Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Pembawaan Jacob serta-merta berubah; wajahnya serius dan hati-hati. Kurasa ia sedang mengambil sikap sebagai Alfa sekarang. Jelas telah terjadi sesuatu, dan ia akan mendapatkan informasi yang ia dan Sam butuhkan.

“Alistair pergi,” gumam Edward saat kami bergegas menaiki tangga.

Di ruang depan di dalam, konfrontasi terlihat jelas. Berjajar di dinding tampak lingkaran penonton, setiap vampir yang telah bergabung bersama kami, kecuali Alistair dan tiga vampir lain yang terlibat perselisihan. Esme, Kebi, dan Tia berada paling dekar dengan ketiga vampir di tengah; di tengah-tengah ruangan, Amun mendesis pada Carlisle dan Benjamin.

Rahang Edward mengeras dan ia bergerak cepat ke sisi Esme, menyeretku bersamanya. Aku mendekap Renesmee erar-erat di dada.

“Amun, kalau kau ingin pergi, tak ada yang memaksamu tetap tinggal di sini,” kata Carlisle kalem.

“Kau mencuri separo kelompokku, Carlisle!” sergah Amun, menudingkan jari dengan kasar pada Benjamin. “Itukah sebabnya kau memanggilku ke sini? Untuk mencuri dariku?”

Carlisle mendesah, dan Benjamin memutar bola matanya.

“Ya, Carlisle mencari gara-gara dengan keluarga Volturi, membahayakan seluruh keluarganya, hanya untuk merayuku supaya mau datang ke sini, ke kematianku,” sergah Benjamin sarkastis. “Berpikirlah logis, Amun. Aku berkomitmen melakukan hal yang benar di sini—aku bukan mau bergabung dengan kelompok lain. Kau boleh melakukan apa saja yang kauinginkan, tentu saja, seperti yang telah dikatakan Carlisle tadi.”

“Ini tidak akan berakhir dengan baik,” geram Amun. “Alistair-lah satu-satunya yang waras di sini. Seharusnya kita semua juga lari.”

“Pikirkan siapa yang kausebut waras,” gumam Tia pelan.

“Kita semua akan dibantai!”

“Tidak akan terjadi pertempuran,” tandas Carlisle tegas. “Itu kan katamu!”

“Kalaupun ya, kau bisa menyeberang ke pihak lawan.

Amun. Aku yakin keluarga Volturi akan menghargai bantuanmu.”

Amun tertawa mengejek. “Mungkin memang itu jawabannya”

Jawaban Carlisle lembur dan bersungguh-sungguh. “Aku takkan menghalangimu, Amun. Kita sudah berteman sekian lama, tapi aku takkan pernah memintamu mati demi aku.”

Suara Amun kini lebih terkendali. “Tapi kau membawa Benjamin mati bersamamu.”

Carlisle meletakkan tangannya di pundak Amun. Amun menepiskannya.

“Aku akan tetap tinggal, Carlisle, tapi mungkin itu justru akan jadi kerugianmu. Aku akan bergabung dengan mereka kalau memang itu satu-satunya jalan untuk selamat. Kalian semua tolol kalau mengira bisa mengalahkan keluarga Volturi.” Ia memberengut, lalu mengembuskan napas, melirik Renesmee dan aku, lalu menambahkan dengan nada putus asa, “Aku akan bersaksi bahwa anak iru bertumbuh. Memang kenyataannya begitu. Siapa pun bisa melihatnya.”

“Dan hanya itu yang kami minta darimu.”

Amun meringis. “Tapi bukan itu saja yang kalian dapatkan, sepertinya,” Ia berpaling kepada Benjarnin. “Aku memberimu kehidupan. Kau menyia-nyiakannya,”

Wajah Benjamin terlihat lebih dingin daripada yang selama ini pernah kulihat; ekspresinya sangat kontras dengan air mukanya yang kekanak-kanakan. “Sayang kau tidak bisa mengganti keinginanku dengan keinginanmu dalam prosesnya; kalau bisa, mungkin kau akan merasa puas padaku.”

Mata Amun menyipit. Ia melambaikan tangan dengan kasar ke arah Kebi, dan mereka merangsek melewati kami, keluar melalui pintu depan.

“Dia tidak pergi,” kata Edward pelan padaku, “tapi dia akan semakin menjaga jarak mulai sekarang. Dia tidak menggertak waktu mengatakan akan bergabung dengan keluarga Volturi.”

“Mengapa Alistair pergi?” bisikku.

