Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Kita bertempur,” Vladimir setuju.

Kurasa itu baik; seperti Alistair, aku yakin pertempuran mustahil dihindari. Dalam hal ini, tambahan dua vampir lagi yang mau bertempur di pihak kami akan sangat membantu. Tapi keputusan kelompok Rumania tetap membuatku bergidik.

“Kami akan bertempur juga,” kara Tia, suaranya yang biasanya muram terdengar lebih khidmat. “Kami yakin keluarga Vokuri akan melampaui otoritas mereka. Kami tidak ingin menjadi bagian dari mereka.” Mata Tia menatap pasangannya.

Benjamin menyeringai dan melirik kelompok Rumania dengan sikap nakal. “Rupanya, aku komoditas panas. Kelihatannya aku harus memenangkan hak untuk bebas,”

“Ini bukan pettama kalinya aku bertempur untuk melepaskan diri dari kekuasaan raja,” sergah Garrett dengan nada menggoda. Ia menghampiri Benjamin dan menepuk punggungnya. “Untuk kebebasan dari penindasan.”

“Kami berpihak pada Cariisle,” kata Tanya. “Dan kami bertempur bersamanya.”

Pernyataan kelompok Rumania sepertinya membuat yang lain-lain merasa perlu mendeklarasikan diri mereka juga.

“Kami belum memutuskan,” kata Petet. Ia menunduk memandangi pasangannya yang bertubuh mungil; bibir Charlotte mengatup tidak puas. Kelihatannya ia sudah mengambil ke-putusan. Dalam hati aku berranya-tanya apa gerangan ke-putusannya itu.

“Hal yang sama berlaku untukku,” kata Randall.

“Dan aku,” imbuh Mary.

“Kawanan kami akan bertempur bersama keluarga Cullen,” kata Jacob tiba-tiba. “Kami tidak takut pada vampir,” imbuh-nya sambil tersenyum mengejek.

“Dasar anak-anak,” gerutu Peter,

“Bocah-bocah ingusan,” Randall mengoreksi.

Jacob menyeringai mengejek.

“Well, aku ikut,” seru Maggie, menepiskan tangan dari cengkeraman Siobhan yang berusaha menahannya. “Aku tahu kebenaran ada di pihak Cariisle. Aku tak bisa mengabaikan hal itu,”

Siobhan memandangi anggota junior kelompoknya dengan sorot khawatir. “Cariisle,” katanya, seolah-olah hanya ada mereka di sana, tak menggubris situasi yang mendadak formal dalam pertemuan ini, bagaimana beberapa pihak tiba-tiba mendeklarasikan diri. “Aku tak ingin ini menjadi perrempur-an”

“Aku juga tidak, Siobhan. Kau tahu aku paling tidak menginginkan hal itu.” Carlisle separo tersenyum. “Mungkin sebaiknya kau berkonsentrasi membuat situasi tetap damai.”

“Kau tahu itu takkan membantu,” tukas Siobhan.

Aku teringat pembicaraan Rose dan Carlisle tentang pemimpin kelompok Irlandia itu; Carlisle yakin Siobhan memiliki bakat yang halus tapi kuat untuk membuat keadaan menjadi seperti yang ia inginkan—namun Siobhan sendiri tidak meyakininya.

“Tak ada salahnya, kan?” ujar Carlisle.

Siobhan memutar bola matanya. “Haruskah aku memvisualisasikan Irasil yang kuinginkan?” tanyanya sarkastis,

Carlisle terang-terangan menyeringai sekarang. “Kalau kau tidak keberatan.”

“Kalau begitu, kelompokku tidak perlu mendeklarasikan dirinya, bukan?” dengus Siobhan. “Karena tidak ada kemungkinan akan terjadi pertempuran.” Ia memegang bahu Maggie, menarik gadis itu lebih dekat lagi padanya. Pasangan Siobhan, Liam, berdiri diam tanpa ekspresi.

Hampir semua yang ada di ruangan itu terlihat bingung mendengar percakapan antara Carlisle dan Siobhan yang jelas bernada bercanda, tapi mereka diam saja.

Itulah akhir pembicaraan dramatis malam ini. Pelan-pelan semua mulai membubarkan diri, sebagian pergi berburu, sebagian lagi melewatkan waktu dengan bukubuku Carlisle, menonton televisi, atau bermain komputer.

Edward, Renesmee, dan aku pergi berburu. Jacob ikut.

“Dasar lintah-lintah tolol,” gerutu Jacob begitu sampai di luar rumah. “Dikiranya mereka itu sangat superior.” Ia mendengus,

“Mereka pasti shock betat kalau bocah-bocah ingusan itu nanti yang menyelamatkan hidup superior mereka, ya, kans?” goda Rdward.

Jake tersenyum dan meninju pundaknya. “Ya, benar sekali.”

