Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Edward mengangguk, senyum samar terbentuk di sudut-sudut mulutnya. “Sejak dia pertama kali menyentuhmu.”

Aku mendesah, menyesali kebodohanku sendiri, tapi sikap Edward yang kalem sedikit membuatku tenang. “Tapi itu tidak membuatmu merasa terganggu? Menurutmu itu bukan masalah?”

“Aku punya dua teori, yang satu lebih besar kemungkinannya daripada yang lain.”

“Beritahukan yang paling tidak mungkin.”

“Well, dia anakmu,” Edward menjelaskan. “Secara genetis dia separo kau. Dulu aku sering menggodamu tentang bagaimana pikiranmu berada dalam frekuensi berbeda dari kami semua. Mungkin frekuensi pikirannya sama denganmu,”

Aku tak bisa menerimanya, “Tapi kau mendengar pikirannya dengan jelas. Semua orang bisa mendengar pikirannya. Dan bagaimana kalau pikiran Alec berada dalam frekuensi berbeda? Bagaimana kalau…?”

Edward menempelkan jarinya ke bibirku. “Aku sudah mempertimbangkan hal itu. Itulah sebabnya menurutku teori berikut ini jauh lebih mungkin.”

Aku mengertakkan gigi dan menunggu.

“Ingatkah kau apa yang dikatakan Carlisle padaku tentang Renesmee, tepat setelah dia menunjukkan kenangan pertamanya padamu?”

Tentu saja aku ingat. “Katanya, ‘Bakat yang menarik. Seolah-olah dia melakukan hal sebaliknya dari apa yang bisa kaulakukan.”‘

“Ya. Dan aku juga heran. Mungkin dia mengambil bakatmu dan membaliknya juga.”

Aku mempertimbangkan hal itu.

“Tidak ada yang tahu isi pikiranmu” Edward memulai.

“Dan tak ada yang tidak tahu pikiran Renesmee?” aku menyelesaikan dengan nada ragu.

“Begitulah teoriku,” kata Edward, “Dan kalau dia bisa masuk ke dalam kepalamu, aku ragu ada perisai di planet ini yang sanggup menjauhkannya. Itu akan membantu. Dari apa yang kita lihat selama ini, tak ada otang yang bisa meragukan kebenaran pikiran Renesmee setelah mereka mengizinkannya menunjukkan pikiran-pikiran itu pada mereka. Dan kurasa, tak ada yang bisa menghalangi Renesmee menunjukkan pikirannya pada mereka, asal dia bisa berada cukup dekat. Bila Aro memberinya kesempatan menjelaskan…”

Aku bergidik membayangkan Renesmee berada sangat dekat dengan mata Aro yang serakah dan berkabut.

“Well” kata Edward, mengusap-usap babuku yang tegang. “Setidaknya tidak ada yang bisa menghalangi Aro melihat hal sebenarnya.”

“Tapi apakah hal yang sebenarnya cukup untuk menghentikan Aro?” bisikku.

Untuk itu, Edward tidak memiliki jawaban.

35. TENGGAT WAKTU

“Mau pergi?” tanya Edward, nadanya sambil lalu. Ada semacam ketenangan yang dipaksakan dalam ekspresi wajahnya. Ia memeluk Renesmee sedikit lebih erat ke dadanya.

“Ya, ada beberapa urusan yang harus dibereskan.,.,” jawabku, sama tenangnya.

Ia menyunggingkan senyum favoritku. “Cepatlah kembali padaku.”

“Selalu.”

Kubawa lagi Volvo-nya, dalam hati penasaran apakah Edward membaca odometer setelah aku pergi waktu itu. Berapa banyak yang bisa disimpulkannya dari semua itu? Bahwa aku merahasiakan sesuatu, jelas. Bisakah ia menyimpulkan alasan mengapa aku tidak bercerita padanya? Apakah ia sudah bisa menebak bahwa Aro mungkin akan mengetahui semua yang ia ketahui? Kupikir Edward pasti bisa menyimpulkan hal itu, karena ia tidak MENUNTUT penjelasan apa-apa dariku. Kurasa ia berusaha tidak berspekulasi terlalu banyak, berusaha tidak memikirkan perilakuku. Apakah ia sudah bisa menebak dari sikapku yang ganjil di pagi hari setelah Alice pergi—membakar bukuku di perapian? Entah apakah ia bisa menghubungkannya.

