ia melihatku saat ini* sepenuh hati berharap ia tidak sedang terlalu sibuk untuk memerhatikan.

Lambat-lambat, dengan sengaja, aku menuliskan kata-kata RIO DE JANEIRO dalam huruf-huruf besar, memenuhi kertas,

Rio sepertinya tempat terbaik ke mana aku bisa mengirim mereka: letaknya jauh dari sini, Alice dan Jasper menurut laporan terakhir berada di Amerika Selatan, dan bukan berarti masalah-masalah lama kami hilang hanya karena kami memiliki masalah yang lebih besar sekarang. Masa depan Renesmee masih misterius, usianya yang melaju cepat juga masih menyisakan tetor. Sebelumnya kami juga sudah berencana pergi ke selatan. Sekarang akan menjadi tugas Jacob, dan mudah-mudahan Alice, untuk mencari legendalegenda itu.

Aku menunduk lagi, menahan desakan tiba-tiba untuk menangis, mengatupkan gigiku rapat-rapat. Lebih baik Renesmee melanjutkan hidup tanpaku. Tapi aku sudah sangat merindukan dia hingga nyaris tak sanggup menahan kesedihanku.

Aku menghela napas dalam-dalam dan memasukkan pesan itu di dasar tas ransel, tempar Jacob akan menemukannya tak lama lagi.

Aku hanya bisa berharap—karena kecil kemungkinan di SMA Jacob ada pelajaran bahasa Portugis—Jake setidaknya mengambil kelas Bahasa Spanyol sebagai mata pelajaran pilihan.

Tak ada lagi yang bisa dilakukan sekarang kecuali menunggu.

Selama dua hari Edward dan Carlisle bertahan di lapangan tempat Alice melihat keluarga Volturi datang. Lapangan yang sama tempat vampir-vampir baru Victoria menyerang kami musim panas lalu. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah rasanya seperti pengulangan bagi Carlisle, seperti déjà vu. Bagiku, semua bakal terasa baru. Kali ini Edward dan aku akan berdiri bersama keluarga kami.

Kami hanya bisa membayangkan keluarga Volturi akan melacak keberadaan Edward atau Carlisle. Aku penasaran apakah mereka akan terkejut mendapati buruan mereka tidak lari. Apakah itu akan membuat mereka waswas? Aku tak bisa membayangkan keluarga Volturi pernah merasa perlu berhati-hati.

Walaupun aku—mudah-mudahan—tidak terlihat oleh Demetri, aku tetap bersama Edward. Tentu saja. Kami hanya punya waktu beberapa jam untuk bersama-sama,

Edward dan aku belum melakukan apa-apa sebagai ucapan selamat tinggal terakhir, juga tidak merencanakannya. Mengucapkan kata itu akan membuatnya menjadi sesuatu

yang final. Sama seperti mengetikkan kata Tatnat di halaman terakhir naskah. Maka kami

pun tidak saling mengucapkan selamat berpisah, dan kami selalu berdekatan, saling menyentuh. Bagaimanapun hasil akhirnya nanti, kami tetap takkan berpisah.

Kami mendirikan tenda untuk Renesmee beberapa meter ke dalam naungan hutan yang melindungi. Itu seperti deja vu lagi, mengingat waktu kami berkemah dalam cuaca dingin bersama Jacob. Hampir tak bisa dipercaya betapa banyaknya yang telah berubah sejak bulan Juni. Tujuh bulan lalu, hubungan segitiga kami sepertinya mustahil, tiga hati yang patah tanpa bisa dihindari lagi. Kini semuanya seimbang dan sempurna. Rasanya sungguh ironis bahwa kepingan-kepingan puzzle itu justru menyatu tepat pada saat semuanya akan dihancurkan.

Salju mulai turun lagi pada Malam Tahun Baru, Kali ini kepingan-kepingan salju tidak mencair di tanah lapang yang membatu keras. Sementara Renesmee dan Jacob tidur —Jacob mendengkur sangat keras hingga membuatku heran mengapa Renesmee tidak terbangun—salju mulai membuat lapisan es tipis pertama di tanah, lalu semakin tebal. Ketika matahari terbit, lengkaplah sudah pemandangan seperti yang dilihat Alice dalam penglihatannya. Edward dan aku bergandengan tangan, berjalan melintasi padang putih berkilauan, diam seribu bahasa.