Ini bukan perburuan terakhir kami. Kami akan berburu lagi nanti mendekati saat kedatangan keluarga Vbkuri. Karena tenggat waktunya tidak diketahui persis kapan, rencananya kami akan berada di lapangan bisbol besar yang dilihat Alice dalam penglihatannya selama beberapa hari, untuk berjaga-jaga saja. Kami hanya tahu mereka akan datang pada saat salju sudah menutupi tanah. Kami tak ingin keluarga Volturi berada terlalu dekat ke kota, dan Demetri akan membawa mereka ke mana pun kami berada. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa yang bakal dilacaknya, dan dugaanku ia bakal melacak Edward, karena ia tidak bisa melacakku.

Aku memikirkan Demerri sambil berburu, tidak begitu memerhatikan buruanku ataupun kepingan-kepingan salju yang akhirnya muncul rapi meleleh sebelum sempat menyentuh tanah yang berbatu-batu. Sadarkah Demetri ia tidak bisa melacakku?

Bagaimana reaksinya mengetahui hal itu? Bagaimana reaksi Aro? Atau Hdward keliru?

Ada beberapa pengecualian kecil dari apa yang bisa kutahan, cara-cara menghindari perisaiku. Semua yang ada di luar pikiranku rapuh—terbuka bagi hal-hal yang bisa dilakukan Jasper, Alice, dan Benjamin. Mungkin bakat Demetri juga sedikit berbeda.

Kemudian sebuah pikiran mendadak muncul dalam benakku, membuat langkahku berhenti. Rusa yang sudah separo kering terjatuh dari tanganku ke tanah berbatu-batu. Keping-keping salju menguap hanya beberapa sentimeter dari tubuh yang hangat dengan suara mendesis-desis kecil. Aku memandang kosong tanganku yang berlumuran darah.

Edward melihat reaksiku dan bergegas mendatangiku, meninggalkan buruannya begitu saja.

“Ada apa?” tanyanya pelan, matanya menyapu hutan di sekeliling kami, mencari apa pun yang memicu reaksiku barusan. “Renesmee,” kataku, suaraku tersedak. “Dia di balik pohon-pohon itu,” Edward menenangkanku. “Aku bisa mendengar baik pikirannya maupun pikiran Jacob. Dia baik-baik saja.”

“Bukan itu yang kumaksud,” sergahku. “Aku sedang memikirkan perisaiku—kau benar-benar menganggapnya hebat, bahwa bakatku itu akan bisa membantu. Aku tahu yang lain-lain berharap aku bisa menamengi Zafrina dan Benjamin, walaupun aku hanya bisa melakukannya selama beberapa detik saja setiap kali. Bagaimana kalau ada kesalahan? Bagaimana kalau keyakinanmu padaku justru menjadi alasan kita gagal?”

Suaraku nyaris histeris, walaupun aku memiliki cukup pengendalian diri untuk menjaga suaraku tetap pelan. Aku tak ingin membuat Renesmee takut.

“Bella, apa yang membuatmu tiba-tiba berpikir begitu? Tentu saja, menyenangkan sekali kalau kau bisa melindungi dirimu, tapi kau tidak bertanggung jawab menyelamatkan siapa-siapa. Jangan membuat dirimu tertekan karena hal yang tidak perlu.”

“Tapi bagaimana kalau aku tak bisa melindungi apa-apa?” bisikku sambil tersengal panik. “Yang bisa kulakukan ini, ini tidak bisa diandalkan, tidak benar! Tidak ada dasar atau alasan untuk merasa yakin. Mungkin ini takkan bisa melawan Alec sama sekali”

“Ssst,” Edward menenangkanku. “Jangan panik. Dan jangan khawatirkan Alec. Apa yang dia lakukan tidak berbeda dengan yang dilakukan Jane atau Zafrina, Itu hanya ilusi— dia tidak bisa masuk ke dalam pikiranmu, sama seperti aku.”

“Tapi Renesmee bisa!” Aku mendesis panik dari sela-sela gigiku, “Rasanya begitu alami, jadi aku tak pernah menanyakannya sebelumnya. Sejak dulu dia memang selalu

begitu. Tapi dia memasukkan pikiran-pikirannya ke dalam kepalaku sama seperti dia

melakukannya pada orang-orang lain. Ada celah di perisaiku, Edwardr

Kutatap Edward dengan putus asa, menunggunya membenarkan kesadaranku yang mengerikan itu. Bibirnya mengerucut, seakan-akan ia berusaha memutuskan bagaimana menjelaskan sesuatu. Ekspresinya tampak sangat rileks.

“Kau sudah lama memikirkan hal ini, ya?” desakku, merasa seperti idiot karena setelah berbulan-bulan baru menyadari sesuatu yang terpampang begitu jelas.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.