Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku memikirkan semuanya begitu cepat hingga J tidak sadar bahwa aku sempat terdiam sejenak.

“Dua akte kelahiran, dua paspor, satu SIM,” kataku dengan suara rendah dan tertekan.

Kalau J menyadari perubahan ekspresiku, ia tidak menunjukkannya.

“Nama-namanya?”

“Jacob… Wolfe. Dan… Vanessa Wolfe,” Nessie sepertinya nama panggilan yang cocok untuk Vanessa. Jacob pasti senang sekali kalau dia tahu tentang nama Wolfe ini.

Pena J bergerak lancar di atas buku. “Nama tengah?”

“Cantumkan nama generik apa saja,”

“Kalau Anda lebih suka begitu. Umur?”

“Dua puluh tujuh untuk si lelaki, lima untuk si perempuan.” Jacob pasti bisa dikira

sudah berumur 27. Ia kan “monster” Dan menilik cepatnya pertumbuhan Renesmee, lebih baik aku memperkirakan yang tinggi. Jacob bisa menjadi ayah tirinya…

“Saya membutuhkan foto bila Anda lebih suka dokumen yang sudah jadi,” kata J, menyela pikiranku. “Mr, Jasper biasanya suka menyelesaikannya sendiri,”

Well, kalau begitu jelas mengapa J tidak tahu bagaimana rupa Alice.

“Tunggu sebentar,” kataku.

Beruntung benar. Kebetulan aku menyimpan beberapa foto keluarga dalam dompetku, dan foto yang pas sekali—Jacob sedang menggendong Renesmee di tangga teras depan—baru diambil sebulan yang lalu. Alice memberikannya padaku hanya beberapa hari sebelum… Oh. Mungkin sebenarnya itu bukan kebetulan sama sekali, Alice tahu aku memiliki foto ini. Mungkin sebelumnya ia bahkan sudah tahu aku akan membutuhkannya sebelum ia memberikannya padaku.

“Ini dia.”

J mengamati foto itu sesaat. “Putri Anda sangat mirip Anda.”

Aku mengejang. “Dia lebih mirip ayahnya.”

“Dan ayahnya bukan lelaki ini.” J menyentuh wajah Jacob. Mataku menyipit, dan titik-titik keringat baru bermunculan di kepala j yang mengilat.

“Bukan. Itu teman dekat keluarga.”

“Maafkan saya,” gumam J, dan penanya kembali bergerak. “Kapan Anda membutuhkan surat-surat ini?”

“Apakah bisa selesai dalam satu minggu?”

“Itu pesanan kilat. Biayanya dua kali lipat—tapi maafkan saya. Saya lupa kepada siapa saya berbicara.”

Jelas, ia kenal Jasper.

“Katakan saja berapa.”

J sepertinya ragu-ragu mengucapkannya dengan suara keras, walaupun aku yakin, setelah berhubungan dengan Jasper, ia pasti tahu uang bukan masalah. Bahkan tanpa mempertimbangkan isi berbagai rekening yang tersimpan di seluruh penjuru dunia dengan berbagai nama Cullen tercatat sebagai pemiliknya, ada cukup banyak uang tunai tersimpan di seluruh penjuru rumah yang jumlahnya cukup untuk membiayai kegiatan operasional sebuah negara kecil selama satu dekade; hal itu mengingatkanku pada ratusan kail yang tersembunyi di bagian belakang laci mana pun di rumah Charlie. Aku ragu ada orang yang menyadari bahwa ada setumpuk kecil uang yang hilang, yang kuambil untuk persiapan hari ini.

J menuliskan jumlah yang diminta di bagian bawah buku.

Aku mengangguk kalem. Uang yang kubawa lebih dari cukup. Kubuka tas dan kuhitung jumlah yang diminta—aku sudah menjepitnya menjadi tumpukan yang masingmasing berjumlah lima ribu dolar, jadi tidak butuh waktu lama untuk menghitungnya.

“Ini.”

“Ah, Bella, Anda tidak benar-benar harus memberikan semuanya pada saya sekarang. Biasanya Anda bayar dulu setengah untuk memastikan pesanan Anda dikerjakan”

Aku tersenyum lembut pada lelaki yang gugup itu. “Tapi saya percaya pada Anda,

J. Selain itu, saya akan memberi Anda bonus—sejumlah sama begitu saya mendapatkan

dokumen-dokumen itu.”

“Itu tidak perlu, sungguh.”

“Jangan khawatir soal itu.” Aku toh tak bisa membawa uang itu bersamaku. “Jadi kita bertemu lagi minggu depan, waktu yang sama?”