“‘Tidak ada yang tahu pasti; dia tidak meninggalkan pesan sama sekali. Dari gumamannya, jelas sekali dia merasa pertempuran takkan bisa diliindari. Berlawanan dengan sikapnya, dia sebenarnya terlalu peduli pada Carlisle yang akan menghadapi keluarga Volturi. Kurasa dia memutuskan bahayanya kelewat besar.” Edward mengangkat bahu.

Walaupun pembicaraan kami jelas hanya berlangsung di antara kami berdua, tapi tentu saja semua bisa mendengarnya. Eleazar menjawab komentar Edward seolah-olah itu ditujukan bagi mereka semua.

“Menilik gumaman-gumamannya selama ini, sedikit lebih daripada itu. Kami tidak banyak membicarakan agenda keluarga Volturi, tapi Alistair khawatir bahwa tak peduli betapapun hebatnya kami bisa membuktikan kalian tak bersalah, keluarga Volturi tetap takkan mau mendengar. Menurut anggapannya, mereka pasti akan menemukan alasan untuk mencapai tujuan mereka di sini”

Para vampir itu saling melirik dengan sikap gelisah. Ide bahwa keluarga Volturi akan memanipulasi hukum keramat mereka demi mendapatkan keuntungan pribadi bukanlah ide yang populer. Hanya kelompok Rumania yang tetap tenang, senyum separo mereka tampak ironis. Mereka sepertinya geli mendengar bagaimana yang lain-lain ingin berpikir baik tentang musuh-musuh bebuyutan mereka.

Berbagai diskusi pelan dimulai pada saat bersamaan, tapi hanya diskusi kelompok Rumania yang kudengarkan. Mungkin karena Vladimir yang berambut terang itu berulang kali melirik ke arahku.

“Aku sangar berharap Alistair benar dalam hal ini” gumam Stefan kepada Vladimir. “Tak peduli hasil akhirnya, kabar tetap akan menyebar. Sekarang waktunya dunia melihat sendiri bagaimana jadinya keluarga Volturi. Mereka takkan pernah jatuh kalau semua orang memercayai omong kosong tentang mereka yang melindungi kehidupan kita.”

“Paling tidak bila memerintah nanti, kita jujur tentang curi kita apa adanya” Vladimir menjawab.

Stefan mengangguk. “Kita tidak pernah berlagak baik dan menganggap diri kita suci.”

“Kupikir sudah tiba saatnya bertempur,” kata Vladimir. “Bagaimana kau bisa membayangkan kita akan menemukan kekuatan yang lebih baik untuk melakukannya? Kesempatan lain sebagus ini?”

“Tak ada yang mustahil. Mungkin suatu saat nanti…”

“Kita sudah menunggu selama seribu lima ratus tahun, Stefan. Dan mereka semakin lama semakin kuat.” Vladimir terdiam sejenak dan memandangiku lagi. Ia tidak menunjukkan kehetanan ketika melihatku memandanginya juga. “Kalau keluarga Volturi memenangkan konflik ini, mereka akan pergi dengan kekuatan yang lebih besar daripada saat mereka datang. Dengan setiap penaklukan, mereka memperoleh tambahan kekuatan. Pikirkan apa yang bisa diberikan vampir baru itu saja kepada mereka”—ia menyentakkan dagunya ke arahku—”padahal dia belum menemukan semua bakat yang dimilikinya. Belum lagi si penggoyang bumi itu.” Vladimir mengangguk ke arah Benjamin, yang mengejang. Hampir semua orang sekarang menguping pembicaraan kelompok Rumania, seperti aku. “Dengan penyihir kembar mereka, mereka tidak membutuhkan si pesulap atau si sentuhan api.” Matanya beralih ke Zafrina, kemudian Kate.

Stefan memandangi Edward. “Si pembaca pikiran juga tidak terlalu diperlukan. Tapi aku mengerti maksudmu. Benar, mereka akan mendapat banyak kalau menang.”

“Lebih daripada yang kita rela mereka dapatkan, kau sependapat, bukan?”

Stefan mendesah. “Kurasa aku harus sependapat denganmu. Dan itu berarti…”

“Kita harus melawan mereka selagi masih ada harapan.”

“Kalau kita bisa melumpuhkan mereka, bahkan, mengekspos mereka…”

“Kemudian, suatu saat nanti, yang lain-lain yang akan menyelesaikannya”

“Dan dendam kita akan terlunaskan. Akhirnya.”

Mereka saling menatap beberapa saat, kemudian bergumam serempak. “Sepertinya hanya itu satu-satunya jalan.”

“Jadi kita bertempur,” kata Stefan.

Walaupun aku bisa melihat hati mereka terbagi, keinginan mempertahankan diri berperang dengan dendam, senyum yang tersungging di bibir mereka penuh antisipasi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.