Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku menepikan mobil dan membiarkan mesinnya menyala sebentar. Aku akan tetap masuk ke bangunan kumuh itu, tapi bagaimana caraku melakukannya tanpa dilihat lelaki yang bersiul itu? Aku bisa memarkir mobilku di jalan sebelah dan kembali ke sini lewat… Mungkin malah lebih banyak saksi di jalanan sana. Mungkin lewat atap? Apa hari sudah cukup gelap untuk melakukan hal semacam itu?

“Hei, lady” seru lelaki yang bersiul itu, memanggilku.

Kubuka kaca jendela, pura-pura tidak mendengarnya tadi.

Lelaki itu meletakkan korannya. Setelah sekarang aku bisa melihatnya, pakaiannya membuatku terkejut. Di bawah mantelnya yang panjang dan compang-camping, pakaiannya agak terlalu rapi. Karena angin tidak bertiup, aku tak bisa mencium baunya, tapi kilatan di kemeja merah gelapnya terlihat seperti sutra. Rambut hitamnya kusut dan berantakan, tapi kulitnya yang gelap mulus dan sempurna, giginya putih dan rapi. Sangat kontradiktif.

Mungkin sebaiknya Anda tidak memarkir mobil Anda di sana, lady” kata lelaki itu. “Bisa-bisa mobil Anda sudah tak ada di sini lagi saat Anda kembali nanti,”

“Terima kasih peringatannya,” ujarku.

Kumatikan mesin dan turun. Mungkin temanku yang bersiul-siul ini bisa memberiku jawaban yang kubutuhkan lebih cepat daripada kalau aku mendobrak masuk ke bangunan kumuh itu. Aku membuka payung abu-abu besar—sebenarnya bukan untuk melindungi gaun sweter kasmir panjang yang kupakai. Tapi memang begitulah yang lazim dilakukan manusia.

Lelaki itu menyipitkan mata menatap wajahku dari balik deras hujan, kemudian matanya membelalak. Ia menelan ludah, dan aku mendengar jantungnya berpacu cepat waktu aku mendekat.

“Aku mencari seseorang” aku mulai,

“Aku seseorang,” sahutnya tersenyum. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Cantik?”

“Kau J. Jenks?” tanyaku.

“Oh,” ucap si lelaki, ekspresinya langsung berubah, dari anti sipasi menjadi mengerti. Ia berdiri dan mengamatiku dengan mata disipitkan. “Mengapa kau mencati J?”

“Itu urusanku.” Selain itu, karena aku juga tidak tahu alasannya. “Kau J?”

“Bukan”

Kami berhadap-hadapan beberapa saat sementara matanya yang tajam memandangiku dari atas ke bawah, memerhatikan mantel abu-abu mutiara ketat yang kupakai. Tatapannya akhirnya kembali ke wajahku. “Kau tidak kelihatan seperti pelanggan yang biasa.”

“Mungkin aku memang bukan yang biasa,” aku mengakui, “Tapi aku harus bertemu dengannya sesegera mungkin.”

“Aku tak yakin harus melakukan apa,” lelaki itu mengakui.

“Mengapa kau tidak memberitahukan namamu saja?”

Lelaki itu nyengir. “Max.”

“Senang bertemu denganmu, Max, Sekarang, bagaimana kalau kaujelaskan padaku apa yang kaulakukan untuk yang biasa?”

Cengiran Max berubah menjadi kerutan. “Well, klien-kilen J yang biasa tidak ada yang seperti kau. Golongan kalian mana mau datang ke kantornya di sini. Kalian biasanya langsung datang ke kantornya yang mewah di pencakar langit sana.”

Aku mengulangi alamat lain yang kumiliki, membuat daftar angka-angka itu sebagai pertanyaan.

“Yeah, memang benar itu tempatnya,” kata si lelaki, kembali curiga. “Mengapa kau tidak pergi ke sana saja?”

“Ini alamat yang diberikan kepadaku—oleh sumber yang sangat bisa diandalkan.”

“Kalau kau bermaksud baik, pasti tidak akan datang ke sini.”

Aku mengerucutkan bibir. Aku memang tak pandai menggertak, tapi Alice tidak meninggalkan banyak alternatif untukku. “Mungkin aku memang bermaksud tidak baik.”

Ekspresi Max berubah seperti meminta maaf. “Dengar, lady.”

“Bella.”