J menatapku panik. “Sebenarnya, saya lebih suka transaksi dilakukan di tempattempat yang tidak ada hubungannya dengan bisnis saya.”

“Tentu saja. Saya yakin cara saya melakukan ini tidak seperti yang Anda harapkan.”

“Saya sudah terbiasa tidak mengharapkan apa-apa bila berhubungan dengan keluarga Cullen.” Ia meringis dan cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi tenang kembali. “Bagaimana kalau kita bertemu pukul delapan, seminggu dari sekarang di The Pacifico? Letaknya di Union Lake, dan makanannya lezat sekali.”

“Sempurna” Bukan berarti aku akan ikut makan malam bersamanya. Ia takkan suka kalau aku ikut makan.

Aku berdiri dan menjabat tangannya. Kali ini ia tidak bergidik. Tapi sepertinya ada kekhawatiran baru yang mengusik pikirannya. Mulutnya berkerut, punggungnya mengejang.

“Apakah Anda akan sulit memenuhi tenggat waktu?” tanyaku.

“Apa?” Ia mendongak, terperangah oleh pertanyaanku. “Tenggat waktu? Oh, tidak. Tidak ada kekhawatiran sama sekali. Dokumen-dokumen Anda pasti akan selesai tepat waktu.”

Seandainya ada Edward di sini, pasti aku bisa mengetahui apa sesungguhnya yang dikhawatirkan J. Aku mendesah. Merahasiakan sesuatu dari Edward saja sudah tidak mengenakkan; apalagi harus berjauhan dengannya,

“Kalau begitu, sampai ketemu minggu depan.”

34.DEKLARASI

Aku sudah mendengar suara musik sebelum turun dari mobil. Edward tidak pernah lagi bermain piano sejak malam Alice pergi. Sekarang, ketika aku menutup pintu mobil, kudengar lagu itu bermetamorfosis melalui sebuah bridge dan berubah menjadi lagu ninaboboku. Edward menyambut ke-pulanganku.

Aku berjalan lambat-lambat saat menarik Renesmee—yang tertidur pulas; kami pergi seharian—dari dalam mobil. Kami meninggalkan Jacob di rumah Charlie—katanya ia akan pulang naik mobil bersama Sue. Aku penasaran apakah ia berusaha mengisi kepalanya dengan berbagai pertanyaan untuk menghilangkan ingatannya tentang bagaimana wajahku saat berjalan memasuki pintu rumah Charlie.

Sementara kami berjalan lambat-lambat menuju rumah keluarga Cullen, aku sadar harapan dan kegembiraan yang seolah menjadi aura yang terpancar di sekeliling rumah putih besar itu juga kurasakan tadi pagi. Namun bagiku semua itu kini terasa asing.

Aku ingin menangis lagi, mendengar Edward bermain piano untukku. Tapi kutenangkan hatiku. Aku tak ingin ia curiga. Sebisa mungkin aku takkan meninggalkan petunjuk apa pun dalam pikirannya untuk Aro.

Edward menoleh dan tersenyum waktu aku berjalan melewati pintu, rapi terus bermain.

“Selamat datang,” katanya, seolah-olah ini hari normal biasa. Seolah-olah tak ada dua belas vampir lain dalam ruangan itu yang terlibat dalam berbagai aktivitas, dan selusin lagi bertebaran di segala penjuru. “Senang bertemu Charlie hari ini?”

“Ya. Maaf aku pergi lama sekali. Tadi aku singgah sebentar untuk membeli hadiah Natal untuk Renesmee. Aku tahu memang tidak akan ada perayaan besar-besaran, tapi…” Aku mengangkat bahu.

Bibit Edward tertarik ke bawah. Ia berhenti bermain dan memutar bangku yang didudukinya agar seluruh tubuhnya menghadap ke arahku. Ia meraih pinggangku dan menarikku lebih dekat. “Aku tidak terlalu memikirkannya. Kalau kau ingin merayakannya…”

“Tidak,” kupotong kata-kata Edward. Dalam hati aku meringis membayangkan harus berpura-pura antusias daripada yang harus kulakukan sekarang. “Aku hanya tak ingin hari itu berlalu tanpa memberinya sesuatu.”

“Boleh kulihat tidak?”

“Kalau kau mau. Hanya hadiah kecil kok.”

Renesmee benar-benar sudah tidak sadar, mendengkur lembut di leherku. Aku iri padanya. Pasti menyenangkan bisa melepaskan diri dari kenyataan, walau hanya beberapa jam.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.