Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku tak tahu kalau aku klien penting.”

“Kusangka kau tadi polisi,” Max mengakui “Maksudku, kau memang tidak mirip polisi. Tapi tingkahmu aneh, Cantik.”

Aku mengangkat bahu.

“Gembong narkoba, ya?” tebak Max.

“Siapa, aku?” tanyaku,

“Yeah. Atau cowokmu atau siapalah.”

“Bukan, maaf. Aku tidak suka narkoba, begitu pula suamiku. Katakan tidak dan lain sebagainya.”

Max memaki pelan. “Oh, sudah menikah rupanya. Sial.”

Aku rersenyum,

“Mafia?”

“Bukan,”

“Penyelundup berlian?”

“Astaga! Jadi itu ya, tipe orang-orang yang biasanya berurusan denganmu, Max? Miingkin kau membutuhkan pekerjaan baru.”

Harus kuakui, aku merasa agak senang. Sudah lama aku tidak berinteraksi dengan manusia selain dengan Charlie dan Sue, Asyik juga melihat Max terkesiap begitu. Aku juga senang betapa mudahnya bagiku untuk tidak membunuhnya.

“Kau pasti terlibat dalam sesuatu yang besar. Dan buruk,” duga Max.

“Sama sekali tidak seperti itu.”

“Semua juga bilang begitu. Tapi siapa lagi yang butuh surat-surat? Atau mampu membayar tarif tinggi yang ditetapkan J untuk itu, begitulah. Bukan urusanku sih,” dan lagi-lagi ia menggumamkan kalimat sudah menikah.

Ia memberiku alamat lain dengan petunjuk arah sekadarnya, kemudian mengawasi kepergianku dengan sorot curiga bercampur menyesal.

Di titik ini aku siap menghadapi nyaris apa saja—kantor canggih seperti sarang berteknologi tinggi milik musuh James Bond sepertinya cocok. Jadi kupikir Max pasti sengaja memberiku alamat yang salah untuk mengeresku. Atau mungkin kantornya ada di bawah tanah, di bawah mal yang sangat biasa ini, yang berdiri di bukit berhutan di kawasan hunian yang bagus.

Kuparkir mobilku di rempat kosong dan mendongak, memandangi papan nama berselera tinggi yang tidak terlalu mencolok, bertuliskan JASON SCOTT, PENGACARA.

Bagian dalam kantornya berwarna heige dengan aksen hijau seledri, tidak mencolok atau menonjol. Tak ada bau vampir di sini, dan itu membantuku merasa rileks. Tidak ada apa-apa kecuali bau manusia yang asing. Akuarium ikan dipasang di dalam dinding, dan resepsionis cantik berambut pirang yang tidak begitu cerdas duduk di belakang meja.

“Halo,” ia menyapaku. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin bertemu Mr. Scott.”

“Sudah ada janji?”

“Tidak juga.”

Wanita itu tersenyum, sedikit mengejek. “Bakal lama kalau begitu. Bagaimana kalau Anda duduk dulu sementara saya…”

“April”, terdengar suara laki-laki berkaok dari telepon di mejanya. Aku sedang menunggu kedatangan seseorang bernama Mrs. Cullen,

Aku tersenyum dan menunjuk diriku sendiri.

“Suruh dia langsung masuk. Kau mengerti? Tak peduli aku setiang melakukan apa.”

Aku bisa mendengar nada lain dalam suaranya selain tidak sabar. Stres. Tegang.

“Dia baru saja datang,” kata April begitu bisa bicara.

Apa? Suruh dia masuki Tunggu apa lagi?

“Segera, Mr. Scott!” Resepsionis itu langsung berdiri, mengibaskan kedua tangan sambil berjalan menduluiku melintasi lorong pendek, menawariku kopi, teh, atau apa saja yang mungkin kuinginkan.

“Silakan,” katanya sambil menyilakanku masuk melalui sebuah pintu ke dalam ruang kantor yang mewah, lengkap dengan meja kayu besar dan dinding berpaneL

“Tutup pintunya,” sebuah suara tenor serak memerintahkan.

Kuamari lelaki yang duduk di belakang meja semenrara April buru-buru keluar. Lelaki itu pendek dan rambutnya mulai botak, usianya mungkin sekitar 55 tahun, perutnya buncit. Ia mengenakan dasi sutra merah dipadu kemeja garis-garis biru-putih, dan blazer biru tuanya digantung di punggung kursi. Ia juga gemetaran, wajahnya pucat seperti mayat, dengan titik-titik keringat menghiasi kening; dugaanku, pasti ada usus yang melilit di balik perut buncitnya itu.

