Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tentu, tentu,” sergah Jacob, buru-buru berdamai sebelum telanjur pecah perang.

Aneh rasanya melihat Jacob bersikap diplomatis.

“Aku ikut prihatin mengenai suara-suara itu” kataku. “Kalau saja aku bisa memperbaikinya.” Hal yang sebenarnya sangat tidak mungkin.

“Tidak terlalu parah kok. Aku hanya mengeluh sedikit.”

“Kau… bahagia?”

“Lumayan. Tapi cukup sudah membicarakan aku. Hari ini kaulah bintangnya,” Jacob terkekeh. “Aku berani bertaruh kau pasti senang sekali. Menjadi pusat perhatian.”

“Yeah. Tidak puas-puas rasanya menjadi pusat perhatian.”

Jacob tertawa, kemudian memandang dari atas kepalaku. Dengan bibir mengerucut ia mengamati gemerlapnya lampu-lampu di pesta resepsi, para tamu yang berdansa anggun berputar-putar, kelopak-kelopak bunga yang menggeletar dan berjatuhan dari karangankarangan bunga; aku ikut melihat bersamanya. Semua rasanya begitu jauh dari tempat yang gelap dan tenang ini. Hampir seperti melihat salju putih ber-pusar-pusar di dalam bola kaca.

“Harus kuakui,” kata Jacob, “mereka tahu bagaimana caranya menyelenggarakan pesta,”

“Alice itu ibarat kekuatan alam yang tak bisa dihentikan.”

Jacob menghela napas, “Lagunya sudah berakhir. Apa menurutmu aku boleh berdansa satu lagu lagi? Atau itu permintaan yang terlalu berlebihan?”

Aku mempererat pelukanku. “Kau boleh berdansa sebanyak yang kau mau.”

Jacob tertawa. “Menarik juga. Tapi menurutku, dua lagu saja sudah cukup. Aku tidak mau ada yang menggosipkan kita.”

Kami memulai satu putaran lagi.

“Kau pasti mengira sekarang aku sudah terbiasa mengucapkan perpisahan padamu,” gumam Jacob.

Aku berusaha menelan gumpalan di kerongkonganku, tapi tidak bisa.

Jacob memandangiku dan mengerutkan kening. Ia mengusapkan jari-jarinya ke pipiku, menangkap air mataku yang mengalir turun.

“Seharusnya bukan kau yang menangis, Bella,”

“Menangis di pernikahan kan biasa,” sergahku, suaraku parau,

“Ini yang kauinginkan, bukan?”

“Benar.”

“Kalau begitu tersenyumlah.”

Aku mencoba. Jacob tertawa melihat seringaianku. “Aku akan berusaha mengingatmu seperti ini. Berpura-pura.”

“Berpura-pura apa? Bahwa aku meninggal?”

Jacob mengenakkan gigi. la bergumul dengan dirinya sendiri—dengan keputusannya untuk membuat kehadirannya di sini sebagai hadiah dan bukannya untuk menghakimi. Aku hisa menebak apa yang ingin ia katakan.

“Tidak,” jawab Jacob akhirnya. “Tapi aku akan mengenangmu seperti ini dalam pikiranku. Pipi merah jambu. Detak jantung. Dua kaki kiri. Semuanya.”

Aku sengaja menginjak kakinya keras-keras.

Jacob tersenyum, “Begitu baru gadisku.”

Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian menutup mulutnya rapat-rapat. Bergumul lagi, gigi mengertak, melawan kata-kata yang tidak ingin ia ucapkan.

Hubunganku dengan Jacob dulu sangat mudah. Semudah bernapas. Tapi sejak Edward kembali ke kehidupanku, hubungan kami selalu tegang. Karena—di mata Jacob—dengan memilih Edward, aku memilih takdir yang lebih buruk daripada kematian, atau setidaknya setara dengan kematian.

“Ada apa, Jake? Katakan saja. Kau boleh mengatakan apa saja padaku.”

“Aku—aku… tidak ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Oh please. Keluarkan saja unek-unekmu.”

“Benar kok. Ini bukan… ini—ini pertanyaan. Pertanyaan yang aku ingin kaujawab.”

“Tanyakan saja.”

Sejenak Jacob bergumul dengan perasaannya, kemudian mengembuskan napas. “Tidak usah sajalah. Bukan hal penting kok. Aku hanya ingin tahu saja.”

Karena aku sangat mengenal dia, aku mengerti.

“Bukan malam ini, Jacob” bisikku.

Jacob bahkan lebih terobsesi dengan kemanusiaanku daripada Edward. Ia menghargai setiap detak jantungku, tahu sebentar lagi detak jantung itu akan berhenti,

“Oh,” ucapnya, berusaha menyembunyikan kelegaannya, “Oh.”

Lagu berganti lagi, rapi kali ini ia tidak menyadarinya. “Kapan?” bisiknya.

