Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Yeah, Jasper memang sedikit aneh dalam hal itu.”

J menggeleng-gelengkan kepala seolah tak dapat mengenyahkan pikiran-pikiran yang mengganggu. “Silakan duduk, Bella.”

“Sebenarnya, saya agak terburu-buru. Saya harus menyetir cukup jauh untuk pulang.” Sambil bicara aku mengeluarkan amplop putih tebal dengan bonus untuknya dari tas dan menyerahkannya padanya.

“Oh,” ucap J, ada sedikit nada kecewa dalam suatanya. Ia memasukkan amplop itu ke saku dalam jasnya tanpa merasa perlu mengecek jumlahnya. “Padahal saya berharap kita bisa ngobrol-ngobrol sebentar.”

“Tentang?” tanyaku ingin tahu.

“Well, biar saya serahkan dulu barang-barang pesanan Anda. Saya ingin memastikan Anda puas.”

Ia berbalik, meletakkan tas kerjanya di meja, lalu membuka kunci-kuncinya. Ia mengeluarkan amplop besar.

Walaupun tidak tahu apa persisnya yang harus kuteliti, aku melayangkan pandangan sekilas pada isi amplop. J membalik foto Jacob dan mengubah warnanya sehingga tidak terlalu kentara bahwa yang tercantum dalam paspor maupun SIM-nya adalah foto yang sama. Keduanya tampak sempurna di mataku, tapi itu tidak berarti banyak. Kulirik sekilas foto paspor Vanessa Wolfe, kemudian buru-buru membuang muka, kerongkonganku tercekat.

“Terima kasih,” kataku.

Mata J menyipit sedikit, dan aku merasa ia kecewa aku tidak terlalu cermat meneliti. “Bisa saya pastikan semua sempurna. Semua pasti akan lolos pemeriksaan paling ketat oleh ahlinya sekalipun.”

“Saya yakin begitu. Saya benar-benar menghargai apa yang sudah Anda lakukan untuk saya, J.”

“Sayalah yang senang, Bella. Di masa mendatang jangan segan-segan datang kepada saya untuk apa saja yang dibutuhkan keluarga Cullen.” Ia tidak menyinggungnya sama sekali, tapi kedengarannya seperti undangan agar aku mengambil alih posisi Jasper sebagai perantara.

“Tadi kata Anda ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan?”

“Eh, ya. Masalahnya sedikit rumit,..” Ia melambaikan tangan ke perapian batu dengan ekspresi bertanya. Aku duduk di pinggir batu, dan ia duduk di sebelahku. Titik-titik keringat kembali bermunculan di keningnya, ia mengeluarkan saputangan sutra bitu dari saku dan mulai menyeka peluhnya.

“Anda saudari istri Mr. Jasper? Atau menikah dengan saudara lelakinya?” tanya J.

“Menikah dengan saudara lelakinya,” aku mengklarifikasi, bertanya-tanya akan mengarah ke mana pembicaraan ini.

“Kalau begitu, Anda istri Mr. Edward?”

“Benar,”

J tersenyum meminta maaf, “Saya sudah sering melihat nama-namanya, Anda mengerti. Selamat, walaupun terlambat. Senang rasanya Mr, Edward telah menemukan pasangan yang sangat memesona setelah sekian lama.”

“Terima kasih banyak.”

J terdiam sejenak, mengusap-usap saputangannya, “Setelah sekian tahun, Anda tentunya paham saya sangat respek kepada Mr, Jasper dan seluruh keluarganya.”

Aku mengangguk hati-hati.

J menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya tanpa bicara.

“J, katakan saja apa yang ingin Anda katakan.”

Lagi-lagi ia menghela napas dan bergumam cepat, kata-katanya menyatu hingga tidak terdengar jelas.

“Kalau Anda bisa meyakinkan saya bahwa Anda tidak berencana menculik gadis kecil itu dari ayahnya, saya pasti bisa tidur nyenyak malam ini.”

“Oh,” ucapku, terperangah. Butuh waktu satu menit untuk memahami kesimpulan keliru yang diambilnya. “Oh tidak. Sama sekali tidak seperti itu.” Aku tersenyum lemah, berusaha meyakinkannya. “Saya sekadar menyiapkan tempat yang aman untuknya, kalaukalau terjadi sesuatu pada saya dan suami saya.”

Mata J menyipit. “Anda memperkirakan akan terjadi sesuatu?” Wajahnya memerah, lalu ia meminta maaf. “Sebenarnya itu bukan urusan saya.”