J berdiri dengan goyah dari kursinya. Ia mengulurkan tangan ke seberang meja, “Ms. Cullen. Senang sekali bertemu denganmu.” Aku menghampirinya dan menjabat tangannya dengan cepat. Ia meringis sedikit

saat tangannya bersentuhan dengan kulitku yang dingin, tapi sepertinya ia tidak terlalu

rerkejut. “Mr. Jenks. Atau Anda lebih suka dipanggil Scott?” Lagi-lagi ia meringis. “Terserah Anda.” “Bagaimana kalau Anda memanggilku Bella, dan aku akan memanggil Anda J?” “Seperti teman lama,” ia setuju, mengusapkan saputangan sutra ke keningnya. Ia

melambai padaku, mempersilakanku duduk, dan ia sendiri juga duduk. “Saya harus bertanya, apakah saya akhirnya bertemu muka dengan istri Mr. Jasper yang cantik?” Aku menimbang-nimbang pertanyaan itu sesaat. Jadi lelaki ini kenal Jasper, bukan Alice. Kenal, dan sepertinya takut juga padanya, “Adik iparnya, sebenarnya.” J mengerucutkan bibir, seolah-olah berusaha memahami maksud semua ini, sama

seperti aku. “Saya yakin Mr. Jasper sehat-sehat saja?” tanyanya hati-hati. “Saya yakin dia sehat. Dia sedang berlibur panjang saat ini.” Kelihatannya keterangan itu menjernihkan sebagian kebingungan J. Ia mengangguk

dan melipat jari-jarinya, “Begitu, Seharusnya Anda langsung saja datang ke kantor utama. Asisten-asisten saya di sana akan langsung menghubungkan Anda dengan saya—tidak perlu lewat jalur yang kurang ramah.”

Aku hanya mengangguk. Entah mengapa Alice memberiku alamat daerah kumuh

itu. “Ah, well, Anda toh sudah sampai di sini sekarang. Apa yang bisa saya bantu?” “Surat-surat,” jawabku, berusaha memperdengarkan nada yakin dalam suaraku,

seolah-olah aku mengerti apa yang kubicarakan. “Tentu saja,” J langsung mengiyakan. “Apa yang kita maksud ini akte kelahiran,

akte kematian, SIM, paspor, kartu jaminan sosiaL..?” Aku menarik napas dalam-dalam dan tersenyum. Aku berutang budi pada Max. Kemudian senyumku lenyap. Ada alasan mengapa Alice mengirimku ke sini. dan

aku yakin alasannya adalah untuk melindungi Renesmee. Hadiah terakhir Alice untukku. Satu-satunya hal yang ia tahu kubutuhkan.

Satu-satunya alasan Renesmee membutuhkan dokumen palsu adalah untuk melarikan diri. Dan satu-satunya alasan Renesmee perlu melarikan diri adalah karena kami kalah.

Kalau Edward dan aku melarikan diri bersamanya, ia takkan membutuhkan dokumen-dokumen ini sekarang. Aku yakin kartu identitas adalah sesuatu yang pasti bisa diusahakan Edward atau bisa ia buat sendiri, dan aku yakin ia tahu cara-cara melarikan diri tanpa surat-surat. Kami bisa lari ratusan kilometer. Kami bisa berenang bersamanya menyeberangi samudera.

Kalau kami ada untuk menyelamatkan Renesmee.

Ditambah lagi aku harus merahasiakan semua ini dari Edward. Karena ada kemungkinan segala sesuatu yang Edward ketahui, akan diketahui juga oleh Aro. Kalau kami kalah, Aro pasti akan mendapatkan informasi yang sangat ia inginkan sebelum ia menghancurkan Edward.

Persis seperti kecurigaanku. Kami tidak bisa menang. Tapi kami harus bisa membunuh Demetri sebelum kami kalah, memberi Renesmee kesempatan untuk melarikan diri.

Matiku masih terasa bagai sebongkah batu besar di dadaku—menyesakkan. Segenap harapanku lenyap seperti kabut diterpa sinar matahari. Air maraku merebak.

Siapa yang akan kuserahi tanggung jawab? Charlie? Tapi ia manusia biasa yang tak berdaya. Dan bagaimana caraku menyerahkan Renesmee padanya? Ia tidak akan berada di sekitar lokasi pertempuran. Kalau begitu hanya tersisa satu orang. Dan sesungguhnya memang tak pernah ada orang lain.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.