Pagi-pagi sekali yang lain berkumpul, mata mereka memancarkan bukti bisu mengenai persiapan mereka—sebagian kuning terang, sebagian merah darah. Tak lama setelah berkumpul kami mendengar para serigala bergerak di dalam hutan. Jacob muncul dari dalam tenda, meninggalkan Renesmee yang masih tertidur, untuk bergabung bersama mereka.

Edward dan Carlisle mengatur yang lain-lain dalam formasi longgar, saksi-saksi kami berdiri di kedua sisi seperti jajaran lukisan di galeri.

Aku menonton dari kejauhan, menunggu di dekat tenda, menjaga Renesmee. Waktu ia bangun, aku membantunya mengenakan pakaian yang sudah kusiapkan dengan hati-hati dua hari sebelumnya. Baju yang terlihat manis dan feminin, tapi cukup praktis dan tidak gampang kusut—walaupun seandainya si pemakai harus memakainya terus sambil menunggangi serigala raksasa melintasi beberapa negara bagian. Di atas jaketnya aku memakaikan ransel kulit hitam berisi dokumen-dokumen itu, uang, petunjuk, dan surat cintaku untuk Renesmee dan Jacob, Charlie dan Renée. Renesmee cukup kuat hingga itu bukan beban baginya.

Matanya membelalak lebar waktu ia melihat kesedihan di wajahku. Tapi ia sudah

bisa menerka sendiri sehingga tidak menanyakan apa yang kulakukan.

‘Aku sayang padamu,” kataku padanya. “Lebih dari segalanya.”

“Aku juga sayang Momma,” sahut Renesmee. Ia menyentuh loket di lehernya, yang sekarang berisi foto dirinya, Edward, dan aku. “Kita akan selalu bersama.”

“Dalam hati kita, kita akan selalu bersama,” aku mengoreksi sambil berbisik pelan, sepelan embusan napas. “Tapi kalau waktunya tiba hari ini, kau harus meninggalkan aku.”

Mata Renesmee membelalak, dan ia menyentuhkan tangannya ke pipiku. Kata tidak yang ia pikirkan justru terdengar lebih lantang daripada bila ia meneriakkannya.

Susah payah aku berusaha menelan ludah; tenggorokanku seperti membengkak. “Maukah kau melakukannya untukku? Please?”

Renesmee menempelkan jari-jarinya lebih keras lagi ke wajahku. Mengapa?

“Aku tidak bisa memberitahumu,” bisikku. “Tapi kau akan mengerti nanti. Aku janji.”

Di benakku, aku melihat wajah Jacob.

Aku mengangguk, lalu menarik jari-jarinya dari wajahku. “Jangan pikirkan itu,” desahku di telinganya. “Jangan bilang apa-apa pada Jacob sampai aku menyuruhmu lari, oke?”

Ia mengerti. Ia mengangguk.

Dari saku aku mengeluarkan satu detail terakhir.

Ketika sedang mengemasi barang-barang Renesmee, kilauan warna yang tak terduga-duga tertangkap olehku. Sinar matahari yang menerobos masuk dari atap kaca mengenai perhiasan yang tersimpan dalam kotak kuno berharga yang kuletakkan tinggi di atas rak, di sudut yang tidak tersentuh. Aku menimbang-nimbang beberapa saat, kemudian mengangkat bahu. Setelah membereskan semua petunjuk untuk Alice, aku tidak bisa berharap konfrontasi yang terjadi nanti akan berakhir damai. Tapi mengapa tidak mengawali semuanya seramah mungkin? ranyaku pada diri sendiri. Apa salahnya? Maka kurasa aku pasti masih memiliki segelintir harapan—harapan kecil yang muluk—karena aku kemudian menaiki rak itu dan mengambil hadiah pernikahan yang diberikan Aro untukku.

Sekarang aku mengenakan kalung emas tebal itu di leher dan merasakan berat berlian besar itu menggelayut di lekukan leherku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.