Aku melihat semburat merah menyebar di balik membran kulitnya yang tipis dan merasa senang—seperti yang sering kurasakan—bahwa aku bukan vampir baru biasa. J sepertinya cukup baik, kalau mengesampingkan sisi kriminalnya, jadi akan sungguh sayang kalau ia dibunuh. “Kita takkan pernah tahu,” desahku,

J mengerutkan kening. “Semoga Anda beruntung kalau begitu. Dan saya mohon, jangan kesal pada saya, my dear, tapi,., kalau Mt. Jasper datang menemui saya dan bertanya nama apa yang saya cantumkan dalam dokumen-dokumen itu…”

“Tentu saja Anda harus langsung memberitahunya. Saya akan senang sekali bila Mr. Jasper tahu rentang seluruh transaksi kita.”

Sikap sungguh-sungguhku yang tulus sepertinya mampu meredakan sedikit keregangan J.

“Bagus sekali” ujarnya. “Dan saya tetap tidak bisa membujuk Anda untuk makan malam bersama?”

“Maafkan saya, J. Saat ini saya sedang diburu waktu.”

“Kalau begitu, sekali lagi, saya doakan Anda tetap sehat dan bahagia. Apa saja yang dibutuhkan keluarga Cullen, mohon jangan segan-segan menghubungi saya. Bella.”

“Terima kasih, J.”

Aku pergi dengan membawa barang-barang palsuku, menoleh sekilas dan melihat J memandangiku, ekspresinya cemas bercampur menyesal.

Perjalanan pulang kutempuh lebih cepat. Malam itu gelap gulita, maka aku mematikan lampu dan menginjak pedal gas sampai dasar. Sesampai di rumah, sebagian besar mobil, termasuk Porsche Alice dan Ferrari-ku, tak ada di garasi. Para vampir tradisional pergi sejauh mungkin untuk memuaskan dahaga. Aku berusaha tidak memikirkan perburuan mereka di malam hari, meringis membayangkan korban-korbannya.

Hanya Kate dan Garrett yang berada di ruang depan, berdebat sambil bercanda tentang kandungan nutrisi darah binatang. Aku menduga Garrett: mencoba berburu secara vegetarian tapi merasa itu sulit.

Edward pasti membawa Renesmee pulang ke pondok untuk tidur. Jacob, tak diragukan lagi, pasti berada di hutan dekat pondok. Seluruh anggota keluargaku yang lain pasti juga sedang pergi berburu. Mungkin pergi bersama keluarga Denali.

Itu berarti pada dasarnya aku sendirian di rumah, dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Dari penciumanku kentara sekali aku orang pertama yang memasuki kamar Alice dan Jasper setelah sekian lama, mungkin yang pertama sejak malam mereka meninggalkan kami. Aku memeriksa lemari mereka tanpa suara sampai menemukan tas yang tepat. Tas itu pasti milik Alice; ransel kulit hitam kecil, model yang biasa digunakan sebagai dompet, cukup kecil hingga bahkan Renesmee bisa membawanya tanpa terlihat aneh. Kemudian aku merampok simpanan uang mereka, membawa dua kali jumlah pendapatan tahunan rata-rata rumah tangga Amerika. Kurasa pencurianku takkan begitu kentara di sini ketimbang di bagian lain rumah, karena kamar ini membuat semua orang sedih. Amplop berisi paspor dan KTP palsu masuk ke tas, diletakkan di atas tumpukan uang. Kemudian aku duduk di pinggir tempat tidur Alice dan Jasper, dengan sedih memandangi bungkusan tak berarti yang hanya bisa kuberikan kepada putri dan sahabatku untuk membantu menyelamatkan hidup mereka. Aku bersandar lemas di tiang tempat tidur, merasa tak berdaya.

Apa lagi yang bisa kulakukan?

Aku duduk di sana selama beberapa menit dengan kepala tertunduk sebelum ide gemilang muncul dalam benakku.

Seandainya…

Seandainya aku berasumsi Jacob dan Renesmee harus melarikan diri, seharusnya aku juga berasumsi bahwa Demetri tewas. Dengan demikian, mereka yang selamat memiliki sedikit ruang untuk bernapas, termasuk Alice dan Jasper.

Kalau begitu, mengapa Alice dan Jasper tak bisa membantu Jacob dan Renesmee? Kalau mereka bisa dipertemukan kembali, Renesmee akan mendapatkan perlindungan terbaik yang bisa dibayangkan. Tak ada alasan mengapa ini tidak bisa terjadi, kecuali fakta bahwa Jake dan Renesmee tidak bisa dilihat Alice. Bagaimana Alice bisa mulai mencari mereka?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.