“Aku tidak tahu persis. Satu atau dua minggu, mungkin.”

Suara Jacob berubah, nadanya kini defensif sedikir mengejek. “Mengapa harus ditunda?”

“Aku hanya tidak ingin melewatkan masa bulan maduku dengan menggeliat-geliat kesakitan.”

“Memangnya kau lebih suka melewatkannya dengan melakukan apa? Main checkers? Ha ha.”

“Lucu sekali.”

“Bercanda, Bells, Tapi terus terang saja, aku tidak melihat itu ada gunanya. Kau kan tidak bisa berbulan madu sung-guhan dengan vampirmu, jadi mengapa harus repotrepot? Katakan saja terus terang. Bukan hanya kali ini kau membatalkan sesuatu. Walaupun itu bagus” tukas Jacob, metidadak bersungguh-sungguh. “Tidak perlu malu mengakuinya.”

“Aku tidak membatalkan apa pun” bentakku. “Dan ya aku bisa menikmati bulan madu yang sesungguhnya! Aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan! Tidak usah ikut campur!”

Mendadak Jacob berhenti berputar. Sesaat aku sempat mengira ia akhirnya sadar lagu sudah berganti, dan aku buru-buru mencari kata-kata yang tepat untuk memperbaiki ketegangan kecil yang sempat terjadi tadi, sebelum ia berpamitan. Tak seharusnya kami berpisah dalam suasana tidak enak.

Kemudian mata Jacob melotot, ekspresinya bingung bercampur ngeri,

“Apa;” ia terkesiap, “Apa katamu tadi?”

“Tentang apa…? Jake? Kau kenapa?”

“Apa maksudmu? Menikmati bulan madu yang sesungguhnya? Saat kau masih menjadi manusia? Kau bercanda, ya? Itu lelucon sinting, Bella!”

Kupandangi dia dengan garang. “Sudah kubilang, jangan ikut campur, Jake. Ini benar-benar bukan urusanmu. Seharusnya aku.., seharusnya kita bahkan tidak perlu membicarakan hal ini. Ini urusan pribadi…”

Kedua tangan Jacob yang besar mencengkeram pangkal lenganku, mengitari tubuhku, jari-jarinya saling mengait,

“Aduh, Jake! Lepaskan

Ia mengguncang tubuhku.

“Bella! Apa kau sudah gila? Tidak mungkin kau setolol itu! Katakan padaku kau hanya bercanda!”

Ia mengguncang tubuhku lagi. Kedua tangannya, yang mencengkeram kuat, bergetar, mengirim getaran hingga jauh ke dalam tulang-tulangku.

“Jake—hentikan!”

Kegelapan tiba-tiba jadi sangat ramai.

“Lepaskan dia!” Suara Edward sedingin es, setajam silet.

Di belakang Jacob, terdengar geraman rendah dari kegelapan malam, disusul geraman lain, meningkahi yang pertama.

“Jake, bro, mundurlah,” kudengar Seth Clearwater membujuk. “Kau kehilangan kendali.”

Jacob seperti membeku, matanya yang ngeri membelalak lebar dan terpaku.

“Kau bisa melukainya,” bisik Seth. “Lepaskan dia.”

“Sekarang!” geram Edward.

Kedua tangan Jacob terjatuh ke sisi tubuhnya, dan darah yang menyerbu ke dalam pembuluh darahku nyaris terasa menyakitkan. Belum lagi menyadari hal itu, sepasang tangan dingin menggantikan tangan yang panas, dan aku merasakan desiran udara melewatiku.

Aku mengerjap, tahu-tahu aku mendapati diriku sudah berdiri kira-kira satu setengah meter dari tempatku berdiri tadi. Edward tegang di depanku. Tampak dua serigala besar yang siap menerjang di antara dirinya dan Jacob, namun di mataku, keduanya tak terkesan agresif. Lebih tepatnya berusaha mencegah terjadinya perkelahian.

Dan Seth—Seth yang sangar dan baru berumur lima belas rahun—melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Jacob yang bergetar, dan menyeretnya menjauh. Kalau Jacob berubah padahal Seth begitu dekat dengannya…

“Ayo, Jake. Kita pergi.”

“Akan kubunuh kau,” kata Jacob, suaranya tercekik oleh amarah hingga hanya berupa bisikan rendah. Matanya, terfokus pada Edward, berapi-api marah. “Aku sendiri yang akan membunuhmu! Aku akan melakukannya sekarang!” Tubuhnya mengentakentak.

Serigala yang paling besar, yang berwarna hitam, menggeram tajam.

“Seth, minggir,” desis Edward.

Seth menyeret Jacob lagi. Jacob begitu dipenuhi amarah sehingga Seth hanya berhasil menyentakkan tubuhnya beberapa meter ke belakang, “Jangan lakukan itu, Jake. Menyingkirlah! Ayo.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.