Sore itu sangat muram, hari gelap seperti sudah senja. Aku memacu mobilku menembus keremangan, mataku tertuju ke awan tebal. Apakah malam ini akan turun salju? Cukup untuk melapisi tanah dan menciptakan pemandangan seperti yang tampak dalam penglihatan Alice? Edward memperkirakan kami masih punya wakru kira-kira dua hari lagi. Kemudian kami akan berjaga-jaga di lapangan, menarik keluarga Volturi ke tempat yang sudah kami pilih.

Saat melaju melintasi hutan yang semakin gelap, aku memikirkan perjalanan terakhirku ke Seattle. Kurasa aku tahu tujuan Alice mengirimku ke kawasan kumuh tempat

J. Jenks berurusan dengan klien-kliennya yang berasal dari kalangan bawah. Bila aku pergi ke kantornya yang lain, yang lebih resmi, mungkinkah aku tahu apa yang akan kuminta? Seandainya aku bertemu dengannya sebagai Jason Jenks atau Jason Scott, pengacara baikbaik, mungkinkah aku bisa menemukan J. Jenks, pemalsu dokumen-dokumen ilegal? Aku harus melewati rute itu untuk tahu bahwa aku membutuhkan sesuatu yang melanggar hukum. Itu petunjuk buatku.

Hari sudah gelap ketika mobilku memasuki tempat parkir restoran beberapa menit lebih awal, mengabaikan para petugas valet di ambang pintu yang bersemangat ingin membantu. Aku mengenakan lensa kontak dan menunggu J di dalam restoran. Walaupun aku tergesa-gesa ingin segera membereskan urusan menyedihkan ini dan kembali bersama keluargaku, J sepertinya berhati-hati untuk tidak menodai reputasinya; aku punya firasat transaksi yang dilakukan di tempat parkir yang gelap pasti akan menyinggung perasaannya.

Aku memberi nama Jenks di meja depan dan maître d’ yang berwajah muram membimbingku ke lantai atas, ke ruangan ptibadi kecil lengkap dengan perapian dari batu yang apinya berderak-derak. Ia mengambil mantel panjang warna gading yang kupakai untuk menutupi fakta bahwa aku mengenakan apa yang oleh Alice dianggap sebagai busana yang tepat, dan si maitre d’ terkesiap pelan begitu melihat gaun koktailku yang terbuat dari satin warna putih kerang. Mau tak mau aku tersanjung juga; aku masih belum terbiasa dianggap cantik oleh setiap orang selain Edward. Si maitre d’ melontarkan pujian terbata-bata sementara ia meninggalkan ruangan dengan sikap goyah.

Aku berdiri di depan perapian, menunggu, mendekatkan jari-jariku ke api untuk menghangatkannya sedikit sebelum berjabat tangan nanti. Walaupun jelas J sudah tahu ada yang tidak biasa dengan keluarga Cullen, tapi tetap saja ini kebiasaan yang baik untuk dipraktikkan.

Sekilas aku sempat penasaran bagaimana rasanya memasukkan tanganku ke api. Bagaimana rasanya terbakar…

Kedatangan J mengalihkanku dari pikiran yang tidak-tidak. Si maître d’ juga mengambil mantelnya, dan terbukti ternyata bukan aku satu-satunya yang berdandan rapi untuk pertemuan ini,

“Maa£ saya terlambat,” kata J begitu kami ditinggal berdua saja.

“Tidak, Anda tepat waktu kok”

J mengulurkan tangan, dan kami berjabat tangan. Aku bisa merasakan jari-jarinya lebih hangat daripada jari-jariku. Namun sepertinya itu tidak membuatnya terganggu,

“Anda tampak memesona, kalau saya boleh lancang mengatakannya, Mrs, Cullen.”

“Terima kasih, J. Please, panggil saya Bella.”

“Harus saya katakan, sungguh merupakan pengalaman yang berbeda bekerja dengan Anda dibandingkan dengan Mr. Jasper. Tidak begitu… menegangkan.” Ia tersenyum ragu.

“Benarkah? Padahal selama ini saya merasa kehadiran Jasper justru sangat menenangkan.”

Alis J bertaut. “Begitu, ya?” gumamnya sopan meski jelas-jelas tidak sependapat denganku. Aneh sekali. Apa yang telah dilakukan Jasper pada lelaki ini?

“Anda sudah lama kenal Jasper?”

J mendesah, tampak gelisah. “Saya sudah bekerja dengan Mr. Jasper selama lebih dari dua puluh tahun, dan partner lama saya mengenalnya selama lima belas tahun sebelumnya… Dia tidak pernah berubah.” J meringis sedikit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.