Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Hati-hati kukeluarkan kantong perhiasan beledu kecil dari dalam tasku tanpa membukanya lebar-lebar, sehingga Edward tidak melihat banyaknya uang di dalamnya,

“Benda ini menarik perhatianku dari etalase toko barang anrik yang kulewati.”

Kuguncang kantong perhiasan itu, menjatuhkan sebentuk loket emas kecil ke telapak tangan Edward. Loket bundar dengan hiasan sulur-sulur anggur ramping terukir di tepi lingkaran. Di dalamnya ada tempat untuk memajang-foto kecil dan, di sisi berlawanan, terukir tulisan dalam bahasa Prancis.

“Tahukah kau apa artinya ini?” tanya Edward, nadanya berubah, lebih sendu daripada sebelumnya.

“Kata penjaga tokonya, kurang-lebih artinya ‘lebih dari hidupku sendiri’. Benar, tidak?”

“Ya, benar.”

Edward mendongak menatapku, mata ropaznya menyelidik. Kubalas tatapannya sebentar, lalu pura-pura mengalihkan perhatian pada televisi.

“Mudah-mudahan dia menyukainya,” gumamku.

“Tentu saja dia akan menyukainya,” kata Edward enteng, nadanya sambil lalu, dan detik itu juga aku yakin ia tahu aku menyimpan sesuatu darinya. Aku juga yakin ia tidak tahu apa itu secara spesifik.

“Ayo kita bawa dia pulang,” Edward menyarankan, berdiri dan merangkul pundakku.

Aku ragu-ragu.

“Apa?” desaknya.

“Aku ingin berlatih dengan Emmett sebentar…” Aku kehilangan waktu seharian untuk melakukan tugas pentingku tadi; itu membuatku merasa tertinggal.

Emmett—yang duduk di sofa bersama Rose sambil memegang retnote control, tentu saja—mendongak dan nyengir gembira. “Bagus sekali. Hutan memang perlu ditebangi sedikit.”

Edward mengerutkan kening pada Emmett, kemudian padaku.

“Masih banyak waktu untuk itu besok,” tukasnya.

“Jangan konyol,” protesku. “Tak ada lagi istilah masih banyak waktu. Konsep itu sendiri sebenarnya tidak ada. Banyak yang harus kupelajari dan..,”

Edward memotong kata-kataku. “Besok.”

Ekspresinya begitu bersungguh-sungguh hingga bahkan Emmett pun tidak membantah.

Kaget juga aku mendapati betapa sulitnya kembali ke rutinitas yang. bagaimanapun, sama sekali baru. Namun mengenyahkan secuil harapan yang selama ini kupelihara dalam hatiku membuat segalanya jadi mustahil.

Aku berusaha fokus pada hal-hal positif. Ada kemungkinan putriku selamat melewati apa yang akan terjadi nanti, demikian pula Jacob. Kalau mereka memiliki masa depan, berarti itu semacam kemenangan juga, bukan? Kelompok kecil kami pasti bisa bertahan sendiri agar Jacob dan Renesmee mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Ya, strategi Alice hanya masuk akal bila kami harus bertempur habis-habisan. Jadi, itu sendiri sudah merupakan kemenangan tersendiri, mengingat keluarga Volturi tak pernah ditentang secara serius dalam satu abad terakhir.

Itu takkan menjadi akhir dunia. Hanya akhir keluarga Cullen. Akhir Edward, akhir aku.

Aku lebih suka seperti itu—bagian yang terakhir, setidaknya. Aku tidak ingin hidup lagi tanpa Edward; kalau ia meninggalkan dunia ini, aku akan ikut bersamanya.

Sesekali aku bertanya-tanya dalam hati apakah ada kehidupan lain bagi kami setelahnya. Aku tahu Edward tidak benar-benar memercayai hal itu, tapi Carlisle percaya. Aku sendiri tak bisa membayangkannya. Di lain pihak, aku tidak bisa membayangkan Edward tidak ada, bagaimanapun, di mana pun. Bila kami bisa bersama di mana saja, itu berarti akhir yang membahagiakan.

Dan dengan demikian pola hari-hariku berlanjut,, bahkan semakin keras daripada sebelumnya.