“Baiklah. Bella. Begini, aku membutuhkan pekerjaan ini. J memberiku gaji besar, kebanyakan hanya untuk duduk-duduk saja di sini seharian. Aku ingin membantumu, sungguh, tapi—dan tentu saja aku berbicara secara hipotesis, oke? Atau off the record, atau entah apalah yang baik menurutmu—tapi kalau aku meloloskan seseorang yang bisa membuatnya mendapat masalah, aku bisa kehilangan pekerjaan. Kau mengerti masalahku, kan?”

Aku berpikir sebentar, menggigit-gigit bibir, “Kau belum pernah melihat orang seperti aku di sini sebelumnya? Well, yang agak mirip aku. Saudariku jauh lebih pendek daripadaku, rambutnya hitam jabrik.”

“J kenal saudarimu?”

“Kurasa begitu.”

Max memikirkan informasi itu sebentar. Aku tersenyum padanya, dan ia terkesiap, “Begini saja. Aku akan menelepon J dan menggambarkan sosokmu. Biar dia yang memutuskan.”

Apa yang J. Jenks ketahui? Apakah dengan menggambarkan sosokku bisa berarti sesuatu baginya? Pikiran itu menggelisahkan,

“Nama keluargaku Cullen,” aku memberirahu Max, bertanya-tanya dalam hati apakah aku terlalu banyak memberi informasi. Aku mulai merasa kesal pada Alice, Betulkah aku benar-benar harus sebuta ini? Seharusnya ia bisa memberiku satu-dua petunjuk…

“Cullen, oke.”

Kuperhatikan Max memencet serangkaian nomor, menghafalnya. Well, aku bisa menelepon J. Jenks sendiri kalau ini tidak herhasik

“Hei, J, ini Max. Aku tahu seharusnya aku tak boleh meneleponmu ke nomor ini kecuali darurat…”

Memangnya ada yang darurat? Aku mendengar samar-samar suara dari seberang menyahut.

“Well, tidak juga. Tapi ada cewek yang ingin bertemu denganmu…”

Aku tidak melihat ada yang darurat dalam hal itu. Mengapa tidak kaujalankan saja prosedur normalnya?

“Aku tidak menjalankan prosedur normal karena dia tidak kelihatan seperti yang normal…”

Apakah dia polisi?

“Bukan…”

Kau kan tidak bisa memastikan. Apakah dia terlihat seperti anak buah Kubarev…?

“Tidak… beri aku kesempatan bicara dulu, oke? Katanya, kau kenal saudarinya atau bagaimana.”

Kemungkinannya kecil. Orangnya seperti apa?

“Orangnya seperti…” Mata Max mengamatiku dari wajah sampai sepatu dengan sikap menghargai. “Weil, orangnya seperti model top, begitulah kelihatannya” Aku tersenyum dan Max mengedipkan mata padaku, lalu melanjutkan. “Bodinya yahud, pucat seperti seprai, rambut cokelat hampir sepinggang, sepertinya sudah lama tidak tidur nyenyak… apakah kedengaran familier?”

Tidak, kedengarannya tidak. Aku tidak senang kelemahanmu pada wanita cantik mengganggu…

“Yeah, jadi aku payah setiap kali berhadapan dengan cewek cantik, memangnya kenapa kalau begitu? Maaf mengganggumu, man. Lupakan saja.”

“Nama,” bisikku.

“Oh benar. Tunggu,” seru Max. “Katanya namanya Bella Cullen. Apakah itu membantu?”

Sesaat tidak terdengar apa-apa, kemudian suara di ujung telepon itu tahu-tahu menjerit, menghamburkan makian kasar yang jarang terdengar di luar tempat istirahat para-sopir truk. Ekspresi Max langsung berubah; semua gurauannya lenyap dan bibirnya berubah pucat.

“Karena kau tidak tanyai” Max balas berteriak, panik.

Sunyi sejenak sementara J menenangkan diri.

Cantik dan pucat? tanya J, sedikit lebih tenang.

“Aku bilang begitu kan, tadi?”

Cantik dan pucat? Apa yang diketahui lelaki ini tentang vampir? Apakah ia sendiri juga vampir? Aku tidak siap menghadapi konfrontasi semacam itu. Kukertakkan gigiku. Apa gerangan yang Alice siapkan bagiku?

Max menunggu sebentar sementara ia kembali dihujani makian dan instruksi, kemudian melirikku dengan mata nyaris ketakutan. “Tapi kau kan hanya bertemu klienklienmu di sini setiap hari Kamis… oke, oke! Segera kulaksanakan.” Ia menggeser ponsel dan mematikannya.

“Dia mau bertemu denganku?” tanyaku dengan nada riang.

Max melotot. “Seharusnya kauhilang padaku bahwa kau klien penting.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.