Kami menemui Charlie pada Hari Natal, Edward, Renesmee, Jacob, dan aku. Semua anggota kawanan Jacob sudah berada di sana, ditambah Sam, Emily, dan Sue, Baik sekali mereka, mau datang ke rumah Charlie yang ruangannya kecil-kecil, tubuh mereka yang besar dan hangat dijejalkan ke sudut-sudut ruangan, mengelilingi pohon Natal yang hiasannya jarang-jarang—kelihatan sekali di bagian mana Charlie merasa bosan dan berhenti menghias—dan memenuhi perabotannya. Werewolf memang selalu bersemangat menghadapi pertempuran, tak peduli pertempuran itu sama saja dengan bunuh diri.

Semangat mereka yang meluap-luap memberikan semacam kegairahan yang menutupi perasaan lesuku. Edward, seperti biasa, lebih pandai berakting ketimbang aku.

Renesmee memakai kalung yang kuberikan padanya menjelang fajar, dan dalam saku jaketnya tersimpan MP3 player hadiah Edward—benda mungil yang bisa menyimpan lima ribu lagu, sudah diisi dengan lagu-lagu favorit Edward. Di pergelangan tangannya melingkar gelang anyaman, semacam cincin pertunangan versi Quileute. Edward mengertakkan gigi melihat gelang itu, tapi aku tidak merasa terganggu.

Nanti, sebentar lagi, aku akan menyerahkan Renesmee kepada Jacob untuk dijaga baik-baik. Jadi bagaimana mungkin aku merasa terganggu oleh simbol komitmen yang justru kuharapkan?

Edward menyelamatkan hari dengan memesan hadiah untuk Charlie juga. Hadiah itu datang kemarin—melalui kiriman khusus satu malam—dan Charlie menghabiskan sepanjang pagi membaca buku manualnya yang tebal tentang bagaimana mengoperasikan alat pancing barunya yang dilengkapi sistem sonar.

Menilik cara para werewolf makan, hidangan makan siang yang disiapkan Sue pasti lezat sekali. Aku penasaran apa kira-kira pandangan orang luar melihat kami. Sudahkah kami memainkan peran masing-masing dengan cukup baik? Apakah orang asing akan menganggap kami sekelompok teman yang berbahagia, merayakan Natal sambil bergembira bersama?

Kurasa baik Edward maupun Jacob sama leganya denganku ketika tiba waktu pulang. Aneh rasanya membuang-buang energi dengan bersandiwara menjadi manusia padahal ada banyak hal penting lain yang bisa dilakukan. Aku sangat sulit berkonsentrasi. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa bertemu Charlie. Mungkin ada bagusnya juga aku terlalu kebas untuk benar-benar menyadari hal itu.

Aku tak pernah lagi bertemu ibuku sejak menikah, tapi diam-diam aku bersyukur hubungan kami sejak dua tahun lalu sedikit demi sedikit mulai renggang. Ia terlalu rapuh untuk duniaku. Aku tak ingin ia menjadi bagian dari semua ini. Charlie lebih kuat.

Bahkan mungkin cukup kuat untuk berpisah denganku sekarang, tapi aku tidak.

Suasana sangat sunyi di dalam mobil; di luar, hujan hanya berupa kabut tipis, mengambang antara cairan dan es. Renesmee duduk di pangkuanku, bermain-main dengan loketnya, membuka dan menutupnya berulang kali. Aku memandanginya dan membayangkan hal-hal yang akan kukatakan pada Jacob sekarang kalau saja aku tak perlu menjaga agar kata-karaku tidak masuk dalam pikiran Edward.

Kalau keadaan sudah aman, bawa dia ke Charité. Ceritakan semuanya pada Charlie kelak. Sampaikan pada Charlie, aku sangat sayang padanya, bahwa aku tak sanggup meninggalkan dia bahkan setelah hidupku sebagai manusia berakhir. Katakan padanya dia ayah terbaik. Sampaikan sayangku pada Renée, kudoakan ia bahagia dan baik-baik saja…

Aku akan memberikan dokumen-dokumennya pada Jacob sebelum terlambat. Aku akan menitipkan padanya surat untuk Charlie juga. Dan surat untuk Renesmee. Sesuatu yang bisa ia baca kalau aku sudah tak bisa mengungkapkan sayangku lagi padanya.

Sepertinya tak ada yang tidak biasa di luar rumah keluarga Cullen saat mobil memasuki padang rumput, tapi aku mendengar kehebohan pelan di dalam. Banyak suara rendah bergumam dan menggeram. Kedengarannya serius, seperti berdebat. Aku bisa mendengar suara Carlisle dan Amun lebih sering daripada yang lain.

Edward memarkir mobilnya di depan rumah, tidak langsung memutar ke belakang dan masuk garasi. Kami bertukar pandang cemas sebelum turun dari mobil.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.